
Wajah tampan Biyan saat ini tengah menampakkan raut yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Kaget, takjub, bingung, semuanya bercampur aduk menjadi satu, dan semua reaksi Biyan tersebut dikarenakan oleh penjelasan Ayu yang gamblang begitu mereka selesai menghabiskan makan siang, dan Biyan memberanikan diri untuk bertanya.
Perihal keberadaan Ayu ditempat ini yang ternyata karena Ayu sendiri berasal dari sebuah kota kecil yang jaraknya tak lebih dari satu jam lamanya jika ditempuh dengan berkendara.
Serta perihal kesedihan Ayu yang diakibatkan oleh keputusan sepihak kedua orangtuanya yang ternyata menginginkan kepulangan Ayu secara mendadak, agar bisa menikahkan gadis itu dengan pria pilihan orang tuanya.
'Jadi Ayu akan menikah ...?'
Memikirkan hal tersebut entah kenapa Biyan merasa dihatinya terbersit perasaan tak rela, meskipun pada kenyataannya dirinya tak bisa berbuat apa-apa, karena bukan siapa-siapanya Ayu juga!
"Sebenarnya Ayu memang udah curiga kalau semua ini pasti ada hubungannya dengan perjodohan Ayu dengan Kak Haris. Tapi Ayu masih berpositif thinking kalau gak mungkin terjadi pernikahan dalam waktu dekat karena Ayu kan masih kuliah, Om. Kesepakatan awalnya Ayu nanti akan nikah kalau udah kelar kuliah ... lah ini Ayu kan masih semester tiga, masa belum apa-apa udah mau dinikahin aja ..."
Biyan tercenung saat mendapati penuturan Ayu yang terucap dengan suaranya yang kembali serak, serta sepasang mata indahnya yang kembali berkaca-kaca.
Pikiran Biyan seolah buntu, alias tak bisa digunakan untuk berpikir sama sekali.
Sungguh, semua penuturan Ayu sangatlah jauh diluar perkiraan Biyan selama ini, bahwa gadis kalem dengan sifat dan sikap yang selalu menyejukkan hati itu ternyata sudah terikat perjodohan dengan seorang pria pilihan orang tuanya.
Entah siapa dan seperti apa sosok pria beruntung itu, tetap saja tak bisa dipungkiri jika kenyataan tersebut sanggup membuat Biyan kecewa, namun sialnya lagi-lagi Biyan tak mampu berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Lalu rencana Ayu selanjutnya gimana?" tanya Biyan hati-hati, setelah mereka berdua terdiam lama dengan posisi berhadap-hadapan tak lebih dari dua meter jaraknya, dengan Ayu yang duduk di kursi dan Biyan ditepian ranjang.
Ayu terlihat mengedikkan kedua bahunya dengan ekspresi lesu.
"Ayu gak tau, Om. Yang jelas waktu Ayu mendengar penjelasan Kak Haris via telepon begitu Ayu turun dari pesawat, pikiran Ayu langsung kacau-balau gak beraturan, sampai-sampai rasanya Ayu ingin berlari sejauh-jauhnya ..."
Biyan menatap Ayu yang duduk terpekur dengan bulir air mata yang seolah tak pernah bisa usai.
Biyan pastinya tidak tau bahwa bertemu dirinya telah membuat Ayu semakin galau merana, berpuluh-puluh kali lipat.
Seandainya pria pilihan orang tuanya itu adalah Biyan, yang notabene merupakan pria impian yang sangat dicintai Ayu, tentu saja Ayu tidak akan sesedih ini.
Semua prahara hati Ayu bermula saat Haris yang seharusnya menjemput Ayu di bandara, terkendala karena mesin mobilnya yang mengalami gangguan dalam perjalanan, sehingga membuat kedatangan Haris akhirnya harus tertunda.
"Baik, Kak, kalau begitu Ayu akan menunggu sampai Kak Haris datang ..." ucap Ayu kala itu kepada Haris.
"Iya, Yu, maaf yah ... Tapi aku janji begitu selesai aku pasti bakal langsung jemput Ayu ..."
"Baiklah, Kak ..." jawab Ayu bersepakat, sebelum akhirnya ... "Mmm ... Kak Haris ..." panggil Ayu yang urung mengakhiri pembicaraan diantara mereka.
"Iya? Ada apa, Yu?" jawab Haris dari seberang sana.
__ADS_1
Ayu terdiam sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sejak awal begitu ingin dirinya ketahui penyebabnya, sehingga membuat Ayu merasa sedikit tidak sabaran.
"Anu, Kak ... Ayu ... Ayu hanya ingin tau apa keinginan ayah dan ibu agar Ayu segera pulang ... Apakah semua itu ... Ada hubungannya dengan perjodohan Ayu sama Kak Haris ...?"
Untuk sesaat Haris tak langsung menjawabnya, namun seiring dengan tarikan napas berat pria itu yang terdengar jelas ditelinga, akhirnya Ayu pun mendapatkan jawaban yang sungguh mencengangkan, serta sama sekali tak pernah dirinya harapkan!
Kecurigaan Ayu ternyata benar adanya, bahwa semua keinginan kuat Ayah dan Ibu yang meminta Ayu segera pulang semata-mata karena ingin Ayu dan Haris segera menikah.
Juragan Ibrahim yang merupakan Ayah Haris baru saja selamat dari serangan stroke, dan atas permintaan beliau-lah semua ini akhirnya terjadi.
Haris akhirnya membeberkan semuanya, bahwa seluruh rencana kedua orang tua mereka akan segera dilaksanakan, dan tinggal menunggu kedatangan Ayu saja.
Tanpa sepengetahuan Ayu ternyata undangan telah disebar ... Tenda telah digelar ... Bahkan penghulu telah disiapkan ...
Oh my ...
Menerima semua kenyataan tersebut, bagaimana mungkin Ayu tidak shock mendengarnya?
Alhasil begitu pembicaraan mereka terputus, Ayu seolah tak bisa lagi menguasai kesedihannya.
Seperti orang bego, tanpa sadar Ayu telah melangkah dengan pikiran kosong, bahkan Ayu sendiri tak menyadari bahwa langkah kakinya yang tanpa arah dan tujuan telah membawa dirinya kesebuah cafe yang masih berada di area bandara, mengambil tempat disudut, dan Ayu pun mulai menangis tersedu-sedu di sana seorang diri sampai akhirnya Biyan menemukan dirinya yang terlihat begitu kacau, sehingga pria itu pun berinisiatif membawa Ayu ke hotel tempatnya hendak menginap ...
__ADS_1
NEXT ...
Jangan lupa Like dan support-nya yah 🙏