HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
TERGANGGU MASA LALU


__ADS_3

Support author terus yah ... 🥰


...


Untuk beberapa saat lamanya hanya suara tawa Biyan yang menghuni udara, sementara Eros diam saja seolah gak tertarik sedikitpun untuk menanggapi.


Kalo mau bicara jujur, sungguh Eros sangat kesal jika sudah bicara soal Anya. Bahkan sikap sportif yang selama ini ditunjukkan Eros dihadapan semua orang, semua itu gak lebih dari sebuah sikap yang memang harus Eros lakukan demi mempertahankan sisa dari puing-puing harga diri Eros semata.


Lagi pula pria mana yang bisa menerima jika berada diposisi Eros?


Gak peduli seburuk apapun prahara yang ada didalam rumah tangga mereka, tetapi harga diri Eros sangat terluka mendapati sikap Anya yang telah membuatnya kehilangan muka sebagai seorang pria.


Eros hancur bukan hanya karena cinta Anya sudah bukan lagi miliknya, melainkan karena Anya begitu mudah mendua, disaat masih sah menjadi istrinya.


Adakah lelaki yang paling bodoh di dunia ini selain dirinya ...?


Eros rasa jawabannya gak ada lagi, karena hanya Eros Rahadian seorang, pria terbodoh dan terkonyol yang ada di muka bumi ini!


"Aku ingin bertanya tentang satu hal, Yan," tanya Eros begitu tawa Biyan usai dengan sendirinya.


"Apa itu?"


"Kalo kamu jadi aku, apakah kamu bisa menerima Anya lagi?"


Biyan tersenyum. "Sepertinya keputusanku akan sama seperti dirimu."


Eros tersenyum sinis. "Karena memang gak mudah, bukan ...?"


Biyan mengangguk. "Yah, aku setuju."


"Jadi bukan karena aku yang terlalu arogan. Iya, kan?"


Biyan terlihat mengangguk lagi, kembali membenarkan pernyataan Eros.


"Aku katakan demikian, sama sekali bukan karena aku adalah temanmu sehingga aku mendukung apapun keputusanmu. Tapi jika aku sendiri yang berada di posisimu, aku bahkan gak yakin apakah aku sanggup mengontrol diriku dan tetap berlaku baik seperti yang kamu lakukan saat ini, Ros ... you are a great man!" ucap Biyan bersungguh-sungguh.


Eros tertawa miris, sembari menegakkan tubuhnya guna menyeruput kopi yang mulai mendingin.


Eros merasa tak perlu lagi berkata panjang lebar, karena ia yakin seribu persen, bahwa Biyan sudah paham betul apa yang ia rasakan.


"Ros, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan para wanita masa lalu kita ...? Kenapa saat ini mereka seolah-olah bertindak aneh ...?" ucap Biyan lagi dengan nada yang lirih, setelah mereka sempat terdiam cukup lama.

__ADS_1


Kalimat Biyan tersebut rupanya ampuh mengundang kedua alis Eros berkerut mendengarnya.


"Apa maksudmu ...?" tanya Eros, merasa agak bingung dengan pernyataan Biyan yang tiba-tiba.


"Rania ..."


"Rania ...?" ulang Eros.


"Hhhmm."


"Ada apa dengan Rania? Apa sesuatu telah terjadi ...?" tanya Eros, tak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya menyadari Biyan yang kini tengah menyinggung nama mantan istrinya.


"Sebenarnya, sejak siang tadi hingga malam ini, Rania juga sudah menelponku sebanyak empat kali." ungkap Biyan, yang akhirnya memilih jujur kepada Eros, bahwa sesungguhnya ia pun sedang mengalami hal yang serupa dengan sahabatnya, yakni merasa terganggu dengan masa lalu.


"Benarkah?" sepasang mata Eros mengawasi Biyan seolah sangsi. "Kenapa tiba-tiba Rania menjadi seperti itu?"


Biyan mengangkat kedua bahunya.


"Ck ... ck ... ck ... aneh sekali. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan otak Anya dan Rania ...?" tanya Eros keheranan, atas perilaku menyebalkan yang sedang dilakoni dua orang wanita yang pernah menjadi belahan jiwa mereka di masa lalu.


"Entahlah, aku juga bingung. Sebelumnya Rania gak pernah seperti ini. Makanya aku juga sedikit khawatir, apakah terjadi sesuatu ...?"


"Sempat aku tanyakan, tapi ia selalu mengatakan kalau ia hanya mengkhawatirkan Bella saja dan ingin agar aku lebih memperhatikan Bella ..."


"Hanya karena alasan klise seperti itu membuat Rania tiba-tiba menelponmu sampe empat kali dalam sehari?" Eros yang semula menyeringai menanggapi ucapan Biyan, kini malah terang-terangan tertawa.


"Kenapa kamu malah tertawa ...?"


"Karena aku merasa curiga ..."


"Curiga? Curiga kenapa ...?"


"Biyan, apa kamu benar-benar gak merasakan sesuatu ...?"


"Sesuatu ...?" ulang Biyan sambil bengong, berusaha memikirkan apa yang dimaksud Eros dengan 'sesuatu', namun tetap saja gak ada satupun jawaban yang nyangkut diotaknya.


"She fell in love with you again, broooo ..." ucap Eros masih disela-sela tawanya yang belum usai, sengaja mengutip kalimat Biyan untuknya pada sesaat yang lalu.


"Holly sh it ..." desis Biyan sambil melotot.


Meskipun merasa kesal kepada Eros yang masih setia tergelak, namun diam-diam Biyan mulai merenungi ocehan Eros yang sukses mengutip kalimat yang awalnya ia lontarkan untuk pria itu.

__ADS_1


'She fell in love with you, again ...'


'Benarkah ...?'


'Benarkah yang dikatakan Eros ...?'


'Benarkah Rania kembali merasakan perasaan seperti itu ...?'


Kepala Biyan refleks menggeleng berkali-kali, seolah ingin menepis berbagai pemikiran-pemikiran aneh yang mulai menginvasi otaknya.


Sungguh, membayangkan hal itu saja Biyan merasa ngeri sendiri.


Itu mustahil ...!


Tapi ... empat kali menelpon dalam sehari, bukankah itu benar-benar merupakan rekor baru bagi Rania ...?


Jaman semakin modern, dan saat mereka resmi bercerai Bella pun sudah punya ponsel sendiri sehingga Rania bisa langsung berkomunikasi dengan Bella, tanpa harus repot-repot menghubungi Biyan terlebih dahulu.


Karena itulah bisa dibilang, bahwa sejak bercerai mereka menjadi sangat jarang berkomunikasi satu sama lain.


Baik Biyan maupun Rania, keduanya akan saling menghubungi hanya jika ada sesuatu yang benar-benar urgent.


Jadi wajar saja jika sekarang Biyan merasa sedikit aneh. Karena setelah beberapa tahun terlewat dengan menjalani kehidupan masing-masing, entah kenapa akhir-akhir ini Rania mulai sering menghubungi Biyan lagi hanya demi sebuah basa-basi.


Puncaknya hari ini, usai Bella memposting foto kebersamaan mereka berempat di pantai, terhitung sudah sebanyak empat kali Rania menelpon Biyan, yang lagi-lagi hanya demi sebuah basa-basi.


Ada apa gerangan ...?


Entahlah.


Biyan enggan menyimpulkan.


Tapi jika kecurigaan yang dikatakan Eros itu benar adanya ...


Seperti halnya keputusan Eros, Biyan pun merasa semuanya sudah sangat terlambat ...


...


Bersambung ...


🧕: Jangan lupa untuk bagi Like, Comment, Gift, dan Vote, biar author makin semangat buat UP 🥰

__ADS_1


__ADS_2