
Pada akhirnya usaha Bella dan Biyan dalam mencari keberadaan Ayu, tidak membuahkan hasil sedikitpun.
"Balik ke rumah aja dulu, Bell ..." ucap Biyan dengan wajahnya yang kusut, saat menyadari sinar matahari yang telah berada sejajar ubun-ubun.
Biyan memang harus memutuskan untuk kembali ke rumah setelah lelah berputar-putar tak tentu arah, namun tak sedikitpun ia menemukan bayangan Ayu baik di seputaran maupun diluar area kompleks perumahan.
"Papa yakin nih, mau balik sekarang?" tanya Bella sembari mengerling sedikit kearah wajah kusut masai Biyan yang tak beraturan.
"Iya, Bell, kepala Papa juga pening ini. Lagian, siapa tau Ayu juga udah balik ke rumah ..." ucap Biyan penuh harap.
"Ya udah, kalo gitu kita balik dulu deh. Siapa tau feeling Papa emang bener, kalo Ayu udah balik ke rumah ..."
Biyan mengangguk lesu, sembari bersandar di jok mobil, lagi-lagi sambil memijat kedua alisnya dengan dua jemarinya.
Meskipun Bella terlihat anteng dibelakang kemudi, namun bukan berarti Biyan tidak sadar jika dirinya berhutang penjelasan untuk anak gadisnya itu.
Jujur saja saat ini Biyan sendiri bingung berat harus memulai obrolan tersebut darimana, meskipun di sisi lain Biyan juga meyakini lebih dan kurangnya ... Bella pasti sudah mulai paham duduk perkara dari kegalauan Biyan yang dikarenakan Ayu.
"Bell, Papa minta maaf ya ..."
Akhirnya ucapan maaf-lah yang dipilih Biyan sebagai kalimat pembuka.
"Kok Papa malah minta maaf sih ...?" alis Bella jelas terlihat bertaut saat gadis itu kembali mengerling kecil kearah Biyan.
"Iya, Bell, Papa minta maaf karena telah menyembunyikan semuanya. Maksud Papa, tentang hubungan Papa sama Ayu ..."
Helaan napas berat terdengar meluncur sempurna dari mulut mungil Bella.
Jujur saja, memang Bella mulai bisa meraba kenyataan seperti apa yang hendak diuraikan Biyan perihal Ayu, yang tak lain merupakan sahabat terbaik Bella sejak mereka saling mengenal untuk pertama kalinya di kampus dan fakultas yang sama lebih dari dua tahun yang lalu.
Bahwa kemungkinan besar wanita yang dicintai Papanya itu tak lain adalah Ayu, dan sesuai pengakuan Papanya sebelumnya ... bahwa mereka bahkan telah menikah.
Swear, bagi Bella pribadi siapa pun gerangan wanita itu, selagi bisa membahagiakan Papanya, maka Bella sama sekali tidak keberatan.
Tapi rasanya adalah hal yang wajar jika disaat yang sama Bella juga merasa bingung dan butuh penjelasan.
Mengapa harus Ayu ...?
Dan bagaimana bisa ...?
Selama ini Ayu bahkan tidak pernah mengatakan apapun, juga tidak sekalipun menunjukkan gestur yang mencurigakan.
Entahlah ...
Saat ini Bella bahkan merasa bingung untuk menentukan sikap. Apakah dirinya harus kecewa telah dibohongi sekaligus oleh Papa dan sahabat dekatnya, atau sebaliknya bersyukur karena Papanya bisa mendapatkan wanita yang sebaik Ayu ...?
__ADS_1
"Sejak awal Papa udah tau jawabannya kan? Buat Bella pribadi sih gak masalah, Pa, selagi Papa bahagia, terlebih jika Ayu juga bisa menerima, menyayangi dan mencintai Papa dengan tulus. Bella hanya gak habis pikir aja bagaimana ceritanya Papa dan Ayu bisa menikah. Kenapa seperti ada yang janggal dalam kisah cinta Papa sama Ayu ..."
"Panjang ceritanya, Bell."
Jawab Biyan yang seolah tak ingin lagi menyembunyikan apapun demi mendapatkan sedikit saja kelegaan dihatinya, diantara berbagai persoalan demi persoalan yang datang silih berganti seolah tak pernah usai.
"Cerita dong, Pa, kan Bella juga penasaran, kok bisa Papa jadian sama Ayu ...? Sejak kapan tepatnya? Mana Ayu juga gak ada ngomong apapun ..."
"Bella yakin bersedia mendengar semuanya?" ucap Biyan lagi sambil menatap penuh kearah Bella yang masih setia dibelakang kemudi.
"Yakin dong. Kalo Papa merasa udah saatnya Bella tau. Tapi ... Bella rasa emang udah saatnya juga Bella tau semuanya. Lagian liat nih akibat dari ulah Papa yang ngumpetin istri Papa melulu, salah pahamnya malah jadi melebar kemana-mana ..."
"Iya Bell, Papa nyesel gak bersikap tegas dari awal. Giliran sekarang aja semuanya udah terlambat ..."
"Gak ada kata terlambat untuk sebuah kejujuran, Pa ..."
Biyan terpekur mendengar penuturan Bella yang terucap tenang, membuat setitik rasa penyesalan kembali hadir begitu saja di sudut hatinya.
Penyesalan yang dikarenakan oleh dirinya sendiri yang salah menentukan sikap, sehingga menyepelekan kehadiran Ayu dan membuat perasaan gadis itu terluka.
"Iya, Bell. Seandainya aja Papa gak sepengecut itu untuk berkata jujur dari awal, mungkin situasinya gak akan sekacau sekarang ..."
"Gak pa-pa kok, Pa, cerita aja semuanya jangan sungkan. Anggap aja Bella teman curhat Papa. Bella siap kok mendengar semua cerita Papa ..."
Biyan merasa seolah ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang mengalir dari sana, oleh karena dukungan penuh dari Bella yang seolah tak pernah sekalipun letih menyokong Biyan, dalam situasi dan kondisi terburuk sekalipun ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Biyan kembali menelan kecewa, begitu mendapati rumahnya masih sama seperti yang terakhir kali ia dan Bella tinggalkan, karena jejak kehadiran Ayu sama sekali tidak terlihat di sana.
Belum sempat Biyan menaruh tubuhnya lesunya keatas sofa manakala ponselnya yang tersimpan di saku celananya nyata berdering.
Biyan bergegas mencari tau siapa gerangan sang penelepon, berharap itu dari Ayu namun ternyata ia keliru.
Panggilan telepon itu ternyata datangnya justru dari seorang pria yang telah membuat Biyan kesal setengah mati, siapa lagi kalau bukan Eros Rahadian!
Pria brengsek yang selama ini merupakan sahabat terbaik Biyan, namun ternyata dibalik itu semua malah tega memacari putrinya diam-diam.
"Ada apa lagi?!"
Dingin suara Biyan tak terelakkan, membuat Bella yang hendak menyuguhkan segelas kopi hitam untuk Papanya refleks menahan langkah dibalik tembok pembatas dapur dan ruang tengah.
"Biyan, kita harus bicara ..." ucap Eros to the point dari seberang sana.
"Mau bicara apa lagi? Bukannya kamu udah tau seperti apa keputusanku ...?"
__ADS_1
"Yan, I'am so sorry, tapi dengan berat hati aku harus mengatakannya, bahwa aku gak bisa menerima keputusan sepihak kamu begitu aja ..."
"Cih, memangnya siapa kamu, berani bener protes dengan keputusanku ...?" sembur Biyan dingin tapi galak.
Helaan napas berat Eros terdengar jelas dari seberang sana. "Terserah deh kamu mau ngomong apa, tapi kalo kamu menolak bertemu dan bicara baik-baik ... Maka dengan terpaksa aku yang akan samperin kamu ke rumah ..."
"Gak ...! Gak boleh ...!" sergah Biyan buru-buru, dengan intonasi berang.
'Enak aja si cecunguk itu mau nyamperin ke rumah ini. Ntar kalo Bella liat dia dan makin nekad aja, trus ikut-ikutan minggat kayak Ayu, gimana coba ...?'
Tuh kan ... Belum juga apa-apa tapi Biyan udah overthinking duluan.
"Biyan ..."
"Baik. Katakan di mana kita akan bertemu, dan aku akan kesana sekarang juga ..." pungkas Biyan pada akhirnya sambil bergegas bangkit dari duduknya, langsung menyambar kunci mobil yang tergolek diatas meja ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat menerima tawaran Eros untuk bertemu, Biyan sempat merasa keheranan.
Eros telah memilih area food court dari sebuah mall yang cukup ramai pengunjung, yang situasi dan kondisinya ...
Yassalam.
Rasanya tak perlu-lah Biyan menjelaskannya panjang lebar bagaimana semrawutnya keadaan tempat tersebut, karena sepertinya gambaran semua orang tentang area food court yang lazim letaknya di lantai atas mall-mall tersebut, pastinya sudah bisa dipahami oleh semua orang.
Yups, area food court yang situasinya riuh karena letaknya yang selalu berdekatan dengan area tempat bermain anak-anak.
Sumpek, ramai, sesak, dan sudah pasti bukanlah tempat yang cocok untuk bicara, tapi apa boleh buat Eros justru keukeuh ingin bertemu muka ditempat yang suasananya seperti itu, entah karena pertimbangan apa.
"Ngomong ditempat se-sumpek ini, gak salah kamu?" Biyan menatap sebal kearah Eros yang duduk dihadapannya dengan kedua lengan memeluk dada.
"Emangnya kalo di sini kita gak bisa ngomong?" Jawab Eros seadanya, yang kelihatannya berusaha untuk tidak terpengaruh sedikitpun dalam menghadapi sikap Biyan yang dingin dan datar.
Bukan tanpa alasan mengapa Eros sengaja mengajak bertemu muka pria itu ditengah keramaian.
Tau kenapa ...?
Yah, tentu saja karena Eros yakin betul Biyan sedang menyimpan kemarahannya yang luar biasa dashyatnya, yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja.
Sehingga dengan berada ditengah keramaian seperti ini, sudah pasti bisa menghalangi niat Biyan untuk menguliti dirinya hidup-hidup ...!
Bersambung ...
🧕: Jangan lupa di support yah 🤗
__ADS_1