
Meski dengan langkah yang ragu, pada akhirnya untuk yang pertama kali Biyan memberanikan diri melangkahkan kakinya kedalam kamar Ayu, dengan tangan kanannya yang masih menggenggam travel bag berukuran sedang.
Tatapan Biyan refleks mengitari isi kamar kecil berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter bernuansa pink muda tersebut, kemudian tak sadar ia telah mengabsen satu per satu isi didalamnya.
Sebuah ranjang berukuran standar terletak agak ke sebelah kanan ruangan, berdekatan dengan pintu kamar mandi yang terkatup rapat, satu set meja belajar lengkap dengan kursinya disisi kiri, tepat bersebelahan dengan sebuah lemari kayu dua pintu berukuran sedang, serta sebuah kipas angin yang sedang berputar ke kiri dan ke kanan sambil menghembuskan kesejukan beraroma lavender, yang tercipta dari pewangi sachet-an yang tergantung disalah satu jeruji kipas angin.
"Ini lemari Ayu, Om, barusan bagian sebelah kanannya udah Ayu kosongin, biar Om bisa naruh pakaian Om disitu ..."
Ayu berdiri rikuh disisi lemari, sambil menatap Biyan yang kali ini telah mengalihkan pandangannya kearah Ayu.
"Kenapa harus repot-repot sih, Ay ...?" tukas Biyan, namun tak urung kakinya tetap saja terayun mendekat, kearah lemari yang dimaksud, yang dengan sendirinya ikut mendekatkan dirinya dengan sosok Ayu yang juga berdiri di sana.
"Sama sekali gak repot kok, Om. Lagian kalo pakaiannya gak dipindahin ke lemari, nanti justru Om sendiri yang repot, perlu apa-apa harus ngubek-ngubek tas dulu ..."
"Iya juga sih ..." ungkap Biyan, dengan sosoknya yang telah menjulang tepat dihadapan Ayu.
Detik berikutnya pria itu telah mengangkat sebelah tangannya, guna membuka sisi pintu lemari yang dimaksud Ayu diperuntukkan untuknya, dan benar saja, sisi lemari itu telah kosong melompong seperti apa kata Ayu.
"Mau Ayu bantuin, gak, Om?" tawar Ayu memberanikan diri, menyaksikan Biyan yang terlihat bengong sambil menatap rak yang kosong melompong.
Hampir saja kepala Biyan refleks mengangguk atas tawaran Ayu, namun mendadak Biyan mengurungkan niatnya kemudian menggeleng tegas manakala dirinya tersadar bahwa selain pakaian pada umumnya, di dalam tasnya juga terdapat barang-barang pribadi seperti pakaian dalam!
"Gak usah deh, Ay, biar Om sendiri yang mindahin pakaiannya. Lagian pakaian Om juga gak banyak kok ..."
Ayu manggut-manggut kecil menerima kalimat penolakan Biyan.
Dalam hati Ayu sadar bahwa Biyan pastinya juga merasa canggung jika Ayu menyentuh barang-barang pribadi pria itu.
Menyadari Biyan yang membutuhkan ruang lebih, Ayu pun menarik langkahnya menuju kursi belajar miliknya.
Perlahan Ayu menghempaskan tubuhnya diatas permukaan kursi, sembari diam-diam mengawasi gerak-gerik Biyan yang sedang memindahkan barang-barangnya dari travel bag kedalam lemari.
Tanpa Ayu sadari, gerakan punggung lebar milik Biyan yang turun naik telah membuat sebuah pemandangan menarik yang membuat sepasang matanya enggan beralih.
Gerakan Biyan terlihat cekatan, karena pria itu sepertinya hanya menaruh pakaian beserta isi tasnya dengan seala kadarnya keatas rak kalau tidak ingin dibilang asal-asalan.
"Ay, Om boleh minjem kamar mandinya Ayu gak? Om pengen mandi nih, gerah ..."
Dalam sekejap Biyan sudah memalingkan wajahnya kearah Ayu yang sejak awal setia mengawasi.
__ADS_1
"I-itu kamar mandinya, Om ... Silahkan aja kalo Om mau mandi ..."
Biyan pun mengangguk, namun detik berikutnya pria itu terlihat kembali termenung.
"Mmm ... Ay ..." panggil Biyan lagi, ragu.
"I-iya, Om ...?" jawab Ayu sedikit terbata.
"Anu ... Om baru inget, Om gak punya cadangan handuk bersih ..."
"Oh ... itu ... Ayu punya kok beberapa stock handuk bersih. Kalo Om mau sih ..."
"Mau Ay, Om mau. Daripada abis mandi gak handukan ..." seloroh Biyan sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, berusaha tertawa kecil guna menghindari kecanggungan.
"Sebentar ..." Ayu pun bangkit dari duduknya, guna mendekati lemari sebelah kiri yang menjadi bagiannya.
Detik berikutnya, dari dalam sana jemari lentik Ayu telah mengeluarkan sebuah handuk berwarna putih tulang.
"Ini, Om, kebetulan handuk ini belum pernah Ayu pakai."
"Wah, makasih banyak yah, Ay ..."
"Udah, Ay, udah oke semua kayaknya."
"Ya udah, kalo gak ada lagi yang diperlukan Ayu pamit keluar dulu yah, Om. Ayu mau bantu-bantu ibu nyiapin makan malam ..."
"Iya, Ay, terima kasih yah ..." sambut Biyan dengan tatapan intens berhiaskan senyuman, yang mampu membuat hati Ayu cenat-cenut gak karuan, sehingga memilih keluar dari kamarnya secepat kilat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak seperti biasanya di mana moment makan malam merupakan ajang kehangatan keluarga Arif Rahman, pemandangan makan malam kali ini bisa dibilang terkesan sangat kaku, dan semua itu bahkan sangat tercermin dari minimnya pembicaraan serta kerikuhan yang mewarnai dari awal makan malam sampai pada akhirnya masing-masing menaruh sendok dan garpu diatas piring nyaris beriringan.
Ayu dan Biyan menjadi orang pertama yang mengakhiri kegiatan makan mereka, disusul Ibu Arum dan Pak Arif Rahman.
Bagi Biyan, situasi yang ia hadapi saat ini sangat sulit untuk ia taklukkan, karena Biyan benar-benar bingung harus memulai pembicaraan dari mana dan topik apa yang sekiranya harus ia bicarakan agar bisa nyambung.
Bagi Ayu sendiri tak jauh berbeda. Perasaan segan dan malu terus menghantui benaknya, menyadari statusnya saat ini benar-benar sudah menjadi istri seorang Biyan Erlangga, kendatipun baru secara agama, tapi tak mengubah kenyataan bahwa ia telah menjadi wanita yang halal untuk pria itu.
Sementara bagi Ibu Arum dan Pak Arif Rahman, jalan pikiran keduanya nyaris serupa, bahwa dari secuil identitas pribadi seorang Biyan Erlangga yang terkuak lewat sedikit perbincangan ringan dengan Biyan menjelang maghrib, mampu membuat keduanya merasa sedikit segan.
__ADS_1
Sepertinya keduanya merasa bingung, entah harus bagaimana caranya agar bisa memberi wejangan yang tepat sebagai orang tua kepada Biyan.
Kedudukan Biyan memanglah sebagai menantu, tapi pada kenyataannya Biyan bukanlah pria muda yang labil, sehingga harus banyak diberikan nasihat tentang lika-liku kehidupan.
Terlebih dengan status duda yang disandang Biyan, otomatis pria itu sudah memiliki banyak pengalaman dalam berumah-tangga.
Biyan bahkan pernah melewati asam-garam penyebab kandasnya biduk rumah tangganya yang terdahulu.
"Biyan, Ayu, besok pagi-pagi sekali Ayah dan Ibu mau ke kampung sebelah. Ada hajatan keluarga jauh yang mau ngadain syukuran karena anak mereka lolos seleksi masuk polisi ... Kemungkinan besar pulangnya menjelang Maghrib ..." ucap Arif Rahman begitu mereka berempat telah duduk diruang tengah, di mana sebuah televisi berukuran empat belas inchi tengah menayangkan sinetron ikan terbang, kesukaan ibu Arum.
"Siapa sih, Yah?" tanya Ayu kearah ayahnya dengan alis bertaut.
"Anaknya Om Ahmad ..."
"Maksud Ayah Danu anaknya Om Ahmad ...?" ulang Ayu seolah ingin lebih memastikan.
"Iya, Nak, Danu yang suka anterin pesanan kue ibunya ..." kali ini Ibu Arum yang menjawab.
"Wah, Alhamdulillah ... Akhirnya bisa tercapai juga cita-citanya Danu buat jadi Polisi ..."
Mendengar kabar tersebut Ayu ikut-ikutan semringah.
Bukan apa-apa, karena Ayu tau persis bahwa menjadi seorang abdi negara merupakan cita-cita Danu sejak kecil, dan bocah lelaki itu bahkan begitu gemar berlatih fisik dan akademik disela-sela giatnya membantu orang tuanya demi bisa mewujudkan cita-citanya tersebut.
Sungguh sebuah perjuangan yang sangat mengharukan.
"Oh iya, ... besok Ayah dan Ibu akan kesana naik kendaraan umum. Sengaja motornya ditinggal, mana tau kalian butuh kendaraan ..." ujar Arif Rahman sambil menatap Biyan yang sejak tadi hanya diam menyimak.
"Kalo begitu, bisa gak motornya dipakai jalan-jalan ketempat destinasi wisata terdekat, Yah? Mumpung masih ada waktu sehari di sini, dan ada Ayu yang bisa jadi guide-nya ..."
"Tentu saja bisa, kan memang itu tujuan utama Ayah dan Ibu meninggalkan motor untuk kalian ..." pungkas Arif Rahman sambil mengangguk menerima penerimaan positif Biyan atas motor matic tua miliknya yang sengaja ia dan istrinya tinggalkan agar bisa dipakai Biyan dan Ayu jalan-jalan ke mana saja, mengingat besok lusa dua insan tersebut harus kembali ke kota, guna meneruskan aktifitas keduanya yang sempat tertunda.
Biyan dengan pekerjaannya ...
Sementara Ayu dengan perkuliahannya ...
Bersambung ...
🧕 : Guyz ... Guyz ... Jangan lupa di support yang keceng novel ini yah ... 🥰
__ADS_1