
"Bella ...?"
Kopi yang sedang diseruput Eros nyaris muncrat, saat tatapannya menyapu sosok gadis yang berdiri tegak, tak seberapa jauh dari meja, yang sedang diduduki oleh Eros dan Anya.
Anya yang duduk dihadapan Eros ikut terkejut melihat keterkejutan Eros, dan lebih terkejut lagi saat ia memutar sedikit tubuhnya ia telah mendapati sosok Bella yang berdiri tegak, bersama seorang pria tampan seusianya.
"Egh, Bella ...?" Anya yang awalnya terlihat speechless dengan kehadiran Bella yang sama sekali tak terduga, akhirnya menyapa Bella meskipun masih sedikit kaget.
"Hallo, Om ... Tante ..." sapa Bella ramah, sambil tak lupa menyunggingkan senyum.
Glek.
Eros merasa tenggorokannya mendadak kelu, menyadari kehadiran Bella yang kini malah dengan nekadnya telah menarik kursi yang ada diantara mereka dan menghempaskan tubuhnya di sana.
"Kebetulan banget bisa ketemu, dari mana aja, Bell ...?" Anya mencoba bersikap akrab, sementara Eros belum bicara sepatah katapun.
"Baru aja habis nyari novel, Tan, trus pas mau nyari tempat makan egh malah liat Om sama Tante lagi berduaan di sini ..."
"Berduaan? Astaga, bisa aja kamu, Bell ..." Anya terlihat semringah, namun detik berikutnya tatapannya beralih ke arah Steve yang masih setia berdiri dengan wajah linglung. "Egh, itu temannya gak diajak duduk sekalian, Bell ...?"
Bella terhenyak, karena barusan sempat melupakan kehadiran Steve. "Ya ampun, Bella sampe lupa. Steve, duduk dulu yuk ..." ajak Bella.
Meskipun agak ragu namun akhirnya Steve menurut juga, dan ikut menghempaskan tubuhnya di satu-satunya kursi kosong yang tersisa di meja tersebut.
"Oh, iya, Steve, kenalan dulu deh sama Tante Anya ..." ujar Bella kearah Steve, yang langsung menyodorkan tangannya kearah Anya.
"Steve, Tante ..."
"Anya ..." balas Anya sembari menyambut hangat tangan Steve yang tersodor dihadapannya.
"Ehem, Om Eros ... Masih inget Steve kan?" sapa Steve kearah Eros sambil nyengir sedikit.
"Inget lah. Emangnya aku udah sepikun apa sampe gak bisa inget sama orang yang hampir aku tonjok?" dumel Eros dengan wajah keruh.
Jujur saja, menyadari Bella yang memergoki dirinya berdua dengan Anya membuat Eros lumayan panik, tapi bukan berarti kenyataan Bella yang asik jalan-jalan dengan Steve tidak bisa tidak membuat Eros geram.
"Tonjok?" ulang Anya dengan wajah penasaran, begitu mendengar kalimat Eros yang terucap dengan tampang kesal. "Kok bisa ...?"
"Gak apa-apa kok, Tante. Kejadiannya udah cukup lama, dan lagian itu hanya salah paham aja kok ..." jawab Steve dengan ekspresi wajah polosnya yang khas.
"Ooh ..."
Anya ber-'Oohh' ria, meskipun tatapannya masih saja bersinar kepo saat menatap wajah Eros dan Steve berganti-ganti.
"Udah malem begini ngapain masih keluyuran di sini?" tanya Eros to the point, kali ini tatapannya mengarah penuh kearah Bella yang terlihat bersandar nyaman di kursinya sendiri.
"Kan udah dijawab tadi, Bella baru abis beli novel ..."
"Bohong ..."
"Kok bohong, sih, Om? Nih buktinya ..." ucap Bella sambil menaruh kresek kecil berwarna putih dengan logo salah satu toko buku terkenal diatas meja.
Eros hanya melirik sedikit, sebelum akhirnya kembali menatap wajah Bella yang masih full senyuman, namun Eros tau persis bahwa senyum itu sudah pasti palsu belaka.
__ADS_1
Atas kebersamaannya dengan Anya, kekasih belianya itu pasti sedang menunjukkan rasa cemburunya dengan cara yang elegan, namun di sisi lain Eros sendiri telah gagal menahan diri untuk tidak merasa sewot.
'Apa-apaan? Belum ada setengah jam yang lalu bilangnya lagi ada kelas kursus ... Egh, gak taunya malah jalan-jalan sama cecunguk ganteng di mall ...'
Eros membathin dengan perasaan kesal yang menggunung, menyadari bahwa Bella sudah membohonginya dengan mudah.
"Pacar baru yah, Bell?" celetuk Anya tiba-tiba, kali ini sambil menatap wajah Bella dan Steve berganti-ganti.
"Gak kok, Tan ... Temen doang ..." jawab Bella.
"Akh, yang beneeerrr ..."
"Iya, Tan, kita cuma temenan kok ..." sambung Steve bak mendukung pernyataan Bella sebelumnya, atas status diantara dirinya dan Bella yang sedang dikepoin Anya mati-matian.
"Wah, sayang sekali ... Padahal kelihatannya kalian cocok loh jadi sepasang kekasih ..."
"Kamu ngapain sih, An? Belum apa-apa udah mau jodohin anak orang aja ..." pungkas Eros yang entah kenapa telinganya jadi gatal mendadak mendengar Anya yang sengaja mengompori Bella dan Steve sebagai pasangan yang serasi.
'Dasar Anya ...! Enak aja mau jodohin pacar aku sama si Steve ...!'
"Loh, kenapa emangnya? emang mereka cocok satu sama lain kok ..."
"Sok tau." pungkas Eros semakin sewot.
"Dih, apaan sih, Ros ... Anak muda sah-sah aja kali kalo saling naksir ..."
Eros membuang wajahnya yang semakin dongkol, menghadapi Anya yang malah semakin bersemangat menjodoh-jodohkan pacar orang.
"Gak gitu juga kali, Tan, kenyataannya kita emang real temenan kok ..."
"Tuh, dengerin tuh ..." ucap Eros dengan ekspresi wajahnya yang sinis, tapi malah dibalas Anya dengan cibiran acuh.
'Lagian kenapa juga Eros segitu keukeuh-nya menolak jika Bella sama Steve memiliki hubungan? Cemburu kali dia ...'
Dalam hati Anya membathin, ia semakin yakin bahwa diantara Eros dan Bella pasti ada sesuatu ... Atau minimal salah seorang pastinya sedang memendam sesuatu.
Apakah Eros beneran naksir sama Bella?
Maybe.
Tapi kalo emang benar dugaannya, dan Anya bisa mendapatkan bukti valid atas semua kecurigaannya itu, sumpah demi apapun Anya bersumpah bahwa Biyan dan Rania akan menjadi orang pertama yang akan ia kasih tau!
Biar mampus sekalian calon mantan suaminya itu ...!
"Oh iya, Om ... Tante ... Kayaknya Steve sama Bella udah ganggu nih ..."
"Gak apa-apa, Steve. Gak usah sungkan. Duduk aja di situ ... Trus kalian mau pesan apa ...?" ujar Eros buru-buru, menyadari gestur tubuh Steve yang mulai terlihat tidak nyaman berada dalam pembicaraan yang entah kenapa terkesan cukup aneh sejak awal.
"Gak perlu repot-repot, Om, yang dibilang Steve itu bener. Kita mau cabut aja sekarang, kalo masih nongkrong nanti malah kemaleman dijalan ..."
Eros terdiam menyadari Bella telah berucap sambil bangkit dari duduknya begitu saja.
Melihat Bella telah bangkit lebih dahulu, Steve pun ikut-ikutan bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Om, Tante, kita duluan yah. Mmm, silahkan diterusin obrolan seriusnya yang sempat tertunda ..."
Lagi-lagi senyum palsu terlihat menggantung jelas dibibir tipis milik Bella.
"Ya udah, hati-hati dijalan yah Bell ... Steve juga ..." ujar Anya, sementara Eros hanya duduk bersandar dengan wajahnya yang jutek, karena tak mampu berbuat apa-apa untuk menghalangi kepergian Bella.
"Iya, Om, Tante ... Kami pamit duluan ..."
Steve terlihat mengangguk takjim, tidak sampai berlama-lama karena menyadari bayangan Bella yang berlalu begitu saja tanpa basa-basi berarti, membuat Steve jadi tergesa-gesa untuk segera angkat kaki.
"Pasangan yang lucu ..." imbuh Anya sambil menyeruput House Blend Coffee miliknya, begitu bayangan Bella dan Steve terlihat semakin menjauh sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandangan.
Eros melirik jengkel. "Apaan sih, An? Kamu gak denger dari tadi mereka bilang bahwa mereka cuma temenan?"
"Eros ... Eros ... Kamu ini kenapa sih? Kenapa kelihatannya kamu gak senang kalo aku membahas tentang Bella dan ..."
"Trus kamu mau aku gimana? Jingkrak-jingkrak dengerin kamu ngegibahin hal yang gak penting ...?" protes Eros lagi, masih dengan wajahnya yang super sewot.
Anya terlihat mencibir, namun raut wajahnya mendadak berubah menyadari gestur tubuh Eros yang terlihat hendak beranjak.
"Mau kemana, Ros?"
Eros tersenyum miring, mendapati sepasang alis Anya yang bertaut.
"Pembicaraan tentang event udah kelar, kan? Lalu mau apalagi duduk berlama-lama sambil berperang urat syaraf?"
"Iya emang pembicaraan kita udah kelar, tapi ..."
"Biar aku yang bayar." pungkas Eros lagi, seolah tidak ingin memberikan sedikit pun kesempatan bagi Anya untuk kembali bersilat lidah.
Entahlah ...
Eros bahkan tidak tahu, atas insiden barusan entah siapa yang paling cemburu.
Apakah Bella ...?
Atau justru dirinya ...?
Huhhhfh ...!
Yang jelas Eros bisa merasakan bahwa saat ini perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Rasanya sangat buruk saat terbakar cemburu, dan mood-nya pun ikut-ikutan hancur.
Anya tak bisa berbuat apa-apa manakala Eros beranjak dari meja mereka, langsung mendekati kasir.
Tak berapa lama melakukan transaksi pembayaran Eros pun terlihat langsung balik kanan.
"Sh it ..."
Anya sontak mengumpat, saat menyadari sosok Eros yang kemudian berjalan keluar dari kedai kopi tersebut dengan sangat acuh ...
Tanpa sedikit pun menoleh kearahnya ...!
__ADS_1
Bersambung ...
🧕 : Jangan lupa di Like and support terus yah 🙏