
Biyan melirik jam di pergelangan tangannya sesaat, kemudian menghembuskan napasnya berat.
Jam tujuh malam, dan ia masih berada ditempat yang sama, yakni sebuah lokasi proyek pembangunan sebuah gedung di pinggiran kota, yang waktu pelaksanaannya nyaris deadline.
Dalam beberapa hari terakhir ini telah menjadi hari yang super sibuk bagi Biyan, dikarenakan proyek yang sama.
Sebenarnya proyek dengan nilai nominalnya yang hanya mencapai enam digit itu bisa dikategorikan sebuah proyek kecil untuk perusahaan konstruksi miliknya, sehingga proses pekerjaannya lebih sering di handle oleh bawahan Biyan.
Biyan merasa mungkin ini salahnya juga yang terkesan meremehkan pekerjaan yang seharusnya sepele, karena setelah mendekati finishing akhir yang membuat beberapa hari yang lalu Biyan memutuskan turun langsung untuk memantau, Biyan telah dibuat sangat terkejut karena telah mendapati prosentasi kemajuan pekerjaan yang belum sesuai target, sementara waktu pekerjaan sudah berada dalam posisi injury time.
Biyan tak punya pilihan lain, selain harus memaksakan diri untuk ngebut demi mencapai target, karena tidak ingin menurunkan standar kredibilitas perusahaannya yang selama ini selalu on time dalam penyelesaian pekerjaan.
Alhasil dalam beberapa hari ini telah menjadi hari yang super sibuk bagi Biyan, karena lokasi proyek yang cukup jauh membuat dirinya harus pergi pagi dan pulang tengah malam, disaat seisi rumah telah terlelap.
Pernah sekali Biyan memilih tidak pulang ke rumah dan memutuskan untuk menginap di hotel terdekat, karena kondisi tubuh yang lelah, juga hari yang sudah tengah malam, sehingga rasanya terlalu beresiko jika ia harus memaksakan diri untuk menyetir pulang, disaat ia tidak menggunakan jasa Yos dihari itu.
Ddrrrtt ...
Getaran ponsel disaku celana telah membuat Biyan tersadar dari lamunannya.
"Hallo, Bell ...?" jawab Biyan sambil tersenyum dibalik wajah lelahnya, begitu menyadari siapa gerangan sang penelpon, yang menelponnya lewat video call tersebut.
"Papaaaa ... Absen makan malam lagi yah ...?"
Dipermukaan ponsel Biyan terlihat wajah mungil milik Bella yang cemberut, saat berucap dengan nada suara manjanya yang khas.
"Iya, Sayang ... Lihat nih, Papa masih di lokasi proyek. Kalian makan malam bertiga aja yah, sekarang Papa juga lagi nungguin Yos beliin makan ..." Biyan menjawab dengan tatapan matanya yang tak lepas memandangi layar ponsel, di mana Bella sedang bicara dengan latar ruang makan.
Tatapan awas Biyan seolah sedang mencari seseorang, yang biasanya selalu mengambil tempat duduk tepat disebelah Bella setiap kali berada di meja makan, namun kali ini Biyan agak kesulitan karena fokus kamera ponsel Bella yang hanya menyorot full ke tubuh Bella saja.
"Huuu, Papa gak seru deh ... Sukanya gitu, kalo udah kerja lupa segala-galanya ..."
Biyan terkekeh mendengar omelan yang sama, yang selalu ia terima dalam beberapa malam terakhir.
"Papa kan kerja demi masa depan Bella juga ..." ujar Biyan kalem, sambil sedikit membungkuk guna meraih cangkir kopi diatas meja, dan menyeruput sisa kopi miliknya yang mulai mendingin.
"Iya deh, Bella tau kok ... Tapi kan Bella juga kangen sama Papa ..."
"Papa juga kangen kok, Bell ... Tapi mau gimana lagi, kali ini Papa emang harus ngebut kalo gak mau kena penalty."
Mendengar keluhan Biyan, mendadak Bella pun terdiam sembari tatapannya menatap lekat raut wajah Biyan yang terlihat lelah.
Diam-diam hati Bella kembali terenyuh, saat lagi-lagi ia mendapati kenyataan betapa kerasnya selama ini Papanya bekerja, demi memenuhi segala kebutuhannya agar tak lagi merasa kekurangan.
"Take care, ya, Pa ... Bella tau Papa sibuk, tapi jangan lupa jaga kesehatan, jangan telat makan juga ..." lirih suara Bella, rasanya ingin sekali ia memeluk tubuh pria kebanggaannya yang ada nun jauh di sana.
"Iya, Bell, thanks yah Bella udah segitu care sama Papa, selalu ingetin Papa, dan ... Maapin Papa juga yah, Bell, karena gak bisa nemenin Bella makan malam ..."
__ADS_1
'Its okay, Pa ... Ada Ayu kok yang selalu nemenin Bella. Nih orangnya ..."
Raut wajah sendu Bella sontak berubah semringah, manakala gadis itu berucap kenes sambil mengganti fokus dari lensa kameranya yang semula menyorot penuh kearahnya kini berganti kearah samping, tepat kearah Ayu yang baru saja menghempaskan tubuhnya di kursi usai mengambil dua buah piring dari dapur.
Ayu memang sengaja hanya menyiapkan dua buah piring, karena semenjak Biyan sibuk menangani proyek sehingga tidak bisa ikut serta dalam makan malam selama beberapa malam berturut-turut, Rania yang seperti biasa selalu saja repot menjaga kemolekan tubuhnya itu pun telah memutuskan untuk absen makan malam juga.
Mendapati wajah Biyan didalam ponsel Bella yang kini telah mengarah penuh kearahnya sanggup membuat Ayu gelagapan.
Rasa rindu yang bercampur rikuh apalagi dengan kehadiran Bella yang tepat disamping sambil mengawasi, membuat Ayu mati-matian menahan diri agar jemarinya tak terlihat tremor saat harus menaruh piring keatas meja.
"H-Hallo, Om ..." sapa Ayu sambil tersenyum malu-malu, sadar bahwa pria diseberang sana sedang menatapnya penuh.
"Hallo juga, Ay ... Kalian belum makan?" tanya Biyan ringan dengan wajah yang cerah.
Ibarat kata pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Mendapati sosok yang ia rindukan membuat Biyan seolah mendapat asupan energi ajaib yang membuatnya tiba-tiba bersemangat di saat perutnya mulai keroncongan.
"Ini baru mau makan, Om," jawab Ayu seadanya.
"Pegangin bentar, Yu, Bella lupa belum cuci tangan ..." sergah Bella tiba-tiba, sambil menjejalkan ponselnya ke tangan Ayu begitu saja, di saat didalamnya masih berisikan pembicaraan via video call dengan Biyan.
"Egh?"
Ayu yang tak sempat mengelak akhirnya pasrah saat menatap punggung Bella yang menjauh menuju dapur, dan baru tersadar saat tawa renyah pria yang masih berada dalam mode panggilan video call itu terdengar terkekeh.
Pada akhirnya, dengan terpaksa Ayu menatap lagi permukaan ponsel milik Bella yang masih menampilkan seraut wajah yang agak kusut setelah bekerja seharian, namun anehnya pemandangan tersebut malah menjadi berkali-kali lipat lebih ber-damage di mata Ayu.
Gambaran real seorang pria pekerja keras ... huhhf, bagaimana bisa jantung Ayu berdetak normal kalau disuguhi pemandangan maskulin seperti itu?
"Mmm ... Maaf, Om, itu ... Anu ... Bella-nya malah kabur ..." ucap Ayu gelagapan dengan sepasang bening yang bergerak gelisah, yang tanpa sepengetahuannya telah menjadi sebuah pemandangan yang sangat menggemaskan bagi sang lawan bicara.
"Gak pa-pa kok, ngobrol sama Ayu aja ... Boleh kan?" jawab Biyan lembut, sambil mengulas senyum.
"I-Iya ... Boleh, Om ..." Ayu mengangguk bego.
"Oh iya, gimana ujiannya? Lancar ...?" tanya Biyan lagi begitu teringat bahwa minggu ini Bella dan Ayu sedang menghadapi UAS.
"Alhamdulillah sejauh ini lancar, Om ..."
"Syukurlah kalo lancar. Trus, kapan kelarnya, Ay?"
"Akhir minggu ini juga kelar kok, Om ..."
"Owh ..."
Biyan manggut-manggut, namun tatapannya tak seinchipun berpindah dari sosok manis dilayar ponsel, yang bicara dengannya dengan kepala sedikit tertunduk.
__ADS_1
"Ehem, trus ... Makannya pake apa itu ...?" tanya Biyan kemudian, sengaja mengalihkan topik pembicaraan, tentu saja tak ingin mengakhiri obrolan berharga itu begitu saja.
"Ini ... Ayam penyet ..."
"Wihh, kok bisa samaan yah? ini Om juga lagi nungguin ayam penyet yang dibeliin Yos ..."
"Yang bener, Om?" pungkas Ayu, tanpa sadar ikut mengangkat wajahnya sedikit, guna mendapati wajah Biyan yang seolah berada tepat dihadapannya.
"Sure, kebetulan lokasi jualnya lumayan dekat sama lokasi proyek, Om. Kalo Ayu belinya di mana?"
"Gofood, ditempat pesanan favorite Ayu, soalnya tadi pulang kampusnya udah mau kemaleman aja ..."
"Tempat pesanan favorite?" ulang Biyan.
"Hemm ..."
"Kalo favorite, berarti enak dong ..."
Kepala Ayu terlihat mengangguk kecil. "Yaaa, gitu deh, Om, emang lumayan enak sih, trus harganya juga terjangkau ..."
"Oh ya? Kalo gitu kapan-kapan boleh pesenin Om juga yah, nanti cod ke kantor, biar Om bayarnya di tempat ..."
Mendengar permintaan sederhana Biyan, Ayu pun langsung mengangguk. "Ya udah, nanti Ayu pesenin kalo Om mau ..." pungkas Ayu.
Biyan belum sempat menanggapi kembali, manakala sebuah suara yang khas terdengar menyela pembicaraan mereka yang mulai nyambung ...
"Ayuuuu ... Gelasnya udah diambil belum?" suara cempreng Bella yang terdengar dari arah dapur, seolah menyadarkan Ayu.
"Egh, astaga ... Belum, Bell ... Ayu lupa bawanya ..." jawab Ayu buru-buru sambil mengangkat wajahnya, namun ternyata sosok Bella belum muncul di sana.
"Ya, udah, Bella bawain sekalian yah." teriak Bella lagi, masih dari arah dapur.
"Iya, Bell, makasih ..."
Tatapan Ayu terlihat nanar saat kembali beralih ke layar ponsel, di mana Biyan masih setia di sana, sedang menikmati seraut wajah beserta gerak-gerik Ayu tanpa ada sedikit pun yang terlewat dengan penuh senyuman.
"Om, udahan ya, Bella mau dateng tuh ..." ujar Ayu lagi, dengan ekspresi agak panik.
Biyan pun mengangguk paham, kemudian di detik selanjutnya layar ponsel Biyan telah beralih ke mode default, menandakan pembicaraan video call tersebut telah diputuskan Ayu dengan tergesa.
Untuk sesaat Biyan masih setia mengawasi layar ponselnya dengan hati yang berbunga-bunga.
"Pak Biyan, makan malamnya udah siap nih ..."
Suara Yos yang terdengar dari balik punggung Biyan, seolah membawa pulang lamunan Biyan ke dunia nyata ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Jangan lupa terus di support yah 🤗