HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
MANIPULATIF


__ADS_3

Bella termanggu lama di tepian ranjang. Mulutnya kelu, namun sepasang matanya yang bulat masih beradu lama dengan sepasang mata Rania yang berembun.


"Bell ..." panggil Rania lembut.


Kedua jemari Bella terasa semakin menghangat manakala kali ini Rania bukan hanya mendekapnya dalam dua jemari tapi juga meremasnya lembut.


"Iya, Ma ..." jawab Bella lirih.


"Bella tau gak, Mama legaaaa ... banget, karena pada akhirnya Mama mampu mengungkapkan semua isi hati Mama ... Beban berat yang Mama pikul selama ini ... Pengakuan salah dan dosa Mama ... Semuanya ..."


Bella tertunduk semakin dalam, menyembunyikan sepasang matanya yang juga telah berkaca.


Perasaan Bella campur aduk.


Memang Rania berkata benar, tentang ungkapan semua isi hati yang katanya membuat dirinya lega.


Tapi sayangnya Rania lupa, bahwa mengurai masa lalu bagi Bella juga Biyan, sama halnya dengan membuka luka lama.


Sama seperti Biyan, perasaan Bella pun tak berbeda jauh.


Tak bisa dipungkiri kalau kehadiran Rania kali ini dengan membawa begitu banyak perubahan positif, perhatian, juga kasih sayang, telah diterima Biyan terlebih Bella dengan penuh suka cita. Namun bukan berarti semua ingatan akan luka hati dan kesedihan bisa hilang begitu saja.


Boleh jadi Bella bahagia dengan apa yang ia dengar langsung dari Rania.


Semua rasa penyesalan, tekad yang kuat memperbaiki hubungan, begitu juga dengan permohonan maaf ...


Kalau boleh memilih, detik ini juga Bella tidak butuh berpikir dua kali untuk menerima Rania kembali


Memangnya anak mana yang tidak senang berada ditengah keluarga yang utuh ...?

__ADS_1


Begitupun juga dengan Bella, tak bisa dipungkiri Bella juga merindukan keutuhan keluarga. Di mana didalamnya ada dirinya ... papa Biyan ... Juga mama Rania ...


Semua itu adalah gambaran terindah yang selalu Bella impikan, tapi disisi lain Bella sadar dirinya tidak bisa melangkahi papanya begitu saja.


Biar bagaimanapun Bella sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa isi hati dan perasaan seseorang, bukanlah satu hal yang bisa dipaksakan, begitupun juga dengan rasa cinta dihati kedua orang tuanya.


Kendati sejauh ini Bella tidak pernah sekali pun mendengar Biyan berbicara buruk tentang Rania, bahkan yang ada Biyan selalu mengingatkan Bella agar selalu bersikap baik dan menghormati Rania, namun Bella tau persis bahwa sama halnya dengan hatinya yang terluka ... Pastinya Biyan juga terluka hatinya, mustahil jika tidak merasakan hal yang sama!


"Bell, Mama tau ini terdengar egois. Tapi Mama benar-benar berharap Bella bisa memberikan kesempatan untuk menebus semua kesalahan Mama ..."


Bella mengangkat wajahnya. Sorot matanya yang bening dan berkaca-kaca kini terlihat jelas oleh Rania yang bahkan diwajahnya telah dihiasi beberapa parit sekaligus.


"Ma, kehadiran Mama aja udah bisa bikin Bella bahagia gak terkira, apalagi jika Bella membayangkan kita bisa kembali seperti dulu. Sungguh, Bella juga mengharapkan semua itu. Tapi ..."


"Tapi apa lagi, Bella ...?" pungkas Rania tak sabar, begitu menemukan keraguan yang bergelayut nyata pada sepasang bening milik Bella.


"Ma ... sejak dulu Papa selalu mengajarkan kepada Bella, bahwa Bella gak boleh memaksakan kehendak dan harus lebih bersyukur dengan apapun keadaan yang terjadi pada diri kita. Belajar menerima semua hal yang telah menjadi garisan takdir dari Tuhan, karena gak semua apa yang kita inginkan, bisa kita dapatkan ... dan gak semua apa yang kita harapkan, bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendak ..."


Rania tahu hal yang diungkapkan Bella bukanlah signal yang baik untuknya, karena lewat pernyataan Bella barusan, sangat jelas tersirat betapa putrinya sangat menghormati Biyan, terlebih apapun yang kelak akan menjadi keputusan pria itu.


Sepertinya Biyan memang telah berhasil membentuk pribadi Bella agar terbiasa menerima kenyataan, tak peduli sepahit apapun kenyataan tersebut.


Melihat Bella yang seperti itu, Rania bahkan tidak tahu apakah dia harus senang atau sedih.


Di sisi lain, terlepas dari pembawaan Bella yang polos dan luar biasa manja, toh tak bisa dipungkiri bahwa ternyata Biyan memang sukses mendidik dan membesarkan Bella menjadi sosok gadis yang berpikiran dewasa, tegar, tahu menghormati batasannya, serta mampu berbesar hati menerima apapun keadaan yang sulit sekalipun, dengan penuh rasa syukur.


"Iya, Bell, Mama paham kok. Bella anak yang baik, dan itu artinya Bella bisa menerima apapun keputusan Papa Biyan kelak ..."


Pada akhirnya Rania memilih berucap demikian, semata-mata agar dirinya bisa terlihat bijak.

__ADS_1


Rania menolak berseteru dengan Bella yang merupakan satu-satunya jalan bagi dirinya menuju pintu hati Biyan yang seolah masih tertutup rapat.


Bella mengangguk dalam diamnya, sedangkan Rania yang sesungguhnya sama sekali belum menyerah untuk menaklukkan Bella agar mau berpihak padanya begitu Biyan kembali, terus mencari celah agar bisa menggiring Bella kearah yang ia inginkan.


Sejak awal Rania sudah yakin seribu persen, jika Bella yang memintanya, maka Biyan pasti tidak akan punya alasan untuk menolak kehadirannya.


Naasnya saat ini Bella malah menyatakan sikapnya, dengan memilih menghargai apapun keputusan Biyan kelak, sehingga Rania tak segan untuk melancarkan aksinya dengan berusaha memanipulasi kepolosan Bella.


"Bell, meskipun kelak Bella akan menghargai apapun keputusan Papa, tapi boleh kan kalau Mama menginginkan dukungan penuh dari Bella ...?" ucap Rania lagi dengan nada yang sarat akan maksud terselubung.


"Tapi Ma ..." wajah Bella sontak terangkat dengan tatapan yang memelas.


"Bella sayang, Mama tahu Papa sangat menyayangi Bella. Papa juga udah janji akan memikirkan semuanya, agar begitu Papa kembali Papa bisa memutuskan keputusan seperti apa yang bisa Papa ambil. Tapi sesungguhnya ... jujur ... jauh didalam lubuk hati Mama yakin, bahwa Papa pasti akan memutuskan keputusan yang terbaik untuk Bella. Papa pasti mau lihat Bella bahagia, dan Papa pasti tidak mungkin mengecewakan Bella. Iya kan, Bell ...?"


"Sebenarnya Bella juga berharap seperti itu, Ma ..." cicit Bella pada akhirnya, mengungkapkan isi hatinya yang selama ini terpendam, demi menjaga perasaan Biyan juga perasaannya sendiri yang sempat dilukai Rania dengan begitu dalam.


Mendengar kalimat tersebut Rania sontak merengkuh tubuh putrinya dalam-dalam, membuat tangis Bella pecah begitu saja, saat kehangatan yang selama ini selalu ia rindukan terasa memeluk utuh tubuhnya.


"Bella sayang, Mama janji ... mulai detik ini Mama akan terus berada di sisi Bella, dan apapun yang terjadi, Mama gak akan pergi lagi. Kita akan hidup bertiga dengan bahagia ... hanya ada Bella, Mama dan Papa ... gak ada lagi tempat untuk orang lain yang bakal mengusik kebahagiaan kita ..." Rania berbisik lembut, dengan tangannya yang terangkat membelai setiap helai rambut Bella yang tergerai.


Semua kata yang Rania ucapkan terdengar begitu manipulatif demi mendapatkan simpati Bella, agar mau menjadi sumber kekuatan yang akan selalu berada di pihaknya ...


Kelak ...


Jika Rania harus menghadapi penolakan Biyan atas dirinya ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Support untuk author jangan kasih kendor yah 🤗


__ADS_2