
Usai menciduk terang-terangan kekasihnya yang sedang ngopi cantik bersama wanita yang hingga detik ini statusnya masih sebagai istri sah dimata hukum itu, Bella merasa perasaannya telah menjadi sangat buruk.
Bella bahkan tak menyangka jika langkahnya telah terayun dengan cepat, sehingga menyulitkan Steve untuk mensejajarinya.
Sementara itu ...
Steve yang sejak awal hanya mengikuti kemanapun langkah Bella terayun, diam-diam masih saja sibuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi dengan Bella.
Sahabatnya itu bisa jadi terlihat melangkah dengan tegar, namun Steve yakin seribu persen bahwa saat ini Bella sedang tidak baik-baik saja.
Namun meskipun demikian, Steve tetap berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan apapun.
Steve tak ingin membuat Bella kehilangan pengendalian atas dirinya sendiri apalagi dengan kondisi mereka saat ini yang sedang berada di tempat umum, yakni ditengah pusat perbelanjaan, meskipun kondisinya sedang tidak begitu ramai.
"Kita langsung pulang aja yah, Steve." ujar Bella, yang untuk pertama kalinya gadis itu bicara setelah betah membisu sejak awal mereka beranjak dari meja yang ditempati Eros dan Anya.
"It's up to you, Bell ..." sambut Steve.
Langkah Bella pun berbelok kearah lift, dan lift yang kebetulan kosong itu kini telah membawa tubuh mereka ke lantai basement, di mana Steve memarkirkan mobilnya di sana.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Steve yang berdiri dalam diam sontak terkejut setengah mati mendengar isak tertahan Bella yang menyeruak dalam keheningan bilik lift yang senyap.
"Bella ...? Astaga ... Kamu kenapa, Bell ...?" Steve langsung panik mendapati Bella yang terlihat berdiri rapuh dengan kedua bahu yang terguncang hebat, sementara dalam sekejap wajah gadis itu rupanya telah banjir air mata.
"Om Eros, Steve ... Om Eros jahat, Om Eros udah bo'ongin Bella ... Hu ... Hu ... Hu ..."
Steve terhenyak mendengar ucapan sendu Bella yang diselingi isak tangis yang semakin hebat.
"Maksudnya apaan sih, Bell? Emangnya Om Eros ngapain ...? Perasaan tadi cuma nanya kenapa udah malam tapi Bella masih keluyuran aja ..."
"Bukan itu, Steve!"
"Kalo bukan, ya lalu apa dong?"
"Steve, kenapa sih Om Eros kok tega banget mainin perasaan Bella ... Hu ... Hu ... Hu ..."
'Sebentar ... Sebentar ...'
Steve seolah sedang berusaha mencerna semua kejadian.
Jujur saja, Steve tidak sebodoh itu sampai-sampai selama ini dirinya tidak bisa mencurigai bahwa ada sesuatu diantara Bella dan Eros.
Bahkan sejak awal Steve mengenal Eros di Miracle tempo hari, dalam keremangan situasi Miracle yang memang settingannya minim penerangan, dengan mata kepalanya sendiri Steve melihat Bella dan Eros yang berpelukan erat, kemudian Eros juga terlihat hendak menjangkau bibir Bella ... Seperti gestur seseorang yang berniat mencium.
Fix-lah sudah.
Saat ini pada akhirnya seluruh kecurigaan Steve atas hubungan Bella dan Eros pun terjawab sudah, berkat kecemburuan Bella yang meluap-luap saat mengetahui kebersamaan Eros dengan seorang wanita di kedai kopi barusan, meskipun Bella telah berusaha terlihat tegar diawal.
__ADS_1
"Bell, tenang dulu, Bell, jangan nangis di sini, nanti kalo dilihat orang gimana ...?"
Melihat kepanikan Steve yang melihatnya sedang nangis kejer didalam lift yang sedang bergerak turun itu Bella pun sontak menghapus air matanya dengan kasar.
"Steve, bener-bener yah ... Gak ada empatinya sama sekali jadi cowok! Bella tuh udah nahan biar gak nangis dari tadi tau! Malah disuruh jangan nangis ...!" semprot Bella kearah Steve yang hanya bisa meringis.
"Ya ... Gimana dong, Bell. Kalo Bella nangis sekarang, ntar dikira orang Steve cowok brengsek yang udah buat Bella nangis ..."
"Huhh ...! Dasar pencitraan!"
"Serah deh Bella mau ngomong apa, tapi please nangisnya tahan bentar lagi yah, tunggu kita nyampe mobil, nah ... Baru Bella boleh nangis. Mau teriak-teriak juga gak pa-pa, Bell ..."
Sepasang mata Bella melotot geram mendapati tawaran absurd Steve, namun toh pada akhirnya Steve bisa menarik napas lega karena meskipun begitu Bella mau juga menerima sarannya, untuk menunda tangisannya sejenak, sampai mereka berdua benar-benar tiba diparkiran basement, tempat di mana mobil Steve terparkir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih belum beranjak dari area parkiran basement, tepatnya di dalam mobil Steve yang sejuk, Bella telah mencurahkan seluruh kekecewaan hatinya
Sementara dibelakang kemudi wajah Steve terlihat bengong, seolah pria itu masih saja bingung dalam mencerna keseluruhan kisah yang baru saja diutarakan oleh Bella, yang kendatipun singkat, namun terkesan cukup padat dan jelas.
"Bell, jadi Tante Anya itu istrinya Om Eros?"
"Calon mantan istri!" ralat Bella sengit.
"Yeee, sama aja kali. Calon mantan kan artinya belum pisah secara resmi, jadi statusnya masih istri ..."
Huhh!
Terus terang Bella benci mendapati kenyataan tersebut, tapi mau bagaimana lagi ... Pada kenyataannya Anya dan Eros memang belum ada putusan cerai yang sah.
"Tapi Bell, kalo aku lihat sih yang nahan kesal bukan cuma kamu aja deh. Soalnya dari raut wajah Om Eros, kayaknya Om Eros juga sedang memendam perasaan kesal yang gak kalah gedenya ..." imbuh Steve yang tiba-tiba di detik berikutnya terlihat seolah sedang mencerna sesuatu.
"Apaan? Orang udah jelas-jelas Om Eros yang salah. Katanya mau meeting ternyata malah temu kangen sama Tante Anya ..."
"Lah, Bella sendiri udah jujur belum, Bell, sama Om Eros ...?"
"Jujur? Timbang mau beli sebiji novel doang emang se-ngaruh gitu ...?"
"Ya kalo kayak gitu konsepnya jalan pikiran Bella, sama aja bohong, Bell ..."
Bella melotot galak, tak menyangka jika dalam keadaan seperti ini Steve malah menyalahkan dirinya.
Namun belum juga Bella melakukan counter attack, yang ada Steve malah sudah berucap lagi seolah ingin lebih meyakinkan argumennya.
"Sekadar saran aja sih, Bell. Karena dalam sebuah hubungan, harusnya kita juga perlu memberikan effort. Salah satunya dengan menghargai pasangan kita ..."
"Dihh, sotoy si jomblo!"
"Yeee, dibilangin malah ngeyel. Jomblo-jomblo begini juga ngertilah gimana seharusnya bersikap jika kelak punya pasangan. Jangan seenaknya aja mau jalan ke mana gak ngerasa penting amat untuk ngomong jujur ke pasangan ..."
__ADS_1
"Nyindir nih?"
"Bukan nyindir, Bell, tapi emang kenyataan. Buktinya gara-gara Bella gak jujur mau jalan ke mana, dan sama siapa, buntut-buntutnya Om Eros bisa-bisa salah paham loh ..."
"Bodo ah. Pusing Bella mikirnya ..."
Pada akhirnya Bella memilih untuk menghindar dari pembicaraan yang semakin lama terasa semakin menyudutkan dirinya, meskipun yang ada Bella sebenarnya telah menyadari bahwa semua perkataan Steve ada benarnya juga.
Memang kalau dipikir-pikir salahnya Bella juga sih, kenapa tidak jujur sejak awal sehingga wajar saja jika Eros marah, curiga, bahkan yang paling parah merasa tidak dihargai.
'Haihh, kenapa sekarang posisinya jadi Bella yang salah ya?'
'Lah, kan justru Om Eros sendiri yang ngomong ada meeting sama klien, gak taunya malah temu kangen sama Tante Anya ...'
Suara hembusan napas berat Steve terdengar memecah keheningan diantara mereka.
"Bell, sebelumnya maaf banget nih ya ... Tapi kenapa sih Bella mau terlibat sama pria yang belum selesai dengan urusan masa lalunya ...?"
"Udah selesai kok, Steve, tinggal nunggu sahnya aja ..."
"Kalo kayak gitu namanya belum selesai, Bell ..."
Bella terdiam. Lirih suara Steve bahkan mampu menohok sanubari Bella begitu rupa.
"Bella sama Om Eros baru berkomitmen kok, Steve. Bahkan setelah berkomitmen, kita malah sepakat untuk gak saling ketemu dulu sebelum surat cerainya keluar, semata-mata untuk menghindari stigma-stigma negatif ..."
Kali ini Steve yang terdiam.
Bukan apa-apa, Steve hanya berpikir jika memang benar apa yang diomongin Bella tentang komitmen tidak bertemu sebelum proses cerai itu benar, maka mau tak mau Steve pun harus mengacungkan jempol atas kesabaran Bella, yang juga mampu mengendalikan dirinya dengan baik diatas rasa cemburunya yang membludak.
'Tok .. Tok ... Tok ...'
Baik Bella maupun Steve sama-sama terhenyak oleh tiga kali ketukan di kaca mobil sebelah kiri, tepatnya di sisi tempat yang diduduki Bella.
Wajah datar Eros terlihat dari balik kaca, membuat Bella dan Steve sama-sama terheran, entah darimana pria itu bisa menemukan mereka.
"Ngobrol baik-baik gih ..." ujar Steve sebelum akhirnya menurunkan kaca mobilnya yang ada di sisi Bella, tepat di mana Eros tadi mengetuknya.
Bella masih memasang tampang dingin, sambil bersandar di jok mobil dengan dua lengannya yang terlipat di dada khas orang yang lagi ngambek berat.
"Bella ikut Om ya, kita harus bicara ..." ucap Eros, usai menekan kekesalan hatinya sedemikian rupa, dan memilih untuk mengedepankan kesabarannya terlebih dahulu.
Yah, Eros memang harus melakukannya.
Karena kalau tidak ... Maka akan sia-sialah segenap usahanya dalam membujuk Bella, agar mau turun dari mobil Steve dan menuruti keinginannya ...
Bersambung ...
🧕: Jangan lupa di support yah ... 🙏
__ADS_1