
Tatapan tak rela Biyan jelas terlihat di sepasang matanya, saat pria itu menatap Ayu yang sedang menyapu tipis-tipis bibirnya dengan sebuah lip tint merk sejuta umat, yang cukup digandrungi remaja seusianya karena kwalitasnya yang cukup baik namun dibandrol dengan harga yang terjangkau.
"Om Biyan, kok diem aja sih?" tanya Ayu saat ia berbalik arah, dan menyaksikan sosok Biyan yang masih bersandar malas dikepala ranjang berukuran king size.
"Males ah, kenapa sih harus buru-buru pulang? Padahal sekarang kan bertepatan lagi weekend ..." keluh Biyan, yang ternyata masih saja melayangkan protes atas hal yang sama.
"Om, Ayu tuh udah janji sama Bella mau balik siang ini."
"Ya, tapi kan gak secepat ini juga, Ay ..."
Ayu melotot mendengar keluhan Biyan yang pada dasarnya terus berkutat pada satu alasan saja, yakni enggan beranjak dari kamar Presidential Suite yang telah menjadi saksi bisu 'pertempuran' dua insan yang sejak semalam seolah tak ada habisnya.
"Om Biyan gimana sih, bukannya makin cepat pulang makin baik? Biar kita bisa secepatnya ngomong ke Bella, juga Tante Rania ...?"
"Iya, Ay, emang lebih cepat lebih baik. Tapi emangnya salah kalo Om masih mau berduaan sama Ayu ..."
"Gak salah, Om, tapi kalo semuanya udah terang benderang, kapan aja kan bisa berduaan, gak perlu lagi ngumpet-ngumpet kayak gini ..." ucap Ayu lagi sambil berjalan mendekat, kemudian mendudukkan dirinya ditepi ranjang, tepat disebelah Biyan yang sejak tadi tak henti menatapnya.
Detik berikutnya Ayu terlihat menggenggam kedua jemari Biyan sekaligus, masing-masing dengan kedua tangannya.
"Om, coba pegang deh ... Tangan Ayu dingin kan?"
Alih-alih membahas kegalauan Biyan, Ayu malah mengalihkan pembicaraan lengkap dengan ekspresi wajahnya yang kelihatan agak meringis.
Mendapati kedua tangannya yang seolah sedang menyentuh balok es, dengan serta-merta Biyan langsung menegakkan tubuhnya tiba-tiba.
"Loh ... Iya ... Ay, ini bukan hanya dingin biasa sih, tapi keringat dingin ini namanya ... Kamu sakit, Ay?" raut kekhawatiran terlihat bergelayut nyata di wajah Biyan, sebelah tangannya refleks menyentuh dahi Ayu, namun yang ada suhu tubuh yang ia temukan terasa normal-normal saja.
Ayu tersenyum kecil dengan kepalanya yang menggeleng tegas.
"Bukan sakit, Om, tapi Ayu lagi grogi ..."
Alis Biyan yang semula bertaut pun berangsur normal, manakala ia paham penyebab rasa grogi Ayu.
"Grogi ketemu Bella atau malah Tante Rania?" usut Biyan lagi sambil mere mas-re mas dua jemari Ayu seolah ingin menghangatkannya.
"Dua-duanya."
"Kok bisa?"
"Emangnya Om gak grogi?"
Biyan terdiam sejenak. "Sedikit sih ..." kilahnya namun senyumnya ikut terukir diatas bibirnya. "Tapi tenang aja, meskipun agak grogi bukan berarti tekad Om akan berubah ..."
Ayu menatap Biyan dengan berbagai rasa campur aduk yang sulit terungkapkan.
Jujurly, meskipun Ayu juga belum sepenuhnya optimis seperti apa nantinya Bella akan bereaksi, tapi Ayu lebih mengkhawatirkan reaksi Rania.
Selama ini, atas keberadaan Ayu dirumah Biyan saja sudah membuat Rania sering nge-reog, bagaimana nanti jika wanita itu tau kebenarannya kalo Ayu adalah wanita yang sudah dinikahi Biyan?
Ayu tau Rania adalah tipe wanita yang over confidence. Kepercayaan diri Rania begitu tinggi, sehingga sering terkesan tak tahu malu.
__ADS_1
Ayu juga tau kalau misi utama Rania saat ini adalah meminta Biyan untuk menerimanya kembali, dan untuk itulah Ayu merasa pastinya tidak mudah bicara dengan wanita keras kepala seperti Rania.
Dengan sebelah tangannya yang masih meremas lembut jari jemari Ayu yang dingin, Biyan terlihat meraih ponsel miliknya yang tergolek diatas meja kecil disisi ranjang, dengan menggunakan tangannya yang lain.
"Ay, nanti nomor ha-pe Om yang satunya di-save yah ..." ujar Biyan sambil berusaha mengaktifkan ponselnya yang sudah ia nonaktifkan sejak sehari sebelumnya.
"Om Biyan punya dua nomor ...?"
Biyan mengangguk. "Nomor yang satunya hanya diketahui orang-orang tertentu, agar tetap bisa hubungi Om kalo ponsel utama Om gak aktif ..."
"Huhh, pantes aja waktu kemarin Ayu telpon gak bisa-bisa ... Ternyata Om punya nomor yang lain ..."
"Private number, Sayang ..." ujar Biyan sambil terkekeh.
"Kok baru sekarang Ayu dikasih tau?"
"Sengaja, karena Om pengen kasih Ayu surprise dulu. By the way, Ayah sama Ibu malah udah tau duluan, sengaja Om kasih biar mereka tetap bisa nelpon meskipun ponsel utama Om gak aktif ..."
Pupil mata Ayu sontak membesar mengetahui bahwa saat kemarin dirinya sempat lost contact seharian penuh dengan Biyan, ternyata Ayah dan Ibunya kompak tutup mulut menyembunyikan nomor Biyan yang satunya demi kelancaran surprise yang dirancang Biyan.
"Dasar Ayah sama Ibu, giliran kemarin Ayu khawatir karena gak bisa hubungi Om sama sekali, mereka malah diam aja ..."
Biyan tergelak mendengar dumelan Ayu untuk kedua orang tuanya. "Kan kita bertiga udah sepakat Ay ..."
Ayu mencibir kearah Biyan, yang membalasnya dengan tawa renyah sembari menjawil pucuk hidung Ayu yang mancung.
Ayu bahkan merasa tak bisa protes berkepanjangan, mengingat betapa manisnya kejutan yang disiapkan suaminya yang tampan itu, sehingga bela-belain membohonginya bahkan mengikut sertakan kedua orang tua Ayu dalam rencananya.
"Gak perlu dipikirin, Ay, nanti biar jadi urusan Yos aja semua hadiah kamu itu ..." jawab Biyan, yang kini kembali fokus ke layar ponsel utamanya yang barusan aktif dan mulai memperdengarkan bunyi dari berbagai notifikasi masuk yang silih berganti, nyaris tanpa jeda, seolah menandakan betapa pentingnya sosok pria itu untuk orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Namun dari sekian banyak bunyi notifikasi yang masuk, nama Rania Putri Lestari telah mencuri perhatian Biyan dengan rekor puiuhan kali panggilan tak terjawab, belum termasuk pesan masuk biasa dari provider maupun aplikasi Whatsapp.
Biyan memilih membuka chat Rania saking penasarannya, karena bukan apa-apa sih, meskipun Rania memang memiliki kebiasaan yang selalu menelponnya, namun puluhan kali panggilan tak terjawab tentu saja termasuk hal yang luar biasa dalam penilaian Biyan.
"Ada apa, Om?" tanya Ayu yang menyaksikan perubahan wajah Biyan yang signifikan.
"Rania ..."
"Tante Rania ...?" ulang Ayu sedikit bingung.
Biyan mengangguk kecil, namun wajahnya semakin menegang manakala sepasang matanya mulai menyusuri rentetan chat Rania yang panjang berurutan.
'Hubungi aku secepatnya.'
'Biyan, tolong telepon balik, ini sangat penting.'
'Biyan, aktifkan ponsel kamu, pliiisssss ...'
'Biyan, pliiisss, ini tentang Bella ...'
'Astaga Biyan, tolong jangan membuatku gila ...!!! Hubungi aku secepatnya ...!!'
__ADS_1
Jantung Biyan terasa berdebar dua kali, manakala Biyan mendapati sebuah voice note di akhir chat Rania yang terkesan begitu mendesak.
"Om, ada apa sih? Apa kata Tante Rania? Apa ada hubungannya dengan ... Bella ...?"
Entah kenapa Ayu merasa dadanya ikut deg-degan, khawatir jika yang terjadi sebenarnya benar-benar menyangkut hubungan Bella dan Eros, yang ketahuan Rania.
"Ay, Rania mengirimkan voice note ..."
"Ya udah diterima aja, Om. Biar jelas semuanya ..."
"Di chat awal Rania udah bilang ini tentang Bella ..."
"Apapun itu Ayu tetap percaya Bella." pungkas Ayu penuh keyakinan, sambil menentang manik mata Biyan yang kelam.
'Persetan jika Om Biyan akan menganggap Ayu julid, tapi Ayu gak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi atas diri Bella, meskipun itu dikarenakan oleh Mamanya sendiri ...!'
Bathin dan benak Ayu dipenuhi berbagai spekulasi, tentang apa sebenarnya yang menjadi bahan aduan Rania kali ini.
Biyan tak lagi menyanggah ucapan Ayu, namun kali ini jemari pria itu telah bergerak guna menekan tombol play, yang memperdengarkan suara Rania dalam mode rekaman audio.
'Biyan, I'm so sorry, bukannya aku bermaksud melangkahi kamu, tapi Demi Tuhan, aku gak tahan lagi. Sekarang Bella udah berani menentang aku, dan ini semua gara-gara Eros! Biyan, beraninya Eros memacari putri kita, dan aku bahkan punya buktinya! Tapi waktu aku mencoba bicara baik-baik, Bella malah melawan. Sudah jelas kan? Eros, sahabat terbaik kamu selama ini ternyata udah mengkhianati kita semua! Dia juga udah berhasil mencuci otak Bella ...!'
"Kurang ajar, Erossss ..." desis Biyan dengan wajahnya yang mengeras.
"Jangan marah dulu, Om ... Tante Rania juga kan belum tentu benar ..." ujar Ayu masih mencoba menengahi agar amarah Biyan tidak langsung tersulut.
"Tapi Rania bilang dia punya buktinya!"
"Tetap aja belum tentu ..."
"Jadi itu sebabnya semalam Ayu nanyain pendapat Om tentang bagaimana kalo nanti Bella punya pacar ...? Jadi pacar Bella yang dimaksud itu Eros ...?" todong Biyan, sanggup membuat Ayu gelagapan.
"Egh, ap-paaa ...?"
"Bagus. Ternyata Ayu udah tau semuanya ..."
"Om Biyan, biar Ayu jelasin dulu ..."
"Cukup!"
Ayu terhenyak mendapati kalimat tegas Biyan untuknya, dan Ayu semakin tergugu saat menyadari sepasang mata Biyan yang diselimuti kekecewaan.
"Maafin Ayu, Om, tapi sumpah demi apapun, Ayu gak pernah berniat untuk ..."
"Om kecewa sama Ayu."
Lagi-lagi Ayu tergugu menerima kekecewaan Biyan yang menggunung.
"Sungguh, Ay ....Om benar-benar kecewa sama Ayu ..."
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Like, Comment, and Vote jangan lupa yah 🤗