HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
MENUNGGU KEPUTUSAN


__ADS_3

"Sudahlah, gak usah mikirin hal-hal yang aneh." putus Biyan pada akhirnya, yang terdengar dibarengi dengan hembusan napas perlahan.


"Biyan, tapi aku ..."


"Kamu pasti tau persis bahwa selama ini aku gak pernah membatasi Bella atau kamu dalam hal bersama dan bertemu. Aku justru bersyukur kalau kamu bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk menemui Bella seperti saat ini, dan kamu juga berinisiatif mau menemani Bella di saat aku gak ada. Tapi satu hal yang aku mohon banget sama kamu, Rania ... please ... tolong pergunakan kesempatan kamu dengan melakukan hal yang menyenangkan. Jangan kamu tunjukkan sikap yang membuat kamu belum apa-apa sudah terkesan seperti menghalangi kesenangan Bella ..."


"Kok kamu ngomong gitu sih? Aku sama sekali gak ada niat menghalangi kesenangan Bella ..."


"Rania, dengarkan aku dulu." tepis Biyan lagi, kali ini dengan intonasi penekanan suara yang semakin tegas, meskipun nadanya tetap terkontrol dengan baik.


Rania terdiam sejenak sebelum akhirnya mendesah lirih, seolah ia tahu bahwa kali ini ia memang harus mengalah dan mendengarkan argumen Biyan.


"Iya, baiklah ... aku akan mendengarkanmu."


"Tentu saja kamu harus mendengarkan aku, karena semua ini penting untuk kamu. Kamu harus tau, bahwa kendati pun Bella mulai beranjak dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri, namun gak bisa dipungkiri bahwa Bella memiliki sifat yang sangat polos dan manja. Bella juga memiliki tingkat kepedulian yang besar kepada orang lain ... apalagi jika itu menyangkut hal-hal serta orang-orang yang ia sayangi. Ayu adalah satu dari sekian banyak orang yang bisa membuat Bella nyaman, dan Eros adalah sosok yang sangat dikagumi Bella. Kalau hari ini kamu datang hanya untuk menepis kehadiran orang-orang yang telah sekian lama berada disisi Bella ... tertawa bersamanya ... berada disisinya ... Rania, aku takut yang akan kamu hadapi nanti bukan Ayu atau Eros, melainkan Bella, putrimu sendiri. Apakah sampai di sini kamu mengerti dengan apa yang aku maksudkan ...?"


Rania terpaku menerima penjelasan Biyan yang cukup panjang.


Mau tak mau sudut hati Rania ikut membenarkan segenap ucapan Biyan yang yang secara tak langsung seolah menghantam telak kesadarannya.


Biyan berkata benar.


Selama tujuh tahun semuanya telah banyak berubah. Bella sudah terlalu jauh dari jangkauannya, dan tanpa Rania sadari, Bella juga sudah memiliki dunianya sendiri, begitupun dengan Biyan.


Rania memejamkan matanya demi menenangkan jiwanya yang bergolak. Sadar bahwa dirinya pasti akan kalah, jika tetap bersikeras dan ngotot menentang apa yang diucapkan Biyan.


'No ... Gak bisa!'

__ADS_1


'Sebaiknya aku memang harus lebih tenang, agar bisa menyusun strategi dengan baik sehingga bisa merampas kembali semua kebahagiaan yang sejak awal memang milik aku ...'


Bathin Rania bekerja keras, dalam hal mengolah emosinya sendiri.


"Baiklah, aku mengerti. Semua yang kamu omongin itu benar, bahwa aku memang gak boleh memaksa Bella terlalu keras atas sesuatu yang ia sukai ..." putus Rania, sengaja memilih strategi mundur untuk memperoleh kemenangan yang sesungguhnya.


"Syukurlah kalo kamu akhirnya paham ..."


"Biyan, percayalah, aku seperti ini karena aku benar-benar mengkhawatirkan Bella ..."


"Aku tau. Tapi kedepannya, aku mohon jangan lagi mengirim Anya atau siapa pun untuk menyampaikan hal-hal yang konyol kepada Eros."


"Biyan, aku ..."


"Rania ... aku bahkan belum bisa membalas segala kebaikan Eros selama ini. Lalu bagaimana mungkin kamu bisa membahas semua kecurigaanmu dengan Anya ...?"


"Aku akan memikirkannya." pungkas Biyan singkat. "Kemudian tentang Ayu ..."


"Aku juga minta maaf atas semua sikapku yang terlanjur." pungkas Rania buru-buru, sebelum kalimat Biyan benar-benar tuntas saat hendak mulai membahas perihal Ayu. "Aku berjanji akan memperbaikinya ..." imbuh Rania lagi dengan nada suara yang dibuat bersungguh-sungguh.


"Baiklah kalo begitu. Lakukanlah yang terbaik demi Bella ..."


"Aku janji, Biyan, aku bersedia melakukan semuanya. Lalu bagaimana dengan keputusan kamu sendiri ...?"


Kali ini Biyan yang diam terpekur.


Sejujurnya Biyan tidak butuh waktu berpikir jika hanya untuk menolak Rania. Hanya saja, Biyan tidak ingin melukai harga diri Rania dengan menolak wanita itu begitu saja.

__ADS_1


Sudah sekian lama berlalu, dan luka di hati Biyan pun telah sembuh.


Biyan sudah lama berdamai dengan masa lalu, setelah ia benar-benar bisa mengikhlaskan episode kehidupannya yang berakhir pahit bersama Rania.


Buktinya hari ini Biyan mampu menatap Rania tanpa menyimpan rasa dendam dan sakit hati. Bukankah seharusnya semua itu sudah lebih dari cukup ...?


Tanpa harus mengiyakan permohonan Rania, karena bagi Biyan keinginan itu terlalu jauh ...! Sudah sangat jauh berlalu ...!


"Kalau Bella yang memintanya bagaimana ...?" lirih suara Rania kembali terdengar.


Biyan menelan ludahnya yang semakin kelu.


Memang tak ubahnya seperti sebuah dilemma. Karena jika Bella yang benar-benar memintanya ... Biyan bahkan takut mengecewakan Bella juga atas penolakannya.


"Ini adalah tentang kamu dan aku. Jadi tolong, berikan aku kesempatan untuk berpikir dulu ..." putus Biyan akhirnya, berharap dengan begitu Rania tidak akan melibatkan Bella dalam pembicaraan mereka saat ini. "Kita bicaranya nanti saja yah, karena selama satu minggu ke depan aku harus fokus dengan kerjaanku di sini ..."


"Lalu kapan kamu balik ...?" kejar Rania tak sabar.


"Rencananya senin depan aku balik."


"Boleh gak aku menunggu keputusan kamu di sini selagi kamu gak ada ... Bersama Bella ...?" pinta Rania penuh harap, agar Biyan mau meluluskan permintaannya dengan mengijinkan dirinya tetap tinggal sampai Biyan kembali.


Biyan mengangguk. "Nikmatilah waktumu bersama Bella. Karena untuk hal itu ... Aku gak akan pernah membatasinya ..."


...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Like, comment, gift & Vote-nya ditunggu yah ... 🤗


__ADS_2