
Setelah pembicaraan serius yang cukup alot antara Biyan dan Eros, pada akhirnya Biyan harus mengakui bahwa dirinyalah yang harus mengalah.
Lagi pula apapun alasannya, toh Biyan harus menerima kenyataan bahwa pada dasarnya Bella memang mencintai Eros, sedangkan bagi Biyan, kebahagiaan Bella merupakan segalanya.
"Aku butuhnya tuh kesungguhan, karena gak ada yang boleh main-main dengan putriku Bella ..." ucap Biyan usai menyeruput kopi hitam miliknya, berusaha berdamai dengan kenyataan yang tak bisa lagi membuatnya mengelak.
"Oke. Trus kamu maunya gimana, Yan? Mau langsung ijab kabul aja sekarang apa gimana ...?"
Biyan melotot mendapati wajah bersemangat Eros yang ada dihadapannya.
"Udah gila yah?" desis Biyan rada mangkel.
"Yee ... Kan kamu sendiri tadi yang ngomong butuh kesungguhan dan gak ingin aku main-main. Giliran diajak ijab kabul sekarang malah marah ..."
"Cerai aja belum, main nyosor aja kamu."
Eros cengengesan mendapati ucapan Biyan yang seolah membuatnya tersadar akan statusnya yang belum juga sah jadi duda beneran.
"By the way, kalo udah sah cerai emangnya bisa langsung nikah, Yan ...? Kalo aku sih maunya lebih cepat, lebih baik ..."
"Iya kalo Bella mau. Yakin kamu Bella mau nikah buru-buru?"
"Yakin dong ..."
"Cih." desis Biyan lagi, yang masih ada aura-aura galaknya.
Biyan merasa seolah dirinya masih menyisakan nol koma nol satu persen perasaan sangsi, tentang bagaimana mungkin pada akhirnya ia bisa merelakan Eros bersama Bella.
Yah, meskipun semua itu ia lakukan demi kebahagiaan Bella juga, tapi berhubung Biyan merupakan tipe Ayah yang super posesif dari sononya, tetap saja masih terasa janggal.
"Gak nyangka yah, Yan, di masa depan kamu yang jadi mertua aku. He ... He ... He ..."
Biyan melotot lagi begitu mendapati Eros yang terkekeh di akhir kalimat.
"Ada yang lucu?!" sinis Biyan.
"Lucu lah, masa iya kamu gak ngerasa lucu sedikitpun sih. He ... He ... He ..."
Eros kembali terkekeh, sementara wajah Biyan masih terlipat.
Sesungguhnya Biyan juga merasa lucu dan ingin tertawa mendapati kenyataan aneh tersebut, tapi ia masih saja gengsi dihadapan Eros yang kelak bakal jadi menantunya.
Haih, betapa lucunya jalan takdir dan kenyataan ...!
"Oh iya, Yan, kalo aku nikah sama Bella aku manggil kamu apaan dong? Papa gitu ...?"
Lagi-lagi Biyan mendelik mendengar selorohan usil Eros. "Mau aku pukul kamu ya?!"
"Wuahahaha ...!"
Bukannya mengkerut Eros malah tergelak terang-terangan dihadapan Biyan yang tentu saja kesal bukan main, karena tau Eros yang masih sempat-sempatnya menggoda dirinya.
Melihat Eros yang terpingkal-pingkal seperti itu membuat Biyan pada akhirnya tak kuat juga menahan diri untuk tidak ikut tertawa kecil, meskipun awalnya mati-matian ia tahan.
"Ros, demi kebahagiaan Bella aku berusaha mempercayaimu. Jadi tolong ... Jangan kecewakan aku ..." ungkap Biyan lirih namun sarat akan ketegasan, begitu tawa mereka usai dan mereka berdua bahkan sempat terdiam untuk beberapa jenak.
Kepala Eros terlihat mengangguk penuh keyakinan. "Aku janji, gak akan aku ingkari semua ucapan aku hari ini."
Biyan menyeruput sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin, dibawah tatapan Eros yang menatap pria itu dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu mau mempercayakan masa depan Bella kepadaku, Yan. Aku bahkan gak menyangka, karena sejak awal, jujur aku tidak memiliki keberanian untuk mengakui semua isi hatiku kalo aja aku gak ketemu Ayu ..."
"Apa? AYU ...!?"
Biyan hampir saja memuncratkan kopi dari dalam mulutnya, kalau saja tangannya tidak sigap menyambar sapu tangan miliknya.
Kedua alis Eros bertaut mendapati raut kepanikan yang tercetak jelas di wajah Biyan.
"Iya, Ayu. Berkat Ayu aku bisa mendapatkan kembali kepercayaan diriku sehingga berhasil menepis segala keraguan, rasa insecure ..."
"Kamu bertemu Ayu dimana? Kapan? Bagaimana bisa?" pungkas Biyan beruntun, secepat peluru.
"Aku ... Karena semalaman aku galau mikirin jalan keluar dari hubunganku dengan Bella, paginya aku mutusin nyamperin rumah kamu, tapi aku malah mendapati Ayu yang lagi jalan kaki keluar dari pagar rumah. Awalnya sih aku ikutin diem-diem pake mobil karena aku rada curiga ngeliat wajahnya yang kayak nge-blank gitu ... Sampai akhirnya aku putuskan untuk nyamperin karena dia jalannya udah lumayan jauh ... Udah mau dekat gerbang utama kompleks ..."
"Trus dimana Ayu sekarang?" pungkas Biyan lagi yang terlihat sangat tak sabar.
"Karena aku buru-buru kesini terpaksa Ayu aku tinggal di Miracle. Awalnya mau aku anterin balik tapi anaknya gak mau. Aku tanya ada apa, malah gak mau jawab ..."
"Aku akan kesana sekarang. Password pintu masuknya masih sama kan?" Biyan bergegas berdiri dari duduknya.
"Masih sama sih. Tapi ... Emangnya ada apaan sih, Yan ...? Panik banget kamu kayak kehilangan istri aja ..."
"Emang aku sedang kehilangan istri!!"
"A-appa ...?"
"Aku akan ke Miracle sekarang, dan kamu, Ros ... Tolong jemput Bella di rumah. Kayaknya gak bakal mudah ngajak Ayu pulang begitu aja ... Aku butuh Bella buat bujuk dia ..."
Tanpa mempedulikan raut keterkejutan di wajah Eros, usai berucap demikian Biyan langsung beranjak begitu saja dari hadapan Eros yang masih setia bengong sampai punggung Biyan benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Istri ...?"
"Ayu istri Biyan ...?"
Eros bicara sendiri saking otaknya yang ikut-ikutan nge-lag dengan apa yang barusan ia dengar.
Rasanya tak percaya, tapi telinganya mendengar dengan jelas penuturan Biyan, dan kedua matanya juga melihat dengan jelas bagaimana paniknya Biyan ...
Ddrrttt ...
Getaran ponsel di saku celana membuat Eros tersadar dari keterpukauannya.
'Sayang memanggil ...'
Eros tersenyum mendapati pose imut Bella yang menjadi pertanda siapa gerangan sang penelpon.
"Hallo, Bell ...?"
"Oooommmm ...? Yaolooo ... Akhirnya diangkat juga telepon Bella. Udah seribu dua ratus tujuh puluh tiga kali Bella telpon gak diangkat-angkat, sampai-sampai pikiran Bella udah mikir hal macem-macem ..."
Eros mengecek sejenak notifikasi panggilan masuk ponselnya saking terkejutnya mendapati angka fantastis tentang seberapa banyak Bella menelpon yang baru saja diucapkan gadis itu.
"Delapan kali panggilan telepon biasa, dua belas kali via whatsapp. Mana ada seribu dua ratus tujuh puluh tiga kali, Bell ...?"
"Ihh, Om Eros, yang Bella rasa udah segitu banyaknya panggilan Bella. Bella khawatir tau ...!"
Menanggapi kicauan centil khas Bella yang masih betah nyerocos lucu tak urung membuat Eros tersenyum.
"Gimana, Om? Udah ketemu Papa? Udah ngobrolnya? Udah di ..."
__ADS_1
"Udah. Semuanya udah. Udah dapat restu, udah diizinin nikah secepatnya ..."
"Aaaaa, Om Eros, sukanya becanda ihh ..."
"Siapa yang becanda, Sayang? Om serius loh ini ..." ucap Eros sambil bersandar lega di sandaran kursi.
Hening, membuat alis Eros bertaut karena suara kenes dari seberang sana mendadak tak terdengar lagi.
"Bell ...?" panggil Eros rada khawatir. "Bella, kenapa diem? Bella gak pa-pa kan?"
"Serius nih, Om. Papa beneran ngasih restu ...?"
Lirih suara Bella membuat Eros tersenyum, mengetahui betapa didalam kalimat Bella tersimpan harapan yang begitu besar.
"Iya, Sayang. Om berhasil meyakinkan Papanya Bella ..."
"Bagaimana bisa, Om?"
"Semuanya karena Ayu. Ayu yang udah buat Om mampu mengetahui apa isi kepala serta seluruh pertimbangan Papanya Bella yang sesungguhnya ..."
Diujung sana Bella berdiri terhenyak.
Tanpa sadar sebuah bening mengalir turun melewati pipi mulus milik Bella, mengetahui lagi-lagi Ayu telah melakukan hal besar untuk kelanjutan hubungannya dengan Eros tanpa sepengetahuan dirinya.
Bahkan saat ini Ayu pergi dari rumah dengan membawa kekecewaan terhadap Papanya, juga dikarenakan Ayu yang bersikeras memihak Bella.
Bella terpekur, atas berbagai hal baik yang terjadi dari berbagai kebenaran yang terungkap.
Ayu memang sebaik itu, dan semua yang dilakukan Ayu telah membuat Bella sangat terharu.
"Jadi semua ini, lagi-lagi karena Ayu ...?"
"Iya, Bell, semua karena Ayu ..."
"Tapi bagaimana bisa, Om? Sejak pagi Papa dan Bella bahkan udah kelimpungan nyari Ayu kemana-mana ..."
"Tenang aja, Ayu ada di Miracle, Papanya Bella udah duluan nyusul kesana untuk bujuk Ayu pulang ..."
"Jadi Om udah tau?" tanya Bella lagi, semakin lirih.
"Tau tentang apa?"
"Tentang Ayu dan Papa ..."
"Iya, Bell. Om udah tau kalo Ayu ternyata istri Papanya Bella. Om juga kaget waktu dikasih tau, tapi terus terang kita belum ada ngomong panjang lebar tentang hal itu karena Papanya Bella udah buru-buru pergi ke Miracle, dan Om diminta untuk jemput Bella agar bisa menyusul ke sana ..."
Bella terdiam mendengar penuturan Eros.
"Bella, are you okay?" tanya Eros memastikan, menyadari Bella yang tak kunjung berucap.
"Iya, Om. Bella ... Bella senang banget mendengar semua ini ... Saking senangnya rasanya Bella kepengen nangis ..."
"Gak usah nangis, mending Bella siap-siap karena habis ini Om bakal kesana jemput Bella. Yah ... Meskipun Om juga belum tau persis duduk persoalannya seperti apa, tapi Om merasa, kali ini kita harus bisa bantu Papanya Bella ..."
"Ya udah, kalo gitu Bella mau siap-siap aja biar bisa langsung pergi pas dijemput ..."
"Iya, Bell, Om kesana sekarang yah ..."
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Like, coment, gift and vote pliisss 🤗