HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
BUNYI PERUT


__ADS_3

Aku awali awal tahun 2023 ini dengan penuh kekecewaan ...!!!


Semua level novel anjlok, level Author yang merupakan hasil akumulasi kerja keras dari total 6 karya kontrak (4 karya tamat dan 2 karya ongoing) telah dipangkas tanpa perasaan.


Terima kasih Noveltoon, platform kebanggaanku yang sangat aku cintai. Sebagai Author remahan yang tak ada apa-apanya, aku akan selalu setia berkarya demi para Reader yang mencintai karyaku dengan penuh ketulusan, karena aku percaya karyaku tidak remahan.


...


Untuk semua reader setiaku, maaf jika aku tidak se-produktif author kebanggaan kalian yang lain, maaf jika aku sering mengecewakan kalian.


Aku mencintai kalian, juga mencintai karya yang aku tulis dengan sepenuh hati. Tapi pada kenyataannya, tak semudah itu menguras pikiran sekalipun itu demi hal yang kita cintai, sementara yang kita dapatkan tidak sebanding.


CRAZY UP kali ini aku persembahkan atas rasa kekecewaanku yang terdalam ... 🙏


...


Pada beberapa jam yang lalu, Biyan bahkan tidak memikirkan apakah yang ia lakukan ini benar atau salah.


Namun setelah semuanya terjadi barulah Biyan tersadar dan mulai berpikir tentang hal tersebut, tepat disaat semuanya sepertinya sudah sangat terlambat.


Yah, sangat terlambat.


Karena mendapati Ayu yang tersedu dipelukannya pada beberapa jam yang lalu, tanpa bisa berkata dan menjelaskan apa-apa serta memperlihatkan betapa kacaunya gadis yang biasanya terlihat sangat mampu mengendalikan diri dan emosinya itu bahkan tak bisa mengendalikan laju air matanya telah membuat otak Biyan seolah lumpuh total.


Tanpa berpikir panjang, Biyan yang sangat mengkhawatirkan kondisi Ayu langsung membawa Ayu keluar dari cafe tersebut.

__ADS_1


Yang ada didalam otak Biyan cuma satu, Biyan ingin menenangkan Ayu, tapi tentu saja bukan ditempat umum seperti area bandara, dimana mata semua orang bisa memandangi mereka dengan tatapan kepo.


Kurangnya pengetahuan Biyan tentang kota kecil tempat dirinya berada saat ini membuat Biyan sempat bingung harus membawa Ayu ke mana, sehingga secara sepihak Biyan akhirnya memutuskan untuk pergi ke hotel kecil tempat dirinya akan menginap selama dua malam.


Ayu yang saat itu terlihat sangat kacau hanya menurut saja ke mana Biyan membawanya, sampai akhirnya kini mereka berdua telah berada disebuah kamar hotel sederhana, namun untung saja terkesan cukup bersih dan layak huni.


"Ay, makan dulu yah ..." ujar Biyan kearah Ayu yang duduk terpekur pada sebuah kursi kayu yang merupakan satu-satunya kursi yang tersedia dikamar tersebut.


Biyan yang baru saja menerima layanan pesanan makanan yang telah ia pesan secara online untuk makan siang mereka langsung menaruh tas kresek berisi dua kotak makanan serta dua botol air mineral berukuran besar, keatas meja kayu yang berada tepat dihadapan Ayu.


Ayu terlihat menggeleng perlahan. "Ayu gak laper, Om ..." jawab Ayu masih sambil tertunduk dalam, dengan suaranya yang serak.


"Kalo kamu gak makan nanti kamu sakit loh, Ay ..."


Hening.


Sampai detik ini Biyan bahkan belum tahu apa sebabnya sehingga Ayu bisa tiba-tiba berada ditempat yang sama dengannya, terlebih lagi alasan apa yang membuat Ayu menjadi sedih seperti ini.


Kenapa semua ini begitu kebetulan?


Entahlah semesta sedang merencanakan apa sehingga Biyan bisa bertemu Ayu pada situasi dan kondisi yang sangat tidak terduga seperti sekarang.


Kriukk ... Kriukk ...


Bunyi perut yang sedang lapar melilit terdengar jelas pada situasi kamar yang teramat sangat hening.

__ADS_1


Ayu pun refleks mengangkat wajahnya, kemudian menoleh kebelakang, kearah pria tampan yang masih setia menjulang dibelakang punggungnya.


"Itu bunyi apaan, Om?" tanya Ayu dengan sepasang mata yang sembab namun mengandung rasa ingin tahu yang besar.


"Oh, itu ... Anu ... Bunyi perut Om yang laper, Ay ..." jawab Biyan malu-malu dengan wajah yang sedikit bersemu.


Biyan memang tak berniat untuk bohong, karena meskipun Ayu bertanya, tapi sepertinya Ayu sebenarnya juga sudah tahu bahwa bunyi khas tersebut berasal dari perutnya yang memang sudah keroncongan karena baru terisi secangkir kopi di pagi hari, sementara sekarang jarum jam yang ada dipergelangan tangan Biyan sudah menunjukkan pukul dua belas siang lewat beberapa menit.


Ayu sedikit terhenyak mendapati kejujuran Biyan, namun pada akhirnya gadis itu pun tersadar.


"Jadi Om Biyan belum makan ...?" tanya Ayu lagi seolah ingin semakin memastikan.


Biyan pun mengangguk jujur. "Tapi kalau Ayu gak mau makan dulu, Om juga makannya nanti aja deh ..." pungkas Biyan lesu sambil berbalik, melangkah lunglai kepinggiran ranjang berukuran besar, kemudian menghempaskan tubuhnya di sana.


Mendapati pemandangan itu setitik rasa bersalah juga tak enak hati langsung menggerogoti bathin Ayu yang mendadak iba saat menyadari bahwa saat ini Biyan rela menahan lapar demi dirinya, padahal sudah jelas-jelas perut pria bertubuh kekar itu sudah meronta minta diisi.


"Ya udah kalo gitu Ayu makan sekarang aja deh ... Tapi Om juga harus makan yah ..." lirih Ayu.


Mendengar keputusan Ayu tersebut, Biyan yang baru saja duduk dipinggiran ranjang sontak kembali bangkit dengan wajah semringah.


"Ya udah, ayo makan sekarang." pungkas Biyan dengan semangat empat lima, langkah pria itu kembali terayun mendekat kearah Ayu.


Melihat pemandangan yang entah kenapa terkesan sedikit lucu dimata Ayu itu membuat Ayu sedikit menahan senyum.


Sungguh Ayu merasa lucu hanya dengan membayangkan seorang pria dengan tubuh kekar seperti Biyan yang awalnya sedang menahan lapar, bisa tiba-tiba menjadi bersemangat bak seorang bocah yang mendapatkan mainan istimewa!

__ADS_1


NEXT ...


Jangan lupa Like dan support-nya yah 🙏


__ADS_2