
"Pak Yos, jangan lupa nanti berhentinya didepan aja yah ..."
Untuk yang kedua kalinya Ayu terlihat mengingatkan Yos, pria paruh baya yang duduk tenang dibelakang kemudi.
Asisten pribadi yang sehari-harinya tak jarang merangkap juga sebagai sopir Biyan itu nampak langsung mengangguk takjim lewat spion tengah.
"Iya, Bu, ditempat yang biasa kan?"
Ayu pun mengangguk, meskipun telinganya sedikit risih dengan sapaan yang selama beberapa hari berturut-turut selalu ia dengar.
"Pak Yos, jangan panggil Ibu, panggil Ayu aja gak pa-pa ..." ungkap Ayu saat pertama kali Yos menjemput di hari pertama ia melaksanakan tugasnya sebagai Asisten Dosen dalam penelitian.
Berhubung Ayu sekarang sendirian aja karena Bella juga punya kesibukan sendiri dengan jadwal kursusnya, yang membuat mereka tak mungkin pergi dan pulang bareng selama kurang lebih sebulan, maka Biyan sudah menugaskan Yos untuk mengantar jemput Ayu setiap hari.
Awalnya Ayu sempat menolaknya, namun akhirnya ia harus mengalah karena Biyan tak mengindahkan keberatan Ayu yang awalnya berniat pulang pergi ke kampus dengan menggunakan angkutan umum.
"Waduh, maaf, Bu Ayu, kalo kayak gitu saya sih gak berani. Ibu Ayu kan istrinya Pak Biyan, kalo saya panggil nama aja sama aja saya gak sopan ..."
Ayu terdiam menerima keberatan Yos, saat harus menanggalkan panggilan hormat kepadanya yang notabene usianya pasti terpaut jauh dibawah Yos.
Alhasil Ayu tak bisa melakukan apa-apa meskipun merasa tidak pantas dihormati sedemikian rupa oleh orang yang lebih tua, hanya karena dirinya merupakan istri seorang Biyan Erlangga.
"Om, kalo Ayu harus diantar jemput sama Pak Yos, trus ketahuan Bella sama Tante Rania gimana ...?" begitu kalimat Ayu yang terucap via telepon dengan nada bimbang, yang anehnya malah dijawab Biyan dengan begitu santuy.
"Gimana, Gimana maksudnya?"
"Ya gimana, Om? Kalo ketahuan gimana ...?"
"Kalo ketahuan yah mungkin udah jalannya kali, Ay ..."
"Ish, Om Biyan!" Ayu menggeram gemas, menyadari suara pria diseberang sana yang malah terdengar semakin santuy saat menjawab segenap kekhawatirannya.
Mendengar nada suara Ayu yang ngambek membuat tawa renyah Biyan terdengar nyata.
"Loh, emang bener kan? Kalo ketahuan yah mungkin udah jalannya, Ay ... Lagian lama atau cepat semuanya pasti juga akan terbuka ..." ucap Biyan lagi masih dengan sisa-sisa tawanya yang terdengar.
"Tapi Ayu gak mau semuanya terbuka dengan cara seperti itu, Om. Ayu maunya Om Biyan harus ngajak Bella sama Tante Rania ngomong baik-baik ..."
"Iya, Sayang ... Om ngerti kok. Kan udah Om bilang berkali-kali, tunggu Om balik dan Om akan mengatakan semuanya sama Bella ... Juga sama Tante Rania ..."
"Ya kalo gitu jangan sampai Bella dan Tante Rania tau dengan cara mergokin Ayu dong, Om. Ayu gak mau mereka tau dengan cara yang seperti itu, makanya Ayu gak mau ah dijemput sama Pak Yos ..."
"Kalo kayak gitu ceritanya Om yang gak setuju. Om gak mau Ayu kesana kemari sendirian aja. Kalo terjadi sesuatu diluar sana gimana coba ...?"
"Terjadi sesuatu gimana?"
__ADS_1
"Ya terjadi sesuatu. Di luar sana ada banyak orang jahat, kita mana tau setiap hati manusia yang kita temui ..."
"Tapi Ayu kan bukan anak kecil yang harus dianterin kemana-mana juga ..." imbuh Ayu yang masih belum bisa menerima keputusan sepihak Biyan begitu saja.
"Emang Ayu bukan anak kecil, tapi Ayu istri Biyan Erlangga. Lagian ... Masa iya istri pemilik perusahaan konstruksi yang masuk top lima di negeri ini harus bolak-balik ke kampus naik angkot ...?"
Mendengar selorohan ringan Biyan itu tak urung kedua pipi Ayu sontak bersemu.
'Istri ...'
'Ihh, kok bisa yah hanya satu kata aja bisa kedengeran manis banget ditelinga ...'
Tak ayal wajah Ayu pun merona dalam sekejap, sementara di kedalaman hatinya bak dipenuhi bunga yang sedang bermekaran.
Pada akhirnya, Ayu pun tak bisa menolak keinginan Biyan yang menginginkan Ayu diantar jemput oleh Yos setiap hari, meskipun sesuai kesepakatan mereka agar semua itu tidak menimbulkan kecurigaan Bella dan Rania, maka Yos hanya akan menjemput dan menurunkan Ayu tepat di depan gerbang masuk kompleks perumahan elite yang dihuni oleh Biyan, barulah kemudian Ayu akan meneruskan perjalanannya dari pos depan gerbang tersebut hingga ke rumah dengan menggunakan ojek online.
"Sudah sampai, Bu Ayu ..."
Tepat saat lamunan Ayu terjeda akibat suara Yos yang datang dari arah depan, seorang pria dengan jacket hijau yang khas ikut memarkirkan motornya tepat didepan mobil yang telah menepi.
"Iya, Pak, kayaknya ojeknya juga udah ada tuh. Ayu turun dulu yah, Pak ..."
"Iya, Bu Ayu, hati-hati dijalan ..."
Ayu pun bergegas keluar dari mobil mewah berwarna hitam tersebut, kemudian menghampiri sang ojek online yang telah tiba tepat waktu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Biyan menatap lekat-lekat permukaan ponselnya yang tengah menampilkan wajah Ayu yang terlihat segar dengan handuk yang masih melilit diatas kepala, karena dirinya yang baru saja mandi dan keramas.
Tubuh ramping Ayu saat ini terbalut piyama berwarna abu-abu muda dengan potongan leher agak rendah, sehingga nampak jelas tonjolan tulang selangka yang membuat Biyan diam-diam menelan ludah.
Biyan tak kuasa menahan debaran indah di dadanya, yang dipenuhi kerinduan hingga terasa menyesakkan.
Tak bisa dipungkiri betapa tak sabarnya Biyan sehingga ingin segera bertemu, memeluk, bercum bu ...
Haihh ... Astagaaaa ...
Biyan memijat tengkuknya yang sontak meremang, karena tak bisa berhenti memikirkan setiap jengkal hal yang iya-iya.
"Gimana hari ini? Capek gak?" tanya Biyan berusaha mengalihkan pikiran kotornya yang kerap bertahta, acap kali menatap sosok istrinya yang menawan hati.
Ayu yang duduk bersandar di kepala ranjang pun mengangguk dengan senyum malu-malu.
Menjadi assisten dosen yang masih dalam hitungan hari saja sudah lumayan menyibukkan Ayu, meskipun di sisi lain Ayu juga merasa enjoy dalam menjalaninya.
__ADS_1
"Emang tadi ngapain aja sampe bisa segitu capeknya?" usut Biyan lagi penuh perhatian.
"Hari ini Ayu nemenin dosen buat ketemuan langsung sama responden, sekaligus ikut melakukan survei lapangan gitu ..."
Diujung sana Biyan terlihat manggut-manggut, namun detik berikutnya bibirnya telah mengulas segaris senyum usil.
"Kasian ... Capek banget kayaknya istri Om. Kalo dekat aja pasti udah Om pijitin ..."
"Yeee, Om Biyan apaan sih, sukanya ngadi-ngadi deh ..." imbuh Ayu dengan wajah merenggut namun tetap merona.
Melihat pemandangan menggemaskan itu tawa Biyan pun kembali menyeruak.
"Egh, Om Biyan lagi dikamar Ayu yah?" ujar Ayu lagi setelah beberapa saat ia baru menyadari keberadaan Biyan yang ternyata sedang rebahan diatas sprei yang motifnya terkesan familiar.
"Hhhmm ..."
"Tuh kan, bener ..."
"Iya nih, Om lagi rebahan sambil nyium aroma-aroma Ayu yang ketinggalan diatas sprei ... Sarung bantal ..."
"Iiiihhh ... Om Biyan ngapain sih ..."
Ayu memekik tertahan saat menyadari Biyan yang nekad mengendus permukaan bantal seolah ingin membuktikan apa yang barusan diucapkan pria itu.
Bukan apa-apa sih, karena berbeda dengan pemikiran Biyan yang dipenuhi bayangan keuwwuan atas aroma tubuh Ayu yang seolah sanggup membuatnya mabuk kepayang, yang ada dipikiran Ayu justru hal-hal yang horor.
'Gimana kalo tanpa sadar saat terlelap tidur Ayu malah ngiler, kemudian ilernya jatuh ke bantal ... Trus bekasnya diendus sama Om Biyan ... Hhhiiii ...'
Hanya membayangkan hal konyol seperti itu sudah membuat Ayu bergidik ngeri.
"Pelit banget sih, Ay, timbang nyium bantal aja udah gak dibolehin, belum juga nyium langsung orangnya ..."
Ayu melotot kecil menghadapi keusilan Biyan yang seolah tak kunjung usai, sementara seperti yang sudah-sudah Biyan pasti akan terkekeh acap kali merasa berhasil menggoda Ayu.
"Oh iya, Om, bener gak kata Ibu, kalo Om mau ikut Ayah melihat keadaan Juragan Ibrahim ...?" tanya Ayu yang teringat akan pembicaraannya dengan Ibu Arum pada sesaat yang lalu.
Biyan terlihat mengangguk. "Iya, Ay. Mumpung Om lagi ada disini, gak enak juga kalo gak sempetin buat jenguk ..." ujar Biyan lembut, sebelum kembali melafalkan nama Ayu dengan sepasang sinar matanya yang dipenuhi rindu. "Ay ..."
Ayu menatap Biyan yang telah lebih dahulu menatapnya, dan Ayu bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata manakala suara berat Biyan kembali terdengar berucap syahdu.
"Om kangen banget deh sama Ayu ... Kangeeeen banget ..."
Bersambung ...
🧕 : Jangan lupa di like and support yah 🙏
__ADS_1