HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
PERNYATAAN CINTA


__ADS_3

"Pelan-pelan, Ay," bisik Biyan lembut, begitu Ayu keluar dari bilik pemeriksaan.


Pria itu setia menunggu Ayu keluar dengan tetap berdiri dibalik tirai, kemudian ia terlihat begitu perhatian saat membantu Ayu agar bisa kembali duduk di kursi setelah menjalani pemeriksaan dari dokter.


Ayu yang sejak tadi terus-menerus dihujani Biyan dengan perhatian tanpa jeda tak henti merona.


Perasaan ingin move on dari cinta sepihak yang sempat tertanam dalam hatinya di sore tadi seolah terlupakan begitu saja karena yang ada Ayu malah semakin jatuh cinta oleh pria berumur yang masih tampan rupawan itu.


"Ini beneran gak apa-apa, dokter?" tatapan Biyan masih saja menyimpan keraguan, saat menatap dokter Novita, yang baru saja memeriksa kondisi Ayu.


Dokter wanita paruh baya itu tersenyum dan menggeleng yakin dalam menanggapi pertanyaan Biyan yang penuh kekhawatiran.


Kemudian sambil melepaskan stetoskop dari kedua telinganya ia pun duduk dibelakang meja, yang berada tepat dihadapan Biyan dan Ayu yang telah lebih dahulu duduk di sana.


"Tidak usah khawatir Pak Biyan, seperti yang sudah saya katakan sejak awal bahwa kondisi seperti ini terbilang wajar, karena saat menjelang maupun saat memasuki masa menstruasi, tak jarang wanita memang merasa seluruh tubuhnya terasa sakit bahkan disertai demam. Semua itu umum terjadi dan bisa disebabkan oleh banyak hal yang salah satu penyebabnya adalah kadar hormon yang naik turun, sehingga bisa memicu berbagai gejala seperti nyeri otot, sakit kepala, kram perut, nyeri sendi, hingga mual. Kumpulan gejala tersebut itulah yang seperti biasa kita sebut sebagai meriang ..."


Kendatipun penjelasan dokter Novita terdengar panjang-lebar serta cukup meyakinkan, namun tetap saja semua itu seolah belum cukup melegakan hati Biyan yang terlanjur merasa panik berlebihan dengan kondisi Ayu yang terus menahan nyeri sepanjang perjalanan.


"Masih sakit, Ay ...?" sepasang mata elang Biyan terlihat mengawasi penuh wajah Ayu. Bias kekhawatiran di wajah Biyan masih tercetak jelas.


Ayu mengangguk malu-malu, kedua pipinya kembali merona tanpa tercegah.


Biasanya Ayu bukan tipe yang cengeng seperti ini, tapi entah kenapa perhatian demi perhatian Biyan yang tercurah untuknya membuat Ayu tanpa sadar sangat menikmatinya.


Alhasil rasanya Ayu jadi ingin bermanja-manja terus.


Sementara itu, Biyan tidak menyadari sikapnya yang sangat sweet tersebut bukan hanya mampu membuat Ayu meleyot, melainkan juga dokter Novita yang jadi ikutan gagal fokus plus baper.


Sejak awal dokter Novita sudah sibuk menduga-duga, entah hubungan special seperti apa yang sekiranya terjalin diantara pasiennya malam ini.


Jika melihat sepintas, kedewasaan Biyan tetap nampak meskipun terbalut sempurna oleh garis visual yang menawan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis disebelahnya juga masih terkesan sangat belia jika hubungan keduanya adalah benar sepasang kekasih atau bahkan pasangan suami-istri.


Awalnya dokter Novita sempat menduga bahwa hubungan keduanya lebih pantas sebagai ayah dan anak. Namun begitu telinganya beberapa kali menangkap panggilan 'Ay' yang terucap lembut dari bibir Biyan untuk Ayu, kesimpulan dokter Novita lambat laun mulai berubah.


'Sepertinya mereka benar-benar sepasang kekasih, atau malah pasangan suami-istri ...?'


'Yah, sepertinya memang benar ...'


'Lagipula wajah keduanya sama sekali tidak mirip ayah dan anak. Yang pria bertampang blasteran, yang gadis cenderung berparas Asia ...'


Begitu kira-kira keriuhan bathin dokter Novita yang rada kepo karena sejak awal tak henti mengira-ngira, ikut penasaran dengan pasangan menawan yang ada dihadapannya saat ini.


"Sabar yah, nanti kalo udah dikasih obat sama dokter sakitnya pasti ilang kok ..." ujar Biyan, lagi-lagi penuh perhatian, kemudian menoleh kearah dokter Novita yang masih betah menatap pasangan gemes tersebut dengan bibir berulas senyum.

__ADS_1


Dokter Novita terlihat mengangguk, sebelum akhirnya mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu diatas kertas.


"Jangan khawatir, saya akan kasih resep untuk meredakan gejala demam serta nyeri haidnya. Selebihnya jangan lupa istirahat yang cukup, banyak minum air putih, makan makanan yang bergizi, olahraga teratur, dan akan sangat baik jika membiasakan diri rutin mengkonsumsi suplemen yang mengandung kalsium ..." tutur dokter Novita sambil menyerahkan helaian kertas tersebut kepada Biyan, agar bisa menebusnya di apotik yang berada diluar ruang pemeriksaan dari klinik tersebut.


"Terima kasih, dokter, kalo begitu kami permisi dulu ..." ucap Biyan begitu ia menerima resep, kemudian tak lupa ia mengulurkan tangannya kearah dokter Novita.


Dokter Novita pun menyalami keduanya dengan penuh senyuman.


"Iya Pak Biyan, silahkan ..."


"Mari dokter ..." pamit Ayu sembari mengangguk sopan.


"Iya, semoga cepat sembuh yah ..."


Lagi-lagi Biyan mengamit bahu Ayu penuh kasih sayang, mengajaknya berlalu dari ruangan tersebut dengan diiringi senyum penuh keramahan, dari dokter Novita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bunyi kecipak ombak yang memecah syahdu di bibir pantai, seolah mengiringi langkah Bella dan Eros yang terayun santai menyisir tepian pantai, menuju kearah villa yang sudah terlihat dari kejauhan.


Entah ini adalah kali kesekian dari Bella yang melirik kesamping, pada sosok Eros yang sedang berjalan tepat disisinya sambil mengepulkan asap rokok ke udara.


Setelah ditinggal Biyan yang memutuskan untuk membawa Ayu ke dokter, Bella dan Eros memang tetap meneruskan makan malam mereka dengan tenang, diiringi oleh obrolan-obrolan ringan.


Tak jarang mereka bercanda, dan seperti biasa Eros juga sangat suka menggoda Bella, sehingga tanpa terasa mereka berdua telah menghabiskan nyaris semua hidangan yang tersisa.


Eros tersenyum sambil membuang puntung rokoknya kedalam tong sampah yang kebetulan mereka lewati.


"Gak ngelamun kok, Bell, Om lagi menikmati udara malamnya nih ... enak banget, seger ... cobain deh hirup udaranya dalam-dalam ..." jawab Eros sambil mengambil napas sepenuh rongga, kemudian menghembuskannya perlahan.


Eros gak mengada-ngada, karena pada kenyataannya Bella pun mengakui bahwa udara malam ini memang seger banget.


Bella melirik Eros lagi, berusaha mengumpulkan keberaniannya sedikit demi sedikit.


Bella telah memikirkan keputusan yang telah ia ambil malam ini dengan matang, yakni keputusan untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya untuk Eros.


Meskipun Bella gak yakin apakah Eros akan menerima penyataan cintanya ... namun setidaknya Bella telah memutuskan bahwa Eros harus mengetahui perasaannya, sembari berharap bahwa dengan begitu mungkin Bella mempunyai kesempatan untuk mengubah cara pandang Eros kepadanya.


Yah, tentu saja.


Bella merasa jika dirinya ingin Eros menatapnya dengan tatapan yang berbeda, tidak seperti selama ini di mana pria itu terus menganggapnya sebagai bocah ingusan yang tidak mungkin bisa membuatnya jatuh cinta ... maka Eros harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa betapa Bella menginginkan pria itu.


"Om Eros, ada yang mau Bella omongin ..." ucap Bella nekad, dengan keyakinan seribu persen.

__ADS_1


Kali ini Bella merasa benar-benar pantang menyerah, tak mungkin lagi melangkah mundur.


Eros menoleh. "Serius amat, Bell. Apaan sih?"


"Tapi janji kalo Om gak akan ngetawain Bella yah, karena Bella mau ngomongin hal yang serius ..."


"Iya ... iya ... apa, Bell ...?" jawab Eros santai.


Disaat seperti ini Eros malah menganggap bahwa Bella ingin curhat tentang sesuatu.


Bisa jadi tentang Papanya ... Mamanya ... atau mungkin ... diam-diam gadis itu sudah punya gebetan ...?


"Om Eros ..." panggil Bella lagi sambil menghentikan langkahnya, kemudian memutar tubuhnya sehingga menghadap penuh kearah Eros yang juga ikut menghentikan langkah.


Eros ikut membalikkan tubuhnya seperti Bella, sehingga kini posisi tubuh mereka telah berhadap-hadapan dibawah langit malam yang bertabur bintang.


Eros terkejut begitu mendapati kedua tangannya yang menghangat setelah Bella nekad menggenggamnya erat.


"A-ada apa, Bell ...?"


Entah kenapa jantung Eros deg-degan tanpa sebab menyadari air muka Bella yang kali ini super serius, sangat jauh berbeda dengan sikap Bella yang seperti biasanya.


"Om Eros, Bella sayang sama Om Eros ..."


Kepala Bella yang menengadah kearah Eros yang jangkung, membuat sepasang mata bulat milik gadis itu mengunci tatapan Eros tanpa berkedip.


Bibir Eros terasa kelu tiba-tiba, seolah terhipnotis. Eros sama sekali tak menyangka jika dirinya akan 'ditembak' se-frontal ini oleh bocah berisik yang ada dihadapannya.


"Mmm ... i-iya, Bell, Om Eros ... juga sayang kok sama Bella ..." jawab Eros berusaha santuy, tetap jaim, sekaligus mencoba mengelak halus.


"Tapi Bella bukan hanya sayang sama Om Eros, Bella juga cinta ..."


"W-whaaatt ...?!"


Eros terhenyak seolah tersengat listrik ribuan watt, menerima ungkapan cinta Bella yang seolah terucap tanpa beban.


Ditembak seorang wanita bukanlah hal yang pertama bagi Eros. Tapi demi Tuhan, baru kali ini Eros merasakan dirinya gugup oleh sebuah pernyataan cinta.


Belum juga Eros menemukan kalimat yang tepat untuk mengurai situasi absurd akibat ulah nekad Bella, manakala Bella telah menodongnya kembali dengan sebuah pertanyaan 'skak mat' ...


"Om, Bella mau jadi pacar Om Eros. Boleh gak ...?"


...

__ADS_1


Bersambung ...


🧕: Kira-kira cinta Bella untuk Om Eros diterima gak yah ...? Ahahahaha ... 🤭


__ADS_2