
Biyan sudah membalikkan tubuhnya manakala suara Bella kembali terdengar dibelakang punggungnya.
"Hati-hati dijalan yah, Pa ..."
"Iya, Bell ..." jawab Biyan, tak lagi menoleh.
"Cepat pulang juga ..."
"Hhhmm ..."
Masih tanpa menoleh, namun kali ini Biyan terlihat mengacungkan jempolnya ke udara sebagai jawaban.
Bella yang berdiri termanggu dibingkai pintu kamarnya, hanya bisa menyaksikan pemandangan punggung lebar dengan sebuah travel bag berukuran sedang yang tersampir begitu saja dipundak sebelah kanan itu melangkah semakin jauh, sebelum akhirnya menghilang dibalik tembok pembatas yang menuju kearah lift.
Bergegas Bella menutup kembali pintu kamarnya dengan perlahan, karena gadis itu seolah tau persis kebiasaan Biyan, yang pastinya enggan menoleh lagi saat pria itu benar-benar telah berpamitan.
Ditinggalkan mendadak seperti ini bukanlah hal yang spektakuler lagi bagi Bella.
Bella sudah terbiasa, karena pada dasarnya ia paham betul bahwa Biyan melakukan semua itu demi dirinya juga.
Rumah besar dengan segala kemewahan, beserta seluruh fasilitas yang selalu terpenuhi merupakan wujud nyata bahwa selama ini Biyan sudah bekerja keras demi mewujudkan impian Bella, serta semua keinginan yang mungkin dulunya terasa begitu mustahil untuk dipenuhi Biyan dengan segala keterbatasannya.
Hidup Bella tak lagi berkekurangan, lalu apalagi yang Bella inginkan?
Tidak ada.
Bella tau, Biyan sudah melakukan banyak hal yang luar biasa, sehingga Bella bahkan merasa malu jika masih saja rewel tentang hal sepele.
Sementara itu ...
Tepat dilantai satu pintu lift telah terbuka.
Biyan melangkah keluar sambil merogoh ponselnya kembali.
Sebelum menemui Bella untuk berpamitan, Biyan sudah terlebih dahulu mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Ayu.
'Kalo belum tidur, ada yang mau Om omongin ...'
Saat itu, Biyan sudah menyimpan ponselnya tanpa menunggu apakah chat-nya mendapatkan respon atau tidak.
Untuk itulah saat ini Biyan hendak mengeceknya kembali, ingin mengetahui apakah Ayu membaca pesan singkatnya tersebut.
Karena bisa jadi gadis itu mungkin sudah ketiduran, dan kalau memang demikian, pastinya Biyan juga merasa enggan untuk mengganggu.
Sebuah notifikasi disebelah kiri atas layar ponsel milik Biyan sudah membuat Biyan menarik napas lega, padahal Biyan bahkan belum tau apa dan dari siapa pemilik notifikasi tersebut, namun entah kenapa feeling Biyan seolah yakin betul bahwa itu pasti dari Ayu.
'Belum.'
'Maksudnya Ayu belum tidur, Om ...'
Dua buah chat terlihat muncul berurutan saat Biyan membukanya.
Seperti dugaan Biyan sejak awal, kedua chat tersebut memang merupakan balasan pesan Ayu untuknya.
Langkah Biyan yang terayun telah membawa tubuh tingginya tepat di bingkai pintu yang terkatup rapat.
__ADS_1
Untuk sejenak Biyan berusaha menarik napasnya beberapa kali hingga sepenuh rongga, seolah sedang mencari tambahan kekuatan mengingat bisa saja apa yang hendak ia bicarakan dengan Ayu merupakan sebuah pembicaraan yang kelak akan menjadi penentu arah, hendak ke mana nantinya masa depan rumah tangga mereka akan bermuara.
Usai berusaha menenangkan diri sekaligus membangun kepercayaan dirinya agar semakin berlipat ganda, pada akhirnya tangan kanan Biyan pun terangkat guna mengetuk daun pintu dengan buku jarinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu dari Biyan terdengar cukup lirih, karena lagi-lagi Biyan tak ingin ketukan pintu tersebut akan terdengar oleh Rania, sang mantan istri yang mendiami kamar sebelah.
Seolah kehadirannya sudah dinanti, tanpa menunggu lebih lama daun pintu itu telah terpentang, menampilkan sosok Ayu dengan rambut panjangnya yang tergerai indah, serta tubuh berbalut setelan piyama Doraemon, dengan kombinasi warna biru muda dan biru tua.
"Om boleh masuk kan?" tanya Biyan sambil tersenyum tipis.
Ayu pun mengangguk, meskipun terlihat sedikit salah tingkah. "Iya, boleh, Om ..."
Sambil tak lupa mengatupkan kembali daun pintu, Biyan pun langsung mengayunkan langkahnya kedalam kamar Ayu yang udaranya lumayan sejuk, dikarenakan hembusan air conditioner yang berada di angka delapan belas.
Biyan menaruh travel bag-nya di atas lantai, tepatnya di sisi ranjang, sebelum akhirnya ia sendiri menghempaskan tubuhnya dipinggiran ranjang yang sama.
Masih tanpa kata, selanjutnya Biyan terlihat sibuk mengeluarkan dompet dari saku celana belakangnya, mengubek-ngubek isinya sesaat sebelum akhirnya lewat sebuah saku dompetnya Biyan terlihat mengeluarkan kartu berlogo salah satu bank swasta terbesar di negeri ini.
Sementara itu dihadapan Biyan, Ayu yang memilih tetap berdiri manakala untuk yang pertama kalinya Biyan mendudukkan dirinya di ranjang hanya mengawasi gerak-gerik Biyan lewat ekor matanya, sama sekali belum paham dengan apa yang sebenarnya hendak dilakukan Biyan sebelum pria itu mengutarakan perihal keberangkatannya yang sesungguhnya sudah diketahui Ayu dari Ibunya.
"Ay, kesini sebentar ..."
Biyan terlihat menepuk permukaan ranjang yang ada disebelahnya.
Meskipun awalnya ragu, namun pada akhirnya Ayu pun memberanikan dirinya untuk mendekat.
Tapi bukannya langsung duduk disebelah Biyan seperti titah pria itu, Ayu malah berdiri rikuh tak seberapa jauh dari Biyan.
Pipi Ayu sontak merona, karena kali ini bukan hanya lewat perkataan semata, melainkan Biyan benar-benar meraih pergelangan tangan Ayu dan menariknya lembut ke sisinya.
Begitu Ayu terduduk disampingnya tanpa perlawanan berarti, Biyan terlihat melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, sadar bahwa waktunya memang tidak banyak sehingga ia harus mempergunakan waktu yang sempit ini untuk menentukan sikap, sekaligus pembuktian dirinya sebagai pria yang nekad mengambil resiko.
"Mmm ... A-ada apa, Om? Katanya ada yang mau diomongin ...?" tanya Ayu yang berusaha membuat dirinya serileks mungkin dihadapan Biyan, dalam kondisi yang pastinya sangat sulit mengantisipasi debaran jantungnya yang sedang mengamuk didalam sana.
"Ay, sebelum Om mengutarakan apa yang hendak Om omongin, pertama-tama Om mau minta maaf dulu karena sejak kita menikah sepertinya Om udah melupakan sesuatu hal yang teramat sangat penting, yang seharusnya telah menjadi kewajiban Om sama Ayu sejak awal ..."
Alis Ayu sontak mengerinyit mendengar kalimat panjang lebar Biyan yang sedikit pun tak ia mengerti kemana arahnya.
"Ini, ambillah ..."
Biyan berucap lagi, sambil menyodorkan sebuah kartu debit card yang tadinya sempat dilihat Ayu, saat Biyan mengeluarkannya dari dalam dompet.
"Ini apaan, Om?" tanya Ayu bingung, tentu saja enggan menerima pemberian Biyan begitu saja.
"Kartu ATM." ucap Biyan lugas dan sekenanya.
"Ayu tau ini kartu ATM, tapi maksud Ayu ... Untuk apa Om Biyan ngasih Kartu ATM ini ke Ayu ..."
"Kewajiban."
"Ha-ah ...?" Ayu bengong mendapati jawaban Biyan yang terdengar begitu enteng.
"Kan udah Om omongin barusan, kalo seharusnya udah sejak awal Om melakukannya. Karena begitu Ayu jadi istri Om, maka detik itu juga udah menjadi kewajiban Om untuk menafkahi Ayu ..."
__ADS_1
Ayu tercenung mendengar ucapan Biyan, yang selalu terucap diiringi senyuman yang seolah tak pernah kehabisan stock-nya.
"T-tapi Om ..."
"Protesnya ditangguhkan dulu. Terima dulu kartunya baru protes ..."
"Tapi Om, ini ..."
"Diterima dulu, Ay ..."
Napas Ayu terhembus berat. Sorot mata teduh namun tegas milik Biyan membuat Ayu bak mati kutu, tak kuasa untuk tidak tunduk dibawah titah pria pemilik hati dan jiwanya itu.
"Nah, gitu dong ..." Biyan tersenyum puas, saat menyadari akhirnya Ayu luluh dan bersedia juga mengambil alih kartu Debit Card yang keukeuh disodorkan oleh Biyan sejak tadi, meskipun sangat terlihat jika Ayu menerimanya dengan berat hati.
"Nanti pergunakan aja semua yang ada didalamnya untuk memenuhi kebutuhan Ayu ... Karena Ayu berhak atas semua itu ..."
"Om Biyan kenapa harus repot-repot kasih Ayu kartu ATM punya Om Biyan? Nanti kalo Om Biyan butuh gimana ...?"
"Tenang aja, Ay, Om masih punya beberapa kartu dari bank yang lain kok ..."
"Tapi Ayu juga udah punya kartu ATM sendiri, Om ..."
"Jadi Ayu mau uangnya ditransfer aja ke rekening Ayu sendiri? Begitu?"
"Egh? T-tapi, Om ..."
"Oke ... Oke ... Bisa juga kok kalo Ayu maunya kayak gitu. Ya udah, mana nomor rekening Ayu ...?"
Ayu terhenyak mendapati kegigihan Biyan yang malah salah menafsirkan maksud dari ucapannya.
"Om Biyan, maksud Ayu bukannya ingin di transfer, tapi Ayu cuma mau bilang kalo untuk urusan kebutuhan Ayu sehari-hari, uang bulanan yang dikirim Ayah sama Ibu selama ini, udah lebih dari cukup ..."
"Kalo begitu mulai hari ini semua kebutuhan Ayu sehari-hari, dan apapun itu tanpa terkecuali ... Semuanya akan jadi tanggung jawab, Om. Gak perlu lagi Ayah repot-repot mengirimkan uang bulanan ..."
"Ya ampun, Om, kalo kaya gitu konsepnya Ayu justru gak setuju ..."
"Loh ...?"
"Udah dibolehin tinggal gratis di sini, pergi-pulang kampus juga gratis karena nebeng Bella mulu ... Masa iya kebutuhan Ayu juga mau ditanggung Om Biyan semua ...? Kalo kayak gitu Ayu jadi makin gak enak, Om ..."
"Lah trus maunya gimana, Ay? Dimana-mana juga udah jadi kodratnya kali seorang suami menafkahi istrinya, bahkan aturannya sih ngasih nafkahnya ... Lahir bathin ..." kilah Biyan sedikit tersendat.
Ayu terdiam. Namun dalam diamnya Ayu, tak sedetik pun Biyan lengah mengawasi setiap gerak-geriknya.
Biyan benar-benar sedang berusaha mencari celah yang tepat ...
Moment yang pas ...
Demi bisa mengungkapkan segenap harapannya di masa depan ...
Bersama gadis yang kini masih betah tertunduk dalam, dengan wajahnya yang dipenuhi semburat ...
Bersambung ...
🧕 : Support yang kenceng yah Guyzzz ... Pleaseeee ... 🙏
__ADS_1