
"Sungguh, Pa, Om Eros udah nolak Bella selama ini, tapi Bella aja yang ngotot ..."
"Apa gunanya selalu nolak kalo hari ini dia justru ingkar?"
"Pa ..."
"Fine, fine, Okeh ... Papa gak akan nyalahin Om Eros lagi. Tapi Bella harus paham, bahwa Papa selalu ingin yang terbaik buat Bella. Om Eros bukan pria yang tepat, dia pria beristri. Apa kata orang nanti ...?"
"Tapi Bella gak peduli apa kata orang, Pa." pungkas Bella.
"Ya gak bisa gitu dong, Bell. Kalo apa kata orang itu memang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam agama juga dalam bermasyarakat, kita gak boleh tutup mata begitu aja ..."
"Tapi kalo persoalannya cuma gara-gara Tante Anya, sekarang aja Om Eros udah urus segala sesuatu yang menyangkut perceraian mereka, tinggal nunggu akta cerainya aja kok ..."
"Astaga, Bella, ini bukan hanya sekadar nungguin akta cerai aja, Bell ..."
"Lah trus apa dong, Pa? Kalo Om Eros udah cerai kan statusnya udah duda, samaan sama Papa dong boleh nikah lagi ..."
Biyan memijat kedua alisnya.
Tak bisa dipungkiri, seluruh kalimat Bella sukses membuat Biyan merasa kepalanya pening mendadak.
Sejak awal Biyan sadar bahwa semua ini pastinya tak akan mudah. Karena pada kenyataannya, posisi dirinya yang duda dan sudah menikah diam-diam juga membuat Biyan jadi serba salah untuk menekan Bella yang meskipun agak absurd tapi ternyata cukup cerdas juga memutar balikkan keadaan, sehingga tidak semata-mata membuatnya terpojok dengan memanfaatkan keadaan Biyan.
'Nah kan ... Baru begini aja udah repot setengah mati, belum lagi kalo Bella tau yang aku nikahin itu Ayu ...'
Mumet. Otak Biyan beneran mumet memikirkan semua kenyataan pelik dihadapannya yang seolah tak ada satu pun yang memiliki jalan keluar.
"Pa, apa keputusan Papa ini ada kaitannya dengan keengganan Mama Rania ...? Lagian Mama Rania kan sejak awal emang udah gak wellcome aja sama Om Eros ..." lirih Bella lagi.
Biyan sontak menggeleng. "Bell, Mama Rania emang berlebihan, tapi bukan berarti Bella boleh bersikap seperti itu ke Mama ..."
"Habisnya Mama gak kayak Papa sih, ngajak ngomong Bella baik-baik kayak gini kek, egh Mama malah langsung jutek, mana pake acara nampar Bella segala, dan jelek-jelekin Om Eros mulu. Makanya Bella juga jadi ikutan sebel, Pa ..."
Biyan terkejut setengah mati mendengar kenyataan yang terurai dari bibir Bella yang masih manyun.
'Jadi Rania nampar Bella sebelum ngajak Bella ngomong baik-baik ...?'
'Dasar Rania, sifat emosian dan grasak-grusuknya gak pernah berubah ... Keterlaluan ...'
Biyan masih sempat mengumpat dalam hati atas sikap kasar Rania terhadao Bella, meskipun ia tidak juga berniat untuk mengungkapkan kekecewaannya tersebut dihadapan Bella.
__ADS_1
Bagaimanapun juga Biyan tidak ingin wibawa Rania jatuh dimata anaknya, kendatipun mantan istrinya itu justru tidak pandai menjaga wibawanya sendiri.
"Itu karena Mama Rania juga ingin yang terbaik buat Bella ..." pungkas Biyan pada akhirnya.
"Emangnya selama ini Mama beneran tau apa yang terbaik buat Bella?" tantang Bella, seolah kumat keras kepalanya.
"Hussh, gak boleh ngomong kayak gitu, Bell, biar bagaimanapun Mama Rania itu Mamanya Bella. Orang yang udah bertaruh nyawa ngelahirin Bella ke dunia ini, juga letak surganya Bella ..."
Bella tertunduk mendapati nasihat Biyan yang seolah langsung menohok tepat di ulu hati.
Kesadaran yang timbul akibat sikapnya yang terang-terangan membantah Rania membuat rasa bersalah langsung menggerogoti seluruh sanubari Bella.
'Papa benar ... Emang gak seharusnya juga sih Bella membantah Mama kayak gitu. Tapi mau gimana lagi semuanya udah telanjur ...?'
Perasaan berdosa tak ayal menyelimuti hati Bella.
"Bell, tolong Bella pahami keputusan Papa yah. Kenyataannya Papa terlalu mengenal Om Eros luar dalam. Terus terang Papa gak bisa menutup mata dan membiarkan putri semata wayang Papa terluka seperti wanita-wanita sebelumnya ..."
Pada akhirnya sepenggal kalimat Biyan itu seolah telah menjadi penentu atas ketetapan hati Biyan yang tak kunjung goyah.
Bella tertunduk dalam. Sepasang kelopak matanya mendadak tergenang tanpa mampu tercegah.
Sedih, kecewa, patah hati ... Semuanya!
"Kalo nanti Papanya Bella bersikeras, tolong jangan membantah yah, Bell ... Ikutin aja semua alurnya ..."
"Tapi Om ..."
"Om tetap akan mencari jalan keluar untuk hubungan kita, Sayang, karena Om ingin meminta Bella dengan baik, sampai Papanya Bella benar-benar percaya kalo Om serius ingin bertanggung jawab atas masa depan Bella seutuhnya ..."
Sepenggal nasihat Eros diakhir pembicaraan mereka barusan seolah terus terngiang jelas di telinga.
"Bell, Papa tau Bella kecewa. Tapi tolong, pahami Papa sekali ini aja. Bella masih muda, dan Papa gak akan melarang Bella punya pacar, tapi bukan Om Eros orangnya ..."
"Pa, bukannya semua orang bisa berubah? Karena seburuk-buruknya manusia, pasti tetap punya sisi baiknya ..."
"Maybe, tapi proses seorang manusia berubah bukan secepat menekan tombol on/off di remote televisi atau remote ac kan, Bell ..."
"It's okay, Pa ... Tapi Bella tetap menganggap segala kemungkinan terkecil itu adalah setitik harapan ..."
Biyan terhenyak mendengar keteguhan hati Bella, meskipun gadis kecilnya itu tidak juga berupaya membantahnya.
__ADS_1
"Pa, Papa bahagia gak dengan pernikahan Papa yang sekarang?" tanya Bella lagi yang tiba-tiba langsung out of topic dari pembicaraan mula-mula.
Biyan menatap Bella dengan tatapan bingung, namun tak urung kepalanya mengangguk juga.
"Hhmm ..."
"Very happy ...?"
Lagi-lagi Biyan mengangguk, meski masih bingung dengan arah kalimat Bella yang sesungguhnya.
Senyum Bella terkembang sempurna di wajah cantiknya yang berkabut kesedihan, membuat suatu perpaduan perasaan yang terasa aneh dan mengusik sudut hati Biyan.
"Bella sangat berharap, seperti layaknya hubungan Papa dengan wanita manapun yang telah membuat Papa sangat bahagia, semoga kedepannya Bella juga bisa menemukan kebahagiaan yang sama seperti Papa ..."
Skak mat!
Semua kalimat itu telah membuat Biyan tergugu ...
Semua penerimaan Bella telah membuat Biyan mau tak mau meragu ...!
'Apakah keputusan aku ini udah selayaknya ...? Apa iya aku udah berlaku adil ...?'
Biyan membathin gamang, dengan benak yang dipenuhi kecamuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yan, apa maksud kamu? Serius kamu ngusir aku ...?"
"Bukan mengusir Rania, tapi pada dasarnya kita emang gak boleh tinggal seatap kayak gini. Ini salah, karena kita bahkan udah bercerai ..."
Rania menatap Biyan dan Bella berganti-ganti, dengan tatapannya yang seolah masih sulit mempercayai pendengarannya sendiri.
Sungguh, semua ini benar-benar diluar dugaan Rania.
Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi dengan begitu cepat?
Padahal baru saja Rania dibuat besar kepala saat Biyan menggiring turun Bella, putri mereka semata wayang, dari lantai tiga untuk datang dan meminta maaf langsung kepadanya.
Tapi kenapa usai dirinya menerima permintaan maaf Bella, setelah itu Biyan malah mengemukakan pernyataan tegas yang memintanya angkat kaki dari rumah megah ini?
"Sebaiknya Bella naik aja dulu, Ma, Pa ..." pamit Bella yang merasa sangat serba salah, berada diantara kedua orang tuanya yang sepertinya tak lagi memiliki harapan untuk kembali bersama, meskipun jauh didalam lubuk hati Bella, gadis itu mengharapkan semuanya bisa utuh seperti semula ...
__ADS_1
Bersambung ...
🧕: Like, Comment, and jangan lupa di vote yah ... 🤗