HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
MAKAN MALAM


__ADS_3

Malam ini, Biyan telah mengajak mereka semua untuk menikmati makan malam di sebuah restoran seafood yang terkenal karena menunya yang super enak.


Letak resto tersebut sebenarnya berada dekat dengan pantai dan tidak terlalu jauh dari villa yang mereka tempati. Masih bisa terjangkau dengan berjalan kaki kurang-lebih lima menit, namun Biyan telah memutuskan agar sebaiknya mereka pergi naik mobil saja.


Sesuai janji Biyan sejak awal bahwa dia akan membuat weekend kali ini selalu terasa menyenangkan untuk Bella, maka dari itulah Biyan terus berusaha melakukan yang terbaik yang kelak bisa membuat Bella hepi.


Biyan tahu persis bahwa Bella sangat menyukai suasana pantai, pemandangan laut, bahkan makanan favorite putri semata wayangnya itu adalah aneka hidangan seafood.


Untuk semua hal diatas, Bella memang sangat mirip Rania.


Rania juga sama sekali bukanlah tipe wanita rumahan, sama halnya dengan Bella, yang tidak pernah betah serta kerap kali merasa bosan jika berada dirumah.


Keduanya memiliki hobby yang sama yaitu jalan-jalan, menikmati suasana pantai serta mengagumi keindahan laut adalah kegemaran mereka, dan aneka seafood adalah makanan favorite yang tiada duanya.


Jujur, semua itu sangat bertolak belakang dengan Biyan yang jika lelah dengan pekerjaan lebih suka menghabiskan quality time dirumah, begitu pun halnya dengan makanan, Biyan justru termasuk pada jejeran tipe pria dengan selera masakan rumahan yang sederhana.


Namun sekali lagi, sayangnya semua itu justru bertolak belakang dengan sikap Rania, karena Rania justru tidak pernah mahir di dapur, bahkan setelah belasan tahun lamanya menjadi istri Biyan hingga pada akhirnya mereka memutuskan berpisah.


"Pesanannya sudah semua, Pak, selamat menikmati ..." ucap seorang waitress kepada Biyan, usai menyuguhkan beberapa hidangan terakhir keatas meja.


Lamunan panjang Biyan tentang masa lalu pun sontak terputus begitu saja. "Baiklah, terima kasih ..." balas Biyan ramah kearah sang waitress.


Waitress itupun terlihat mengundurkan diri setelah mengangguk takjim.


"Udah boleh makan belum, Pa? Soalnya perut Bella udah laper banget ini ..." seperti biasa, Bella menjadi satu-satunya orang yang selalu tidak sabar, acap kali berhadapan dengan makanan enak.


"Boleh, tapi jangan lupa berdoa dulu yah, Bell ..." jawab Biyan full senyum, kearah Bella yang duduk tepat dihadapannya.


"Asyiikk ..." Bella terlihat bersorak gembira. "Ayo, Yu, kita doa dulu ... baru kita sikat ..." bisiknya kearah Ayu yang duduk bersebelahan dengannya.


Ayu hanya mengangguk kecil tanpa kata, kelihatan sedikit mager.


"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Ya Allah berikanlah keberkahan, akan apa yang telah engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Amin."


"Amin ..."


"Amin ..."


"Amin ..."

__ADS_1


Tiga ucapan 'Amin' dari bibir Biyan, Eros dan Ayu, mengiringi sebait doa makan yang dilafalkan Bella dengan nada cepat.


Bella sendiri yang begitu berucap 'Amin', langsung tancap gas meraih piring, seolah tak sabar mencicipi semua hidangan istimewa yang menggoda selera diatas meja.


"Pelan-pelan, Bell ..." ujar Biyan mengingatkan, yang sama halnya dengan Eros juga Ayu, mulai meraih piring mereka masing-masing.


"Bell, katanya yang ini recommended banget loh ..." Eros yang juga tahu persis bahwa Bella penyuka seafood terlihat menunjuk ke hidangan Cumi Saos Padang, yang memang merupakan salah satu dari menu andalan di resto tersebut.


"Mau ... mau ... itu kan kesukaaan Bella banget, Om ..." ujar Bella yang lagi-lagi selalu bersemangat kalo udah bicara soal makanan enak.


Namun berbeda dengan Bella yang terlihat ceria sepanjang makan malam, sebaliknya Ayu terlihat tak banyak bicara.


Wajah Ayu terlihat agak pucat, dan gadis itu bahkan hanya mengambil porsi makan yang sedikit sebelum akhirnya berhenti makan lebih dahulu dari yang lain.


"Ayu, kok makannya udahan? Ayu sakit?" Biyan yang sejak memperhatikan gerak-gerik Ayu tak bisa menahan kecurigaannya.


Ayu menggeleng gugup mendapati perhatian Biyan. Ia mencoba tersenyum demi menepis kekhawatiran Biyan, Eros dan Bella, yang ketiganya kini seolah kompak mengawasinya.


"Gak kok, Om, perut Ayu udah kenyang ... makanya udahan makannya ..." lirih Ayu berucap jengah.


"Ayu, jangan bo'ong lagi deh, itu wajah kamu makin pucat loh ..." tuding Bella yang terkejut mendapati wajah Ayu yang saat ini memang makin terlihat pucat daripada saat mereka hendak berangkat tadi.


Bukan apa-apa, karena pada saat mereka berdua sedang bersiap di kamar, Bella sempat menegur Ayu karena curiga dengan wajah Ayu yang terlihat pucat, namun seperti halnya saat ini, Ayu terus menepis kecurigaan Bella dengan mengatakan bahwa dirinya gak apa-apa.


"Tadi sebelum kesini kan Bella udah bilang kalo kita ngomong aja ke Papa, biar kita ke dokter dulu ..."


Kali ini Ayu terdiam, seolah tak lagi memiliki keberanian menyela.


Ayu tertunduk dalam, merasa tak enak hati telah membuat semua orang khawatir sehingga menghentikan kegiatan makan mereka dan fokus padanya seorang.


"Kalo gitu mending kita ke dokter aja ..." suara Eros terdengar menengahi.


Mendengar saran Eros, Ayu cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


"Gak, Om ... gak usah, serius Ayu gak apa-apa, Ayu akui Ayu emang rada gak enak badan, tapi Ayu emang selalu begini kalo lagi ... anu ..."


Mengambang.


Ayu malu mengucapkan kebenaran bahwa pada kenyataanya semua yang ia alami hari ini merupakan hal yang rutin untuknya, karena Ayu emang selalu meriang setiap kali datang bulan.

__ADS_1


"Tuh kan, padahal udah benar yang dibilangin Om Eros, tapi Ayu masih aja begitu ..." protes Bella kecewa dengan Ayu, yang terus menolak saran untuk pergi ke dokter.


"Kan kalo udah istirahat, besok pagi juga sembuh kok ..." ucap lirih Ayu sembari tertunduk dalam.


Ayu benar-benar gak enak hati telah merusak moment weekend semua orang karena dirinya. Apalagi ketiganya terlihat belum juga menyelesaikan makan malam mereka dengan benar.


"Sudah ... sudah ... begini aja ..." pungkas Biyan yang pada akhirnya membuka suara.


Sambil melap mulutnya dengan tissue, tatapan mata Biyan terarah pada Eros yang duduk disebelahnya.


"Ros, kamu di sini aja temenin Bella. Santai aja dan makan yang banyak, kalo udah kelar nanti langsung balik ke villa. Aku mau anterin Ayu periksa ke dokter terdekat, begitu kelar kita langsung balik ke villa juga ..."


Mendengar ucapan Biyan, Ayu ingin membantah, namun urung manakala suara Eros telah lebih dahulu menanggapi perkataan Biyan.


"Oke, Yan, sebaiknya emang begitu. Kamu atau aku emang harus ada yang nganterin Ayu ke dokter ..."


"Sudah, biar aku aja." tepis Biyan. "Kamu jagain Bella di sini, terusin dulu makan kalian. Gak usah terburu-buru, nanti kalo udah kelar ... kita ketemu di villa ..."


Eros pun mengangguk tanda menerima keputusan Biyan yang setelah itu langsung bangkit dari duduknya.


"Ayo, Ay ... Om anterin kamu ke dokter dulu ..."


Ayu yang benar-benar tak bisa lagi membantah, akhirnya dengan gerak lunglai bangkit dari kursi yang ia duduki.


"Bell, Ayu pergi dulu yah ..." pamit Ayu lirih.


Bella mengangguk. "Iya, Yu," kemudian sepasang mata indah Bella telah terarah kepada Biyan. "Pa, hati-hati yah ... tolong jagain Ayu ..."


"Iya, Bell. Nanti kalo udah diperiksa dan dapet obatnya Papa langsung pulang. Kamu juga baik-baik sama Om Eros yah, dengerin apa kata Om Eros ... jangan bandel ..." nasihat Biyan panjang-lebar.


Bella mengangguk. "Iya, Pa, Bella janji ..."


Biyan mengusap lembut ubun-ubun kepala Bella, dan mendaratkan ciuman ringan sejenak di sana.


"Ros, titip Bella sebentar yah ..."


"Beres, Bro ..." jawab Eros singkat.


Biyan pun menuntun lembut bahu Ayu untuk berlalu dari hadapan Eros dan Bella, yang begitu punggung keduanya menghilang di balik tembok, Eros dan Bella kembali memutuskan untuk meneruskan makan mereka, yang sempat terjeda ...

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2