HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
INGIN MENGAKHIRI


__ADS_3

Biyan memang telah berjanji untuk tidak melibatkan pekerjaan sedikit pun dalam weekend kali ini, dan untuk hal tersebut Biyan tetap memegang teguh janjinya kepada Bella, putrinya.


Tapi ternyata janji Biyan hanya berlaku disaat mereka menghabiskan waktu bersama, karena pada kenyataannya begitu Bella dan Ayu masuk ke kamar untuk beristirahat, Biyan langsung menenggelamkan dirinya pada notebook miliknya.


Ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok, Biyan sengaja menyembunyikan diri di gazebo mungil yang ada di sisi kolam renang, mempelajari tender sebuah proyek Pemerintah yang mulai dia persiapkan penawarannya dari sekarang.


Memang ini bukan kali pertama bagi perusahaan konstruksi milik Biyan dalam menangani proyek milik Pemerintah, namun proyek kali ini menjadi istimewa karena seolah memiliki sebuah tantangan khusus.


Dalam artian, jika dirinya memenangkan tender kali ini, bisa jadi ini merupakan kali pertama bagi Biyan dalam menangani proyek di wilayah perbatasan, yang merupakan salah satu dari beberapa wilayah pulau terluar yang ada di batas wilayah paling utara Nusantara.


Sementara itu ...


Didalam sebuah kamar yang temaram, seseorang tak kunjung bisa memejamkan matanya meskipun hanya sesaat.


Dia adalah Eros Rahadian!


Lelah membolak-balikkan tubuh kekanan dan kekiri pada akhirnya Eros menyerah.


Eros kembali menyalakan lampu sehingga kamarnya menjadi terang-benderang.


Dengan tubuhnya yang bertelanjang dada Eros bangkit dari ranjang, menyambar kaos yang teronggok di sandaran kursi dan memakainya terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak keluar dari kamarnya.


Eros merasa otaknya butuh secangkir kopi, setelah lelah berkelana.


Pemikiran-pemikiran yang semuanya tentang Bella terus menginvasi benak Eros, terhitung sejak Bella menyatakan perasaan gadis itu untuknya.


"Emang ada gitu wanita yang mengaku suka banget, cinta banget, tapi gak ada sedih-sedihnya pas ditolak ...?"


Eros bermonolog ria saat tangannya sibuk meracik secangkir kopi yang nikmat.


Sampai detik ini dirinya masih menyangsikan kebenaran tentang pengakuan cinta Bella.


"Dasar bocah usil ...! Bisa-bisanya dia mempermainkan aku seperti ini? Udah dianya enak-enakan tidur nyenyak ... malah aku yang kepikiran ..."


Eros ngedumel panjang-pendek, terlebih saat ekor matanya menangkap pemandangan pintu kamar Bella dan Ayu yang tertutup rapat.


Dengan secangkir kopi ditangan kanan, Eros menuju kearah samping villa, di mana kolam renang berada di sana.


Sebuah gazebo mungil yang sempat membuatnya ketiduran siang tadi telah menjadi tujuan utama Eros, dan Eros terkejut setengah mati saat melihat Biyan yang sudah berada lebih dulu di sana.


Biyan nampaknya juga sudah menyadari kehadiran Eros yang kini sedang mendekat kearahnya.


"Belum tidur, Bro ...?" sapa Eros sambil menaruh cangkir kopinya terlebih dahulu keatas meja, sebelum akhirnya menghempaskan tubuh di kursi yang ada dihadapan Biyan.


"Lagi periksa kerjaan aja. Terpaksa harus nunggu Bella tidur dulu, kalo gak bisa ngamuk dia ..." jawab Biyan sambil menegakkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Udah kelar?' tanya Eros lagi.


"Belum."


"Jiaaah ... ganggu dong aku nih ..."


"Gaaakk. Emang aku perlu rehat punggung, capek dari tadi pelototin layar mulu ..." kilah Biyan.

__ADS_1


"Tanda-tanda penuaan dini tuh. Udah mulai sakit punggung ..." gak disangka Eros malah mempergunakan keluhan tersebut sebagai ajang untuk mengolok-olok Biyan.


"Wuaanjiirr ... penuaan dini mulutmu ...!"


Makian spontan Biyan dibalas Eros dengan gelak tawa.


"Lah, iya kan ...? Perlu dipertanyakan tuh, kalo tarikan bawahnya masih oke apa gak. Biasanya kan ngaruhnya kesitu, apalagi udah lama gak test drive ..."


"Si bang saaattt ... si bang saaatt ..." desis Biyan dongkol setengah mati. Saking dongkolnya Biyan, rasanya leher Eros yang sedang terpingkal-pingkal tanpa perasaan itu pengen ia cekek aja.


"Wua ha ha ha ...!!"


Eros ngakak gila-gilaan melihat kesewotan Biyan yang tak tertahankan. Rasanya sangat puas bisa membully sahabatnya yang kelewatan cool itu.


'Rasain kamu, Yan. Hitung-hitung itu pembalasanku atas ulah anak gadismu yang sukses membuat aku aku gak bisa tidur malam ini ...!'


Eros membathin sambil tertawa jahat didalam hati.


"Puas-puasin deh ketawanya, tapi jangan harap kalo aku bakal terpengaruh dengan segala bujuk-rayu setan ..."


"Enak aja. Emangnya aku setan?"


"Gak mau jadi setan? Ya udah iblis aja ..."


"Sama aja dong ..."


"Emang iya."


Kali ini giliran Biyan yang balik menertawakan Eros yang terlihat melotot galak kearahnya.


"Egh, kok malah nyumpahin sih ...?"


"Itu bukannya nyumpahin, tapi ngingetin ..!"


"Ngingetin apanya. Gini-gini aku juga masih kuat iman kok. Emangnya aku pria apaan, sampe dibilang kebanyakan test drive ..."


"Tapi pernah kan?"


Eros yang awalnya ngomel-ngomel kini berbalik salah tingkah di todong seperti itu oleh Biyan. Akhirnya ia pun berpura-pura menggaruk telinganya sendiri, guna mengalihkan jengah.


"Ngaku aja ..."


"Sekali doang."


"Yakin ...?"


"Serius, cuma sekali."


"Yang bener ...?"


"Iyaaa ... cuman sama Mentari yang waktu itu ... mmmm, ya udah sih itu aja ..."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Makanya aku gak mau lanjut, takut kebablasan ..." ujar Eros sok kalem, sambil meraih cangkir kopi dan berniat menyesapnya.


Dalam hati Eros sedang memutar otak, mencari cara mengalihkan pembicaraan yang kini sudah terlanjur mengarah pada posisi menyudutkan dirinya.


"Emang iya sekali doang? Trus yang waktu sama Yuni ke puncak ngapain aja tuh? Main domino ...?" sindir Biyan nyaris membuat Eros tersedak kopi panas.


"Ohh ... Ahaha ... ha ... ha ... Oh i-iya juga yah, lupa aku, ternyata dua kali. I-iya sih ... dua kali. Ya ... ya udah sih, dua kali doang ..."


Eros tidak bisa lagi menyembunyikan dirinya yang salah tingkah bercampur gelagapan, karena berusaha mati-matian untuk ngeles.


"Tapi seriusan, Yan, sejak saat itu gak ada lagi yang lanjut, dan gak ada lagi Mentari-Mentari juga Yuni-Yuni yang lain ..."


Biyan terlihat mencibir terang-terangan.


"Udah deh, gak usah bahas masalah itu lagi. Intinya sekarang aku lagi fokus sama nyari duit ... dan ngurusin kerjaan ..."


"Ngurusin Lisa gak termasuk tuh ...?" pungkas Biyan lagi sambil menyembunyikan tawa.


Mendengar nama Lisa disebut sontak sepasang mata Eros menatap Biyan pasrah, menyadari bahwa pada kenyataannya Biyan memang selalu tau dengan sepak terjangnya diluar sana.


Biyan tergelak mendapati wajah Eros yang tak berdaya.


Terang saja Biyan mengenal Lisa, karena saat terakhir kali Biyan masuk ke club malam milik Eros kira-kira dua minggu yang lalu, wanita bernama Lisa itu terlihat selalu berusaha menempel pada sahabatnya itu seperti kutu, meskipun Eros masih terlihat biasa saja, tidak terlalu wellcome.


'Because, Eros is the real man.'


Biyan harus mengakui, bahwa Eros memang selalu terlihat bersinar diantara para wanita, apalagi dengan kapasitas dirinya sebagai owner dari sebuah club malam ternama di ibukota, yang memiliki cabang di beberapa kota besar lainnya.


Eros adalah gambaran pria mapan yang tidak perlu capek-capek bekerja seperti dirinya, karena pria itu merupakan pewaris tunggal dari beberapa bisnis peninggalan kedua orangtuanya.


Dia yang punya usaha, dia juga boss-nya. Uang terus mengalir masuk tanpa harus lembur memikirkan persoalan kontrak, laporan, dan sebagainya, karena sudah ada orang-orang yang berkompeten yang telah mengurus semua itu di masing-masing lini.


Seorang Eros Rahadian hanya perlu duduk manis, mengawasi dan menikmati bagaimana uangnya seolah bekerja dengan sendirinya, dan terus menghasilkan pundi-pundi uang lainnya.


"Just friend. Aku gak mau lagi ada isu affair dengan siapapun. Percaya apa enggak, Yan, sekarang aku benar-benar sedang berusaha menata kehidupan pribadiku dari nol, dan semua itu harus dimulai dengan membenahi segala kisruh yang terjadi antara aku dan Anya ..."


"Kalian mau rujuk ...?" alis Biyan bertaut, kali ini atmosfer pembicaraan mereka telah berubah serius, tak ada lagi candaan seperti sebelumnya.


Eros mengedikkan bahu. "Entahlah, tapi sepertinya mustahil untuk rujuk. Karena itulah sekarang aku sedang mencoba mencari jalan, agar Anya mau memudahkan segala urusan antara aku dan dia ..."


"Gak ngerti aku sama Anya. Aturannya kalo dia gak mau cerai, janganlah membuka hati untuk orang lain. Maunya apa sih dia ...?" seloroh Biyan yang gak sadar jika dirinya ikutan jengkel dengan kelakuan Anya yang terkesan menggantung Eros sedemikian rupa.


Hembusan napas Eros terdengar berat. "Ya, mau gimana lagi, Yan. Kalo aku keras, takutnya persoalan bisa makin runyam. Mendingan aku ikutin aja dulu alurnya. Toh dengan dia punya pacar lagi akan lebih menguntungkan untuk aku kedepannya. Yah ... semoga aja Anya mau mengakhiri hubungan ini dengan kesadaran dirinya sendiri. Makanya yang aku ucapin tadi tuh serius, bro, kalo sekarang aku sedang berusaha menata kehidupanku lagi dengan lebih baik ..."


Penuturan Eros yang panjang-lebar ditanggapi Biyan dengan anggukan.


Kali ini seribu persen Biyan setuju dengan cara pandang Eros, yang ingin menyelesaikan kisruh rumah tangganya dengan sikap yang lebih dewasa, tanpa ada lagi keributan ...


...


Bersambung ...


🧕 : Maafkan otor kalo ada kata/kalimat yang rada kasar. Semua itu karena otor hanya ingin menggambarkan perbincangan yang tanpa batas antara dua orang sahabat yang begitu dekat. Sekali lagi maaf, jika sekiranya ada pembaca yang kurang berkenan dengan hal tersebut. 🙏

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan dukungan untuk karya yang sepi pengunjung ini yah. Semoga dukungan kalian bisa menambah pop karya ini, karena otor nyaris patah semangat karena novel ini kurang diminati 🥺.


Lopphyuu all ... 😘


__ADS_2