
Usai perkuliahan, wajah Bella yang berseri-seri terlihat sangat serasi dengan wajah Ayu yang juga terus dipenuhi senyuman sepanjang hari.
Dalam dua hari ini, Bella memang selalu terlihat happy oleh karena kehadiran Mamanya Rania yang benar-benar menepati janji sehingga wanita itu tetap setia menemani dan menunggui Bella tanpa meninggalkan rumah sedetik pun.
Sementara untuk Ayu, hatinya yang berbunga-bunga masih disebabkan telpon Biyan kemarin malam yang terasa berbeda dari biasanya.
Meskipun setelah malam itu Biyan belum menghubungi Ayu lagi, namun Ayu menolak move on dari rasa ge-er campur baper yang terlanjur menguasai jiwa dan raganya.
"Yu, kita langsung balik yah." ucap Bella sambil membenahi isi tasnya yang berserakan diatas meja.
Siang ini tiga mata kuliah berturut-turut telah Bella dan Ayu lalui dengan penuh semangat, seolah karena masing-masing sedang berkutat dengan kebahagiaan mereka sendiri-sendiri, mereka berdua bak mempunyai extra energy.
"Tumben ..." imbuh Ayu sambil melirik Bella sejenak.
"Iya, Yu, kasihan Mama sendirian di rumah."
Mendengar itu Ayu pun mengangguk tanda setuju, meski tak dipungkiri terpetik juga sedikit rasa cemburu.
Rania memang sangat luwes dalam mengambil hati Bella, namun Ayu bisa memakluminya, karena bagaimanapun Rania kan Mamanya Bella.
"Bell, nongki dulu yuk di kantin." Steve yang tiba-tiba muncul langsung menghempaskan tubuhnya ke bangu kosong yang baru saja ditinggalkan oleh teman sekelas mereka juga.
"Gak ah. Bella sama Ayu mau buru-buru balik." tolak Bella tanpa ragu.
Mendengar penolakan itu Steve terlihat mengerinyit. "Tumben ... Pasti karena Om Biyan ada dirumah yah?" tebak Steve lagi.
"Bukan Papa, tapi Mama Bella yang ada dirumah ..."
Pupil mata Steve membesar mendengar jawaban Bella. "Mama baru, Bell?"
"Enak aja Mama baru. Gak ada yang namanya Mama baru, karena Mama Bella di dunia ini cuma ada satu!" semprot Bella keki kearah Steve yang sontak ngakak.
Glek.
Saliva Ayu tertelan kelu mendengar jawaban sewot Bella yang ditanggapi Steve dengan tawa yang pecah berderai.
"Sensi amat, Neng, kan selama ini kamu sendiri yang sering ngomong kalo Mama sama Papa kamu dah lama pisah ..." kilah Steve dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
Tak menjawab, namun Bella malah manyun sambil meneruskan kegiatannya yang sedang membenahi tas kuliahnya.
"Udah ah, males banget deh ngomong sama kamu ..."
"Dih, gitu doang ngambeknya gak kelar-kelar, Bell?"
"Biarin."
"Padahal aku ke sini dengan itikad baik dan membawa sesuatu yang special untuk kamu sama Ayu loh ..." rayu Steve pantang mundur, sambil mengeluarkan dua carik kertas dan sengaja menggunakan itu untuk mengipasi wajahnya yang terkesan sok pamer.
Gelagat Steve tersebut membuat Bella langsung penasaran, bahkan Ayu yang awalnya duduk diam disebelahnya menjadi sedikit kepo juga dengan sesuatu yang special yang dibicarakan Steve barusan.
"Emang itu apaan, Steve?" tanya Ayu terlontar begitu saja.
Steve senyam-senyum sendiri terlebih menyadari kedua gadis dihadapannya mulai penasaran pake banget dengan dua carik kertas yang ada ditangannya.
"Ada deh ..."
"Dih, timbang ngasih tau aja drama banget ..." dumel Bella.
Steve menahan tawanya mendengar semprotan Bella yang tak tanggung-tanggung.
"Ya udah, buruan ngomong deh, apaan?"
Steve tersenyum lebar sambil menunjukkan dua buah ticket masuk live music kearah Bella dan Ayu yang sontak terlihat takjub dibuatnya.
"Kaleb J ...?!" kedua gadis itu memekik bareng, membuat Steve ikutan kesenangan menerima tanggapan Bella dan Ayu yang sesuai harapan.
"Yupp, ntar malam di Miracle ada live musicnya si Kaleb, dan dua tiket itu sengaja aku persiapkan khusus untuk kalian berdua ..." ujar Steve bangga.
"Wah, keren banget ... kita bisa ketemu Kaleb dong ..." ucap Ayu dengan sepasang mata berbinar.
Namun yang tak disangka reaksi Bella malah sebaliknya.
Begitu mendengar nama 'Miracle' disebut, wajah Bella yang mula-mula ceria dalam sekejap berganti sendu, seolah ketutupan mendung tebal yang tengah membawa berton-ton air hujan.
"Napa, Bell?" usut Steve yang lebih dulu notice dengan perubahan drastis dari air muka Bella.
__ADS_1
"Gak pa-pa, Steve, Bella baru ingat kalo ternyata Bella gak bisa ..."
"Loh, kok gitu sih ..."
"Iya, Steve, I'm so sorry ... Bella gak bisa ninggalin Mama sendirian yang sengaja datang untuk nemenin Bella di rumah selagi Papa gak ada ..." ungkap Bella memberi alasan yang terdengar sangat masuk diakal.
"Yah gimana nih, mubazir dong tiketnya ..." Steve terlihat kecewa berat, terlebih saat dirinya mengerling ke arah Ayu yang juga telah menggelengkan kepalanya kearah Steve.
"Maaf Steve, kalo Bella gak bisa pergi, otomatis Ayu juga gak bisa pergi ..." elak Ayu dengan rasa menyesal yang kentara, karena harus kembali mengecewakan Steve setelah penolakan Bella barusan.
Pada kenyataannya, meskipun Bella telah mengatakan alasannya menolak tawaran Steve dengan begitu tepat, tapi Ayu tau persis bahwa sesungguhnya alasan Bella menolak tiket live music dari Steve bukan hanya dikarenakan keberadaan Rania semata, melainkan karena Miracle sendiri adalah club milik Eros, pria yang dicintai Bella dengan sepenuh hati, sekaligus pria yang sedang Bella hindari dengan setengah mati.
Menerima ajakan Steve guna menonton live music dari salah satu musisi tanah air yang mereka gandrungi, tidak mustahil bisa membuat Bella bertemu Eros lagi, sementara disisi lain Bella justru sedang menahan diri sekuat tenaga demi terbiasa tidak melihat Eros.
"Gak pa-pa, Yu, mau gimana lagi ... Aku juga gak bisa memaksa kalian berdua ..." pungkas Steve pada akhirnya dengan wajah kuyu, setelah lagi-lagi usahanya untuk mendekati Ayu kembali gagal.
"Gini aja, Steve. Gimana kalo kamu ajak Andre sama Tomi aja ...?" usul Ayu, berusaha memberi ide untuk Steve yang saat ini terlihat menjadi sangat tidak bersemangat.
"Mereka udah punya tiket sendiri, kali. Orang kita bertiga aja beli tiketnya juga bareng-bareng koq ..."
"Mmmm ... Gimana kalo kamu kasih aja tiketnya ke adek atau kakak kamu ...?"
Wajah Steve terlihat semakin meringis kecil menanggapi usul Ayu.
"Kan aku anak sulung, Yu. Lagian adek aku juga masih bocil, mana bisa aku ajak ke club ...?"
Ayu bengong mendapati usulnya yang ngasal telah dipatahkan kenyataan.
"Udah deh, Yu, gak pa-pa koq, nanti aku kasih aja tiket ini ke anak-anak yang lain, kali aja mereka mau." pungkas Steve atas ekspresi wajah Ayu yang masih melongo.
"Iya, Steve. Timbang mubazir tiketnya ..." cetus Bella, yang sesungguhnya sedang menyembunyikan rasa tak enak hati karena telah menolak niat baik Steve.
Tapi mau bagaimana lagi, Bella seolah tidak punya pilihan lain, selain menolak pergi.
Jika Bella nekad menerima tawaran menggiurkan Steve, Bella takut jika kelak dirinya sendiri justru akan kesulitan mengendalikan keinginan hatinya yang menggebu-gebu demi bisa menemui Eros, dan kembali mengemis cinta pria itu, dengan berbagai cara ...
...
__ADS_1
Bersambung ...