HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
HASRAT YANG SAMA


__ADS_3

Biyan tersenyum dalam hati, sembari menyendok nasi goreng buatan Ayu kedalam piringnya dengan porsi ekstra, tak lupa juga ia memindahkan sebuah telur ceplok dan beberapa irisan timun yang segar sebagai pelengkap.


Untuk sejenak, Biyan kembali terkenang akan sepenggal pembicaraan diakhir perjumpaan diam-diam antara dirinya dan Ayu semalam, yang seolah terputar ulang.


"Om Biyan, terima kasih ..."


Ucap Ayu yang kala itu berniat mengantar Biyan sampai ke daun pintu, namun pintu tersebut belum benar-benar terbuka, karena Biyan menunda memutar rosetnya.


"Terima kasih untuk apa nih?" tanya Biyan yang berpura-pura bingung.


"Untuk semuanya ..." jawab Ayu malu-malu.


"Semuanya?" pancing Biyan.


"Iya, semuanya. Makanannya, minumannya, obat sama vitaminnya ... Mmm ... Perhatiannya juga ..."


Saat berucap demikian pipi Ayu yang merona nampak jelas terlihat di mata Biyan, membuat Biyan merasa gemas ingin menyentuh ... Namun Biyan menahan keinginannya tersebut dengan sekuat tenaga.


"Oh iya, itu vitaminnya jangan lupa diminum setiap hari yah ... Biar gak gampang sakit."


Ayu mengangguk dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan. "Om terima kasih ya, karena Om Biyan udah baik banget sama Ayu. Ayu jadi bingung gimana caranya agar Ayu bisa bales semua kebaikan Om Biyan ..."


"Gak usah bingung kali, Ay, gampang kok cara balesnya ..."


Celetukan Biyan membuat sepasang alis Ayu terangkat, menatap raut wajah Biyan yang sedang tersenyum penuh arti kearahnya.


"Besok pagi, cukup bikinin Om sarapan nasi goreng spesial pake telor ceplok. Udah, segitu aja udah lunas ..."


Yah, dan dari pembicaraan itulah yang akhirnya menjadi alasan utama, mengapa semalaman Ayu jadi tak sabar menunggu pagi, hanya demi menepati janji untuk membuatkan sarapan yang di request khusus sama ...


Ehem, suami Ayu tersayang.


Ahay deh ...


"Bell, kalian berangkat ke kampusnya jam berapa?" suara berat Biyan terdengar memecah suasana yang sempat dilanda keheningan.


"Habis sarapan kita langsung berangkat kok, Pa ... Emangnya kenapa, Pa?"


"Ya gak pa-pa, Bell, Papa cuman mau mastiin aja. kalo Bella tetap rajin kuliahnya ..."


"Tenang aja, Pa, anak Papa yang cantik serta baik hati ini udah pasti rajin kok kuliahnya ..."


Mendengar kalimat penuh percaya diri tersebut, tak ayal Biyan pun membalasnya dengan acungan jempol kearah Bella, yang terlihat semringah.


"Oh iya, Bell, by the way senin depan udah UAS kan?"


"Iya, Pa." ujar Bella membenarkan.


Biyan manggut-manggut sejenak. "Kuliah yang rajin, biar cepat kelarnya ..."

__ADS_1


"Beres, Pa ..."


"Buat Ayu juga ..."


"Egh, apa?" Ayu terjingkat.


"Kuliah yang rajin, Ay, biar cepat kelarnya ..." ulang Biyan kali ini sambil menatap Ayu dengan lembut.


"I-iya, Om ..." Ayu yang duduk tepat disebelah Bella refleks mengangguk rikuh, sama sekali tak menyangka jika ternyata dirinya pun akan mendapatkan perhatian yang sama dengan Bella secara terang-terangan dari Biyan.


"Ya, udah, kalo gitu ayo kita semua buruan sarapan ..." ucap Biyan kemudian, yang ditanggapi anggukan kepala semua orang yang ada di sana, termasuk Rania yang jadi tak banyak bicara karena topik obrolan Biyan yang sejak tadi terkesan tak melibatkan dirinya.


Beberapa saat kemudian, hanya ada aktifitas dari masing-masing yang sedang melayani diri mereka sendiri, manakala ekor mata Biyan tanpa sengaja menyapu seraut wajah wanita yang sejak tadi duduk diam dengan wajah terlipat.


"Rania, kamu gak makan ...?" tegur Biyan dengan alis bertaut.


"Aku gak suka nasi goreng, apalagi untuk dimakan saat sarapan ..."


"Loh, kenapa ...?"


"Karena terlalu berat di karbo." ucap Rania datar, lagi-lagi tanpa ekspresi berarti.


Dengan wajahnya yang dingin Rania hanya menyeruput juice buah dan sayuran yang ia mix sendiri dengan menggunakan juicer yang tersedia di dapur.


"Sayang sekali ... Padahal nasi goreng buatan Ayu gak ada duanya loh ..." puji Biyan tak tanggung-tanggung, membuat Rania ingin sekali mencibir detik itu juga, namun ditahannya.


Rania tidak ingin terlihat konyol di mata Biyan, hanya karena selalu menampakkan kecemburuannya pada gadis kampungan yang sedang tersenyum bangga bercampur tersipu, setelah menerima pujian Biyan yang terang-terangan.


"Egh, tapi Mama keren deh, sarapannya hanya mau yang sehat-sehat aja ..." imbuh Bella tiba-tiba dengan mulut yang penuh sesak oleh nasi goreng favoritenya, membuat Rania yang awalnya mulai agak boring seolah mendapatkan tambahan kekuatan baru.


"Makanya harus dibiasakan dong, Bell. Kalo dari sekarang aja udah dijejali sama makanan-makanan yang gak sehat, malah jatuhnya gak baik juga buat kesehatan ..."


Begitulah Rania, yang selalu rajin mencari cela agar bisa menyudutkan Ayu di setiap kesempatan.


Namun Ayu tak lagi seperti biasanya, yang akan langsung merasa insecure dengan semua ucapan Rania yang kerap menjatuhkan, karena kali ini gadis itu malah bisa bersikap tenang bahkan terkesan mengacuhkan setiap perkataan tajam dari Rania, seolah dirinya tidak pernah mau lagi terpancing oleh sesuatu yang hanya akan berbuntut pada kesedihan hatinya semata.


Bagi Ayu, entah Biyan akan mempertahankan pernikahan mereka atau malah sebaliknya ...


Ayu tak lagi peduli, benar-benar tak peduli!


Karena selagi dirinya masih berstatus istri Biyan, selagi Biyan nyaman dan tak merasa terusik dengan kehadiran Ayu, maka yang terpenting bagi Ayu adalah menikmati setiap detik moment berharga kebersamaan mereka, tentu saja dengan penuh rasa syukur dan suka cita ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Whaaatt ...? Bell, are you serious ...?"


Ayu terhenyak kaget luar biasa menerima kabar yang baru saja dibeberkan sahabatnya yang sedang menyetir di sampingnya.


Sejujurnya, mengetahui langsung dari Bella bahwa kini gadis itu sudah resmi jadian sama Eros bukanlah hal yang mudah dipercaya oleh Ayu.

__ADS_1


Namun di sisi lain Ayu juga percaya bahwa The Miracle is True.


Keajaiban itu benar ada, seperti halnya pernikahan antara Ayu dan Biyan, yang merupakan satu dari sekian banyak hal yang paling mustahil untuk terjadi diatas muka bumi ini, tapi toh pada kenyataannya bisa juga terjadi dengan sekejap mata!


Jika Tuhan berkehendak, memangnya apa yang tidak mungkin ...?


"Gila yah, Bell, bisa-bisanya Bella tahan nyembunyiin semua ini dari Ayu dan gak ada ngomong sama sekali ..."


Bella menanggapi aksi protes Ayu tersebut dengan tawanya yang renyah.


Wajar saja jika Ayu protes, karena sebelumnya Bella tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu se-heboh ini dari dirinya, dan Bella juga tak pernah bisa tahan untuk tidak menceritakan semua hal yang yang terjadi dalam kesehariannya.


"Namanya juga kejutan, kalo lewat telpon mana seru, Yu ..."


"Huuu ... Bilang aja terus terang kalo alasannya karena Bella udah sibuk pacaran sama Om Eros ..."


Cibiran Ayu kembali ditanggapi dengan tawa ceria oleh Bella.


"Iya sih, Yu, mana Bella harus ngumpet-ngumpet dari Mama setiap mau ketemuan sama Om Eros ... Tapi jujurly, setelah kejadian Om Eros nembak Bella malam itu, rasanya Bella pengeeeeeen banget ngomong langsung ke Ayu tapi Bella tahan-tahan ... Mana semalam juga udah pengeeeeeenn banget ngomong, egh, Ayu malah lagi sakit kepala ..."


Ayu hanya tersenyum menyaksikan kebahagiaan Bella yang tercetak nyata di wajahnya.


Ayu merasa lega, karena meskipun masih backstreet tapi akhirnya Bella bisa mengetahui isi hati pria pujaannya. Tidak seperti Ayu yang bahkan belum tau warna perasaan Biyan yang sesungguhnya.


Tak jarang Ayu selalu merasa, Biyan adalah sosok yang sangat perhatian dan penyayang.


Biyan juga selalu memperlakukan Ayu dengan baik, saking baiknya Ayu jadi suka baper sendiri acap kali menerima perhatian Biyan.


Tapi sejauh ini belum terlihat bahwa pria itu menaruh perasaan lebih, apalagi tak pernah sekali pun ada pembicaraan Biyan yang mengarah kesana, justru yang ada Biyan bahkan pernah mengatakan akan mencari jalan keluar atas insiden pernikahan dadakan mereka yang diluar kehendak.


'Tapi apakah salah jika saat ini Ayu berkeinginan mendapatkan perhatian Om Biyan ...?'


'Salah gak jika Ayu ingin mendapatkan hati Om Biyan seutuhnya ...'


'Menjadikan pernikahan ini menjadi sebuah ikatan suci yang nyata dan tidak akan terpisah ...?'


Entahlah ...


Yang jelas sama halnya dengan Bella, jauh disudut hati, Ayu pun memiliki hasrat yang sama.


Seperti tekad Bella yang berniat menjalani semuanya dengan Eros bak air mengalir, sambil perlahan namun pasti berusaha melalui berbagai kerikil tajam, juga menyibak setiap penghalang yang ada.


Sementara itu, nun jauh di sana ... di sebuah rumah megah nan mewah ...


Biyan berdiri tegak dengan penampilan yang telah rapi saat ia turun dari lantai dua dan mendapati Rania yang duduk santai di ruang tengah, sambil menonton acara infotainment di televisi.


"Biyan ...?" Rania terhenyak menyadari kehadiran Biyan yang tiba-tiba.


Pria itu menatap lurus kearah Rania dengan ekspresi wajahnya yang tak tertebak, sebelum akhirnya berucap dengan nada datar.

__ADS_1


"Rania, mari kita bicara ..."


Bersambung ...


__ADS_2