HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
MENGANDALKAN YOS


__ADS_3

"Sini biar Om yang bawa."


Ucap Biyan kepada Ayu, begitu mereka baru saja keluar dari terminal kedatangan penumpang domestik.


"Egh, gak, gak usah repot-repot, Om. Ayu bisa bawa sendiri. Lagian tas Ayu juga gak berat kok."


"Udah gak pa-pa, Ay. Sini ..."


Tanpa menghiraukan aksi keberatan Ayu, Biyan pun langsung mengambil alih travel bag kecil milik Ayu, yang sejak tadi berada didalam genggaman tangan gadis itu, sehingga kini ditangan kiri dan kanan Biyan masing-masing terdapat sebuah travel bag dengan ukuran yang nyaris seimbang.


"Kita langsung lewat sana aja, Ay." ucap Biyan sambil menunjuk pintu keluar lewat dagunya yang terlihat mulai ditumbuhi rambut halus.


"Iya, Om."


Tanpa banyak bicara Ayu pun langsung mengikuti langkah kaki Biyan yang mengarah ke pintu keluar yang dimaksud, yang nantinya lewat pintu tersebut mereka akan menuju ke area gedung parkir lantai satu, memisahkan diri dari sebagian besar penumpang lainnya yang melangkah kearah Claim Area, karena Biyan dan Ayu memang tidak memiliki bagasi.


Matahari sudah sangat condong ke ufuk barat begitu langkah kaki Biyan dan Ayu terayun beriringan menuju ke sebuah mobil berwarna putih yang sudah terparkir di lobby penjemputan.


Ayu mengenali mobil dengan tipe MPV tersebut sebagai salah satu dari beberapa koleksi mobil mewah milik Biyan, yang menghuni garasi mewah dirumah pria itu yang juga tak kalah mewah.


"Selamat sore, Pak." sapaan takjim langsung terdengar begitu Biyan tiba di sana.


"Selamat sore juga, Yos." jawab Biyan, singkat.


Yos yang merupakan asisten merangkap sopir pribadi Biyan dalam urusan pekerjaan, dengan sigap langsung mengambil alih dua buah tas yang ada ditangan Biyan, kemudian menaruhnya di bagasi belakang.


"Ayo, masuk." ucap Biyan sambil membukakan pintu untuk Ayu.


Ayu pun mengangguk sambil bergegas masuk kedalam mobil Biyan yang berhawa sejuk tersebut.


Namun belum juga tubuhnya terhempas sempurna, Ayu merasa sedikit terkejut menyadari gestur tubuh Biyan yang terlihat seolah ingin menyusul Ayu untuk duduk di bangku kedua, bersama dengannya.


Tadinya Ayu pikir Biyan akan duduk didepan, disamping sang sopir.


Ayu yang sama sekali tak menyangka jika Biyan malam memilih duduk disampingnya sontak buru-buru menepikan diri agar lebih merapat kesisi yang lain, guna memberi tempat yang lebih lapang kepada Biyan.


"Yos kita mampir ke cafe xx sebentar yah ..." titah Biyan kepada Yos yang berada dibelakang kemudi.


"Baik, Pak."

__ADS_1


Usai menerima jawaban Yos tatapan Biyan langsung beralih kearah gadis manis yang masih setia berdiam diri disebelahnya.


"Laper gak, Ay?" tanya Biyan, ringan.


Ayu menggeleng. "Gak, Om. Ayu masih kenyang, tadi kan Ayu udah makan di pesawat ..." jawab Ayu jujur, karena perutnya memang masih kenyang.


Seumur hidup baru kali ini Ayu merasakan naik pesawat milik maskapai penerbangan nomor satu di tanah air, lengkap dengan fasilitasnya yang terbaik.


Mana selama perjalanan servicenya luar biasa, dikasih makan juga, dan makanannya enak-enak pula, minumannya pun beraneka ragam ... Bebas request sesuai selera.


Mendapati semua kenyamanan itu, pada ketinggian tiga puluh ribu kaki diatas permukaan laut, sempat-sempatnya Ayu mengkhayal betapa enaknya kalo jadi istri benerannya Biyan.


'Egh, tapi kan status Ayu sekarang emang istri beneran ...'


'Yah ... Meskipun hanya nikah siri, tapi kan tetap aja sah dimata Yang Maha Kuasa. Iya gak sih ...?'


"Om Biyan laper yah? Ya udah gak pa-pa Ayu temenin aja dulu ..."


Biyan menggeleng menerima tawaran Ayu yang terucap sambil menatap Biyan secara utuh.


"Gak, Ay, sebenarnya Om bukannya laper, melainkan pengen ngomong sama Ayu aja. Tapi ... Ya udah lah, Om omongin di sini aja bisa kan, Ay?"


Seolah paham dengan rasa was-was Ayu kalau-kalau apa yang hendak dia omongin kelak merupakan sebuah pembicaraan yang seharusnya tidak menjadi konsumsi orang lain selain mereka berdua, Biyan pun menarik napasnya sejenak dan ...


"Yos," panggil Biyan, kepada sang Asisten yang sudah beberapa tahun ini telah menjadi orang kepercayaan Biyan.


"Iya, Pak?" jawab Yos sambil melirik sejenak lewat spion tengah, sebelum tatapannya kembali fokus kejalanan yang berada tepat dihadapannya, meskipun Biyan tau persis bahwa kedua telinga pria yang dua tahun lebih muda dari dirinya itu pastilah sedang fokus menanti apa yang hendak ia utarakan.


"Kamu sudah kenal Ayu sebelumnya kan?" tanya Biyan to the point, sanggup membuat dua alis Ayu yang berada tepat disampingnya berkerut nyata, bingung dengan hal apa kira-kira yang hendak dikemukakan Biyan kepada bawahannya itu.


"Iya, Pak, Non Ayu kan sahabat dekatnya Non Bella. Tentu saja saya kenal." jawab Yos juga to the point.


Dalam beberapa kesempatan Yos memang pernah ditugaskan untuk menjemput Bella, yang tak lain merupakan putri semata wayang sang bos besar, dan dalam beberapa kali kesempatan pula saat Yos menjemput, Bella ada bersama Ayu, gadis yang kini sedang duduk anteng dibangku kedua, berdampingan dengan sang bos besar.


Sejujurnya, sejak menyadari Biyan tak sendiri saat melangkahkan kaki mendekati mobil yang ia kendarai, melainkan bersama Ayu yang selama ini notabene merupakan sahabat dekat Bella, Yos sempat merasa keheranan dalam hati.


'Kenapa Pak Biyan bisa datang bersama sahabat Non Bella yah ...?'


Begitu kira-kira pertanyaan yang ada didalam benak Yos untuk pertama kali, menyadari Ayu yang sejak awal terus berada dibalik punggung lebar Biyan, seolah merasa takut terlihat dan dikenali oleh begitu banyak orang yang memenuhi lobby penjemputan.

__ADS_1


Tapi sebagai bawahan, tentu saja Yos tidak mungkin mempertanyakan hal tersebut.


"Yos, Ayu adalah istriku."


"Uhukk."


Meskipun Yos cukup kaget mendengar informasi yang diucapkan Biyan tanpa sedikitpun beban itu, namun Yos bisa mengendalikan rasa terkejutnya dengan baik.


Hal tersebut sangat berbeda dengan Ayu yang tiba-tiba langsung terbatuk, tak menyangka sama sekali bahwa Biyan bisa selugas itu membuka status pernikahan rahasia mereka kepada sang Asisten.


"Ini, di minum dulu ..." Biyan menyodorkan sebotol air mineral yang tersedia pada holder cup yang ada didalam mobil, setelah membuka segel penutupnya terlebih dahulu.


Ayu pun menerima air mineral pemberian Biyan dan langsung meneguknya perlahan.


"Sudah?" tanya Biyan lagi seperti biasa selalu penuh perhatian, dan full senyuman, membuat Ayu tak kuasa meleleh entah untuk yang kesekian kalinya.


Ayu mengangguk malu-malu, apalagi saat menyadari Biyan kembali berinisiatif untuk mengambil alih kembali botol air mineral tersebut dari genggaman tangannya, mengembalikannya lagi keatas holder cup.


"Maaf yah, Ay, karena aku memutuskan untuk memberitahukan semua ini kepada Yos tanpa meminta pendapatmu terlebih dahulu." ucap Biyan lembut, yang ditanggapi Ayu dengan anggukan bego, karena merasa bingung entah harus bicara apa.


Tanpa menunggu Ayu yang belum seutuhnya pulih dari nge-lag-nya, tatapan Biyan kini beralih sempurna ke depan, ke arah Yos yang terlihat tenang, sambil fokus menyetir.


"Kemudian untukmu, Yos, aku memang sengaja tidak ingin menyembunyikan semua ini darimu, karena kedepannya sudah pasti aku akan lebih sering mengandalkanmu terkait semua urusan yang menyangkut Ayu."


"Saya mengerti, Pak, lalu apa yang sekiranya Pak Biyan inginkan untuk saya lakukan?"


"Pertama-tama, tolong rahasiakan status Ayu sebagai istriku kepada siapapun tanpa terkecuali."


"Saya akan mengingatnya, Pak." Yos langsung mengangguk meskipun tanpa menoleh.


"Untuk selanjutnya, nanti aku akan menghubungimu langsung jika aku butuh bantuanmu ..."


Lagi-lagi Yos mengangguk paham dan patuh.


"Pak Biyan bisa mengandalkan saya untuk semua hal yang Pak Biyan butuhkan ..."


"Aku tau, Yos, aku tau. Karena untuk hal ini, aku memang hanya bisa mengandalkan dirimu ..."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2