
Malam semakin larut, tapi entah kenapa Ayu masih saja betah membolak-balikkan tubuhnya ke sana kemari diatas ranjang yang super empuk.
Ayu tengah kesulitan memejamkan mata karena tak bisa dipungkiri, kehadiran Rania yang tiba-tiba sukses membuat perasaan Ayu memburuk.
Ayu merasa tak enak hati, ditambah lagi dengan sikap Rania yang jelas-jelas tak bersahabat.
"Tante Rania kenapa yah? Kok kayak jealous gitu sama Ayu?"
"Apa jangan-jangan ... Tante Rania tau kali yah kalo Ayu naksir Om Biyan, makanya Tante Rania cemburu dan kelihatan gak suka dengan kehadiran Ayu ...?"
Sejak tadi Ayu tak henti bermonolog, di saksikan seekor cicak yang nemplok di tembok kamar.
"Iya sih, Ayu emang naksir berat meskipun Om Biyan-nya cuek aja. Lagian ... Emang Tante Rania itu cenayang yah? Kok bisa baca perasaan Ayu yang tersimpan rapat ...?"
"Orang si Bella aja gak 'ngeh' kalo selama ini Ayu naksir Papanya ..."
Sambil menaruh ponsel keatas bantal yang ada disampingnya, dengan sepasang mata yang masih betah menerawang ke langit-langit kamar, Ayu terus saja ngobrol sendiri kayak orang bego.
Jujur Ayu sedih menyadari bahwa Rania tidak sebaik Biyan dan Bella, sambil berpikir bahwa belum juga ada sehari dirinya menghuni rumah besar milik Biyan, dan ia sudah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.
Lagipula Ayu juga tidak bisa memungkiri bahwa pada dasarnya bukan hanya Rania saja yang merasa jealous. Melainkan dirinya juga.
Iya sih, kalau mau jujur sebenarnya Ayu juga merasa jealous dengan kehadiran Rania dirumah Biyan.
Ayu jealous karena menyadari meskipun telah bercerai namun ternyata komunikasi antara Biyan dan Rania tetap berjalan dengan sangat baik ... Dan Ayu juga jealous manakala berpikir bahwa jangan-jangan sepasang mantan suami-istri itu bakalan clbk alias balikan.
"Astaga ... Kok pikiran Ayu jadi jahat begini sih ...?"
"Bukankah kalo Om Biyan dan Tante Rania baikan itu akan lebih baik buat Bella ...?"
"Ya ampun, teman macam apa Ayu ini, yang justru mengharapkan hal yang sebaliknya untuk Bella?"
Mumet. Pikiran Ayu beneran mumet.
Ingin sekali rasanya Ayu berbesar hati, namun apa daya Ayu sendiri tak bisa menghentikan rasa cemburu yang hadir begitu saja disudut hati.
Ayu tak peduli meskipun Biyan tidak memiliki perasaan yang sama, dan bersatu dengan Biyan adalah hal yang rasanya paling mustahil yang bisa terjadi dalam kehidupannya.
Tetap saja perasaan cinta Ayu untuk Biyan terus bekerja secara alami, menstimulasi berbagai reaksi didalam hati yang semuanya berpusat pada satu titik, yakni ... Rasa cemburu!
Lelah dengan pikirannya sendiri membuat Ayu memutuskan untuk memaksa memejamkan matanya yang belum mengantuk sedikitpun.
'Om Biyan ... Ayu kangen ...'
Perasaan rindu yang kembali bertalu dalam benak dan bathin Ayu, sontak terjeda dengan getaran ponsel yang ada diatas bantal.
Dengan malas-malasan Ayu kembali membuka matanya, dan mengambil ponsel tersebut guna mencari tahu siapa gerangan orang kurang kerjaan yang masih berniat menelponnya di jam seperti ini.
'Papanya Bella memanggil ...'
Ayu langsung terlonjak bangun dari rebahannya begitu saja, usai mengeja nama yang tertera jelas dilayar ponsel miliknya.
"Om Biyan ...?"
Seperti yang sudah-sudah, acap kali menerima telepon Biyan maka sontak jantung Ayu akan langsung berdegup kencang, dan seluruh dinding hatinya serentak dipenuhi bunga cinta yang bermekaran.
__ADS_1
Ponsel ditangan Ayu masih berdering lirih manakala Ayu berusaha mengatur laju napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan menerima panggilan tersebut dengan cara menyentuh icon berwarna hijau dipermukaan layar ponsel.
"H-hallo, Om ..." lagi-lagi ... Ayu menjawab dengan nada gugup yang seolah tak mampu dihilangkan.
"Ternyata belum tidur ..." suara berat diseberang sana terdengar mendesah lega. "Syukurlah ... Padahal hampir aja Om menyerah dan mutusin panggilan karena gak mau ganggu Ayu ..."
"Gak Om, sama sekali gak ganggu. Lagian ... Ayu juga belum tidur kok ..." pungkas Ayu cepat, seolah tak rela jika pria itu benar-benar menyerah karena merasa telah mengganggu.
"Yang benar nih Ayu belum tidur ...?" tanya Biyan lagi seolah memastikan.
"Iya, Om, seriusan, Ayu beneran belum tidur ..."
"Kenapa ...?"
"Apa ...?"
"Kenapa? Kenapa selarut ini Ayu belum tidur?"
Ayu terdiam menerima pertanyaan Biyan yang tak biasa. Karena biasanya pria itu selalu to the point menanyakan keadaan Bella, dan tak pernah begitu peduli dengan keadaan Ayu.
"Ay ..." panggilan lembut Biyan membuyarkan lamunan Ayu begitu saja.
"Egh, i-iya, Om ..." tergeragap.
"Kenapa gak dijawab ...?"
"Apa ...? Oh, mmm ... anu Om ..."
"Ada yang Ayu pikirin?"
Mendengar pertanyaan Biyan yang terlontar beruntun dengan nada suara khasnya yang dalam, semakin membuat lidah ayu terasa kelu.
'Sengaja mau bikin Ayu ge-er apa gimana nih ...?'
'Om ... Om Biyan diem dan nyuekin Ayu aja Ayu udah ge-er setengah mati, sekarang malah sok ngasih perhatian lagi ...'
'Om ada niat mau bikin Ayu mati beneran apa gimana nih ...?'
Bathin Ayu sengaja ngedumel panjang-pendek, demi mengalihkan perasaan baper tingkat dewa yang mulai menggerayangi seluruh bilik hati Ayu tanpa tersisa.
"Ay ..."
"Iya, Om ... Egh, maksud Ayu enggak, Om, gak ada yang Ayu pikirin kok ... Ayu hanya belum ngantuk aja ..." kilah Ayu cepat, berusaha mengatasi perasaan senangnya yang seolah bisa membuat dunianya jungkir balik.
"Ya udah, kalo gitu sekarang Ayu tidur aja yah, besok ada kuliah gak ...?" usut Biyan kemudian.
"Ada Om,"
"Pagi? Siang?"
"Pagi Om, jam delapan."
"Nah kan ... Udah tau besok kuliahnya pagi, selarut ini kok masih begadang aja ..."
Ayu bengong sejenak, karena merasa bak lagi diomelin pacar beneran. Duh ...
__ADS_1
"Iy-iya Om, abis ini Ayu langsung tidur." jawab Ayu pada akhirnya.
"Janji, Ay?"
"Iy-iya, Om, Ayu janji."
"Hmm, bagus. Kalo gitu Om tutup telponnya sekarang yah ..."
"I-iya Om ..."
"Goodnight, Ay ... have a nice dream ..."
"Have a nice dream juga, Om ..."
Pembicaraan itu telah berakhir. Tapi Ayu masih nge-lag sambil melototin ponselnya sendiri.
"Ini mimpi bukan sih ...?"
Refleks Ayu mencubit punggung tangannya dan ...
"Awwww ..."
Sakit.
Berarti ini beneran, bukan mimpi!
Menolak untuk percaya begitu saja, Ayu mengecek lagi log panggilan masuk di ponselnya, dan benar saja ... Ada nama 'Papanya Bella' tertera di jejeran paling atas dari log panggilan masuk, lengkap dengan durasi telponnya.
Demi apa ...?
Ayu baru saja tersadar, bahwa untuk yang pertama kalinya, baru kali ini Om Biyan benar-benar menelpon Ayu, tapi bukan dengan alasan menanyakan Bella!
Maksudnya apa coba?
Detik berikutnya Ayu langsung menghempaskan tubuhnya kuat-kuat keatas ranjang sambil menutup wajahnya dengan bantal.
'Omegaaaatt ...! Gilaaaa ...! Ini beneran gilllaaaa ...!'
'Mimpi apa bisa ditelpon Om Biyan kayak barusan ...?'
'Udah berasa kayak pacar yang lagi LDR-an ...'
'Duhhh ... So sweeeeettt ...!! Makin cinta deh ...!!'
'Aaakhh ... Om Biyaaaannn ...!!"
Ingin rasanya Ayu berteriak sekencang-kencangnya agar seisi dunia tahu betapa bahagianya Ayu saat ini.
Namun tentu saja Ayu tidak mungkin melakukannya, bukan?
Alhasil Ayu hanya bisa berguling ke sana kemari diatas ranjang guna meluapkan segala rasa yang campur aduk dihatinya, yang sebagian besar didominasi oleh perasaan bahagia ... Yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata ...
...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕 : Berhubung karya ini sepi kayak kuburan umum, jadi author memutuskan untuk membuat karya baru dengan judul : "MENIKAHI PERAWAT LANSIA" sehingga kemungkinan besar karya ini akan agak slow up 🙏
Tapi tenang aja, author tetap akan konsisten menamatkan kisah yang super uwwu ini 🥰