
"Bell, Bella jadi gak ikut kursusnya?" Ayu menatap Bella yang sedang rebahan sambil senyam-senyum.
Sejak tadi jemari gadis cantik itu tak henti-hentinya bergerak lincah dipermukaan ponselnya, karena sedang nge-chat manja dengan Eros, sang pacar kesayangan.
"Jadi dong, Yu ..." jawab Bella sekenanya, karena fokusnya lebih banyak tertuju pada ponselnya sendiri.
Melihat kebucinan Bella yang merajalela tersebut, Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala.
UAS memang telah selesai, dan itu artinya libur panjang sudah menanti.
Mengikuti kursus offline untuk mengasah skill sekaligus mempergunakan waktu libur sebulan telah membuat Bella dan Ayu dari jauh-jauh hari telah sama-sama berencana untuk ikutan training presentasi dan public speaking, demi mengasah dan meningkatkan kemampuan diri mereka agar kelak mampu mendapatkan karier impian di masa depan.
Bella dan Ayu bahkan sudah mendaftarkan diri secara online sejak sebulan yang lalu, dan sengaja memilih kelas offline agar perkembangan dan penguasaan materinya bisa lebih terkontrol.
Namun pada akhirnya, dengan terpaksa Ayu harus mengundurkan diri meskipun sudah mendaftar, dan harus merelakan uang pendaftarannya dipotong sekian persen saat meminta pengembalian dana, dikarenakan selama libur UAS, Ayu telah mendapatkan tawaran untuk menjadi assisten pada proyek penelitian salah satu dosen di kampus mereka.
Menjadi assisten dosen pada sebuah proyek penelitian tentu saja merupakan kesempatan langka, karena tidak semua mahasiswa yang mendapatkan kesempatan serupa.
Hanya mahasiswa yang ber-IPK diatas 3,5 serta memiliki nilai A pada mata kuliah pendukung penelitian sang dosen saja yang bisa mendapatkan kesempatan tersebut.
So, berhubung Ayu merupakan salah satu mahasiswi berprestasi dengan nilai-nilai menawan serta IPK diatas rata-rata, maka tak heran jika pilihan sang dosen jatuh kepada Ayu.
Bella terlihat menaruh ponselnya diatas bantal, kemudian menatap Ayu yang masih betah duduk di kursi belajar miliknya.
"Kenapa, Bell? Kok udahan pacarannya?" tanya Ayu yang melihat sahabatnya itu tak lagi menggenggam ponsel.
"Ya gitu, Yu, kan Om Eros lagi di club, jadi kalo nge-chat juga timbul tenggelam. Kalo lagi gak sibuk balasnya lancar, kalo ada yang dikerjain ya Bella harus nunggu chat-nya di balas aja ..."
"Dih, tumben segitu sabarnya nungguin di bales chat-nya, coba kalo sama Ayu aja langsung ngamuk kalo gak direspon cepat ..."
Mendapati kalimat protes Ayu, Bella malah terkikik geli.
"Hi ... Hi ... Hi ... Maap yah, Yu, kalo selama ini Bella gak sabaran orangnya ..."
Ayu geleng-geleng kepala, mendapati wajah kenes Bella yang semenjak jadian sama Eros auranya selalu terlihat berseri-seri.
"Yu, Bella kangen deh sama Om Eros ..." tukas Bella tiba-tiba, setelah hening sempat bertahta diantara mereka.
"Samperin-lah ..."
Bella sontak melotot mendapati jawaban Ayu yang rada nyeleneh.
"Loh? Ayu bener kan? Kalo kangen kenapa gak disamperin langsung ...?" tantang Ayu, yang sesungguhnya tujuannya hanya untuk menggoda Bella, bukannya betulan memberi ide.
Ayu tau, dalam waktu dekat ini Bella pasti tak mungkin berani mendatangi Eros, karena gadis itu sendiri sudah berjanji untuk menahan dirinya, sampai proses perceraian Eros benar-benar selesai.
Keputusan untuk tidak saling bertemu itu datangnya memang dari Eros.
__ADS_1
Bagi Eros, menjaga nama baik Bella merupakan hal yang paling penting yang sudah sepantasnya ia lakukan, karena Eros tidak mau kelak nama Bella akan dikait-kaitkan dengan keputusannya untuk berpisah resmi dari Anya.
Selain itu, Eros yang paham betul dengan sifat manipulatif Anya, pastinya juga tak ingin Anya mengusik Bella.
Intinya Eros telah melakukan segala cara, agar proses perceraiannya itu berjalan lancar tanpa hambatan dan cela sedikitpun.
"Gak ah, Yu, Bella gak mau melanggar janji Bella ke Om Eros. Kan semua ini demi masa depan hubungan Bella sama Om Eros juga ..." lirih Bella, dengan wajahnya yang sendu.
Ayu bisa melihatnya dengan jelas, betapa besar rasa kangennya Bella.
Namun mendapati Bella yang mampu menahan diri begitu rupa demi kebaikan hubungannya dengan Eros, membuat Ayu benar-benar mengacungi dua jempol sekaligus.
"Emangnya proses cerainya udah sejauh mana, Bell?"
"Kata Om Eros sih, semua urusannya udah beres. Tinggal nunggu keputusan akhir dari Pengadilan Agama ..."
"Semoga aja Tante Anya bisa koperatif ya, Bell. Biar urusannya bisa cepat beres ..."
"Iya sih, Yu. Lagian kalo Bella lihat dari sisi Om Eros yang bertindak sangat hati-hati, kayaknya sih Tante Anya emang sedang melakukan upaya menghalang-halangi, tapi ya gitulah, Yu ... Bukannya Bella gak empati sebagai sesama perempuan, tapi pada dasarnya Tante Anya kan udah mengkhianati Om Eros sejak lama, bahkan sampai sekarang aja Tante Anya masih tinggal bareng sama pacarnya. Lah kenapa juga gak mau resmi cerai ...? Kan aneh ..."
"Mungkin Tante Anya masih cinta kali sama Om Eros ..." tukas Ayu sekenanya.
"Entahlah, Yu, tapi bagi Bella kalo udah kayak gitu sih bukan lagi cinta deh namanya, melainkan ambisi." pungkas Bella, kali ini sambil menatap penuh wajah Ayu yang juga sedang menatapnya.
"Ambisi ...?"
Ayu tercenung mendengarnya. Yang diucapkan Bella barusan memang benar adanya, tak ada yang keliru, karena pada hakekatnya Ayu juga memiliki pemikiran yang sama dengan Bella.
Perasaan sayang dan cinta Ayu kepada Om Biyan rasanya mampu membuat Ayu berkorban apa saja.
Selama ini Ayu memilih terluka sendirian setelah sekian lama memendam perasaan cinta yang tak berbalas, namun meskipun demikian Ayu tidak pernah sekalipun berniat mengusik kehidupan Biyan, dan rela menjadi sosok yang 'tak terlihat'.
Sungguh, Ayu sangat ingin melihat Biyan bahagia. Kalau pun pada akhirnya pria itu bisa menemukan kebahagiaan justru bersama dirinya, maka demi mewujudkan semua itu Ayu juga rela menghadapi segala resikonya.
"Intinya sih, hargailah pasangan kita selagi bersama, pertahankanlah hubungan yang ada sekuat tenaga, karena kita gak akan pernah tau, Yu, penyesalan seperti apa yang akan kita temui didepan sana saat kita menyia-nyiakan sesuatu yang berharga, yang bahkan belum tentu bisa terjadi dua kali dalam hidup kita. Iya kan? So ... Everyone deserves to be happy, selagi kita gak merebut apa yang bukan milik kita ... Kita juga berhak bahagia, gak melulu harus mentingin kebahagiaan orang sana yang belum tentu bisa setulus kita ..."
Ayu tercenung mendengar kalimat panjang Bella yang rada sarkas, tapi Bella malah ketawa menanggapi wajah Ayu yang terhenyak.
"Kedengaran horor yah, kalimat pamungkas Bella?" usut Bella dengan sedikit tawa yang masih tersisa disudut bibir, seolah ingin mencairkan suasana diantara mereka yang barusan terasa cukup serius.
"Banget, Bell. Darimana sih Bella bisa dapetin kalimat-kalimat mainstream kayak gitu ...? Bulu kuduk Ayu sampe merinding disco dengernya ..."
Ayu bahkan masih sempat mengangkat dua lengan kiri dan kanannya silih berganti, demi memperlihatkan bulu halus yang meremang di area tersebut kearah Bella.
Mendengar kalimat Ayu yang disertai gerakan yang memperlihatkan ketegangannya itu, kembali sukses membuat Bella ngakak.
"Segitu amat, Yu ..."
__ADS_1
"Yeee ... Lagian Bella juga ngomongnya udah ngalahin Mario Teguh, dalem banget ..."
"Tapi yang Bella omongin bener kan, Yu?"
Ayu terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan sedikit ragu. "Yaaa ... Yaaa ... Gimana yah, Bell ..."
Bella tersenyum menyaksikan kegugupan Ayu yang terlihat begitu jelas. Kemudian dengan sedikit menghempaskan napasnya perlahan, bibir Bella kembali bergumam lirih ...
"Tante Anya, dan Mama Rania ..."
Wajah Ayu sontak terangkat. Kaget setengah mati karena tak menyangka Bella akan menyebut nama Mamanya dengan begitu tiba-tiba, tanpa ancang-ancang sebelumnya.
'Oh my ... Bella mau ngomongin apa lagi ini ...?'
Mendadak Ayu merasa sedikit gugup, takut jika hubungannya dengan Biyan yang belum juga go public tercium oleh Bella.
Pada pembicaraan terakhir antara Ayu dan Biyan yang begitu intim, Biyan memang telah meminta kesabaran Ayu agar bisa menunggu pria itu berkata jujur dihadapan Rania, terlebih Bella.
Waktu Biyan kala itu sangatlah sempit, dan Bella paham jika Biyan memang harus pergi dengan hanya meninggalkan sebuah ciuman panjang dibibir Ayu, yang terus membekas hingga detik ini.
"Tolong bersabar sebentar lagi yah, Ay. Tunggu Om balik, dan kita akan selesaikan semuanya ..."
Begitulah janji Biyan di malam itu, sebelum ia dengan berat hati harus bangkit dari atas tubuh Ayu setelah nekad menautkan kedua bibir mereka satu sama lain.
"Dari Tante Anya dan Mama Rania, Bella belajar, bahwa ternyata yang disebut dengan kesempatan kedua gak selalu bisa kita dapetin ..."
"Bell ..."
"Sekarang Tante Anya pasti nyesel udah mengkhianati cinta Om Eros, begitupun dengan Mama ..."
Wajah sendu Bella yang berada tepat dihadapan Ayu, seolah tak kuat disaksikan Ayu lebih lama.
Ayu tertunduk dalam, sadar bahwa seburuk apapun Rania, pada kenyataannya wanita itu tetaplah nomor satu dihati Bella.
Biar bagaimana pun Bella tentu saja ingin melihat kedua orang tuanya berbaikan dan kembali bersama. Itu adalah hal yang wajar.
Lalu bagaimana tanggapan Bella nanti jika mengetahui semua kenyataan?
Ayu terpekur, ia merasa bak seorang pengkhianat yang sedang membohongi sahabatnya sendiri.
'Maafin Ayu, Bell ...'
Cicit Bella dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Tak ada yang bisa Ayu lakukan saat ini, karena mulutnya pun bahkan belum mampu mengungkapkan sebuah pengakuan ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕 : Suppooorrrt yuuukkk ... 🤗