HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
TAK ADA MATINYA


__ADS_3

"Om, jangan diliatin terus napa? Ayu kan udah bilang Ayu maluuuu ..." protes Ayu yang risih karena Biyan yang seolah tak pernah puas menatap maha karya yang berada tepat didepan hidungnya.


"Kenapa harus malu, Ay? Ayu kan istri, Om Biyan ..." jawab Biyan ngeyel, dengan jakunnya yang turun naik.


"Emangnya Om gak malu kalo diliatin ...?"


"Gak kalo yang ngeliat istri Om sendiri ..."


"Idih, gak lucu, Om ..."


"Kenapa? Emangnya Ayu beneran mau liat?" tantang Biyan makin ngasal.


Ayu melotot menanggapi jawaban usil tersebut, tapi yang ada Biyan malah benar-benar bangkit dan berusaha menanggalkan penghalang terakhir miliknya.


"Aaaaa, Om ... Tunggu ... Tunggu sebentar ..."


Ayu rasanya ingin melarikan diri dari pemandangan yang sangat membuatnya malu, semalu-malunya, sementara Biyan malah tertawa kecil menyadari ekspresi Ayu yang gelagapan akibat tubuhnya yang kini terekspos sempurna hingga kebagian paling sensitive.


"Om ... Ya ampuunn ..."


Sontak Ayu menutup matanya dengan sepuluh jarinya sekaligus, beneran shock saat harus menyaksikan bagaimana senjata tumpul milik Biyan yang mengacung tegak dengan begitu congkak, beda cerita dengan Biyan yang akhirnya benar-benar tak bisa menahan diri menyaksikan kepolosan Ayu yang sukses membuatnya terpingkal.


'Demi apa ... Kok bisa sih istri aku semenggemaskan ini ...?'


Bathin Biyan, sementara yang ada dalam benak Ayu malah sebaliknya.


'Ihhh, Om Biyan kok gak ada malunya sama sekali sih diliatin Ayu? Mana itunya udah gede, panjang, pake berotot lagi kayak setiap ruas tubuh Om Biyan yang six pack abis ...'


Mau tak mau jantung Ayu ikut berdebar kencang, tak mampu menyangkal bahwa tubuh pria dewasa milik suaminya itu memanglah termasuk tipe idaman setiap kaum hawa.


Diam-diam semua pemandangan rupawan itu mampu membuat Ayu cenat-cenut sendiri.


"Hayo, ketahuan kan lagi ngebayangin sesuatu yang 'iya-iya' ..." goda Biyan sambil menunduk, guna mengu lum bibir Ayu dengan gemas, agar tak bisa membela diri dari tuduhannya yang sesungguhnya memang tepat sasaran.


Ayu pasrah saat kedua tangan nakal Biyan benar-benar nekad menyingkirkan penghalang terakhir miliknya, karena tak bisa lagi mengajukan protes setelah pria itu telah lebih dahulu menelan jangi dirinya sendiri tanpa keraguan.


Kemudian meskipun semuanya diawali dengan rasa malu, ragu, bahkan takut, namun Ayu tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengimbangi Biyan yang sudah jelas-jelas jauh lebih mahir dan berpengalaman.


Berangkat dari cita-cita Ayu yang bertekad kuat menjadi istri terindah di mata suaminya, tentu saja Ayu ingin dirinya bisa diandalkan dan menyenangkan dalam segala hal termasuk dalam urusan ranjang.


Usai mencium sekujur tubuh Ayu yang bak porselen, Biyan pun berniat menyatukan segenap cinta mereka yang terasa menggebu.

__ADS_1


"Om, pelan, Om ..." lirih Ayu seolah menyadarkan Biyan bahwa kesulitannya menembus tirai yang masih utuh milik Ayu pastinya telah membuahkan rasa perih.


"Maaf, Ay, sakit yah ..." ujar Biyan seraya menjeda sedikit pergerakannya yang sempat tak sabar, dalam menembus lorong sempit yang begitu hangat, juga lembab.


Ayu mengangguk dengan wajah meringis kecil, pertanda bahwa yang terjadi dibawah sana cukup ampuh menyakiti dirinya.


Bulir keringat dingin yang memenuhi dahi Ayu bukan hanya dikarenakan rasa sakit semata, melainkan juga perasaan gugup yang sedang mendera, seiring kobaran has rat yang juga tercetak jelas di sekujur wajah Ayu yang memerah.


Biyan membelai lembut wajah Ayu kemudian kembali menghujaninya dengan kecupan, yang dimulai dari wajah, leher, terus turun hingga di kedua pucuk yang mengeras.


Tubuh Ayu meliuk indah dibawah kungkungan tubuh kekar milik Biyan, seolah ingin mengalihkan rasa nyeri akibat desakan senjata tumpul milik Biyan yang kembali berusaha melesak masuk dalam gua keramat dengan dinding-dindingnya yang sempit.


"Om, awwwwh ..." pekik tak tertahan terlontar begitu saja dari bibir mungil Ayu, saat merasakan ada benda asing berukuran jumbo yang berhasil menerobos masuk dengan paksa dibawah sana, tanpa menyisakan sedikit pun ruang saking begitu sesaknya.


Biyan tersenyum puas mendapati bukti nyata dari selaput yang terkoyak, namun senyumnya terhenti mendadak manakala menyadari tatapan berang Ayu yang seolah ingin menelan Biyan hidup-hidup dari bawah sana.


"Tahan yah, Ay, sakitnya cuma sebentar kok ..." bujuk Biyan, mendapati tinju kecil Ayu yang refleks menghantam dadanya berkali-kali, berharap Biyan berhenti membuat gerakan turun naik yang setiap kali pria itu melakukannya, rasanya nyawa Ayu ikut melayang saking perihnya.


"Sakit, Om, plisss ... Udahan aja, Om, Ayu gak kuat ini ..." Ayu terisak kecil menyadari Biyan yang baru kali ini terkesan tak ada rasa ibanya sama sekali, padahal Ayu sudah memohon berkali-kali.


"Cuma sebentar, Ay, ntar juga ilang kok sakitnya ..."


"Ilang gimana, Om? Yang ada makin perih ini ..." Ayu melotot kesal, terlebih saat menyadari gerakan Biyan yang awalnya perlahan semakin lama malah semakin bersemangat.


"Sakit tau, Om ...!"


"Bentar doang sakitnya, ntar juga enak kok ..."


"Bohong ..."


"Masa Ayu gak percaya sama Om ...?"


Kesal karena terus diacuhkan, Ayu pun menggigit lengan Biyan, membuat Biyan meringis tapi tetap saja tak kunjung menghentikan gerak pinggulnya yang naik turun berirama.


Ayu menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha tenang dan mempercayai ucapan terakhir Biyan, seraya mengatur jalan napasnya yang memburu, yang seolah saling berkejar-kejaran dengan napas Biyan yang sedang berada diatas tubuhnya.


Sekian waktu berlalu, perlahan namun pasti Ayu mulai merasakan bahwa apa yang diucapkan Biyan sepertinya ada benarnya.


Rasa perih yang awalnya nyaris membuat Ayu pingsan seolah mulai berkamuflase dengan begitu unik, menjadikan sebuah rasa baru yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.


Desa han yang lolos satu persatu dari bibir tipis milik Ayu bak sebuah symphony indah yang berkolaborasi sempurna dengan suara menggeram Biyan yang tak henti memacu dengan hebatnya.

__ADS_1


"Masih sakit, Ay?" tanya Biyan diantara napasnya yang memburu.


Ayu menggeleng perlahan, dengan wajahnya yang dipenuhi semburat.


"Gimana rasanya sekarang? Enak kan, Ay?" tanya Biyan lagi sambil mengulas senyum penuh kemenangan, tanpa sedikitpun mengendurkan pergerakannya.


"Apaan sih, Om ..." elak Ayu malu-malu. Namun manakala Biyan kembali mengecap bibirnya untuk yang kesekian kalinya, gadis itu tak segan mengalungkan kedua lengannya di leher Biyan.


"I Love you, Ay ...".


Bisik Biyan penuh perasaan yang membuncah, sambil menenggelamkan wajahnya guna menghirup aroma segar yang menguar dari ceruk leher Ayu yang mulai dihiasi bulir keringat.


"Love you too, Om ..."


Balas Ayu dengan segenap rasa, diiringi pelukan yang semakin mengetat.


Kedua tubuh mereka yang berkilau bermandikan peluh masih terpaut erat satu sama lain dengan begitu mesra, masing-masing saling berkontribusi untuk mengayuh has rat yang menggelora agar semakin mendekati garis finish.


"Om ... Ayu ... Ayu mau ..."


Mengambang.


Ayu yang amatiran mendadak panik campur bingung mendeskripsikan perasaan aneh yang seolah hendak menerjang keluar dari dalam tubuhnya.


"Gak pa-pa, Ay, jangan ditahan ..." bisik Biyan sambil tersenyum nakal, menyadari puncak kenikmatan yang nyaris digapai sang kekasih.


Detik berikutnya kedua lengan kekar milik Biyan telah menjadi pelampiasan yang tepat, oleh cengkeraman Ayu yang membuat beberapa ujung kukunya ikut menancap di sana sebelum dirinya terkulai tanpa daya.


Biyan mencium keseluruhan wajah Ayu yang dipenuhi bulir keringat, tubuh istrinya itu pun dipeluk Biyan erat-erat.


"Udahan?" goda Biyan dengan sedikit terkekeh, tepat ditelinga Ayu.


"Jangan mulai, Om ..." ancam Ayu lemas, seolah sadar bahwa Biyan memang sedang menggodanya.


Biyan terkekeh lagi mendapati kejutekan Ayu yang baru saja mendapatkan pengalaman pertamanya yang begitu luar biasa.


Sementara bagi Biyan ... Petualangannya yang hebat bahkan belum ada setengah jalan.


Sepertinya Ayu memang harus cukup sabar, jika benar-benar ingin memuaskan stamina seorang Biyan Erlangga, yang seolah tak ada matinya ...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕 : Jangan lupa di like, comment, bagi gift and vote yah. Lophyu all 🥰


__ADS_2