
"Ngapain kamu duduk sendirian di sini, Yan?" Arif Rahman bertanya, begitu ia melihat Biyan yang duduk sendirian diruang tengah.
Biyan tersenyum melihat kehadiran ayah mertuanya yang baru saja menghempaskan tubuhnya diatas sofa panjang.
"Gak ngapa-ngapain, Yah, barusan cuma habis nelpon Ayu, buat mastiin kalo udah nyampe rumah atau belum."
"Trus gimana? Udah nyampe belum?" usut Arif Rahman.
Biyan mengangguk. "Iya, Yah. Barusan nyampe, katanya sih mau buru-buru mandi dulu karena takut kemaleman ..."
Arif Rahman manggut-manggut mendengar penjelasan Biyan, separuh hatinya juga ikut lega menyadari putrinya baik-baik saja nun jauh di sana.
"Oh iya, Biyan, kebetulan ada yang mau Ayah tanyakan sama kamu ..." pungkas Arif Rahman lagi setelah sempat terdiam untuk beberapa saat, sekaligus menimbang apakah pantas ia menanyakan hal yang hendak ia utarakan nanti.
Biyan pun sontak mengangkat wajahnya, guna memusatkan perhatian kepada ayah mertuanya yang kini sedang menatapnya dengan mimik wajah yang serius.
"Ada apa, Yah ...?"
"Begini, Biyan, sebelumnya Ayah minta maaf. Ayah .... Bukannya Ayah mau ikut campur, tapi Ayah hanya ingin tau tentang bagaimana nanti kelanjutan pembicaraan dengan Juragan Ibrahim tadi. Mmm ... Maksud Ayah ... Kamu ... Kamu yakin bisa memenuhi janji kamu pada Juragan Ibrahim ...?"
Biyan tersenyum kecil mendapati seraut wajah Arif Rahman yang dipenuhi gurat kekhawatiran.
"Ayah mohon, tolong jangan salah paham. Ayah bukannya gak percaya sama kamu, tapi ..."
Mengambang, karena Arif Rahman sendiri bahkan bingung memilah kalimat seperti apa yang paling tepat guna mengungkapkan maksud hatinya yang sebenarnya, tanpa harus menyinggung perasaan Biyan.
Jujur saja, sejak mereka bertiga kembali ke rumah menjelang Maghrib kira-kira sejam yang lalu, benak Arif Rahman terus dihantui rasa penasaran yang menggunung.
Tidak. Sama sekali bukan karena dirinya tidak mempercayai Biyan, melainkan karena ia merasa ikut terbeban karena jangan sampai menantu kesayangannya itu tidak bisa memenuhi harapan keluarga Juragan Ibrahim yang terlanjur menaruh asa yang begitu besar dipundak Biyan.
"Ayah, sepertinya aku paham dengan apa yang ayah khawatirkan ..." ucap Biyan lembut, seolah mengetahui dengan persis apa-apa saja yang telah menjadi beban pikiran ayah mertuanya sejauh ini.
"Biyan, ayah mohon jangan salah paham ..."
"Gak lah, Yah. Sama sekali gak ..." tepis Biyan sambil menatap penuh Arif Rahman yang terlihat sekali tak enak hati dihadapannya.
Mendapati pemandangan tersebut entah kenapa semakin membuat Biyan merasa respect dengan kepribadian seorang Arif Rahman yang begitu santun.
Biyan tau, Arif Rahman tidak sedang meragukan dirinya, justru sebaliknya pria itu merasa sangat khawatir kalau-kalau Biyan tidak bisa memenuhi standar keinginan semua orang yang kelak bisa membuat Biyan terlihat memalukan bahkan salah di mata orang lain.
Sosok Ibu Arum yang muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisikan dua gelas kopi hitam yang sedang mengepul, cukup ampuh mencairkan suasana yang terkesan rikuh.
"Kalian sedang membicarakan apa sih? Sampai-sampai wajah kalian jadi serius begitu ...?" tanya Ibu Arum keheranan, sembari menaruh dua gelas kopi hitam ke atas meja.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok. Bu. Oh iya ... Kalo Ibu gak sedang sibuk, boleh gak Ibu duduk sebentar ...? Ada hal yang ingin Biyan omongin, terkait lahan perkebunan kelapa Juragan Ibrahim yang hendak dijual itu ..."
"Boleh ... Boleh ... Kebetulan sekali saat ini ibu juga lagi gak ngerjain apa-apa ..." ungkap Ibu Arum yang langsung mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan suaminya.
"Biyan, sebenarnya hal itu juga yang sejak tadi ingin Ayah tanyakan secara serius. Tapi terus terang Ayah malah bingung harus mulai darimana ..."
"Kenapa harus bingung? Mulai sekarang kalo ada yang ingin diomongin jangan di tahan-tahan, Yah, gak perlu sungkan ..."
Arif Rahman terlihat mengangguk, meskipun diwajahnya masih jelas tersirat rasa segan.
Dimata Arif Rahman, sosok Biyan Erlangga bisa dengan mudah membuatnya meyakini seperti apa gerangan sifat harfiah sang menantu, meskipun sejauh ini baik Arif Rahman maupun istrinya belum benar-benar mengetahui lebih banyak tentang siapa sebenarnya seorang Biyan Erlangga, begitupun juga dengan latar belakangnya.
Namun kendatipun demikian keduanya sangat percaya bahwa Biyan adalah pria yang bertanggungjawab, terlepas dari kesaksian Ayu yang mengatakan bahwa sosok Biyan memanglah merupakan pria yang baik.
Entahlah ... Seolah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun di mata kedua orang tua Ayu, penilaian positif mereka terhadap Biyan seolah timbul begitu saja dari dasar lubuk hati mereka yang terdalam, kendatipun tanpa membutuhkan pembuktian.
"Ayah, Ibu, aku hanya ingin meyakinkan saja, apakah kira-kira ayah masih bersedia mengelola lahan perkebunan kelapa itu dikemudian hari ...?"
Arif Rahman terlihat menatap Biyan yang juga sedang menatapnya dengan wajah serius.
"Kalo hal itu gak perlu ditanya lagi, Biyan. Selama puluhan tahun, Ayah bahkan menghidupi keluarga ini hanya dengan menjadi pekerja di lahan tersebut. Entahlah jika kelak lahan perkebunan itu akan berpindah kepemilikan, apakah Ayah masih akan dipercaya oleh pemilik yang baru atau tidak, yang pasti bukan hanya Ayah saja melainkan seluruh warga di kampung ini pastinya berharap hal serupa, yakni bisa terus bekerja dan mengais rejeki dengan menjadi pekerja di lahan perkebunan kelapa itu ..."
Biyan menghembuskan napasnya perlahan, mendengar penuturan Arif Rahman yang terucap dengan nada sendu.
"Yah, kalau aku akan membeli lahan perkebunan kelapa milik Juragan Ibrahim itu, apakah Ayah bersedia menerimanya ...?"
Sepasang mata milik Arif Rahman bersinar nanar, sementara Ibu Arum yang ada disampingnya juga tak kalah terkesima.
Untuk sesaat kedua orang tua Ayu hanya bisa menatap Biyan tanpa kata, dengan mulut terbuka.
"Biyan ... Kamu ini kalo mau becandain Ayah jangan kayak gitu ..."
"Tapi aku gak sedang becanda, Bu. Aku serius." pungkas Biyan atas ungkapan Ibu Arum yang berusaha menguasai keterkejutannya, dengan menganggap apa yang barusan ia dengar seolah hanya merupakan lelucon Biyan semata. "Ayah, Ibu, aku serius. Kalau Ayah dan Ibu berkenan untuk menerimanya, maka aku akan benar-benar membelinya ..." ujar Biyan lagi dengan nada suaranya yang penuh keyakinan.
Untuk sesaat, lagi-lagi sepasang suami istri yang duduk bersisian tepat dihadapan Biyan itu terlihat mematung, sebelum akhirnya bak sebuah settingan, keduanya tiba-tiba saling pandang satu sama lain dengan tatapan mata yang masing-masing dipenuhi rasa sangsi atas apapun yang terucap dari bibir Biyan saat ini.
Biyan menatap wajah memucat Arif Rahman dan Ibu Arum berganti-ganti, sedang menunggu tanggapan yang berarti karena hingga detik ini sepasang suami istri itu masih setia membeku saking tak mampu mempercayai pendengaran mereka sendiri.
Biyan tau pernyataannya sedang diragukan, tapi hal itu wajar saja karena kedua mertuanya benar-benar tidak pernah menyangka jika memiliki menantu yang ber-uang.
"Biyan, kamu ... Kamu ... Apa maksudnya ..."
Mengambang.
__ADS_1
Mulut Arif Rahman ikut terkunci seolah kelu, sehingga tak mampu meneruskan perkataannya sendiri.
'Telingaku ini pasti sedang bermasalah ...!'
'Bagaimana mungkin aku justru mendengar Biyan berkata dengan begitu jelas, bahwa dia akan membeli lahan perkebunan kelapa milik Juragan Ibrahim, kemudian akan menyerahkan kepemilikan puluhan hektar area lahan tersebut kepadaku ...?!'
'*I*ni gila ...!'
'Aku pasti sudah gila, juga telah salah mendengar ...!'
Bathin Arif Rahman berkecamuk, masih belum bisa mempercayai pendengarannya sendiri.
"Ayah, Ibu, tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri, tapi sepertinya aku memang harus mengakuinya dihadapan Ayah dan Ibu bahwa sebenarnya ... Aku adalah pemilik perusahaan yang sedang menyelesaikan tender pekerjaan di daerah ini, dengan kata lain, aku juga pemilik perusahaan konstruksi Erlangga Corporation ..."
"APPPAAA ...?!"
Arif Rahman dan Ibu Arum sama-sama terpekik mendengar kejujuran Biyan.
"Maafkan jika semua kenyataan ini telah mengejutkan Ayah dan Ibu. Aku ... Awalnya aku juga gak menyangka bahwa sampai detik ini, Ayah dan Ibu bahkan gak mengetahui hal ini ..."
Setitik penyesalan nampak bergelayut di mata Biyan, oleh karena menyaksikan wajah kedua mertuanya yang bahkan belum bisa menguasai keterkejutan mereka.
"Ayah ..."
Lirih suara Ibu Arum yang memanggil nama Arif Rahman telah sampai di gendang telinga Biyan.
Biyan hanya bisa mengawasi dalam diam setiap gerak-gerik rikuh Ibu mertuanya yang terlihat kaku saat meremas lengan suaminya sendiri, seolah ingin agar Arif Rahman segera membuka mulut dalam menanggapi kejujuran Biyan yang begitu mencengangkan.
"Baiklah, Biyan. Jadi intinya, kamu ... Sebenarnya adalah ..."
Mengambang sejenak, dan ...
"Oh, astaga, Biyan, jadi saat ayah bicara tentang bos besar, ternyata ... ternyata kamu sendiri orangnya ...?"
Arif Rahman yang seolah baru saja bisa menguasai dirinya sendiri kini mencoba bicara meskipun masih terasa sedikit frustasi.
Lagipula mertua mana yang tidak terkejut saat mengetahui menantu yang sejak awal mereka pikir hanyalah seorang pria pekerja keras biasa, tiba-tiba saja hendak membayar puluhan hektar area lahan perkebunan kelapa yang harganya begitu fantastis, hingga mencapai milyaran rupiah ...!
Mendapati pertanyaan Arif Rahman yang seolah masih sulit mencerna kenyataan yang ada dihadapannya itu Biyan pun kembali mengulas senyum.
Detik berikutnya akhirnya Biyan memilih bangkit dan berjalan memindahkan duduknya yang awalnya berhadapan kini ia telah menghempaskan tubuhnya tepat disisi Arif Rahman.
"Maafkan aku jika kenyataan tentang semua ini telah mengejutkan Ayah dan Ibu begitu rupa. Tapi sungguh, saat ini aku benar-benar bertekad untuk membeli keseluruhan area lahan perkebunan kelapa tersebut, yang untuk selanjutnya akan aku serahkan kepada Ayah agar bisa dikelola dengan sebaik-baiknya ..."
__ADS_1
Bersambung ...
🧕: Jangan lupa di support terus yah ... 🙏