
Setelah gagal total dalam membangun pembicaraan dengan Eros, Anya pun langsung menghubungi Rania sehingga kedua wanita itu kemudian sepakat bertemu di sebuah cafe pada jam empat sore.
"Kak Nia, apakah saat ini kita gak sedang berlebihan ...?" tatapan Anya menyapu wajah Rania, yang duduk tepat dihadapannya sambil menyilang kaki dengan anggun.
Lama tak berjumpa membuat Anya harus mengakui, bahwa wanita berusia tiga puluh tujuh tahun itu nampak lebih cantik dari saat mereka terakhir bertemu, kira-kira tujuh tahun yang lalu.
Saat itu Anya ingat betul, bahwa Biyan dan Rania baru saja resmi bercerai, namun Rania menyempatkan dirinya hadir pada resepsi pernikahannya dengan Eros, yang saat itu hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat saja.
Sejak awal Anya memang selalu memanggil Rania dengan menambahkan kata 'Kak', sebagai rasa hormatnya atas perbedaan usia sepuluh tahun diantara mereka, dan Anya juga menyapa Biyan dengan panggilan yang sama.
Sebenarnya tidak hanya kepada Rania dan Biyan saja.
Di awal perkenalannya dengan Eros, Anya juga menyebut suaminya dengan panggilan serupa, yang kemudian berganti panggilan yang lebih mesra setelah mereka berpacaran dan resmi menikah, sebelum berakhir dengan saling memanggil nama masing-masing, seolah tidak ada lagi rasa hormat dan menghargai diantara mereka, seiring dengan kisruh rumah tangga yang semakin hari semakin berantakan.
Mendapati pertanyaan Anya, Rania tidak langsung menjawabnya. Ia memilih menyesap machiato miliknya terlebih dahulu sebelum menggelengkan kepalanya ke arah Anya yang duduk bersandar sambil memeluk dada.
"Entahlah ... yang jelas feeling-ku tetap mengatakan demikian ..."
"Jadi Kak Nia tetap yakin nih, kalo Eros dan Bella ada hubungan special? Begitu?"
Rania hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, namun sukses mengacaukan seluruh pikiran Anya.
"Kak Nia, sejujurnya aku juga mengkhawatirkan hal yang sama, tapi dilain pihak aku mati-matian mengingkarinya. Aku belum bisa menerima jika Eros bisa melakukan semua ini. Tapi kalo memang demikian, sekarang aku malah bingung, haruskah sekarang aku marah dengan Kak Nia ...?"
"Loh ... kok ...?" alis Rania bertaut nyata menerima kalimat panjang-lebar Anya yang berakhir dengan menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Bella kan putri Kak Nia dan Kak Biyan, lalu kepada siapa lagi aku harus menumpahkan kekesalanku?" ucap Anya seolah lupa me-manage emosinya sendiri.
"Anya, kamu ini ngomong apa sih ...?" sergah Rania ikutan dongkol dengan penerimaan Anya, yang terang-terangan ingin menyalahkan dirinya juga Biyan.
"Kak Nia, aku ..."
"Bella masih muda, dan usianya baru sembilan belas tahun. Bayangkan ... dua puluh tahun lebih muda dari Eros! Jadi, kalo kamu ingin sekali menyalahkan seseorang atas semua hal yang gak masuk diakal ini ... salahkan saja Eros! Kenapa malah menyalahkan Bella ...?"
"Kak Nia, maaf, aku sungguh gak bermaksud nyalahin Bella, tapi kalo memang semua feeling Kak Nia itu benar adanya, pada kenyataannya semua ini terjadi karena Kak Biyan yang terlalu membebaskan Bella bersama Eros ..."
"Oh, okeh ... sekarang kamu malah menyalahkan Biyan juga ..."
"Tapi emang Kak Biyan juga terlihat nyaman, Kak. Atau karena kehadiran teman Bella yang bernama Ayu yang membuat Kak Biyan nyaman-nyaman aja dengan hubungan Eros dan Bella ...?"
"Anya ... kamu ..."
Rania memijat tengkuknya yang tiba-tiba terasa kebas, berusaha menetralisir emosi yang rasanya hendak meledak.
Anya pasti tidak pernah menyangka bahwa apa yang sekarang dialami Rania sesungguhnya terasa dua kali lipat lebih pelik.
Memikirkan putri semata wayangnya yang terlalu dekat dengan pria seumuran papanya, sementara di sisi lain papanya juga terlihat begitu dekat dengan seorang wanita yang seumuran anaknya!
Apakah masih ada lagi situasi yang lebih konyol dari apa yang Rania alami sekarang ...?
Oh, no ...!
__ADS_1
Selama ini Rania bahkan tidak pernah ingin memperlihatkan rasa iri atas apapun pencapaian Biyan yang terlihat semakin bersinar dari waktu ke waktu.
Seolah pria itu telah menjadi sangat sukses begitu terlepas dari dirinya yang penuh dengan tuntutan ini dan itu, yang bahkan semuanya telah merupakan salah satu sumber kehancuran biduk rumah tangga mereka karena segala keterbatasan Biyan yang membuatnya tidak pernah bisa memenuhi keinginan Rania saat mereka masih bersama.
Lalu mengapa Biyan justru mendapatkan segala hal yang dulunya sangat diimpikan Rania, di saat mereka tidak lagi bersama ...?
Tuhan sungguh tidak pernah adil!
Rania menjadi sangat iri, namun pada akhirnya memutuskan untuk menurunkan sedikit gengsi.
Belakangan ini Rania sedang berusaha keras membangun kedekatannya dengan Biyan kembali, dan menjadi lebih bersemangat saat menyadari kehadirannya pun tidak pernah ditampik.
Memang setelah bercerai, tak pernah sekali pun Rania mendengar jika Biyan berusaha mencari pengganti dirinya. Namun akhir-akhir ini Rania seolah disadarkan oleh sebuah kenyataan yang pada awalnya luput dari pantauannya, hingga kemudian sebuah foto kebersamaan dari dua pasang insan yang diunggah oleh putrinya sendiri seolah menyadarkan Rania bahwa ternyata hidup Biyan tidak sehampa yang ia kira.
Pada kenyataannya Biyan memang merupakan sosok papa yang baik buat Bella, putri mereka semata wayang.
Biyan terlihat kerap menghabiskan setiap waktu luangnya bersama Bella ... sebelum Rania menyadari sesuatu, bahwa ternyata setiap kali waktu Biyan terluang untuk Bella, di saat yang sama ada seorang gadis belia yang juga selalu hadir diantara kebersamaan mereka.
Ayushita Melani, yang tak lain merupakan teman sekampus Bella.
Gadis itu ibarat sebuah bayangan yang tak kasat mata, yang terus berseliweran didalam kehidupan putri semata wayangnya ...
Begitu pun dengan kehidupan Biyan, mantan suaminya ...
...
__ADS_1
Bersambung ...