
Kemarin, saat diinterogasi oleh warga, Biyan memang mengakui bahwa keberadaannya di daerah mereka semata-mata karena pekerjaan Biyan pada sebuah proyek Pemerintah.
Lokasi pekerjaan tersebut berada di salah satu kecamatan yang ada di paling ujung bagian utara pulau.
Pada saat itu, didalam benak Haris dan semua orang yang menyimak penuturan Biyan, mereka semua berpikir paling-paling jabatan Biyan hanya sebatas mandor proyek atau maksimal seorang project manager.
Tak ada satupun dari mereka yang menyangka jika pria sederhana yang telah menjadi bulan-bulanan tuduhan serta cacian semua orang itu merupakan pemilik dari salah satu perusahaan konstruksi raksasa di tanah air, yang sering memenangkan tender Pemerintah begitu pun juga pihak swasta dengan anggaran fantastis hingga mencapai milyaran rupiah dalam sekali tender.
"Biyan, apakah info yang aku dengar ini benar adanya? Bahwa ternyata sebelumnya kamu telah mengajak Ayu pindah ke rumahmu, dan kalian sudah tinggal bersama di ibukota ..."
Biyan sedikit terhenyak mendengar kalimat to the point yang sama sekali tak terbayangkan oleh Biyan bisa diucapkan oleh Haris, pria yang sehari sebelumnya begitu keukeuh menolak menikahi Ayu, usai mulutnya berhasil menggiring opini buruk serta kesalahpahaman semua orang kepada Biyan dan Ayu dengan begitu mudahnya.
"Kalo memang demikian sih, terus terang aku sungguh kecewa dengan Ayu ..."
Biyan mendengus dalam hati mendengar kalimat Haris yang entah kemana arahnya.
Yang jelas, mendengar pria itu masih saja membahas masalah Ayu yang kini notabene telah menjadi istrinya, terang saja kekecewaan Biyan atas segala ucapan Haris menjadi semakin berlipat ganda, sehingga ibarat sebuah permainan game online, Biyan merasa Haris perlu sedikit di ulti!
"Kenapa kamu masih saja kecewa, Har? Toh hari ini, apapun yang menyangkut Ayu sudah bukan lagi menjadi urusanmu ..."
"Biyan, bukan aku bermaksud untuk menyinggung perasaanmu. Tapi kamu harus tau bahwa kedekatan keluarga kami sudah terjalin sejak lama. Aku sudah mengenal Ayu di seumur hidupku, sementara kamu adalah orang baru ..."
"Tidak masalah menjadi orang baru. Intinya sekarang aku adalah suami Ayu. Aku yang paling berhak atas diri Ayu, juga sosok yang akan bertanggung jawab atas kehidupan Ayu di masa depan, terlepas kamu mengenal Ayu sejak kapan ..." pungkas Biyan cepat.
__ADS_1
Mendengar ucapan tegas Biyan, Haris malah tertawa kecil.
"Sepertinya kamu salah paham denganku ..."
"Tidak juga, Bro. Aku justru sangat bersyukur karena kemarin, kamu telah menolak untuk menikahi Ayu. Ibaratnya aku seperti mendapat durian runtuh, bak mendapatkan rejeki yang turun langsung dari langit ..."
"Syukurlah kalau kamu bisa menerima Ayu apa adanya ..." Haris tersenyum kecut mendengar ungkapan hati Biyan yang berapi-api.
"Percayalah, aku sangat bersyukur atas 'musibah' yang menimpaku ..."
"Jadi itu berarti, kamu juga yakin bahwa kelak putrimu bisa menerima kenyataan tentang sahabat dekatnya yang diam-diam telah berubah status menjadi ibu sambung ...?"
Tenggorokan Biyan tercekat.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?" pungkas Biyan tak sudi membuka peluang bagi Haris, yang semakin melewati batas privacy keluarga kecilnya.
"Apa maksudmu ...?"
"Sudah aku katakan sejak awal, bahwa hal apapun mengenai Ayu sudah bukan urusanmu lagi. Haris, masih lebih baik selesaikan saja masalahmu sendiri, kemudian carilah jalan keluar terbaik dari persoalan pelikmu ..."
"A-apa maksudmu ...?" kedua alis Haris bertaut nyata, dan entah kenapa debaran jantungnya pun kini membuat dirinya mendadak tak tenang.
"Bukankah seorang gadis bernama Yuni sedang menantikan pertanggung-jawaban dari dirimu, Bro ...?" ucap lirih Biyan, yang lebih mirip sebuah bisikan yang sarat akan penekanan dalam setiap kata.
__ADS_1
"Bagaimana kamu ..."
Tawa Biyan telah membuat Haris menjeda kalimatnya sendiri.
"Haris ... Haris ... Asal kamu tahu bahwa sejak awal bertemu denganmu diam-diam aku selalu merasa penasaran, perihal kenapa wajahmu terasa begitu familiar dalam pikiranku ..."
"Biyan, apa maksud ucapanmu ...?"
"Di malam saat sebelum aku menuju daerah ini. Malam itu sudah lumayan larut, dan di lantai enam Hotel FP by SHM, tempat di mana Scor P Bar berada, aku yang sedang bersantai di sana tanpa sengaja mendengar dengan jelas seluruh isi pembicaraan sepasang kekasih. Kalian sedang menghadapi persoalan pelik akibat sebuah perjodohan konyolmu dengan Ayu, sementara disisi lain, Yuni yang tak lain merupakan pacarmu, sedang menuntut tanggung-jawabmu. Benar begitu, bukan?"
Biyan menarik napasnya sejenak menyadari Haris yang kini kepalanya terpekur nyata, tak seperti awalnya yang terlihat garang saat berusaha menyudutkan Biyan begitu rupa.
"Aku hanya mengenalimu lewat pantulan cermin di dinding Scor P Bar, dan cukup terkejut saat menyadari bahwa ternyata kamu adalah pria yang sama. Demi Tuhan Haris, sampai detik ini aku sulit percaya bahwa kamu tega menempatkan Ayu dan keluarganya di posisi seperti itu ..."
Kali ini Haris benar-benar terhenyak ditempatnya, tak sedikitpun menyangka jika persoalan pelik yang selalu ia tutup rapat-rapat dengan sedemikian rapi, begitupun dengan aksi liciknya yang sengaja menempatkan Ayu berada di posisi tersudut dan dihakimi, rupanya diketahui oleh Biyan dengan begitu detail.
Untuk sesaat diantara mereka hanya ada keheningan yang bertahta, sebelum akhirnya tepukan berkali-kali diatas bahu kanan Haris yang terpekur seolah sengaja mengalirkan kekuatan untuk pria itu.
"Haris, aku sungguh berharap kamu bisa mengatasi semua persoalanmu dengan baik. Siapa tahu dengan begitu, kamu bisa mengambil kesempatan untuk menghaturkan permohonan maafmu kepada Ayu dan kedua orang tuanya. Karena yang sesungguhnya memikul kesalahan bukanlah Ayu seorang, melainkan dirimu juga ..."
Bersambung ...
🧕 : Like and Support please ... 🙏
__ADS_1