HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
KEGILAAN BIYAN


__ADS_3

Seharusnya Biyan memang tidak boleh begadang, mengingat besok pagi tepat jam delapan sesuai jadwal dari maskapai yang ia terima, pesawat komersil yang akan Biyan tumpangi akan take off dari Bandar Udara SRL.


Namun karena pikiran yang kalut penuh beban, usai menerima telepon absurd dari Rania, Biyan pun memilih bangkit dari pembaringan, menyetel alarm ponselnya terlebih dahulu untuk besok hari tepat di jam lima pagi, sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kamarnya setelah memastikan penampilannya sejenak didepan cermin.


Biyan merasa perlu sedikit menenangkan diri sambil menikmati minimal segelas cocktail, guna membantunya tidur malam ini.


Dan di sinilah akhirnya Biyan berada, di lantai enam Hotel FP by SHM, tempat di mana Scor P Bar berada.


Sesaat yang lalu Biyan telah menemukan informasi, bahwa hotel bintang lima tempat ia menginap ternyata memiliki sebuah bar yang suasananya lumayan cozy, lengkap dengan area terbuka yang juga terdapat swimming pool, dan dari sana juga Biyan puas menikmati view kota M yang terlihat gemerlap di malam hari.


Alih-alih ingin meringankan beban pikiran, yang ada dalam kesendirian, pikiran Biyan malah kembali tertuju pada persoalan yang sama, masih seputar pembicaraan terakhirnya dengan Rania.


Tak bisa dipungkiri, meskipun terkesan tidak mempercayai ucapan Rania perihal rasa keberatan mantan istrinya itu atas keberadaan Eros dan Ayu, namun diam-diam hati Biyan cukup tersentil juga untuk memikirkan dan menelaahnya kembali.


Tentang kebaikan Eros selama ini yang telah dicurigai Rania sebagai usaha agar bisa mendekati Bella putri mereka ...


Apa iya Eros mempunyai perasaan seperti itu ...?


Entah kenapa Biyan meragukannya. Karena kalau dipikir-pikir, selama ini sikap Eros terlihat cukup wajar dalam menghadapi Bella. Bahkan bisa di bilang ... justru Bella yang sering bermanja terlalu berlebihan.


Lalu mengenai Ayu ...


Hemm ...


Biyan bahkan terkejut, karena secara tidak sadar ia menyadari, mengapa tiba-tiba bibirnya membentuk sebuah senyum.


Rania sungguh berlebihan!


Bagaimana mungkin wanita secerdas dan se-percaya diri Rania bisa begitu cemburu pada Ayu yang begitu baik ... Begitu lembut ... Begitu polos ... Sederhana ... Keibuan ... dan ...


'Egh ...?'


'Astaga, bagaimana bisa aku malah mengurai semua kelebihan Ayu dengan begitu gamblang, tanpa ada kesulitan sama sekali?'


'Tapi ... Ayu memang se-perfect itu sih ...'


Lagi-lagi Biyan harus mengakui semua kelebihan Ayu, sehingga kemudian menyimpulkan bahwa wajar saja jika Rania bisa mencemburui Ayu begitu rupa.


"Gadis itu bahkan lebih pintar masak ketimbang Rania ..."

__ADS_1


Glek.


Usai bergumam lirih Biyan refleks langsung menutup mulutnya, kaget sendiri.


'Gaaakk ... Gakkk ... Kenapa sekarang aku malah sibuk mikirin Ayu dan membanding-bandingkan dengan Rania ...?'


'Astagaaaa ... Semua ini gara-gara kecemburuan Rania yang membabi buta!'


Biyan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah ingin mengenyahkan bayangan wajah Ayu yang tiba-tiba bergentayangan didalam benaknya.


'Biyan, stoped it ... Hentikan ... Pleaseee ...'


'Untuk apa memikirkan gadis belia berusia sembilan belas tahun, yang bahkan dia seumuran dengan putrimu sendiri ...?'


'Oh my ... Please, Biyan ... Pleaseeee ...'


Diam-diam Biyan telah mengetuk kepalanya berkali-kali dengan buku jari, berusaha keras menghilangkan berbagai pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba menginvasi otaknya dalam sekejap ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mau sampai kapan kita seperti ini ...? Mau sampai kapan kamu mau menyembunyikan aku ... Juga hubungan kita ...?"


"Aku mau kepastian, Har ... Aku gak mau digantung terus ..." suara Yuni bergetar.


"Yun, aku kan udah janji aku akan melakukannya. Tapi tolong kasih aku kesempatan, buat nyari waktu yang tepat untuk mengutarakan semua isi hatiku ini kepada kedua orang tuaku, juga kepada Ayu ..."


"Lalu waktu yang tepat itu kapan, Har ...?"


"Sekarang Papaku lagi sakit, Yun. Mana mungkin aku mengatakan tentang kita ...?"


"Tapi justru karena sekarang Papamu sakit, sehingga Papamu mendesak agar pernikahan kamu dan Ayu dipercepat. Trus kalo udah begitu, lalu kapan kamu mau nyari waktu yang tepat, Har ...? Keburu kalian nikah, tau gak?? Trus aku gimanaaa ...?!"


"Yuni, Sayang ... Tenang dulu dong. Jangan emosi kayak gitu, itu gak baik untuk kesehatan kamu ..."


"Kalo sampai kamu nikah sama Ayu, aku bersumpah kamu akan nyesel, Har. Jangan salahin aku kalo aku akan ..."


"Ssssstttt ... Udah, udah, jangan diterusin karena aku gak mau denger." Haris yang serentak bangkit dari kursi sontak mendekat guna merengkuh kedua bahu Yuni kedalam pelukannya.


Isak tangis Yuni pun memecah lirih dalam dekapan Haris, seolah pertanda bahwa amarahnya mulai luluh ... Berganti kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


"Sayang, aku bersumpah aku gak akan pernah nikah sama Ayu dan ngecewain kamu. Please, kasih aku waktu untuk menyelesaikan semua persoalan ini, dan begitu semuanya selesai ... aku akan jemput kamu untuk aku bawa kehadapan orang tuaku ... aku janji ..." bisik Haris penuh kesungguhan, yang di balas anggukan Yuni, masih dalam pelukan hangat Haris.


'Drama apa lagi ini, Tuhan ... Udah otak aku mumet, malah disuguhi adegan sinetron ikan terbang ...'


Biyan ngedumel dalam hati.


Rupanya saat Biyan berusaha menjernihkan pikiran dengan jalan mengetuk-ngetuk batok kepalanya sendiri dengan buku jarinya, tepat dibelakang punggung Biyan, drama satu babak yang terjadi antara sepasang muda-mudi yang tengah duduk berhadap-hadapan sedang berlangsung alot, yang kemudian berakhir dengan adegan teletubies alias berpelukan.


Biyan sendiri tidak perlu menengok langsung untuk menyaksikan adegan uwwu tersebut, karena lewat pantulan cermin-cermin besar yang menjadi bagian dari ornamen Scor P Bar, semuanya telah terpantul dengan sedemikian jelas.


"Kenapa kebetulan banget yah, pas aku lagi berusaha ilangin sosok Ayu dari pikiran aku, mereka malah ngeributin gadis bernama 'Ayu' ..." desis Biyan pada dirinya sendiri, sambil meneguk gelas berisi cocktail yang ada dihadapannya hingga tandas.


Biyan nyengir menyadari hal kebetulan yang membuatnya dirinya memutuskan untuk segera beranjak dari duduknya, dari pada harus menjadi saksi bisu dari ke-uwwuan yang bisa membuat jiwa duda-nya meronta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat jam sebelas malam saat Biyan kembali memasuki kamar miliknya dan menghempaskan tubuhnya ke tepian ranjang, sambil menimang ponsel di tangan.


Biyan bahkan tidak tahu kegilaan apa yang sedang merasukinya malam ini sehingga bathinnya sangat tergoda untuk menelpon Ayu.


Sudah jam sebelas malam, Biyan berpikir bahwa seharusnya sih Ayu memang sudah tidur.


Namun manakala Biyan tersadar bahwa selama dia bahkan sering menelpon Ayu di jam yang tidak wajar, maka dorongan keinginan gila Biyan seolah semakin berkobar.


Biyan memang sering menelpon Ayu pada jam satu dinihari, jam dua dinihari, bahkan pernah sampai jam tiga dini hari hanya untuk mengecek keadaan Bella, dan sejauh ini tak pernah sekalipun telpon Biyan tidak direspon oleh Ayu.


Yah ... Biyan ingat betul, bahwa gadis itu selalu mengangkat panggilan telponnya, tak peduli mau jam berapapun Biyan menelpon.


Baiklah ... Bisa jadi semua tindakan gila Biyan saat ini diakibatkan oleh kegilaan Rania, atau efek cocktail yang mulai bekerja, atau jangan-jangan justru terpicu perdebatan muda-mudi di Scor P Bar barusan ...


Entahlah ...


Karena detik ini Biyan tidak mau lagi capek-capek memikirkan apapun, selain menekan panggilan atas nama 'Ayushita', yang tertera jelas di layar ponselnya ...


...


Bersambung ...


🧕: Untukmu, Reader-ku yang setia, Terima Kasih 🙂

__ADS_1


__ADS_2