
"Sebelum mengambil keputusan ini, aku telah memikirkannya baik-baik. Rania, aku minta maaf, seperti yang aku katakan sejak awal, hubungan diantara kita kan udah lama kelar, dan aku gak lagi berharap untuk mengulangnya dari awal ..."
Biyan menarik napasnya sejenak.
"Lagipula, saat ini aku sedang dekat dengan seseorang, dan aku sangat berharap ... Hubungan kami bisa naik ke taraf yang lebih serius ..."
Tak di sangka mendengar penuturan Biyan, Rania malah nyaris tertawa, sehingga kedua alis Biyan bertaut nyata, heran dengan penerimaan Rania yang tak disangka-sangka.
"Rania, kenapa kamu malah mau ketawa? Memangnya kalimatku barusan ada yang lucu, gitu?" usut Biyan yang agak bingung dengan sikap Rania yang masih bisa santuy dengan posisi duduk yang sedang menyilang kaki.
Awalnya Biyan pikir pastinya akan sulit bicara dengan Rania, mengingat Rania yang begitu ngotot untuk membuat segalanya kembali seperti sedia kala.
Namun penerimaan Rania yang justru nyaris memecah tawa usai mendengar kejujuran Biyan sama sekali diluar ekpektasi Biyan sendiri.
"Yan, memangnya sebesar apa kebencian kamu sama aku?" ujar Rania sambil tersenyum, menatap lurus kearah Biyan yang sontak mengerinyit.
"Apa ...?"
"Apakah kehadiranku saat ini benar-benar bisa membuat kamu gelisah?" ujar Rania lagi, masih dengan senyum yang sama.
"Maksudnya ...?"
"Kamu sengaja mengarang semua cerita itu untuk membuatku menyerah. Iya kan?"
Biyan terhenyak mendengar kesimpulan Rania yang diluar dugaan.
Sekarang Biyan mengerti. Apa alasan Rania menertawakan kejujurannya, rupanya wanita itu berpikir bahwa Biyan hanya mengarang cerita agar dirinya mau menjauh.
"Rania, aku benar-benar serius. Aku sedang menjalin sebuah hubungan yang ..."
"Aku gak percaya."
"Apaaa?"
Tatapannya nanar Biyan menguliti Rania yang malah tersenyum penuh percaya diri.
"Rania, tapi aku ... Aku bersungguh-sungguh ..."
"Kalau begitu cukup katakan padaku siapa dia?"
Lagi-lagi Biyan terhenyak, tak pernah menyangka semudah itu Rania menyudutkannya.
"Ada apa? Hanya menyebutkan sebuah nama masa gak bisa?" tantang Rania lagi, semakin berani, karena merasa berada diatas angin.
Biyan membisu.
Tidak bisa menyebut nama Ayu, sama sekali bukan karena perasaan Biyan yang meragu.
Sesungguhnya tekad Biyan untuk berusaha meluluhkan hati gadis yang diam-diam telah menjadi istrinya itu sudah terpancang dengan kuat didalam hati, tapi sayangnya sampai detik ini Biyan sendiri justru belum yakin dengan perasaan Ayu kepadanya.
Apa iya Ayu bisa memiliki perasaan yang sama untuknya?
__ADS_1
Akh, memikirkan satu pertanyaan itu saja sudah membuat Biyan sakit kepala.
Ayu adalah gadis yang polos dan sangat baik hati.
Kebaikan hati Ayu, kelembutannya ... Semua itu seolah sudah melekat secara harfiah menjadi sebuah kepribadian yang menawan dan menyenangkan.
Sehingga jangankan Biyan, rasanya mustahil jika ada pria yang tidak jatuh hati mendapati wanita dengan kelebihan yang komplit seperti Ayu.
Dengan semua kelebihan yang bernilai plus yang terkemas apik oleh sebuah kecantikan alami di umurnya yang masih belia, Biyan juga baru tersadar betapa selama ini, hanya dengan berdekatan dengan Ayu saja, mampu menenteramkan jiwanya.
Yah, bisa jadi Biyan memang baru menyadari semua itu, manakala Sang Maha Kuasa telah menggariskan sebuah jalan takdir yang unik untuk mereka berdua.
Tapi kalau dipikir-pikir, perasaan nyaman Biyan itu sudah ada jauh hari sebelumnya, hanya saja Biyan belum begitu peka menyadari, betapa semenjak ia mengenal Ayu, Biyan bisa dengan mudah mempercayai gadis itu dalam segala hal yang menyangkut Bella putrinya, lebih dari seribu persen.
"Belum waktunya ..." desis Biyan pada akhirnya, saat tersadar dihadapannya Rania sedang menanti jawabannya dengan senyum remeh.
"Kenapa gak jujur aja kalo semua yang kamu katakan itu hanya karangan semata ...?"
"Rania, aku mengatakan yang sebenarnya ..."
"Aku gak percaya."
"Astaga Rania ..."
"Katakan kepadaku siapa wanita itu ..."
"Aku ... Baru saja ingin melakukan pendekatan, bagaimana bisa mengatakannya ..."
"Rania ... Please ..." Biyan nyaris putus asa menghadapi Rania yang begitu keras kepala.
"Baiklah, aku percaya. Tapi dengan satu syarat ..."
"Apa maksudmu, Rania?"
"Berikan aku keadilan. Biyan, sebagai Mamanya Bella, saat ini aku juga ingin berjuang untuk memperbaiki hubungan kita. So, demi Bella ... Tolong berikan aku kesempatan juga ..."
Biyan terbelalak mendengar kebulatan tekad Rania yang rada bar-bar, karena tak mempan dengan sebuah penolakan yang terang-terangan.
"Selagi kamu gak bisa menyebut satu nama aja, dan membuktikan semua ucapan kamu itu benar adanya, maka aku akan tetap menganggap bahwa peluangku masih terbuka ..."
"Lalu sebaliknya kalo aku bisa membuktikannya ... Apa kamu mau berjanji untuk menerima dan berhenti berusaha?" todong Biyan dengan wajah yang terlihat sangat serius.
Rania tercenung mendapati kalimat Biyan.
Sebuah kebimbangan sejenak menghantui sanubarinya, merasa takut jika pada kenyataannya apa yang diucapkan Biyan itu benar, bahwa pria itu memang sedang dekat dengan seseorang dan ...
'Akh, tidak ... Tidak mungkin ...!'
Tepis sisi hati Rania yang lain, dengan penuh kepercayaan diri yang dominan.
'Biyan Erlangga, kamu boleh melakukan apa aja demi membalaskan rasa sakit hati kamu ke aku, termasuk mengarang cerita yang gak masuk diakal.'
__ADS_1
'Tapi memaksa aku untuk percaya bahwa udah ada orang lain yang kamu sukai dan berhasil menggantikan posisi aku dihati kamu saat ini ...'
'Nonsense ...!!'
'Kamu pikir aku akan percaya begitu aja ...?!'
'Gak. Aku gak bakal percaya omong kosong macam itu ...!'
Bathin Rania penuh kecamuk sebelum akhirnya memilih untuk menyunggingkan segaris senyum, saat kembali menyimpulkan sesuatu yang agak narsis, bahwa Biyan pasti mengucapkan semua itu semata-mata karena belum bisa move on dari kenangan masa lalu mereka, di mana Rania pernah menoreh luka didalamnya.
Rania meyakini, pastinya bukanlah hal yang mudah bagi Biyan jika harus bertemu dirinya setiap hari, terlebih lagi saat ini mereka berdua tinggal dibawah atap yang sama.
Biyan butuh waktu.
Itu satu-satunya kesimpulan Rania yang telah merajai segenap pemikirannya, karena hanya alasan itu saja yang sepertinya lebih masuk diakal dibandingkan alasan omong kosong yang dikemukakan Biyan tentang hadirnya seorang wanita lain yang bisa membuat pria itu jatuh cinta.
Selama ini tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam Rania selalu rutin memantau pergerakan Biyan, juga begitu update info tentang Biyan lewat Bella.
Rania tau persis, bahwa sejauh ini waktu Biyan nyaris habis terkuras guna mengurusi proyeknya yang bertebaran dimana-mana, sehingga untuk Bella saja Biyan bahkan sering kehilangan waktu ... Lalu bagaimana bisa punya kesempatan mencari kekasih?
Tak bisa dipungkiri pergaulan Biyan terpantau cukup luas, dan bukan hal yang aneh jika kesuksesan seorang pria pastinya akan mengundang kaum hawa gencar mendekat.
Namun pada dasarnya, sosok Biyan memang tak pernah berhubungan begitu intens dengan seorang wanita.
Itulah sebabnya mengapa Rania sering cemburu dengan kehadiran Ayu yang terlalu sering berseliweran dalam keseharian Biyan secara tak langsung, karena persahabatannya dengan Bella yang begitu erat.
Tapi bukannya ingin meremehkan kalau pada akhirnya Rania mampu memandang sebelah mata atas keberadaan Ayu, yang sudah jelas-jelas bukanlah saingannya!
Gadis ingusan, kampungan, dan hanya tau memasak seperti Ayu ... Mana bisa bersaing dengan seorang Rania Putri Lestari yang always fashionable?
Impossible ...!!
"Yan, aku tau ini gak mudah. Aku juga sadar bahwa kesalahanku di masa lalu begitu besar, begitu banyak ..."
Rania mengatur napasnya, sekaligus mencoba menenangkan diri agar tidak terkesan memaksa.
Meskipun sesungguhnya Rania pun tidak terbiasa terlalu bersabar dalam segala hal, namun menghadapi Biyan kali ini demi mendapatkan kesempatan kedua, bagi Rania adalah pengecualiannya.
"Coba pikirkanlah kembali dengan lebih tenang, dan jangan lupa ajak Bella untuk bicara. Maaf, bukannya aku sedang menggurui, tapi Bella kan sudah cukup dewasa. Sebagai orang tua yang bijak, kita juga perlu mendengarkan apa yang menjadi keinginannya. Mmm ... Maksud aku, Yan ... Bukankah Bella juga punya hak untuk didengarkan ...?"
Biyan mengusap wajahnya, menyembunyikan rasa putus asa karena tidak bisa meyakinkan Rania untuk menyerah saja.
"Baiklah, aku akan mencoba bicara dengan Bella ..." putus Biyan, sedikit mengendurkan sikap, meskipun bukan berarti Biyan berubah pikiran.
Tidak ada yang berubah, begitu pun dengan tekad Biyan.
Terlepas dari berhasil tidaknya hubungannya dengan Ayu di masa depan, bagi Biyan semua itu tidak ada bedanya.
Karena kisah bersama Rania, sudah lama selesai ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Support Yah, Guyzzz ... 🤗