HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
SALING MENERIMA


__ADS_3

'Emang benar sih kewajiban suami menafkahi istri. Tapi emangnya itu berlaku juga untuk hubungan Ayu sama Om Biyan?'


'Ayu aja belum melakukan apa-apa yang berkaitan dengan kewajiban sebagai seorang istri, lalu bagaimana bisa Ayu menerima hak dari Om Biyan ...?'


'Lagian ... Ini Om Biyan apa-apaan sih ... Pake bahas nafkah lahir bathin segala?'


'Baru mau bahas nafkah lahir aja udah bikin jantung Ayu jedag-jedug kayak ada yang lagi nge-dj di dalam sana, egh, malah ditambah lagi dengan membahas nafkah bathin ...'


'Duhh, gimana nih ...'


Tiba-tiba saja Ayu merasa panik sendiri, seiring dengan otaknya yang mendadak sudah traveling kemana-mana, karena memikirkan perihal nafkah bathin ... Haihh ...!


Dua jemari Ayu yang berada diatas pangkuannya silih berganti meremas Debit Card pemberian Biyan barusan.


Gugup, salting, berdebar ...


Intinya semua rasa yang bikin panas dingin seolah ngumpul semua didalam dada Ayu, membuat duduk Ayu pun tanpa sadar ikut-ikutan gelisah.


Mendapati pemandangan menggemaskan itu membuat Biyan tak tahan lagi untuk segera menuntaskan segala keraguan, yang selama ini terus bergelayut di dalam bathin juga benaknya.


"Ay ..." panggil Biyan, lembut, sambil terus menatap sosok disampingnya yang masih setia tertunduk.


"I-iya, Om ..." hanya sanggup melirik sejenak, sebelum akhirnya kembali buru-buru menunduk.


"Ayu uda tau belum kalo malam ini Om Biyan harus mengejar penerbangan terakhir ke kota Mdc, kemudian besok paginya langsung ke Mna, ke tempat Ayu ...?"


Kepala Ayu terlihat mengangguk kecil. "Udah, Om. Ayu tau-nya dari Ibu ..." lirih Ayu.


"Oh, ya? Emangnya sama Ibu ngomongin apa aja?" usut Biyan, semringah.


"Gak ngomong apa-apa kok, lebih ke ngasih info aja kalo Om Biyan sendiri yang ngomong perihal perjalanan Om yang mendadak ..." jawab Ayu sekenanya, sengaja men-skip pembicaraan yang menyangkut Haris, karena Ayu merasa gak penting juga buat di bahas.


Biyan tersenyum mendengar jawaban polos yang terucap dari bibir tipis milik Ayu.


"Iya, semua yang dikatakan Ibu itu benar. Om emang sengaja menelpon Ayah perihal kedatangan Om, yang kalo gak ada halangan besok siang Om udah nyampe di sana."


"Menelpon Ayah bisa ... Tapi menelpon Ayu kenapa gak bisa ... Egh ...!"


Ayu buru-buru menutup mulutnya yang tiba-tiba keceplosan.


"Mmm ... Maap, Om ... Maap ... Maksud Ayu ... Mmm ... maksud Ayu ..."


Mengambang.


Lidah Ayu rasanya benar-benar kelu, mendapati betapa kelabakan dirinya mencari padanan kata yang tepat, guna mengantisipasi perasaan deg-degan yang kini sedang gencar melanda dirinya, terlebih saat menyadari bahwa tatapan Biyan kini telah mengarah penuh kepadanya sambil senyam-senyum penuh arti.


"Sama Ayah sendiri kok cemburu sih, Ay ..." desis Biyan, berusaha menahan tawa.


'Whaaattt ...?'


'Apa kata Om Biyan barusan ...?'


'Cemburu ...?'


'Ayu cemburu sama Ayah ...?'


...


'Tapi kalo dipikir-pikir ... Iya juga sih ...'


Bathin Ayu bergejolak, akibat rasa malu yang seolah menerjangnya dengan sekali hantam.


"Idih, siapa juga yang cemburu ...?" kilah Ayu rada sewot, namun Biyan malah terkekeh menanggapi kepanikan Ayu yang tercetak jelas pada seraut wajahnya yang memerah.


"He ... He ... He ..."

__ADS_1


Sepasang bola mata Ayu sontak membesar. "Om Biyan apaan sih? Gak lucu tau ..." pungkas Ayu lagi, yang merasa sangat malu karena Biyan masih betah dengan tawanya.


"Emang gak lucu kan, Ay ..."


"Ya udah, kalo gak lucu kenapa masih ketawa aja? Om sengaja mau ngetawain Ayu yah ...?"


"Enggak kok, Ay, iya deh maap ..." ujar Biyan buru-buru, begitu tersadar bahwa sepertinya Ayu beneran ngambek karena saking malunya diketawain Biyan terang-terangan.


Ayu terlihat membuang pandangannya kearah lain. Aura sewotnya masih jelas bergelayut di wajahnya yang merona.


Melihat pemandangan tersebut bibir Biyan pun sontak menyuguhkan senyumnya yang khas.


Namun di detik berikutnya, seolah mendapatkan sebuah keyakinan beserta kekuatan yang entah darimana datangnya, tiba-tiba saja tangan kanan Biyan telah terangkat guna menyingkirkan beberapa helai rambut indah Ayu yang jatuh, sehingga sedikit menutupi pandangan Biyan dalam menikmati keindahan wajah yang sedang cemberut manja dihadapannya.


Biyan menaruh helai rambut nan halus milik Ayu tersebut kebelakang telinga, tak peduli dengan gelagat Ayu yang terlihat jelas sedang salah tingkah.


"Iya deh ... Maap, maapin Om yah, Ay ..." bisik Biyan lembut, sembari tak lupa menggeser duduknya semakin dekat.


Ayu mematung mendapati perlakuan Biyan yang untuk pertama kalinya terasa sangat manis hingga mampu menggetarkan hingga ke dalam relung, terlebih saat ini jarak diantara mereka semakin terkikis akibat pergerakan Biyan yang sengaja mendekat.


"Ay, jujur nih yah ... Sebenarnya selama ini Om pengeeenn banget ngasih perhatian lebih sama Ayu, tapi di sisi lain Om malah ragu, jangan sampai Ayu gak nyaman dengan semua itu ..."


Ayu memilih diam, bingung memilah kata apa yang sekiranya tepat diucapkan, guna menggambarkan betapa bahagia dirinya mendengar ucapan Biyan barusan.


Setitik asa seolah ikut terselip disudut hati Ayu, manakala ia mulai berharap bahwa semua yang diucapkan Biyan kelak bisa menjadi sebuah titik terang akan penantiannya yang telah sekian lama berlalu.


"Kemudian mengenai hal penting yang mau Om omongin, sebelumnya Om ingin Ayu jawab yang jujur dulu tentang bagaimana pendapat Ayu. Apakah hubungan ini perlu diterusin dan diseriusi atau gimana ... Om akan menerima keputusan Ayu aja. Apapun itu Om akan terima ..."


Ayu mengangkat wajahnya yang bimbang dengan serta-merta. "Kenapa harus Ayu, Om? Kenapa bukan Om aja yang mutusin semuanya ...." lirih Ayu dengan kegugupannya yang nyata.


"Karena Om gak mau egois." pungkas Biyan.


Alis Ayu terlihat mengerinyit. "M-maksudnya dengan egois ...?"


Tarikan napas Biyan terdengar begitu nyata, sebelum akhirnya dirinya mengucapkan sebuah kalimat pamungkas yang membuat Biyan rasanya bisa mati sesak, karena tak lagi kuat menahan kobaran perasaannya lebih lama.


Ayu terhenyak mendengar kalimat lugas Biyan.


Saking kagetnya tubuh mungilnya sudah berputar sembilan puluh derajat, menghadap penuh kearah Biyan yang sejak awal tak pernah sedetik pun mengalihkan tatapannya dari sosok Ayu.


"Ay, selama ini Om sengaja menahan diri dengan sekuat tenaga, berusaha memberikan Ayu ruang dan waktu agar Ayu bisa berpikir dengan baik, serta mampu mendapatkan jawaban yang semuanya berasal dari lubuk hati Ayu sendiri ..."


"J-jadi ... M-maksud Om Biyan ..."


"Iya, Ay. Keinginan hati Om udah jelas. Om mau Ayu jadi istri Om seutuhnya. Bukan hanya secara agama, tapi juga secara hukum yang sah. Om juga mau benar-benar jadi suami yang seutuhnya untuk Ayu, yang bisa memberikan nafkah lahir bathin untuk Ayu, menjaga dan melindungi Ayu, bersama dalam suka dan duka, menemani disaat senang dan susah, hingga akhir hayat ... hingga maut memisahkan ..."


Ucapan Biyan terdengar begitu mantap, membuat Ayu menatap Biyan dengan tatapan takjub, plus dua bola mata yang seolah tak mampu berkedip.


Indah.


Yah, sangat indah.


Semua yang terucap dari bibir pria tampan dihadapan Ayu itu seolah tak ada satu pun yang tidak indah.


Sudah pasti pria itu tak pernah tau bahwa semua yang didengar Ayu, semuanya merupakan impian Ayu sejak lama, bahkan sejak awal Ayu bertemu Biyan untuk yang pertama kalinya, Ayu sudah jatuh hati.


"Tapi itu semua baru sebatas keinginan Om sendiri. Karena kalo Ayu gak berkenan, maka Om juga gak akan memaksakan ..."


Bugh.


Mengambang.


Kalimat Biyan terjeda, karena Biyan yang tak mampu lagi berucap sepatah katapun juga.


Aroma lavender yang berasal dari shampoo yang digunakan Ayu, berbaur sempurna dengan aroma parfum lembut yang menguar dari tubuh, yang kini seolah tanpa jarak ... karena berada tepat di dalam pelukan Biyan.

__ADS_1


Untuk sesaat, Biyan yang sempat termanggu seolah menemukan kembali kesadarannya, kemudian dipermukaan bibirnya pun kini telah berhiaskan senyuman.


Seolah telah mendapatkan semua jawaban, mendadak segala keraguan yang selama ini bergelayut didalam hati Biyan pun musnah tak bersisa, manakala tubuhnya dapat merasakan bagaimana dua buah lengan yang sedang melingkari tubuhnya itu terasa semakin lama semakin mengerat, meskipun pemiliknya bahkan belum mengatakan apa-apa.


Tangan Biyan terangkat, balas mengusap punggung Ayu yang masih betah membenamkan wajahnya di dada Biyan, akibat tindakan spontannya yang pada akhirnya telah membuahkan rasa malu yang berkepanjangan.


Sejujurnya, Ayu tidak menyesal telah bertindak agresif, tapi demi Tuhan ... Ayu merasa sangat tengsin!


"Ay ..." panggil Biyan lembut, seolah begitu dekat ditelinga Ayu.


"Hhmm ..."


"Ayu yakin dengan semua ini?" lirih Biyan lagi seolah ingin memastikan kembali.


"Hhhmm ..."


"Yakin kedepannya gak akan nyesel karena udah milih hidup sama Om ...?"


Ayu terlihat mengintip sedikit wajah Biyan, yang masih setia membelai lembut setiap helai rambutnya yang meriap.


"Om Biyan sendiri, yakin gak akan nyesel udah milih Ayu jadi pendamping hidup Om? Secara Ayu bukan siapa-siapa ... Ayu cuma orang kampung ... Ayah sama Ibu Ayu juga bukan orang berpunya ..."


"Sssttt. Sejak awal Om kan udah ngomong tentang keyakinan hati Om. Tinggal menunggu keputusan Ayu aja, apakah Ayu bersedia menerima Om yang duda dan udah ketuaan juga buat gadis belia seperti Ayu ..."


Ayu terlihat menggeleng kuat-kuat.


"Buat Ayu semua itu gak ada artinya, Om. Asalkan Om juga mau nerima Ayu yang belum dewasa, yang belum bisa apa-apa, yang seumur hidup masih jadi beban orang tua ..."


"Gak lagi dong, Ay. Kan mulai sekarang semua yang menyangkut Ayu udah jadi tanggung jawab, Om. Jadi udah bukan beban orang tua lagi ..."


Wajah Ayu kembali bersemu, sehingga buru-buru ia kembali menyembunyikan wajahnya di dada Biyan yang tergelak kecil akibat tingkah polos Ayu yang sedang malu-malu kucing.


Ddrrrttt ...


Getaran ponsel milik Biyan seolah menjadi juri yang buruk bagi keduanya.


Biyan menarik napas berat manakala sadar bahwa pesan masuk tersebut berasal dari Yos, yang berisikan peringatan bahwa sang majikan akan ketinggalan pesawat, kalo tidak segera berhenti menikmati pelukan.


"Siapa, Om ...?" tanya Ayu kepo, mendapati hembusan napas kecewa Biyan yang terdengar jelas.


"Yos ..." jawab Biyan dengan wajah masam, terlebih saat menyadari saat ini Ayu telah benar-benar mengurai pelukannya.


Alis Ayu terlihat bertaut mendapati wajah be-te Biyan yang tercetak jelas di wajah tampan pria itu.


"Emangnya Yos ngelakuin pelanggaran apaan sih, Om? Sampe bikin Om keliatan kesal begini ...?" tanya Ayu polos.


'Gimana gak kesal kalo kesenangan bosnya malah diganggu ...?!'


Rutuk Biyan dalam hati, namun meskipun merasa kesal pada akhirnya Biyan justru memutuskan untuk mendengarkan Yos, ketimbang menuruti keinginan hatinya sendiri yang rasanya malah ingin mengulang adegan manis barusan.


"Barusan Yos cuma ngasih tau kalo Om harus buru-buru berangkat, Ay. Karena kalo gak, Om pasti bakal ketinggalan pesawat ..." ucap Biyan.


"Ya udah, kalo gitu buruan, Om ..." Ayu bangkit begitu saja dari duduknya.


Niat hati ingin membungkuk guna meraih travel bag milik Biyan yang teronggok dilantai, tapi yang ada tubuh Ayu justru dibuat limbung akibat helaan lembut dipergelangan tangannya yang membuat tubuh mungil Ayu rebah diatas permukaan ranjang.


Selanjutnya waktu seolah terhenti, manakala tubuh kekar Biyan yang ikut mengiringi rebahnya tubuh Ayu, membuat wajah mereka berdua menjadi lurus sejajar.


"I love you, Ay ..." bisik Biyan, dengan pergerakan wajahnya yang perlahan tapi pasti seolah semakin mengikis jarak diantara wajah mereka.


Kemudian rasanya Ayu nyaris berhenti bernapas, saat menyadari bibir Biyan telah berada diatas bibirnya, yang awalnya hanya menempel lembut ...


Namun lambat laun mulai terasa menyesap dan mengu lum ...


Dengan teramat sangat lembut ..

__ADS_1


Bersambung ...


🧕 : Bab yang super panjang, nyaris 2000 kata. Jangan lupa di support terus karya ini yah guyz ... 🤗


__ADS_2