HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
RASA KEHILANGAN


__ADS_3

"Jadwal kuliah Ayu lagi padat banget, Pa. Ayu gak bisa ..."


"Ayu, Papa gak mau dengar ada alasan lagi. Papa sudah mengatakan semuanya dengan jelas dan barusan Papa juga sudah mengirimkan kode booking pesawat untuk penerbangan besok pagi."


"Pa ..."


"Kamu harus pulang.."


"Tapi, Pa ..."


"Gak ada tapi. Intinya kamu harus pulang secepatnya."


Ayu tergugu di tepi ranjang dengan tubuh yang lemas seolah tak bertulang.


Entah apa yang terjadi, Ayu pun tak tau persis. Tapi yang pasti sesuatu pastinya telah terjadi. Karena kalau tidak ... Mana mungkin papanya begitu keukeuh menyuruh Ayu pulang dengan begitu mendadak seperti saat ini.


"Ini ... Bicaralah dulu dengan Mamamu ..." suara bariton diseberang sana kembali terdengar, sementara Ayu tak lagi menanggapi, hanya bisa pasrah.


"Yu ..." kini suara lembut seorang wanita telah memenuhi seluruh rongga telinga Ayu, membuat Ayu menjadi semakin tak berdaya hanya dengan sebuah panggilan lembut dari sang pemilik surganya itu.


"Iya, Ma ..." jawab Ayu, lemah.


"Tolong patuhi perintah Papamu yah, Nak ..."


"Tapi, Ma ..."


"Tolong jangan membantah, Yu ..." nada suara yang mulai bergetar diseberang sana semakin membuat Ayu tergugu.


Ayu menghela napasnya guna mengumpulkan seluruh kekuatan yang ada didalam sanubarinya, karena Ayu sendiri belum mampu mengucapkan keputusan akhir atas permintaan kedua orang tuanya yang begitu mendesak.


"Iya, Ma. Ayu ngerti. Ayu bukannya ingin membantah, tapi seenggaknya tolong kasih tau Ayu ada apa sebenarnya. Papa dan Mama hanya menginginkan Ayu segera pulang tanpa mengatakan apa alasannya ... Ayu kan bingung, Ma ..." ucap Ayu lirih.


Hembusan napas berat diseberang sana terdengar nyata ditelinga Ayu, membuat bathin Ayu semakin tak karuan.


"Maafkan Mama, Yu. Untuk saat ini, Mama belum bisa mengatakan apa-apa. Tapi meskipun demikian, Mama tau bahwa Ayu anak yang baik dan selalu menuruti perintah Papa dan Mama. Pulanglah, Nak ... Karena semua ini menyangkut nama baik keluarga kita ..."


Ayu terdiam, semakin bingung harus berkata apa.


"Ayu, kamu masih di sana, kan ...?"


"Iya, Ma ..."


"Ayu ..."


"Baiklah, Ma. Seperti keinginan Mama dan Papa, besok Ayu akan pulang ..."

__ADS_1


Seiring dengan keputusan yang telah dibuat Ayu dengan berat hati, tak ayal lagi untaian syukur pun terdengar jelas diseberang sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kok mendadak banget, Yu ...? Kalo boleh Bella tau, ada apa sih sebenarnya ...?"


Ayu menggeleng lesu dihadapan Bella yang menatapnya bingung, sementara disisi meja yang lain Rania juga terlihat mengawasi perbincangan tersebut dengan seksama.


Usai memberikan keputusan akan kepulangannya kepada kedua orang tuanya, Ayu langsung bergegas keluar dari kamar guna menemui Bella dan Rania yang baru saja menyelesaikan makan malam mereka.


Niat hati Ayu tak lain adalah ingin pamit, karena besok pagi rencananya Ayu harus buru-buru ke bandara untuk mengejar penerbangan pertama ke kota asalnya, dengan menggunakan salah satu maskapai penerbangan komersil yang ada di negeri ini.


"Ayu juga belum tau, Bell. Tiba-tiba aja Papa sama Mama Ayu ngotot minta Ayu untuk pulang. Ya udah sih, gitu aja, tanpa penjelasan apapun ... Bahkan tiket Ayu udah ready ..."


"Tapi minggu depan kita udah UAS loh, Yu. Kalo Ayu balik sekarang trus UAS-nya gimana ...?" ucap Bella mengingatkan jadwal ujian akhir semester mereka yang sudah ada didepan mata.


"Makanya itu sejak awal Ayu juga keberatan untuk pulang, Bell. Ayu juga udah sampaikan ke Papa sama Mama kalo minggu depan kita UAS. Tapi kata Papa cuma bentar doang ... Tiga hari juga bisa langsung balik kata Papa ..."


"Ih, ada apaan sih sebenarnya? Bella jadi ikutan kepo ..."


Wajah Bella nampak menahan greget, menandakan bahwa gadis itu memang benar-benar kepo dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh kedua orang tua Ayu, sehingga ibaratnya tiada angin tiada hujan, mendadak Ayu dipaksa pulang seperti ini.


"Maaf yah, Ayu, bukannya Tante mau ikut campur, tapi apakah Ayu yakin bahwa kedua orang tua Ayu baik-baik aja ...?" tanya Rania yang akhirnya memilih bertanya, karena sama halnya seperti Bella, mendapati apa yang kini sedang menimpa Ayu memang terkesan agak janggal.


"Gak ada kok, Tante. Seharian ini Ayu udah beberapa kali telponan bahkan video call-an sama Mama dan Papa. Kalau secara kasat mata, bisa dilihat kok orang tua Ayu kelihatannya sih baik-baik aja, cuman ... Memang kayaknya lagi memendam kesedihan gitu, Tan ..."


"Yu, males banget deh, jadi besok Bella ke kampusnya sendirian lagi dong ..." Bella berucap sambil manyun.


"Maaf deh, Bell. Lagian kan cuma untuk beberapa hari aja. Setelah semuanya kelar Ayu bakal usahakan balik lagi sebelum UAS."


"Beneran nih Ayu bakal balik sebelum UAS ...?" tanya Bella memastikan.


"Iya, Bell ..."


"Janji ...?"


Bella terlihat mengacungkan jari kelingkingnya ke udara, tepatnya kearah Ayu yang langsung disambut oleh Ayu dengan mengaitkan jari kelingkingnya juga.


"Iya, Bell, Ayu janji ..." ucap Ayu sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang midnight, dan Eros merasa dirinya harus menyerah setelah secara diam-diam, sudah sejak beberapa jam yang lalu, Eros terus berusaha memantau keberadaan Bella yang tak ia temukan, disudut manapun Eros mengembara.


Eros awalnya begitu yakin bahwa ia pasti akan menemukan sosok Bella diantara berjubel manusia yang memadati Miracle malam ini.

__ADS_1


Keyakinan Eros sendiri muncul karena malam ini Miracle sedang mengadakan sebuah event mini konser dari salah satu penyanyi populer tanah air.


Pada akhirnya Eros harus menelan kecewa karena kali ini dugaannya meleset.


Eros tidak menemukan sedikitpun bayangan Bella, padahal biasanya juga Bella bahkan tidak butuh event sebagai alasan jika gadis itu benar-benar ingin datang demi mengusik Eros sepanjang malam.


Memang agak sulit dipercaya jika kali ini Bella bahkan tidak menampakkan batang hidungnya, meskipun pengisi acara Miracle malam ini merupakan salah satu dari beberapa artis favorite Bella.


"Steve ..."


Kadung penasaran dengan kenyataan dirinya yang tidak bisa menemukan Bella di manapun bahkan diantara teman-temannya yang datang bergerombol, pada akhirnya Eros nekad menghampiri Steve, yang merupakan satu dari sekian banyak teman terdekat Bella, dalam circle pertemanan Bella yang luas.


Steve yang sedang larut dalam alunan It's Only Me kelihatan sedikit terkejut mendapati Eros yang menghampiri dirinya.


"Egh, Om Eros ...? Ada apa, Om?" tanya Steve, yang berusaha mengimbangi sound music yang memenuhi udara.


"Anu Steve ... Kok Om gak ngeliat Bella yah ...?" Eros berucap to the point, meskipun awalnya sempat meragu saat ingin bertanya.


Menanggapi pertanyaan Eros tersebut, Steve nampak tertawa kecil. "Terang aja, Om gak ngeliat ... Lha Bella kan emang gak ikut, Om ..."


Alis Eros sontak bertaut mendengar penjelasan Steve. "Tumben ..." desis Eros kemudian.


"Iya, Om, padahal udah aku ajak, udah aku traktir pake tiket gratis pula ... Tapi Bella tetap aja menolak ..."


Sepasang alis lebat milik Eros menjadi semakin bertaut mendengar pernyataan Steve.


'Yang benar aja ...'


'Emang se-gigih itu Bella menolak datang meskipun sudah disediakan tiket gratis oleh temannya ...?'


Bathin Eros bertanya-tanya, karena masih belum yakin dengan kenyataan tentang Bella yang bahkan bisa menolak ajakan teman-temannya.


'Jangan-jangan ... Semua ini ada hubungannya dengan penolakan aku yang juga meminta Bella untuk menjauh ...?'


'Jadi sekarang Bella benar-benar berusaha menjauh dari aku ...?'


Lagi-lagi kenyataan tentang Bella seolah menampar keras sisi hati Eros.


Seharusnya Eros merasa lega, karena semua itu artinya dirinya bisa terbebas dari dilema.


Namun pada akhirnya nurani Eros justru tak bisa berbohong lebih lama, atas apa yang sesungguhnya sedang ia rasakan sekarang.


Tentang sebuah rasa ...


Rasa kehilangan ...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2