
"Yu, makan dulu yuk ..."
Ayu yang sedang menyusun beberapa buku keatas meja sontak menoleh keasal suara.
Di sana, tepat di bingkai pintu salah satu diantara dua kamar tamu yang pada beberapa jam yang lalu telah di tunjuk Bella sebagai kamarnya, Ayu melihat Bella berdiri tegak sambil tersenyum.
"Gofood-nya udah dateng tuh. Kita makan dulu kemudian kita siap-siap ke kampus. Beres-beres kamarnya di tunda nanti aja ..."
Ayu mengangguk tanda setuju dengan saran Bella. "Iya, Bell, lagian ini juga udah kelar kok. Tinggal nyusun buku-buku kuliah aja ..."
Kemudian Ayu pun bangkit mendekati Bella, dan beriringan mereka berdua keluar dari kamar, menuju ruang makan yang letaknya tak seberapa jauh dari kamar tamu, yang sekarang telah ditempati Ayu.
Rumah Bella memang terbilang cukup besar, terdiri dari dua lantai dengan dua kamar tidur utama di lantai dua, yang satunya merupakan kamar Biyan dan yang satunya lagi merupakan kamar Bella.
Sementara tiga kamar tidur lainnya ada dilantai satu, terdiri dari dua kamar tamu dan satu kamar pembantu di bagian belakang yang juga tidak di tempati.
__ADS_1
Di rumah sebesar ini Biyan dan Bella memang hanya tinggal berdua, karena tukang kebun dan istrinya yang dipekerjakan Biyan untuk membersihkan rumah secara keseluruhan hanya bekerja paruh waktu, sehingga mereka hanya akan datang dua kali dalam seminggu.
Jadi bisa dipahami juga sih kalo setiap kali Biyan keluar kota Bella nyaris tidak pernah betah di rumah, memilih kelayapan setiap malam atau menginap di kostan Ayu.
Meskipun kondisi kompleks perumahan mereka terbilang cukup aman karena setiap sudutnya telah dilengkapi cctv serta pengawasan dua puluh empat jam non-stop oleh pihak keamanan di kompleks elite tersebut, namun berada didalam rumah besar seorang diri sudah pasti bisa menimbulkan rasa ketidak-nyamanan tersendiri.
Bella yang ternyata memesan dua bungkus nasi padang untuk dirinya dan Ayu terlihat makan dengan lahap, namun meskipun terlihat baik-baik saja tidak serta-merta membuat Ayu berhenti untuk terus-terusan mengawasi wajah cantik itu diam-diam.
Bahkan kalau Ayu boleh jujur, dengan Bella yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa, Ayu justru merasa khawatir.
Ayu tahu persis bahwa saat ini Bella sedang menahan kesedihan yang mendalam, pasca penolakan Eros di malam barbeque party saat mereka masih berada di villa. So, mustahil kalau Bella tidak sedang bersedih mengingat betapa kerasnya Bella berusaha mendekati Eros selama ini.
Baru saja Ayu hendak kembali menyuapkan sendok ke mulut, manakala ...
"Hiks ... hiks .,.."
__ADS_1
Suara isak tangis tertahan telah membuat gerakan Ayu terhenti.
Ayu sontak menolehkan kepalanya dan ia terperanjat menyaksikan pemandangan wajah Bella yang telah dipenuhi air mata, namun anehnya tangan gadis itu masih bisa memasukkan makanan kedalam mulut dan mengunyahnya.
"Bella ...?" Ayu menaruh sendoknya begitu saja, memfokuskan diri kearah Bella yang terus makan meskipun sambil terisak-isak.
"Ayu, kok Om Eros tega banget sih sama Bella? Gak apalah kalo Om Eros mau nolak cinta Bella, tapi kalo Bella harus jaga jarak dan gak boleh deketin Om Eros lagi ... Bella gak bisa, Yu ... hu ... hu ... hu..." berucap demikian sambil tersedu, namun tetap tak lupa mengisi mulutnya kembali dengan satu suapan penuh.
Ayu menyembunyikan tawa menyaksikan sikap random-nya Bella, yang masih bisa makan dengan lahap meskipun sedang sarat akan kesedihan dan patah hati yang mendalam.
"Udah, Bell, makan dulu yah, gak usah mikirin Om Eros, nanti malah kesedak rendang kan gak lucu ..." ucap Ayu berusaha menghibur.
"Bella juga pengennya begitu, Yu, tapi mau gimana lagi ... Bella kepikiran Om Eros terus. Di nasi ada wajah Om Eros, di rendang ada wajahnya Om Eros, di kerupuk juga ada ... di mana-mana ada wajahnya Om Eros, Yu ... ngeselin kan ...? Hu ... hu ... hu ..." isak Bella semakin kencang, sambil buru-buru menggigit krupuk yang ada ditangannya kuat-kuat seolah sedang membalaskan rasa sakit hatinya dengan cara mengunyah wajah Eros yang nangkring di permukaan krupuk tersebut ...
...
__ADS_1
NEXT ...
🧕: Supportnya jangan lupa yah ... 🤗🙏