HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
KEMANJAAN YANG TELAH HILANG


__ADS_3

Eros menyeruput kopi hitam yang ada dihadapannya tanpa kata, sebelum berakhir dengan melirik kearah rolex yang ada dipergelangan tangannya untuk yang kesekian kalinya.


Bukannya Eros tidak menyadari bahwa sejak tadi setiap tindak-tanduknya seolah tengah diawasi dengan lekat oleh sepasang mata berbulu lentik yang duduk tepat dihadapannya.


Hanya saja, entah apa yang sedang bercokol dalam benak si empunya ... kali ini Eros benar-benar tidak lagi tertarik untuk mengetahui.


Tepat dihadapan Eros, Anya yang awalnya sedang menikmati sarapan bubur ayam yang merupakan salah satu makanan favorite-nya selama ini, pada akhirnya memutuskan untuk menyudahi acara makan paginya yang mendadak menjadi tak berselera.


"Ada janji ...?" tanya Anya usai mengusap selembar tissue pada area mulutnya dengan hati-hati, atas sikap Eros yang menunjukkan ketidak-betahannya sejak awal.


Kepala Eros sontak menggeleng mendapati pertanyaan yang terucap lirih, dari mulut mungil yang terbingkai indah oleh sepasang belahan bibir sensual bergincu merah cerah, namun sayangnya semua keindahan itu sudah lama tidak bisa lagi membuat Eros tertarik.


"Gak ada sih ..."


"Lalu kenapa daritadi ngelirik arloji melulu?"


"Aku ngantuk." pungkas Eros jujur.


Anya yang duduk tepat dihadapan Eros tersenyum kecut menerima jawaban seala kadarnya itu.


Anya bukannya tidak tahu bahwa pria dihadapannya ini pada dasarnya tidak pernah berubah.


Eros selalu seperti itu, selalu acuh tak acuh menjalani harinya dengan begitu santai, seolah tak pernah ada beban berarti dalam hidupnya, dan tak pernah ada target khusus yang harus ia kejar disetiap harinya.


Bisa jadi Eros memang bukan termasuk tipe pekerja kantoran seperti orang lain pada umumnya, yang selalu mengawali setiap pagi dengan memulai rutinitas pekerjaan, lalu kemudian berkutat seharian dengan ritme dan kepadatan jam kerja yang tinggi disiang hari.


Keseharian Eros justru sebaliknya.


Eros kerap tidur di pagi hari dan bergadang di malam hari, karena semua itu berkaitan erat dengan bisnis yang dilakoni oleh Eros, yang nyaris semuanya berbasis pada gemerlapnya dunia malam.


Hidup bersama Eros tak ubahnya seperti hidup dengan sosok pengangguran, meskipun sudah jelas-jelas pria itu tidak pernah kekurangan uang.

__ADS_1


"Masa pulang-pulang weekend malah ngantuk sih? Kan selama weekend dua hari gak pernah begadang ..."


Padahal Anya sengaja menggiring pembicaraan mereka biar mengarah pada acara weekend Eros bersama Biyan, agar dia sendiri bisa memenuhi segala rasa penasarannya tentang apa saja yang dilakukan kedua pria itu selama dua hari, bersama dua orang gadis remaja yang salah satunya adalah Bella, putri semata wayangnya Biyan. Namun yang ada Eros malah seperti tidak tertarik untuk menanggapi pancingan Anya tersebut.


'Si al, kenapa dia malah diem aja sih ...?'


Bathin Anya ngedumel dalam hati.


"Oh iya, Ros, gimana weekend-nya kemarin?" tanya Anya kali ini lebih terang-terangan, saking tak kuat lagi menahan rasa penasarannya lebih lama.


Bayangkan ... Anya bahkan rela pagi-pagi datang ke-apartemen Eros dan menunggui kedatangan Eros hanya untuk mengetahui hal tersebut, lalu bagaimana mungkin Anya bisa pulang begitu saja tanpa mengantongi informasi apapun tentang dua hari full keseharian Eros ...?


'Alamak, bisa-bisa aku bakalan mati karena penasaran, kalau sampai aku gak bisa memuaskan rasa ingin tahuku tentang semua hal itu ...!'


Lagi-lagi Anya mulai membathin akan tekadnya yang keukeuh.


"Aku hanya mengikuti ajakan Biyan untuk menyenangkan Bella. itu aja sih ..."


"Iya, Bella mengajak salah seorang temannya ikut serta." jawab Eros lagi, tak menampik sedikit pun.


"Gadis yang bernama Ayushita ...?"


Kali ini kedua alis Eros sedikit bertaut karenanya. "Kok tau ...?"


"Bella men-tag akun gadis itu saat ia mengunggah foto kalian di pantai dengan latar belakang sunset ..."


"Ohh ..." Eros hanya ber-'Ohh' ria, seolah menandakan dengan jelas bahwa dirinya tidak tertarik sama sekali untuk menjelaskan panjang lebar sesuai harapan Anya.


Sebenarnya tidak hanya sampai di situ saja, Eros bahkan belum sempat menanyakan kembali apa sebenarnya motif dibalik kedatangan wanita dihadapannya ini secara tiba-tiba, sehingga sesaat setelah mobil Biyan berlalu, Eros yang baru saja menapakkan kaki di lobby apartemennya telah dikejutkan oleh kehadiran Anya di sana.


"Anya ...?" Eros melafalkan nama itu dengan rasa terkejut yang nyata.

__ADS_1


"Hai, Ros ..."


"Kenapa kamu bisa ada di sini se-pagi ini, An ...?" tanya Eros bingung, namun to the point.


"Hanya ingin mengobrol denganmu, memangnya gak boleh?"


Kala itu Eros terlihat menggaruk telinganya dengan gerakan kikuk, sebelum berucap ragu. "Yaaa ... boleh sih,"


"Bagaimana kalau sambil sarapan?" tawar Anya kemudian dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya yang berwarna merah.


"Tapi aku sudah ..."


"Saat datang ke sini, perutku belum terisi apapun. Aku takut penyakit mag-ku kumat kalau aku telat makan ..." pungkas Anya secepat kilat, seolah paham betul jika Eros sedang menunjukkan gestur ingin menolak.


Kira-kira seperti itulah cuplikan pembicaraan singkat mereka tadi, yang membuat Eros akhirnya urung melanjutkan langkah menuju lift, memilih mengajak Anya ke area basement terlebih dahulu, di mana terdapat foodcourt yang terdiri dari beberapa gerai dengan menu-menu variatif.


Eros menolak tawaran Anya saat hendak memesan makanan, hanya memilih memesan secangkir kopi saja dengan dalih bahwa dirinya sudah sarapan.


Untuk hal ini Eros berkata jujur. Perutnya memang masih sangat kenyang setelah menikmati satu porsi besar nasi goreng super enak hasil karya Bella dan Ayu di pagi hari saat mereka masih berada di villa, namun dengan percaya dirinya telah di klaim oleh Bella dengan nama 'Nasi Goreng Special Ala Bella'.


Mengingat ekspresi kebanggaan yang tercetak jelas diraut wajah ceria milik Bella saat menyajikan hasil karyanya membuat Eros tersenyum dalam hati.


Namun sesaat kemudian, Eros merasa hatinya berubah galau, menyadari bahwa sepertinya selain dirinya sendiri, tak ada satupun yang ngeh bahwa sesungguhnya sikap Bella kepadanya telah berubah drastis. Tidak lagi lebay dan bertabur modus terselubung seperti kemarin-kemarin, saat Bella begitu gencar menunjukkan rasa ketertarikannya kepada Eros.


'Tapi bukankah semua sikap Bella itu karena aku sendiri yang memintanya ...?'


Eros terdiam untuk beberapa saat lamanya dengan benak yang dipenuhi setiap inchi kenangan akan kemanjaan Bella yang telah hilang dalam sekejap, sehingga membuat hidup Eros terasa hampa ... gundah gulana ...


...


NEXT TO DOUBLE UP ...

__ADS_1


🧕: Jangan lupa sebelum lanjut, tolong di support dulu bab ini yah ... 🤗🙏


__ADS_2