
"Sungguh, sebenarnya aku merasa sangat malu harus membuka semua aib ini dihadapan keluargamu, Rif. Tapi ya sudahlah ... Akan aku buka saja semuanya, karena kalian sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri ..."
"Memangnya ada apa Juragan? Kenapa kedengarannya serius sekali ...?" tanya Arif Rahman dengan kedua alis yang bertaut, begitu mendengar kalimat Juragan Ibrahim yang terucap dengan nada suaranya yang mendalam.
"Iya, Rif. Aku ingin membuka kenyataan perihal kesulitan ekonomi yang aku hadapi dalam beberapa tahun belakangan ini ..."
Bukan hanya Arif Rahman dan istrinya yang sedikit terkejut mendengar penuturan Juragan Ibrahim, karena diam-diam Biyan yang sejak tadi duduk diam di ujung ruangan pun menjadi sedikit penasaran.
'Kesulitan ekonomi ...?'
'Bagaimana mungkin orang terkaya di kampung ini tiba-tiba mengaku sedang kesulitan ekonomi ...?'
Begitu kira-kira isi otak Biyan, yang meskipun semua pembahasan yang terjadi sejak awal bisa dibilang tidak ada yang benar-benar membuatnya tertarik, namun Biyan lebih memilih bersikap menghargai dengan tidak berusaha menyela apalagi sampai keluar dari pembicaraan dua keluarga yang terkesan sangat dekat itu.
"Semuanya berawal dari beberapa tahun yang lalu, entah kenapa aku bisa tergiur ikut serta dalam melakukan investasi bodong yang ditawarkan seorang kenalan. Diiming-imingi akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda membuat aku masuk kedalam perangkap begitu saja. Aku bahkan nekad membuka pinjaman Bank dengan jumlah yang cukup besar dengan jaminan sertifikat seluruh lahan perkebunan, begitupun juga dengan sertifikat rumah ini. Namun dari sekian janji itu, semuanya zonk. Aku telah ditipu habis-habisan, Rif. Uangku lenyap dalam sekejap mata, tak berbekas, ditambah lagi dalam setahun terakhir harga kopra terus anjlok di pasaran. Rif ... Saat ini aku benar-benar tak berdaya. Aku bangkrut. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa. Kondisi kesehatanku pun ikut terganggu, apalagi setiap kali mengingat bahwa sewaktu-waktu bisa saja lahan perkebunan begitupun dengan rumah ini terancam di sita oleh pihak Bank ..."
Arif Rahman tak bisa berkata apa-apa mendengar semua penuturan yang cukup mencengangkan.
Sungguh, Arif Rahman bahkan tidak bisa mempercayai semua cerita itu jika saja bukan Juragan Ibrahim sendiri yang membeberkannya.
"Seandainya saja ada yang bisa membayar lahan perkebunan itu sedikit saja lebih mahal dari beberapa penawaran standar yang aku terima saat ini, maka aku sudah berbulat hati untuk melepaskan semuanya, Rif. Asalkan bisa menebus semua hutang Bank, kemudian sisanya akan aku pergunakan untuk bekal masa tua kami nanti ... Itu saja sudah cukup ..."
Arif Rahman terdiam sejenak, sibuk memutar otak bagaimana caranya agar dirinya bisa membantu Juragan Ibrahim dalam situasi seperti ini.
Keluarga Arif Rahman sendiri hanya keluarga kecil dengan kehidupan perekonomian yang pas-pasan, yang dalam keseharian, mereka juga tidak pernah bersinggungan apalagi memiliki kenalan orang-orang penting.
"Kenapa tidak mencoba menawarkan kepada para pejabat di daerah ini? Siapa tau mereka mampu membayar sesuai jumlah kebutuhan Juragan ..." ungkap Arif Rahman tiba-tiba, namun gelengan kepala Juragan Ibrahim seolah langsung mematahkan buah pikiran Arif Rahman tersebut.
__ADS_1
"Sama saja, Rif. Seperti halnya para pengusaha lokal, para pejabat daerah pun tidak ada yang bersedia membayar penuh area lahan perkebunan secara keseluruhan. Mereka selalu menawar dengan harga yang sangat rendah, padahal harga yang aku tawarkan sudah jauh dibawah standar. Kalau aku nekad menerima tawaran mereka, lalu bagaimana bisa aku menyelesaikan semua kesulitan kami, jika aku tidak mendapatkan uang sesuai target yang aku butuhkan ...?"
Biyan yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan tersebut pada akhirnya tak kuasa menahan diri lebih lama untuk tidak menyela.
"Ehemm, maaf Juragan kalau boleh tau, memangnya seberapa luas area perkebunan kelapa milik Juragan, dan berapa harga yang ditawarkan Juragan ...?"
Menanggapi suara Biyan yang tiba-tiba menyela membuat semua mata yang berada di ruangan tersebut mengarah ke sudut ruangan, kearah Biyan yang sejak tadi kehadirannya bahkan nyaris terlupakan.
Juragan Ibrahim pun menyebut puluhan hektar area lahan perkebunan kelapa miliknya, sekaligus harga penawaran yang ia berikan.
Mendengar penjelasan Juragan Ibrahim yang terucap secara mendetail diam-diam membuat Biyan merasa takjub.
Bukan apa-apa, sebagai seorang pengusaha yang terbilang cukup sukses dan sudah melanglang buana di bidang konstruksi yang ia lakoni, Biyan sangat kaget saat mengetahui kenyataan bahwa ternyata kisaran harga tanah per meter di daerah ini bisa dikategorikan cukup rendah.
Bayangkan saja, di saat harga tanah di perkotaan sudah mencapai jutaan rupiah per meternya, bagaimana mungkin untuk puluhan hektar lahan perkebunan yang ditumbuhi pohon kelapa dengan buahnya yang cukup produktif, hanya dihargai dengan begitu murah?
Bahkan anehnya lagi, bisa-bisanya para pejabat dan pengusaha lokal menganggap bahwa harga segitu tergolong cukup fantastis.
Bak bumi dan langit saja bedanya ...!
Rasanya Biyan masih belum bisa mempercayai pendengarannya sendiri.
Sungguh, tanpa berniat memandang rendah nilai rupiah yang ditawarkan sang Juragan, terus terang saja bahwa angka tersebut bisa dikategorikan sangat kecil dan tidak ada apa-apanya bagi seorang Biyan Erlangga.
"Biyan, apakah kamu punya solusi untuk permasalahanku saat ini? Kamu kan berasal dari kota besar, siapa tau kamu punya kenalan yang berminat untuk membelinya ..." ujar Juragan Ibrahim kemudian, sambil menatap Biyan yang sempat terdiam berjenak-jenak dengan tatapan penuh harap.
"Oh iya, Biyan, bagaimana dengan bos kamu?" ucap Arif Rahman yang tiba-tiba ikut menyela dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Boss ... Aku ...?" ulang Biyan sedikit ragu saat mengulang maksud dari kalimat ayah mertuanya yang terdengar absurd.
"Iya, Biyan, maksud Ayah, bos kamu yang mendapatkan tender proyek ditempat kamu bekerja saat ini. Orang itu sudah pasti bos besar kaya raya yang punya banyak uang. Siapa tau dia tertarik untuk membeli lahan perkebunan milik Juragan Ibrahim ..." ungkap Arif Rahman yang semakin terlihat percaya diri.
Untuk sesaat Biyan rada nge-lag dengan kalimat Arif Rahman, namun pada detik berikutnya akhirnya Biyan tersadar bahwa sepertinya baik ayah mertuanya, Juragan Ibrahim, dan pastinya semua orang ...
Mereka semua sepertinya belum mengetahui bahwa sesungguhnya, Biyan-lah yang merupakan pemilik perusahaan konstruksi bonavide yang saat ini sedang dipercayakan pemerintah pusat untuk menangani salah satu proyek raksasa di daerah mereka.
"Ah, itu ... Itu ... Bisa diatur ..." pungkas Biyan pada akhirnya meskipun sedikit tergeragap, karena Biyan yang sempat bingung harus menjawab seperti apa.
Mau mengakui dengan jujur bahwa sebenarnya dirinya yang merupakan bos besar yang mereka maksudkan, namun Biyan malah berbalik insecure sendiri, juga salah tingkah sendiri.
"Biyan, kamu yakin bisa mendapatkan jalan keluar untuk mendapatkan orang yang mampu membeli lahan perkebunan ayah ...?"
Kali ini Haris yang terdengar ikut andil, dalam meyakinkan dirinya, bahwa bisa jadi Biyan merupakan orang yang tepat yang bisa diandalkan, untuk mendapatkan solusi terbaik yang diharapkan dalam persoalan pelik keluarganya.
"Kalo masalah itu, akan aku usahakan ..."
"Akhhh ... Biyan, aku benar-benar berharap kamu bisa membantu kami ... Please ..."
Tatapan penuh harap tidak hanya Biyan dapatkan dari Haris seorang, melainkan dari setiap pasang mata yang ada di ruangan tersebut.
Mendapati begitu banyak harapan yang seolah menjejali pundaknya membuat Biyan tak lagi berpikir dua kali saat memutuskan untuk mengangguk.
Kemudian Biyan pun menarik napasnya sepenuh rongga dada, sebelum akhirnya berucap dengan penuh keyakinan ...
"Kalian tenang saja. Karena kalau hanya seperti itu bentuk permasalahannya, maka aku bisa menjamin seribu persen bahwa aku pasti bisa memberikan jalan keluarnya ..."
__ADS_1
Bersambung ...
🧕: Like, comment, gift and vote, please 🙏