
"Bell ...!! Belllaaaa ...!!"
Bella urung masuk kedalam mobil miliknya begitu telinganya menangkap suara teriakan keras Steve yang bergema di seantero parkiran.
Benar saja, pria tampan berwajah kebule-bulean milik Steve nampak berkilat oleh karena keringat yang membasahi keseluruhan wajahnya akibat berlarian saat berusaha mengejar Bella sekuat tenaga yang begitu cepat menghilang usai jam kuliah terakhir selesai.
"Ngapain sih Steve? Teriak-teriak gitu udah kayak Tarzan aja ..." Bella ngedumel.
"Lah, aku tuh udah nyariin kamu kemana-mana, Bell. Gila ... Cepat banget kamu terbang ke parkirannya ..."
"Terbang? Emang Bella kupu-kupu?" semprot Bella dengan wajah judesnya yang khas.
"Ha ... Ha ... Ha ..."
Mendengar kalimat ketus itu tak urung Steve pun langsung tergelak.
"Malah ketawa lagi ... Buruan deh ngomong ada apaan, Bella mau buru-buru balik nih ..." sungut Bella tanpa menggubris Steve yang masih betah tertawa.
"Dih, apaan sih Bell, tiap hari selalu buru-buru balik, makin gak ada waktu aja kamu ke aku ..."
"Idddiihh ... Siapa lo ..." desis Bella menanggapi kelebay-an Steve yang hakiki.
Lagi-lagi Steve ngakak mendapati tanggapan Bella yang benar-benar khas Bella yang super duper manja plus jutek.
Bella menutup pintu mobilnya kembali. Kemudian dengan melipat kedua lengannya yang ramping keatas dada ia menyandarkan tubuhnya ke pintu mobilnya yang terkatup rapat dengan cuek, memilih menunggu Steve yang kembali berhaha-hihi hingga tawa pria itu reda dengan sendirinya.
Sesungguhnya jauh dikedalaman hati Bella juga mengakui bahwa apa yang baru saja dikeluhkan Steve memang benar adanya.
Dalam beberapa hari terakhir Bella telah menjadi sangat jarang berkumpul dengan teman-temannya, pasca kejadian penolakan Eros tempo hari.
Bukan apa-apa, karena jika sudah menyangkut teman-temannya, maka sudah pasti buntut-buntutnya keseruan mereka akan berakhir dengan kegiatan nongkrong, sementara tempat nongkrong nomor wahid mereka tak lain dan tak bukan adalah club Miracle milik Eros, pria yang sudah menolak cinta Bella mentah-mentah bahkan dengan terang-terangan ingin Bella menjauh dari kehidupannya.
Semua itu tentu saja sangat sulit untuk Bella, bahkan sampai detik ini Bella masih suka menangis diam-diam.
__ADS_1
Jika ada Ayu, mungkin Bella bisa mengekspresikan segala perasaannya begitupun dengan kesedihannya tanpa harus berpura-pura, namun dengan kepulangan Ayu ke kampung halamannya, otomatis dalam beberapa hari kedepan Bella lebih memilih untuk memendam perasaannya sendiri daripada harus curhat dengan orang lain ... Tak terkecuali dengan Steve yang sebenarnya juga cukup dekat dengan Bella.
Kendati demikian Bella masih bisa bersyukur karena dalam keadaan situasi hatinya yang kacau-balau seperti ini, kehadiran Rania telah membuat Bella sedikit terhibur.
Bella merasa bahagia karena Rania telah menunjukkan sikap terbaiknya, yang membuat Bella percaya bahwa kali ini Mamanya itu benar-benar ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah membuat retak segalanya.
"Bell, besok ulang tahun aku loh ..."
Sepenggal kalimat Steve membuat Bella terhenyak kaget.
"Yang bener ...?" tanya Bella sangsi.
"Bisa-bisanya kamu lupa ..." cibir Steve kearah Bella yang terlihat menerawang seolah sedang mengingat-ingat sesuatu sebelum akhirnya ...
"Astagaaaa ... iya, bener juga ... Besok tanggal delapan beneran ultah kamu, Steve ...!"
Meskipun telah menyadarinya, namun ekspresi Bella yang terpekik girang sanggup membuat wajah bete Steve berubah semringah.
"Egh, by the way ngapain dikasih tau sih, Steve? Kan Bella jadi gak bisa bikin surprise lagi dong ..." ucap Bella kemudian dengan wajahnya yang cemberut.
Bella melongo mendengar ucapan Steve. "Ntar malem ...?"
"Iya, ntar malem ..."
"Kok ntar malem sih ...?"
"Iya, Bell, ntar malem Bokap sengaja udah booking Miracle khusus untuk ngerayain moment pergantian jam dua belas malam ulang tahun aku. Gitu Bell ..."
"A-apaa ...? Miracle ...?" Bella terhenyak ditempatnya berdiri mendengar penjelasan panjang-lebar Steve barusan.
"Iya, Miracle ... Tau aja deh bokap aku tempat nongkrong favorite kita-kita ..."
Bella langsung terdiam sambil menelan ludahnya kelu.
__ADS_1
Namun meskipun demikian bibir Bella masih terus berusaha menyunggingkan senyum karena tidak ingin merusak moment kebahagiaan Steve meskipun hatinya sendiri langsung galau berat menyadari kemungkinan besar dia akan bertemu Eros lagi setelah sekian lama berusaha menghindar.
"Aku sudah mengundang semua teman-teman untuk datang ke party ntar malam, tapi sayangnya ... Ayu malah gak ada ..."
Sebuah kekecewaan nampak bergelayut dalam nada suara Steve, menyadari Ayu sang gebetan yang malah tidak bisa hadir di moment istimewanya.
"Bell, Ayu kapan balik sih?" tanya Steve lagi.
Bella mengedikkan bahu. "Dih, belum juga ada sehari perginya udah nanya aja kapan balik ..." cibir Bella kearah Steve yang hanya bisa meringis.
"Kan kalo ada Ayu bakal makin seru, Bell ..."
"Ya mau gimana lagi, Steve, dalam beberapa hari kedepan baru Ayu bisa balik ke sini lagi ..."
"Begitu yah, Bell ..."
Steve nampak kecewa, namun tak lama pria itu kembali menatap Bella dengan sebuah senyuman, seolah tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihannya seorang diri.
"Ya udah, kalo gitu jangan sampai kamu gak datang yah, Bell ... Awas aja kalo aku gak liat batang idung kamu ntar malam ..." ancam Steve dengan mimik bersungguh-sungguh.
"Tenang aja, Steve, Bella pasti datang kok, tapi dengan satu syarat yah ... Bella gak bisa lama-lama ..."
"Loh, gak bisa gitu dong, Bell ...? Gak seru akh ..."
"Daripada gak dateng sama sekali? Pilih mana coba ...?" tukas Bella sambil manyun, lengkap dengan sepasang matanya yang membola.
"Iya deh iya, tapi janji kamu harus datang yah, Bell ..."
"Iyaaa ... Iyaaaaa ... Bella pasti datang kok. Dasar cerewettt ..." putus Bella dengan gayanya yang khas, namun cukup ampuh membuat senyum dibibir Steve berkembang sempurna.
"Nah, gitu dong, Bell ... Itu baru bisa dibilang teman sejati ..." cetus Steve, seraya mengacungkan dua jempolnya ke udara.
Bersambung ...
__ADS_1
Like and Comment please. Jangan lupa di support yah 🤗🙏