
Biyan terlihat menarik napasnya dalam-dalam.
Tak bisa dipungkiri ada sebuah kelegaan yang menyelimuti setiap relung dihatinya, usai ia berhasil mengemukakan hal-hal yang begitu ingin ia ungkapkan.
Memang belum semuanya, mungkin baru separuh, tapi pada kenyataannya lewat separuh kejujuran Biyan saja sudah cukup membuatnya merasa lega bukan main, karena sejak awal Biyan memang tak ingin lagi menunda-nunda.
Tepat dihadapan Biyan, Bella belum mengucapkan sepatah katapun.
Tapi lewat air mukanya, Biyan merasa dirinya tidak perlu cemas berlebihan, karena meskipun terlihat cukup terkejut namun raut wajah Bella sama sekali tidak diliputi amarah. Justru lebih terkesan kaget, bahkan sangsi dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Bell ..." tegur Biyan sedikit canggung, karena belum juga menerima tanggapan berarti dari putri semata wayangnya itu.
"Egh, iya Pa ..."
"Kok diem aja, Bell ...?"
Masih hening, karena Bella hanya menatap Biyan dengan mulut sedikit terbuka, seolah sedang memilah kalimat apa yang harus ia ucapkan.
"Bell, ngomong dong, Papa kan juga pengen tau pendapat Bella ..."
Bella yang sejak tadi termanggu kini terlihat sedikit bingung.
Mendapati sikap Bella yang seperti itu Biyan justru merasa terharu.
Putrinya itu ... Mungkin dimata orang yang tidak mengenalnya adalah sosok yang terlihat easy dan ceria.
Tapi sesungguhnya Biyan tau persis, bahwa Bella adalah seorang anak gadis, yang telah ia besarkan dengan sebuah luka yang terus membekas.
Pernah mengalami fase tersulit di masa yang seharusnya indah untuk anak-anak sebayanya, membuat Bella tumbuh dengan kepribadian yang unik dan kuat.
Terbiasa menerima kenyataan bahwa tak semua yang ia harapkan bisa ia dapatkan, membuat Bella lebih sering tidak memaksakan kehendaknya, juga jarang mengucapkan protes berlebihan.
Sifat harfiah Bella memang manja dan agak semaunya.
Namun perlu digaris bawahi, bahwa dibalik semua sikapnya itu Bella juga memiliki sifat yang cenderung menerima dan tak mudah terluka.
Mungkin lebih tepatnya perasaan terluka yang begitu akrab telah membuat Bella kebal, saking telah terbiasa merasakan pahitnya kehidupan.
Coba bayangkan, seorang anak gadis yang mulai beranjak dewasa tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa ibunya tega meninggalkan dirinya, hanya karena ayahnya tak mampu memberikan kebahagiaan dunia.
Luka dan sakit seperti itu ... Bahkan Biyan sendiri tak bisa membayangkannya!
Lalu bagaimana bisa Bella mampu bertahan, dan tumbuh besar dengan segala keceriaan seolah kebahagiaan hidupnya tak pernah berkurang?
Entahlah ...
Yang jelas Biyan tau bahwa semua itu pastinya tidak mudah.
"Pa, jujur ... Yang Papa omongin ini, semuanya udah pernah diomongin Mama ..."
Biyan mengangkat wajahnya, sama sekali tidak kaget dengan informasi yang ia dengar, karena Biyan tau persis sifat Rania yang tak mudah menyerah dan mampu melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.
"So, gimana pendapat Bella ...?" tanya Biyan lembut, tak ingin mengintimidasi sama sekali karena Biyan justru ingin mendengarkan isi hati Bella yang sebenar-benarnya.
__ADS_1
Bella terlihat menarik napas sejenak, seraya membalas tatapan lembut Biyan yang seolah menenteramkan jiwa.
"Sejak Papa berangkat keluar kota, Mama banyak ngobrol dengan Bella. Intinya Mama minta maaf karena udah ninggalin Papa dan Bella, dan Mama ingin menebus kesalahan Mama waktu itu ..."
Bella terdiam sejenak, namun Biyan tidak berusaha menyela dulu, seolah memberikan Bella kesempatan seluas-luasnya untuk mengungkapkan apapun, agar tidak ada lagi yang terpendam.
"Bella bilang ke Mama, kalo Bella udah maafin Mama. Bella bahkan udah ngelupain semuanya. Bella juga senang kalau seandainya Mama kembali, tapi ..."
Mengambang.
Biyan masih menahan diri mati-matian untuk tidak menyela, meskipun tepat dihadapannya Bella telah tertunduk dengan tatapan yang menekuri jemarinya yang saling memilin satu sama lain.
"Bella minta maaf ke Mama, karena untuk hal itu Bella merasa gak berhak memutuskan. Sekalipun Bella juga pengen bisa melihat Mama dan Papa kembali bersama, pengen keluarga kita utuh kayak dulu, tapi ..."
Mengambang lagi.
Pada akhirnya Biyan mengangkat sebelah tangannya guna mengusap sebelah lengan Bella yang masih tertunduk dalam.
Biyan merasa terenyuh menyaksikan betapa kuatnya hati gadis kecilnya itu.
Biyan tau hati Bella tentunya sangat sedih, saat harus mengucapkan kepasrahannya atas apapun keputusan yang nantinya akan Biyan ambil.
Diam-diam rasa bersalah terasa menyelinap perlahan diantara bilik hati Biyan, menyadari bahwa lagi-lagi ia harus mengecewakan Bella karena tak mungkin meluluskan keinginan gadis itu.
"Maafin Papa, Bell ... Papa yang salah ..."
'No ..."
"Maaf, karena untuk kali ini Papa belum bisa mewujudkan keinginan Bella ..."
Bella terlihat beringsut secepat kilat dan langsung menubruk tubuh Biyan begitu saja, seolah tak ingin mendengar permintaan maaf Biyan untuknya.
"Jangan ngomong gitu, Pa ... Kenapa Papa yang harus minta maaf ...? No ... Papa berhak memutuskan apa yang terbaik untuk Papa, dan Bella akan menerimanya ..."
Dipelukan Biyan, Bella terisak lirih.
"Bell ..."
Biyan merasa kedua matanya mengabur. Tangisan Bella seolah menyentuh bagian terdalam dari perasaan Biyan, sehingga membuatnya ikut meneteskan air mata.
Sungguh, Biyan tak kuasa saat menyadari betapa egois dan tidak adilnya dirinya dan Rania selama ini, sementara Bella selalu berdiri dengan segala kompromi, terus menerima setiap kali mereka memperlihatkan contoh yang buruk sebagai orang tua.
"Sekalipun semuanya sudah lama berlalu, tapi Bella tau, Papa pasti terluka karena Mama, dan emang gak mudah bagi Papa menerima Mama kembali ..."
Biyan terpekur, namun sisi hatinya membenarkan ucapan Bella yang seolah bisa melihat langsung isi dikedalaman hatinya.
Demi Tuhan, Biyan sudah memaafkan Rania jauh sebelum hari ini. Tapi memaafkan bukan berarti semuanya bisa kembali seperti sedia kala.
Hari ini, bukan karena kehadiran Ayu yang membuat Biyan tidak bisa membuka pintu hatinya kembali, namun karena pada dasarnya, seiring dengan usaha Biyan melenyapkan perasaan benci dan amarah untuk Rania, cintanya untuk wanita itu pun lambat laun ikut menghilang.
"Pa, Bella hanya mau bilang, kalo Papa bahagia, Bella pasti bahagia. Selama ini Papa udah menjadi Papa yang baik dan sempurna untuk Bella. Sudah saatnya Papa mikirin kebahagiaan Papa sendiri, karena Papa juga berhak bahagia ..." lirih Bella, yang berusaha meredakan isaknya.
"Tapi, Bell ..."
__ADS_1
"So, who is she ...?" lirih Bella lagi, sambil mengurai pelukannya.
Kali ini tatapan Bella terlihat berubah sedikit usil, meskipun dikedua matanya masih jelas terlihat jejak-jejak air mata yang kentara.
"Dia siapa ...?" elak Biyan cepat, namun sepertinya ia telah gagal menyembunyikan ekspresi wajahnya yang bersemu, meskipun disaat yang sama Biyan langsung membuang wajahnya kearah lain, menghindari tatapan Bella yang terkesan menyelidik.
"Loh? Tadi kan Papa sendiri yang ngomong kalo ada seseorang yang ..."
"Jangan ngomongin itu dulu, Bell ..." tepis Biyan buru-buru, terlihat semakin salah tingkah.
Mendapati pemandangan tersebut Bella yang terkejut refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya sekaligus.
"Oh em ji, Papa ...?"
"Apa lagi sih, Bell ...?" jawab Biyan yang semakin terlihat rikuh.
"She is real ...?"
Ucap Bella lagi seolah ingin meyakinkan, namun Biyan malah membisu.
Bella terlihat takjub, padahal awalnya dia mengira bahwa seperti dugaan Rania, Biyan pastilah hanya mengarang cerita tentang kehadiran seorang wanita, demi menolak kehadiran Rania.
"Papa ...?" tatapan Bella yang merajuk seolah ingin memaksa Biyan untuk berkata jujur, namun yang ada Biyan malah menggeleng.
"Nanti Bell. Belum bisa di spill orangnya karena baru pe de ka te ..." jawab Biyan malu-malu, dengan wajah dipenuhi semburat hingga ke daun telinga.
Bella tergelak mendengar ucapan polos Biyan yang ala-ala a be ge. Apalagi mendapati sikap Biyan yang menjadi begitu naif, sekaligus terselip sedikit rasa tidak percaya diri.
"Kasih clue dikit napa, Pa?" protes Bella yang belum menyerah juga, namun kepala Biyan tetap menggeleng, menolak memberi petunjuk sambil berusaha bangkit dari tepi ranjang Bella.
Biyan berniat kabur dari situasi yang membuatnya rikuh.
"Udah ah, Papa mau mandi dulu, keburu malam ..."
"Papa curang ...!" teriak Bella, dengan bibir yang naik dua centi, namun tak mampu menyurutkan langkah BIyan yang terus melenggang kearah pintu. "Awas aja yah, kalo sampe ketahuan, Bella godain dua hari dua malam ...!"
Biyan hanya tertawa mendengar ancaman konyol Bella dari balik punggungnya, sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dibalik pintu yang kembali terkatup rapat.
Langkah Biyan terayun ringan menuju pintu kamarnya yang berada diujung, sementara dibibir pria itu telah terukir sebuah senyum.
Meskipun untuk saat ini, Biyan masih harus bersabar sedikit lagi karena belum bisa mengemukakan jati diri Ayu demi membuat Rania menyerah seperti syarat utama yang diajukan oleh wanita itu, namun setidaknya Biyan merasa cukup lega, karena Bella mampu menunjukkan kedewasaannya, dalam menyikapi persoalan antara kedua orang tuanya.
Seandainya saja Ayu sudah bisa menerima kehadiran Biyan, maka ada banyak hal yang harus Biyan lakukan sebagai refleksi dari semuanya.
Urusan mengenai bagaimana tanggapan Rania dan utamanya tanggapan Bella, bagi Biyan, itu akan menjadi poin kedua.
Poin utamanya adalah Ayu mau menerima Biyan. Itu saja dulu!
"Baiklah, Biyan, sekarang persoalannya tinggal satu ... Mampu gak kamu menaklukkan hati Ayu, agar bersedia menjalani pernikahan ini dengan bersungguh-sungguh ...?"
Lirih Biyan yang bertanya pada dirinya sendiri, seolah sedang meyakinkan hatinya untuk lebih keras berusaha memenangkan cinta sang pujaan hati ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Support yang kenceng yah 🙏