
Dari balkon kamar Presidential Suite yang mereka tempati, Ayu bisa menyaksikan gemerlapnya kelap-kelip lampu di malam hari yang terlihat sangat memukau.
Sungguh, selama hampir dua tahun hidup di kota metropolitan, ini adalah kali pertama Ayu mendapati pemandangan spektakuler ibukota di malam hari seperti saat ini, namun entah kenapa meskipun sejauh mata memandang semuanya terlihat sangat memukau, tetap saja semua pemandangan indah tersebut belum mampu mengusir keresahan yang sejak tadi singgah di hati Ayu, tepatnya setelah ia menonaktifkan ponsel usai mengirimkan sebuah chat kepada Bella.
"Malah ngelamun di sini. Lagi mikirin apa sih, Ay?" suara berat Biyan yang menyeruak tiba-tiba dari ceruk leher Ayu, disertai pelukan hangat dari belakang punggung, sanggup membuat Ayu terhenyak.
Pendapat Biyan itu benar adanya, karena saat ini Ayu memang sedang mengkhawatirkan Bella, dan pemikirannya itu telah membuatnya menjadi gelisah.
Malam sudah mulai larut, dan Ayu merasa khawatir, jika tanpa dirinya bisa-bisa Bella hanya sendirian di rumah.
Bukan apa-apa, karena akhir-akhir ini Rania yang seharusnya bisa diandalkan seolah lupa apa tujuan utamanya datang, menetap, bahkan terkesan menguasai seisi rumah Biyan bak seorang nyonya rumah betulan.
Sehingga bukannya mencari cela untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Bella, Rania seolah-olah hanya sibuk mencari perhatian Biyan semata.
Jika Biyan berada di dalam rumah, Rania bak seorang ibu peri layaknya, namun saat Biyan tidak ada di rumah alias sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah bahkan di luar kota, Rania justru memilih hang out dengan circle pertemanannya, yang terdiri dari para wanita-wanita sosialita.
"Om, Ayu kok kepikiran Bella ya?" lirih Ayu yang tak bisa menyembunyikan perasaannya yang tak tenang.
"Emangnya kenapa, Ay? Bukannya tadi Ayu sendiri yang ngomong kalo Bella udah banyak berubah? Lebih manut, gak suka kelayapan lagi, gak aneh-aneh lagi ..."
"Iya sih, Om, tapi ..."
"Lagian sekarang di rumah juga ada Rania, jadi Ayu gak perlu khawatirin Bella ..."
Ludah Ayu tertelan kelu.
Rasanya tak mungkin bagi Ayu jika dirinya harus membeberkan kelakuan Rania yang sesungguhnya. Kesannya seolah Ayu ingin menjelek-jelekkan Rania sehingga sudah pasti hal itu membuat Ayu enggan mengungkapkan semua kebenaran.
Sementara itu ...
Mendapati kekhawatiran Ayu, diam-diam Biyan mengulas senyum dalam hati, tanpa sedikitpun mengurai pelukannya.
Inilah salah satu alasan yang membuat Biyan merasa dirinya tepat bersama Ayu.
Ayu memang sangat menyayangi Bella, dan begitu memperhatikan semua hal yang menyangkut putri semata wayang Biyan itu.
Usia Bella dan Ayu bisa saja nyaris setara, namun dalam hal pola pikir sudah jelas Ayu lebih unggul jika dibandingkan dengan Bella, putri cantik Biyan yang super manja.
Jadi wajar saja kan jika kepribadian Ayu yang baik mampu membuat Bella dan Biyan jatuh hati sekaligus ...?
"Om, Ayu pengen nanya sesuatu boleh gak?" cetus Ayu tiba-tiba.
"Emangnya Ayu mau nanyain tentang apa?" tanya Biyan sambil mengeratkan pelukan, dan menaruh dagunya diatas pundak kanan Ayu.
Ayu menarik napasnya sejenak, sebelum mencoba menanyakan pendapat Biyan, tentang pandangan Biyan atas Bella.
"Om, bagaimana kalo kelak Bella punya pacar ...?" tanya Ayu hati-hati, sanggup membuat kedua alis lebat Biyan sontak bertaut atas pertanyaan yang tak disangka akan terlontar dari mulut Ayu.
__ADS_1
"Memangnya Bella udah punya pacar?" ucap Biyan balik bertanya, kali ini sambil mengurai pelukannya ditubuh Ayu begitu saja, dan berjalan memutar hanya agar bisa menatap penuh sosok Ayu penuh selidik.
"Gimana sih, Om. Kan Ayu yang nanya duluan. Masa belum juga dijawab Om udah balik nanya ..."
"Lagian pertanyaan Ayu begitu ..."
"Apanya yang begitu ...?"
"Ya kenapa? Kenapa Ayu nanya perihal Bella kayak gitu? Jangan-jangan Bella beneran udah punya pacar ..."
Ayu terdiam mendengar spekulasi Biyan tentang Bella yang terucap dengan raut wajah penasaran.
Biyan, meskipun sejak jauh-jauh hari ia telah mengingatkan dirinya untuk mempersiapkan diri atas apapun yang akan terjadi seiring dengan perkembangan Bella yang beranjak dewasa ... Namun pada kenyataannya tak se-simple itu, karena hanya dengan pertanyaan sederhana dari Ayu, belum apa-apa Biyan sudah panik duluan.
"Om Biyan ..." sambil tersenyum, Ayu menyentuh lembut lengan Biyan.
"Hhmm ..."
"Kok panik sih?"
"Siapa yang panik?"
Ayu nyaris tertawa, mendapati wajah pias milik Biyan yang tercetak jelas diwajahnya, namun toh Biyan sendiri tetap menyangkalnya mati-matian.
"Bella kan udah gede, Om, masa gak boleh pacaran sih ...?"
"Om gak ada bilang gak boleh ..." pungkas Biyan sok tenang, padahal dalam hati ketar-ketir.
'Siapa pria bernyali itu ...?'
'Awas aja, kalo dia berani macem-macem sama putri semata wayang Biyan Erlangga, aku habisi begundal itu ...!'
'Egh, tapi ... Apa iya Bella beneran punya pacar ...'
'Oh, no ...!'
Otak Biyan benar-benar pening.
Demi apa, Biyan akhirnya harus mengakui bahwa entah kenapa rasanya sangat tidak rela, jika hal itu benar adanya.
"Jadi ... Intinya Bella udah boleh punya pacar kan, Om?"
Wajah Biyan terlihat masam saat Ayu seolah mendesaknya, meskipun dengan kalimat menggoda.
"Baru pacar kok, Om, Ayu bahkan udah nikah aja ..." ucap Ayu sambil tertawa kecil, paham bahwa dibalik kekhawatiran Biyan untuk putrinya, pria itu seolah lupa bahwa dia justru menikahi gadis yang seusia putrinya juga.
"Ya udah, kalo gitu katakan sekarang juga ... Siapa pacar Bella ...?"
__ADS_1
"Kan Ayu ngomongnya tadi cuma perumpamaan ..." kilah Ayu, sengaja menghindari pertanyaan Biyan yang seolah menjebak.
Bicara tentang hal ini, Ayu bukan tidak memiliki maksud didalamnya.
Sebaliknya Ayu merasa perlu mengetahui perasaan Biyan, sebelum pria itu mengetahui kenyataan tentang putri kesayangannya yang mencintai Eros, jika nanti waktunya tiba.
Atas hubungan Bella dengan Eros, Ayu tau bahwa belum apa-apa Rania sudah menentangnya habis-habisan.
Ayu sendiri pernah sempat menguping pembicaraan Rania dan Biyan ditelepon, dimana kala itu Rania sedang mengungkapkan perasaan tidak sukanya atas sosok Eros dengan berapi-api.
Ayu tau persis bahwa wanita keras kepala seperti Rania, tak mudah diubah pandangannya.
Oleh karena itulah diam-diam Ayu bertekad untuk membantu Bella sekuat tenaga, demi mendapatkan restu Biyan, nanti, jika perceraian Eros dan Anya sudah ketuk palu.
"Ternyata hanya perumpamaan ..."
Hembusan napas lega Biyan terdengar jelas, namun detik berikutnya pria itu telah bicara lagi dengan wajahnya yang cukup serius.
"Tapi sepertinya, memang sudah saatnya juga sih Om menerima kenyataan, bahwa suatu saat ... Bisa jadi Om bukan lagi pria satu-satunya yang ada di hati Bella, atau malah ... Bella akan lebih sayang pria itu daripada Om ..."
"Om, dimana-mana cinta pertama seorang anak perempuan tetaplah Papanya ..."
Biyan mengerling kearah Ayu yang menatapnya lembut. "Yang bener, Ay?"
"Heemm ..."
"Jadi Om tetap cinta pertamanya Bella dong ..."
"Itu pasti, Om."
Mendengar itu ekspresi wajah Biyan yang semula sendu kini berganti semringah. Namun ekspresi tersebut lagi-lagi tak bertahan lama karena tiba-tiba Biyan telah menatap Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan, saat dirinya teringat sesuatu.
"Kenapa lagi, Om?" tanya Ayu bingung seraya menatap Biyan.
"Ay, kalo begitu konsepnya ... jadi cinta pertama Ayu sama Papanya Ayu dong bukan sama Om ..."
"Apa ...?"
"Lah, itu tadi kan Ayu yang ngomong sendiri ..."
"Astaga, iya juga yah ..." tukas Ayu seolah baru tersadar.
"Tuh kan ..."
Biyan terlihat cemberut berkepanjangan, sedangkan Ayu tak bisa lagi menahan gelak tawanya.
Wajah kecewa Biyan membuat Ayu merasa sangat lucu, karena Biyan seolah tidak terima bahwa cinta pertama Ayu bukanlah dirinya, melainkan Pak Arif Rahman ... Ayahnya Ayu ...
__ADS_1
Bersambung ...
🧕 : Like, comment an vote yah ... 🤗