HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
MISI PRIBADI


__ADS_3

"Bell, ponsel kamu bukannya bergetar tuh?" pungkas Ayu begitu telinganya menangkap getaran ponsel, yang sumbernya berasal dari tas yang tersampir dikursi kemudi yang diduduki Bella.


Mendengar itu Bella pun urung menginjak pedal gas dibawah sana, memilih menarik kembali tuas rem tangan.


"Masa sih ...?" ucap Bella, namun sesaat ia pun diam, ikut menajamkan pendengarannya seperti yang dilakukan Ayu.


"Tuh kan, Bell ... bergetar lagi ..." imbuh Ayu yang kelihatan semakin yakin.


"Oh iya, Yu, benar juga ..."


Dengan terburu-buru Bella bergerak meraih tas tersebut, langsung mengubek-ngubek isi didalamnya guna menemukan ponsel miliknya yang berada didalam sana.


Menyadari yang menelpon adalah Rania, yang tak lain adalah mamanya, Bella pun langsung menggeser icon berwarna hijau yang ada di permukaan layar ponsel, guna menerima panggilan tersebut.


"Hallo, Bell ...?" suara Rania terdengar menyapa riang Bella diujung sana.


"Iya, Ma, ada apa?" jawab Bella.


"Lagi di mana, Bell?"


"Masih di kampus, Ma. Ini baru aja mau balik ke rumah ..." jawab Bella.


"Pantesan, udah Mama tungguin daritadi belum muncul juga, ditelpon berkali-kali malah gak diangkat ..."


"Maaf, Ma. Ponselnya Bella silent waktu di kelas, trus Bella lupa aktifin suaranya lagi ..."

__ADS_1


"Iya Sayang, gak pa-pa kok. By the way, Bella buruan pulang yah, Mama udah kering nih nunggu diluar pagar."


"Whaaatt ...? Diluar pagar ...? Emangnya Mama ke rumah ya ...?"


"Iya, Bell, nih mama nunggu didalam mobil, karena pagarnya tertutup, gak bisa dibuka ..."


Sepasang mata bulat milik Bella terlihat semakin membulat mendengar jawaban Rania barusan.


Bukan apa-apa, karena sejauh ini, bila ingin bertemu Bella, Rania tidak pernah sekalipun mendatangi Bella langsung ke rumah Biyan yang baru seperti saat ini.


Jadi wajar saja kalau Bella agak kaget mendengar kehadiran Rania di sana, yang bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Terlebih lagi karena pada kenyataannya tujuh tahun telah berlalu, dan Rania yang memilih hijrah keluar negeri pasca bercerai dengan Biyan alhasil membuat mereka menjadi jarang bertemu.


Kalau pun mereka bertemu, pastinya hanya pada saat-saat tertentu, itupun mengambil kesempatan saat Rania beberapa kali kembali ke tanah air dalam rangka pekerjaannya.


"Bell, Mama bawain kue kesukaan Bella loh ..."


Lagi-lagi sepasang mata Bella dibuat berbinar. "Klapertar ...?" tebak Bella spontan.


"Hemm ..."


"Asiikkk ...!" pekik Bella kegirangan. "Iya deh, Ma, Bella pulang sekarang. Tungguin Bella yah, Ma."


"Iya, Sayang ..."

__ADS_1


Begitu pembicaraan terputus Ayu yang sejak tadi menyimak pembicaraan tersebut nampak menatap wajah Bella yang dipenuhi keceriaan.


"Mamanya Bella yah?" tanya Ayu agak kikuk, kearah Bella yang terlihat mengembalikan ponselnya kedalam tas semula.


"Iya ..." atas pertanyaan Ayu tersebut Bella pun mengangguk mengiyakan.


Jemari Bella yang lincah terlihat gesit saat kembali menurunkan tuas rem tangan, sehingga mobil pun mulai bergerak perlahan meninggalkan parkiran.


"Yu, kita langsung cuss rumah yah. Soalnya Bella udah gak sabar mau ketemu Mama, sekalian mau icip kue klapertar kesukaan Bella ..."


"Iya, Bell, sebaiknya kita emang langsung pulang ke rumah, kasian Tante Rania kelamaan nunggunya ..."


Bella pun kembali mengangguk penuh semangat, membenarkan ucapan Ayu dengan senyum yang terus terukir dibibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ini adalah kali pertama Rania melihat langsung seperti apa kemewahan dari rumah dua lantai yang sedang ia pandangi dari luar pagar itu, dan semua pemandangan yang Rania dapatkan sejak tadi cukup membuat Rania takjub.


Kalau rania tidak salah mengingat, sepertinya tahun ini baru tahun ke-empat bagi Biyan dan Bella menempati rumah, yang bahkan sampai detik ini Rania masih sulit mempercayai bahwa Biyan mampu membeli rumah se-megah ini sekaligus mengubah arah kehidupan sedemikian drastis dalam kurun waktu yang terbilang relatif singkat.


Tujuh tahun!


Bayangkan ... Hanya dalam kurun waktu tujuh tahun kehidupan Biyan berubah seratus delapan puluh derajat, berkembang sedemikian pesat!


Sementara Rania ... Meskipun pekerjaan yang ia tekuni sejak awal tetap berjalan lancar dan dalam kurun waktu setahun terakhir ia juga mulai coba-coba berbisnis perhiasan bersama beberapa orang sahabat dekatnya, namun toh pencapaian Rania sejauh ini seolah tak ada apa-apanya jika pembandingnya adalah kesuksesan yang didapatkan Biyan, yang notabene merupakan mantan suaminya.

__ADS_1


Ibaratnya ... hanya seujung kuku ...!


... Mau NEXT lagi boleh kok, tapi Supportnya ditambah yah 🤗


__ADS_2