HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
TOPIK UTAMA DARI OBROLAN


__ADS_3

Double up nih, yuk bisa yuk 😍


...


Setelah beberapa saat lamanya hanya mengemudi tanpa arah dan tujuan, pada akhirnya Eros memutuskan untuk membelokkan setir ke sebuah cafe yang kebetulan berada di jalur yang hendak dilewati mobilnya.


"Yu, mampir kesini sebentar yah, soalnya tadi pagi Om gak sempat sarapan ..."


Mendengar keluhan Eros, Ayu yang merasa tak punya pilihan akhirnya mengangguk kecil pertanda dirinya menyetujui keputusan pria itu.


Selain karena Eros yang mengemukakan keinginannya setelah ia sudah memutuskan untuk singgah tanpa meminta pertimbangan Ayu terlebih dahulu, pada dasarnya Ayu juga bingung memutuskan hendak pergi kemana, karena saat berjalan keluar dari rumah Biyan otak Ayu benar-benar blank tanpa tujuan.


Jujur saja, sekarang Ayu juga mulai merasa tindakannya yang minggat diam-diam tanpa sepengetahuan Biyan merupakan tindakan yang konyol dan kekanak-kanakan, namun meskipun demikian toh Ayu juga belum berkeinginan untuk mengalah secepat itu.


Ayu sadar, sekarang pikiran Biyan pasti lagi mumet memikirkan persoalan Bella. Seharusnya Ayu juga bisa lebih bersabar dan memahami Biyan.


Tapi biar bagaimanapun Ayu juga sebal dengan sikap Biyan yang mengacuhkan dirinya tanpa memberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, terlebih lagi saat Biyan justru bersikap menyebalkan dihadapan Rania.


Cemburu ...?


Tentu saja. Meskipun sudah dari jauh hari Ayu yakin bahwa Biyan tidak lagi punya perasaan istimewa untuk mantan istrinya itu, tapi bukan berarti Ayu tak ingin diakui.


'Kebetulan ketemu dijalan ...'


'Cih ... Omongan macam apa itu ...?'


Bahkan kalimat menyebalkan Biyan masih berputar-putar diotak Ayu, membuat kekesalan Ayu seolah tak kunjung berkurang takarannya.


'Kira-kira Om Biyan udah sadar belum kalo Ayu minggat?'


Ayu merasa sangat penasaran untuk mengetahui apakah kepergiannya bisa membuat Biyan panik atau malah sebaliknya, pria itu tak peduli?


Entahlah ...


"Mau pesan apa, Yu?"


Ayu menggeleng mendengar tawaran Eros yang mampu menuntaskan lamunannya, begitu mereka telah duduk berhadapan disalah satu meja cafe yang siang ini kelihatannya tidak begitu ramai pengunjung.

__ADS_1


"Ayu gak laper, Om."


"Loh?"


"Ya udah, kalo gitu Ayu pesan minum aja deh ..." pungkas Ayu buru-buru, begitu menghadapi raut wajah protes milik Eros yang dikarenakan dirinya menolak memesan makanan.


Eros menatap Ayu sejurus, kemudian tatapannya beralih kearah waitress yang berdiri disebelahnya.


"Mbak, pesanannya dibikin double aja ..." putus pria itu tanpa ragu, membuat Ayu yang ada dihadapannya terhenyak karena keputusan Eros yang malah bertolak belakang dengan keinginannya.


"Semuanya, Pak?"


"Iya, semuanya."


"Baik, Pak ..."


Sang waitress mengangguk patuh, tanpa mempedulikan ekspresi wajah Ayu yang masih melongo, menyadari Eros yang malah memesan menu yang sama untuknya meskipun sudah jelas-jelas Ayu telah menolaknya sejak awal.


"Gak usah protes, karena ini demi kebaikan Ayu juga. Ayu gak mau kan sakit lambung Ayu kumat karena gak makan ...?" ungkap Eros tanpa rasa berdosa, seolah ingin menjawab semua pertanyaan Ayu meskipun Ayu sendiri bahkan belum sempat melontarkan tanya.


"Tapi Ayu lagi gak selera makan, Om, nanti malah gak habis lagi makanannya ..."


Ayu pasrah mendapati Eros yang keukeuh.


Sikap Eros yang seperti itu diam-diam membuat Ayu jadi teringat Biyan lagi.


Sikap dan sifat Biyan memang agak mirip Eros. Tegas dan rada pemaksa.


Yah, mungkin saja karena kedua pria dewasa itu merasa dengan umur mereka yang terpaut jauh, mereka bisa dengan mudah mengintimidasi bocil-bocil seperti Ayu dan Bella.


Teringat akan Bella membuat Ayu sontak berkeinginan untuk mempertanyakan semua hal yang menjadi salah satu beban pikiran yang bergelayut dalam benak Ayu sejauh ini.


Tentang Bella ...


Tentang hubungan cintanya yang rumit ...


dan yang paling penting adalah tentang sejauh mana perasaan pria dihadapannya ini untuk sahabatnya itu.

__ADS_1


Meskipun Ayu yakin, Om Eros punya perasaan yang sama dengan Bella.


Tapi sebesar apa perasaan itu?


Apakah sebanding dengan rasa cinta Bella yang begitu luar biasa, yang seolah mampu melakukan apa saja demi mempertahankan cintanya untuk Eros?


Ayu bahkan menjadi saksi hidup bagaimana sabarnya Bella yang rela menunggu sekian lama hanya demi membuat Eros berpaling dan melihatnya, Bella juga rela ditolak berkali-kali dan memikul rasa malu, hanya demi menyakinkan Eros bahwa cintanya tidak sedangkal yang dikira.


"Ehem ... Om Eros, Ayu boleh nanya sesuatu gak?" tanya Ayu dengan nada hati-hati, namun tentu saja didasari oleh tekad yang cukup solid.


"Boleh aja. Emangnya Ayu mau nanya apa?" jawab Eros sambil bersandar dikursi yang ia duduki, seolah pria itu sudah tau persis apa yang akan menjadi topik utama dari obrolan Ayu kali ini.


Pastinya tentang hubungannya dengan Bella, memangnya apa lagi selain itu.


"Tentang Bella ..."


"Tanyakan aja, Yu, kalo Om bisa jawab, pasti Om akan jawab ..." jawab Eros lagi.


Ayu menghembuskan napasnya perlahan, sebelum mengungkapkan apa saja yang telah menjadi isi di hatinya yang begitu sinkron dengan isi pikirannya.


"Begini, Om, sebelumnya maaf ya kalo apa yang Ayu ungkapin kelak bisa bikin Om Eros tersinggung. Sungguh, Ayu gak ada sedikitpun niat menyinggung, apalagi ikut campur. Tapi Om Eros tau sendiri kan, kalo Bella adalah sahabat dekat Ayu yang paling Ayu sayangi, dan karena itu juga Ayu merasa perlu untuk bicara kayak gini ..."


Kali ini Eros tidak menyela, seolah pria itu memang sengaja memberikan Ayu keleluasaan untuk mengungkapkan apapun yang hendak di ungkapkan Ayu tanpa tersisa.


"Bagaimanapun juga Om Eros pasti udah tau kan, apa yang sedang Bella hadapi saat ini?"


Anggukan kepala Eros bisa ditangkap jelas oleh Ayu, sebelum akhirnya gadis itu memutuskan untuk kembali meneruskan ucapannya.


"Tante Rania udah jelas-jelas menentang, dan Om Biyan juga gak setuju. Tapi yang Ayu gak habis pikir ... Kenapa setelah mengetahui semua itu, Om Eros belum berbuat apapun padahal Om tau persis apa yang dihadapi Bella sekarang. Om harus tau, bahwa cinta Bella untuk Om Eros itu sangat besar. Demi Tuhan, Ayu gak sanggup ngeliat Bella harus mengalah diantara tekanan demi tekanan yang Bella hadapi, sekalipun itu dari Tante Rania dan Om Biyan, yang notabene merupakan orang tua kandung Bella. Sementara yang Ayu liat ... Om Eros belum ada tuh usaha apapun demi Bella hingga detik ini ..."


Eros terlihat mengusap wajahnya berkali-kali.


Kalimat demi kalimat Ayu seolah menampar Eros dengan telak, oleh karena Eros mengakui bahwa yang diucapkan Ayu tak ada satu pun yang salah, semuanya teramat sangat benar.


Tapi sesungguhnya, bukan tanpa alasan mengapa Eros diam meskipun semua yang terjadi telah menyudutkan Bella sedemikian rupa, karena jujur saja, Eros diam hingga detik ini ... Semua itu justru demi Bella juga ...


NEXT ...

__ADS_1


🧕: Sebelum NEXT jangan lupa support bab ini yah ... 🥰


__ADS_2