
'Nasi sudah menjadi bubur.'
Mungkin peribahasa inilah yang paling tepat dalam menggambarkan situasi yang sedang Biyan hadapi saat ini.
Demi Tuhan, Biyan sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana bisa dirinya berada dalam situasi pelik di mana sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya seolah tak ada satupun yang berarti.
Alhasil Biyan memilih tutup mulut demi tetap menjaga kestabilan emosi semua orang agar situasinya tetap kondusif.
Bukan apa-apa, karena menurut perhitungan Biyan, apabila dia terus berusaha membela diri maka pria bernama Haris yang tak lain dan tak bukan sedianya merupakan calon suami Ayu sudah pasti akan semakin tersulut emosi bahkan bisa kembali menonjoknya seperti yang telah dilakukan pria muda itu saat hendak meringsek masuk kedalam kamar Biyan.
Saat ini Biyan memilih untuk mengalah, sama sekali bukan karena Biyan takut menghadapi pria bernama Haris, melainkan karena Biyan memikirkan kondisi Ayu yang terguncang sehingga nyaris tak berhenti menangis sejak tadi, juga kondisi Ayah Ayu yang masih terlihat shock.
Usai keributan yang terjadi begitu Ayu tertangkap basah berada didalam kamar Biyan, pada akhirnya Biyan harus rela digelandang keluar dari hotel tersebut tanpa sedikitpun perlawanan.
Akhirnya dengan menaiki sebuah mobil yang kerap disebut sebagai mobil sejuta umat, Biyan hanya bisa pasrah saat dirinya didudukkan di jok belakang, berdempet-dempetan dengan dua pria lainnya di kanan kiri, membuat sepintas kondisi Biyan sudah tak ada bedanya dengan seorang tahanan!
Haris terlihat menyetir mobil dengan seorang pria tak dikenal yang duduk disebelahnya, sedangkan Ayu dan sang Ayah duduk di barisan tengah.
Kemudian sepanjang perjalanan yang berkisar kurang lebih empat puluh lima menit tersebut, suasana didalam mobil sebagian besar hanya diisi keheningan, sebelum akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat disebuah rumah yang saat ini terlihat lenggang, namun sebuah tenda kanopi yang ukurannya tidak terlalu besar telah digelar tepat dihalaman.
Suasana tenang khas perkampungan pun langsung menyapa, begita mereka semua turun beriringan dari dalam mobil, guna memasuki rumah bertipe sederhana bercat hijau muda.
Sepintas Biyan bisa mengambil kesimpulan bahwa seharusnya dirumah sederhana tersebut mungkin hendak diadakan sebuah hajatan kecil, sebelum akhirnya urung dilaksanakan oleh karena satu dan lain hal.
__ADS_1
Apakah hajatan tersebut adalah prosesi pernikahan dadakan seperti yang diceritakan Ayu ...?
Entahlah ... Tapi sepertinya memang iya, dan keyakinan Biyan menjadi semakin kuat, manakala ekor matanya telah menangkap beberapa pasang mata penasaran milik para tetangga yang diam-diam mengintip dari balik tirai jendela rumah mereka masing-masing, seolah kepo dengan apa yang hendak terjadi selanjutnya.
Di kiri dan kanan, Ayu dan Haris terlihat menuntun tubuh lemah sang Ayah yang melangkah perlahan masuk kedalam rumah, sementara Biyan menyusul dari belakang, lagi-lagi masih diapit oleh tiga pria tak dikenal, seakan-akan mereka memang sengaja melakukan semua itu karena takut kalau-kalau Biyan akan melarikan diri.
Sayup-sayup suara isak tangis tertahan terdengar lirih dari dalam rumah, yang ternyata berasal dari seorang wanita paruh baya yang sedang menangis tersedu di sofa panjang.
Wanita paruh baya itu terus ditenangkan oleh beberapa orang wanita paruh baya lainnya, sementara disudut yang lain seorang pria tua terduduk lesu diatas kursi roda, tepat berdampingan dengan seorang pria berpeci hitam.
Biyan tidak tau mereka siapa, tapi feeling Biyan mengatakan bahwa wanita yang sedang menangis itu sepertinya ibunya Ayu.
Ternyata dugaan Biyan tidak meleset sama sekali manakala detik berikutnya Ayu terlihat menghambur dan bersimpuh tepat dibawah kaki sang ibu sambil terisak.
"Bu, maafin Ayu, Bu ... Ayu memang salah, tapi Ayu bisa jelasin semuanya kok. Demi Tuhan, Bu ... Ini gak seperti yang ada dipikiran Ibu ... Ayu berani bersumpah ..."
Kembali setitik penyesalan hinggap di hati Biyan begitu saja tanpa bisa tercegah.
Penyesalan yang bertubi-tubi tentang keputusannya yang begitu gegabah saat dirinya nekad membawa Ayu masuk kqedalam kamarnya.
'Apa yang harus aku lakukan, Tuhan ...?'
'Aku telah mencoreng nama baik seorang gadis tak bersalah, begitupun dengan keluarganya. Lalu aku harus apa untuk menebus semua kesalahanku ini ...?'
__ADS_1
Biyan membathin gamang, ditengah suasana mencekam yang sedang mengelilinginya dengan tatapan mata penuh penghakiman, seolah Biyan telah melakukan tindakan buruk paling keji diatas muka bumi ini.
Pikiran Biyan semakin buntu total, sehingga yang terpikir olehnya hanya bahwa dirinya sanggup melakukan apa saja, demi bisa menebus kesalahannya.
Yah, syukur-syukur jika bisa mengembalikan nama baik Ayu dan kedua orang tuanya yang tercoreng, begitupun juga dengan nama baik keluarga dua belah pihak.
Hari ini Biyan bahkan rela jika dirinya harus bersumpah dibawah kitab suci demi bisa mempertahankan kebenarannya, namun disisi lain Biyan juga sadar bahwa dalam situasi seperti ini ... Siapa yang akan percaya kepadanya ...?
Seandainya juga semua yang terjadi bisa ditebus dengan uang ... Maka berapapun jumlahnya akan Biyan sanggupi.
"Mari kita akhiri semua ini ..."
Sebuah kalimat dingin nan datar yang terucap tajam telah mengalihkan perhatian semua orang yang berada diruang tamu yang tidak terlalu lapang, di mana Haris kini telah berdiri tepat ditengah.
"Ayah, Ibu, Om Arif, Tante Arum, dan ... Ayu ..."
Ucap Haris sambil menarik napasnya sejenak. Sepasang matanya telah menatap satu-persatu wajah-wajah tegang milik semua orang yang kini semuanya terpusat hanya padanya.
"Maafkan aku karena dengan sangat menyesal, aku harus mengatakan semua ini ..."
Desis Haris Lirih, kemudian pada detik berikutnya Haris pun berbalik menghadap penuh kearah Biyan dengan telunjuknya yang terangkat.
"Biyan Erlangga ...!!! Kamu telah mencoreng nama baik keluargaku juga nama baik keluarga Ayu ...!!! Kamu harus bertanggung-jawab ...!!!"
__ADS_1
NEXT ...
Jangan Lupa di support yah 🙏