
Special thx to Eka Elissa yang udah promoin 2 karya aku sekaligus di salah satu grup FB 🙏. Unggahannya sengaja aku selipin di sini biar jadi kenang-kenangan meskipun 2 karyaku terakhir ini bisa dibilang sepi banget 🥺.
Buat teman-teman yang sekiranya pernah promo karyaku di laman sosmed, jangan sungkan untuk tag atau kasih tau aku yah ... Biar screenshootnya bisa aku selipin kayak gini di next bab sebagai kenang-kenangan 🤗.
So, yang belum mampir di karya "MENIKAHI PERAWAT LANSIA' jangan lupa mampir yah. Sudah TAMAT loh ... 🥰
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama tiga hari terakhir, Biyan telah mempergunakan waktunya dengan baik dan se-efisien mungkin, agar ia dapat menyelesaikan seluruh pekerjaannya yang sempat tersandung sedikit persoalan yang cukup urgent, namun untunglah bisa diselesaikan Biyan hingga tuntas dalam kurun waktu yang cukup sempit.
"Pak Biyan, kita berangkat sekarang?"
Doni sang manager proyek tergopoh-gopoh mendekati Biyan, yang memang sejak awal sedang menunggu kedatangan pria itu sambil ngopi.
"Mana mobilnya, Don?" tanya Biyan dengan alis mengerinyit.
"Aku parkir didepan, Pak, soalnya ada alat berat yang agak menghalangi jalan masuk, katanya sih operatornya baru aja istirahat makan siang dan belum kembali ..."
"Ya udahlah, jalan sedikit kedepan juga gak apa-apa ..." Biyan berucap demikian sambil meraih travel bag andalannya yang teronggok di kursi sebelah.
"Biar aku bawain, Pak," tawar Doni yang melihat sang bos besar yang menyeruput sisa kopinya sebentar, sebelum akhirnya berdiri dari duduknya.
"Udah gak pa-pa, Don. Biar aku aja." tolak Biyan sopan, atas tawaran Doni yang berniat mengambil alih tas yang tersampir dibahunya. "Ayo, jalan ..." ucap Biyan lagi sambil melenggang kearah tempat mobil terparkir, sesuai arahan Doni barusan.
"Baik, Pak." jawab Doni sambil buru-buru mengikuti langkah Biyan.
Dalam hati Doni kembali memuji pria dihadapannya yang terlihat sangat apa adanya.
'Ini nih yang disebut the real orang kaya. Penampilannya biasa aja, sifatnya bersahaja, pembawaannya kalem dan tenang, gak ada sedikitpun lagaknya yang terlihat nge-bossy ... Padahal semua orang yang mengenalnya pasti tau persis, siapa gerangan seorang Biyan Erlangga ...'
Dalam diam, ternyata Doni sibuk membathin sendiri, guna memberikan penilaian atas kepribadian seorang Biyan Erlangga yang begitu kharismatik.
__ADS_1
"Gak makan siang dulu, Pak? Ini udah jam dua belas ..." tanya Doni lagi, begitu mobil yang ia kemudikan mulai bergerak perlahan menyusuri jalanan yang ada dihadapan mereka.
Biyan terlihat menggeleng. "Gak dulu, Don. Tadi juga udah sarapan, telat makan siang dikit gak pa-pa lah untuk hari ini. Lagian makan siang dirumah mertua kayaknya lebih enak ..."
Doni manggut-manggut paham. Pantas saja Biyan menolak mentah-mentah untuk makan siang, dan lebih memilih menahan lapar sekitar dua jam, ternyata pria itu memang berniat untuk makan siang di rumah mertuanya.
Doni memang sudah mengenal Arif Rahman dan Ibu Arum, dikarenakan saat dirinya menjemput Biyan tiga hari yang lalu di bandara, pria itu juga meminta mampir sebentar ketempat mertuanya, sebelum akhirnya meluncur ke lokasi pekerjaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov, tiga hari yang lalu ...
Pertama kali Biyan menginjakkan kakinya kembali di bandar udara MNA, sesuai planning-nya sejak awal, Biyan akan menyambangi rumah kedua mertuanya terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanannya ke lokasi proyek.
"Kita mampir ke B lebih dulu yah, Don ..." begitu tubuh Biyan masuk sempurna kedalam mobil, Biyan langsung memberikan titah kepada Doni, sang manager proyek yang siang itu memang sengaja datang untuk menjemput Biyan di Bandara.
"Baik Pak, tapi ngomong-ngomong kita mau ngapain, Pak ...?" usut Doni yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, tentang alasan Biyan yang belum apa-apa malah hendak mampir ke salah satu ibukota kecamatan yang berjarak tempuh kurang lebih empat puluh lima menit berkendara.
"Mau nengokin mertua sebentar, Don." jawab Biyan tanpa ragu, malah sebaliknya lebih terkesan bangga saat mengucapkannya.
"Gak bercanda, Don. Aku serius loh, pengen ketemu mertua. Kalo gak percaya ya ayo buktiin sendiri ..." pungkas Biyan lagi sambil tertawa kecil.
Kemudian seperti dugaan Biyan sejak awal, bahwa kenyataan tentang kebenaran ucapannya pastinya akan membuat Doni terkejut tentu saja benar terjadi.
Manager proyeknya itu bahkan sempat mematung tak percaya begitu mereka tiba disalah satu rumah sederhana bercat hijau muda, dan mendapati penyambutan kedua orang tua Ayu yang terlihat sangat semringah atas kedatangan sang menantu.
"Yah, aku gak bisa lama-lama di sini karena harus buru-buru ke lokasi pekerjaan ..." ucap Biyan usai menyapa kedua orang tua Ayu dan mencium tangan keduanya dengan takzim.
Doni yang awalnya masih berdiri ragu, akhirnya ikut menyapa sepasang suami istri dihadapannya bahkan ikut-ikutan mencium tangan karena sang bos besar saja melakukan hal serupa.
"Baru datang sudah mau buru-buru pergi aja kamu, Yan. Belum juga ngopi sama makan siang, tuh Ibu dari pagi udah sibuk masakin ini itu karena menantunya mau datang ..."
Arif Rahman nampak merangkul akrab bahu Biyan sambil berjalan masuk beriringan, diiringi Doni yang masih rada nge-lag sambil diam-diam kepalanya celingak-celinguk ke sana ke mari, seolah belum bisa percaya sepenuhnya bahwa kedudukan sang bos besar benar-benar merupakan menantu dirumah sederhana tersebut.
Sementara Ibu Arum sendiri tadi telah pamit lebih dahulu untuk bergegas masuk, karena ia sedang buru-buru hendak menyelesaikan pekerjaannya yang terjeda saat sedang mengatur meja makan yang belum selesai, karena kehadiran sang menantu.
__ADS_1
"Langsung makan siang aja, Yah, karena benar-benar ada hal urgent yang harus aku tangani di lokasi. Rencananya kalo semuanya udah kelar, sehari sebelum pulang aku akan ke sini lagi. Boleh kan, Yah? "
"Bolehlah. Ayah sama Ibu malah senang kalo kamu bisa nginep di sini meskipun cuma semalam ..."
Usai berucap demikian wajah Ibu Arum nampak muncul lagi dari balik tembok pembatas ruang tamu.
"Makan siangnya udah siap, Bu?" tanya Arif Rahman kearah sang istri yang sontak mengangguk.
"Udah, Yah,"
"Nah kebetulan, ayo kita langsung makan siang ..." ajak Arif Rahman kearah Biyan dan Doni dengan ramah.
Keduanya pun mengangguk tanda setuju. Namun begitu tiba di ruang makan dan mendapati penampakan meja makan yang dipenuhi aneka makanan bak orang yang mau kondangan, tak ayal membuat Biyan terkejut, apalagi Doni.
"Ini makanannya kok banyak banget, Bu. Bisa di makan orang sekomplek ini ..." ujar Biyan dengan mimik takjub.
"Tuh, Biyan, kamu lihat sendiri kan ... Gimana sibuknya Ibu buat menyambut kedatangan kamu? Udah gitu ditambah lagi Ayu yang sedikit-sedikit ngecek ... Sedikit-sedikit ngecek ..." ujar Arif Rahman sambil terkekeh geli, mendapati wajah istrinya awalnya sedikit malu namun pada akhirnya juga ikut tertawa seperti Biyan, sementara Doni hanya menyumbang senyum karena tak begitu paham dengan topik pembicaraan keluarga tersebut.
"Iya Biyan, Ayu tuh udah bikin panik Ibu dari shubuh ... Ngeceeeekk terus kerjaannya. Semua ditanyain, udah belanja apa belum, udah masak apa belum, suaminya udah nongol apa belum ..." kilah Ibu Arum, yang mengisahkan bagaimana rempong putrinya, sehingga terus-menerus mengecek kesiapan kedua orang tuanya sebelum kedatangan Biyan.
Mendapati penyambutan kedua mertuanya yang sangat ramah dan begitu istimewa saja sudah membuat Biyan bahagia, ditambah lagi dengan mendengar sendiri bagaimana perhatiannya Ayu ... Sudah pasti hati Biyan semakin berbunga-bunga.
Pada akhirnya makan siang dihari itu berjalan dengan begitu ceria, bak sebuah keluarga yang sangat harmonis.
Berada diantara kedua orang tua Ayu, Biyan seolah bisa merasakan kembali hangatnya sebuah keluarga yang membuat hatinya ikut menghangat.
Biyan sudah menjadi yatim piatu sejak lama, bahkan saat dirinya belum lulus dari perkuliahan, dan sebelum itu kedua orang tua Biyan pun berasal dari keluarga yang perekonomiannya pas-pasan, sehingga Biyan sudah terbiasa hidup mandiri dan survive.
Karena itulah saat menerima perhatian dan kasih sayang yang diberikan Arif Rahman dan Ibu Arum, tak bisa tidak membuat hati Biyan meleleh.
Belum lagi saat Biyan menyadari betapa selama ini perhatian Ayu untuk dirinya dan Bella ternyata begitu berarti.
Sungguh, Biyan merasa beruntung hari ini bisa berada di tengah-tengah keluarga Ayu, yang seolah tak pernah kekurangan kasih sayang didalamnya ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Haiiii ... Like, and semua supportnya ditunggu yah 🤗