
"Monggo silahkan Nyai," kata Lela yang menaruh pisang goreng itu di meja.
tapi saat wulan akan mengambilnya dia ragu, "saya yang menjaminnya Nyai, Monggo di nikmati," kata bogang.
mendengar itu, istri Ndoro Japar ini pun mengambil pisang goreng itu dan mencicipinya, bahkan melihat istrinya yang begitu senang hanya dengan hal sederhana, membuat Ndoro Japar sendiri ikut senang.
Di tambah melihat wanita itu mengendong seorang bayi mungil yang tampan di pelukannya.
Ndoro Japar sepertinya memang harus rajin untuk membuat bayi, agar bisa segera memiliki momongan.
"Ndoro persiapan semua sudah di lakukan, nanti malam kita bisa berangkat," kata Bono.
"baiklah," jawab Ndoro Japar singkat.
Kunjungan mereka ke pertanian tersembunyi ini cukup singkat, dan kini keduanya harus segera pulang.
Setelah memberikan obat pada Lela, mereka psmit pulang, di dalam mobil.
Nyai Wulan tampak duduk diam selama perjalanan, Ndoro Japar hanya mengenggam tangan istrinya itu erat.
Sesampainya di rumah, keduanya turun, dan Ndoro Japar membantu istrinya itu turun.
"ada apa sayang, kenapa selama perjalanan kamu terus diam," tanya pria itu.
"entahlah hatiku rasanya sangat gelisah, aku seperti merasakan akan ada masalah buruk yang terjadi," kata Nyai Wulan yang mencium telapak tangan suaminya yang berada di pipinya.
"tenanglah, ini kegiatan terakhir kali, mengingat semua usia anak buah ku yang dulu terkenal sebagai perampok tanpa ampun itu," terang Ndoro Japar.
"tapi kang mas.."
"sudah ayo sekarang kita masuk kedalam rumah," kata Ndoro Japar yang mengajak istrinya itu untuk beristirahat.
Nyai Wulan melepas semua atributnya dan berganti baju dengan daster yang nyaman selama berada di rumah.
Karena di rumah utama tak ada orang,sebab semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Saat baru keluar dari kamar mandi, Nyai Wulan melihat suaminya itu sedang duduk santai di kursi goyang
melihat sosok kang mas yang menikahiku beberapa bulan ini membuat ku merasa begitu bahagia.
Dia adalah cinta pertama ku, dia adalah orang yang membuat ku kuat saat ini.
Tapi memikirkan akan hal yang sedang dia persiapkan dengan para anak buahnya membuat ku takut.
"ada apa sayang kemarilah," panggilnya dengan suara lembut
__ADS_1
perlahan aku langkahkan kaki ku mendekatinya, aku duduk di lantai dan menaruh kepalaku di pahanya.
"kang mas, tolong jangan pergi hari ini, aku merasa ini tak akan baik," mohon ku dengan suara gemetar.
dia tampak menatap ke arah ku dengan lembut dan kemudian mencium kening ku, "aku tau kamu merasa khawatir, tapi ingat sayang aku bukan orang yang lemah," bantahnya.
"aku tau itu kang mas, tapi aku hanya takut," jawab ku yang menyembunyikan wajah ku dengan sedih.
dia bangkit dan langsung menarik diriku agar ke pelukannya, dia mencium ku penuh dengan rasa haus.
Entah siapa yang mulai, kini kami sudah saling memberikan sentuhan dan perasaan cinta.
Bahkan saat dia memulai dengan perlahan, gerakannya tidak seperti biasanya.
Pria yang selalu penuh ambisi, keras, kepala batu, dan bertangan besi, serta tanpa ampunan ini.
sedang membuat diriku yang sudah tergila-gila padanya, menjadi sendkin terbuai dan tak bisa menahan pesonanya.
"kang mas..." suara ku tercekat saat merasakan ledakan dari dalam tubuh ku.
Tapi itu belum berakhir, entah berapa lama, serta berapa kali dia melakukannya hingga membuat ku lelah dan tak sadarkan diri.
Ndoro Japar bangkit dan mengambil pakaiannya, dia menutupi tubuh istrinya yang sudah kelelahan karena ulahnya.
Dia harus segera pergi untuk bertemu dengan para anak buahnya, dan dia langsung bergegas untuk membuat semuanya selesai lebih cepat.
Terlebih Ndoro Laksono ini punya jadwal yang sedikit mirip dengan dirinya selalu tidur saat sudah kelelahan.
Nyai Wulan yang terbangun kaget melihat kamarnya sudah gelap gulita, dia ingin bangun tapi merasa pinggangnya sedikit sskit.
dia pun ingat suaminya,"ah... tidak kang mas membuatku ketiduran agar aku tak menghalanginya," katanya panik.
tentu saja dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian memakai baju serba hitam.
Dia pun menuju ke rumah utama, "maaf menganggu Romo dan ibu," kata Nyai Wulan yang membuat Romo Heru dan Nyai Arumi kaget.
"kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu," tanya Romo Heru.
"saya menjawab Romo, saya mau menyusul kang mas japar yang pergi tanpa pamit, padahal saya sudah melarangnya, karena kang mas ingin menaklukkan keluarga Laksono Adjie Sugriwo," kata Nyai Wulan yang mengejutkan kedua orang itu.
"Kasyo, Geno! Ikuti menantuku, dan pastikan kalian membawa orang untuk membantu putra ku, dia mencari mati sepertinya, karena Laksono ini bukan tandingan dari Japar," perintah Romo Heru.
"sendiko dawuh Romo!" jawab mereka berdua yang kini mengikuti Nyai muda keluarga Hadikusumo.
Mereka sampai di tempat kediaman dari keluarga Sugriwo, dan terlihat beberapa orang sudah bergelimpangan.
__ADS_1
Dan sejauh ini belum ada mayat dari anak buah dari suaminya. Di dalam sana, Ndoro Japar yang sedang bertarung bersama dengan para anak buahnya di buat sedikit kuwalahan menghadapi pria yang bernama Laksono ini.
Pasalnya meski tubuh mereka berdua ini sama besarnya, dan sama kuatnya, tapi Ndoro Japar kalau dalam pertarungan tanpa senjata.
"ha-ha-ha, bisa-bisanya orang seperti ku mau menatang ku, baiklah aku ladeni, dan aku ingat jika kamu punya istri bukan,aku dengar istrimu sangat cantik, baiklah aku buat kamu mati dan akan ku nikmati tubuh istrimu itu, ha-ha-ha-ha... Aku tdk sabar untuk melakukan hal itu," kata Ndoro Laksono di depan Japar yang sedang terjatuh.
Mendengar ucapan musuhnya yang ingin menikmati istrinya,membuat Ndoro Japar marah.
Dia pun bangkit dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan pria itu.
Tonjokan dan tendangan tak berhenti dia berikan, bahkan dia memukul pria itu dengan guci bernilai jual mahal.
Ndoro Laksono pun tersungkur dan tergletak tak berdaya, terlihat semua anak buah Ndoro Japar sejajar meski dapat luka.
"mulai penjarahan!!" perintah Ndoro Japar.
Dia sedang duduk mengawasi sosok pria yang masih tak sadarkan diri itu.
mereka bertujuh dapat delapan karung emas dan uang serta barang berharga lainnya.
"kamu yang merampas hak orang lain, kini aku membawanya pergi, selamat tinggal," kata Ndoro Japar bangkit dan mulai berjalan dengan langkah kaki yang sedikit terseok-seok.
Tapi saat baru beberapa langkah kaki berjalan, dia melihat seseorang berdiri dengan anak panah siap di lepaskan ke arahnya.
"kamu ingin membunuh ku silahkan..." kata Ndoro Japar yang pasrah karena dia tak punya tenaga lagi setelah pertarungan dengan pria bajingan itu.
Tanpa terduga, anak panah itu melesat dan mengenai dada dari Ndoro Laksono.
Dan berhasil membuat pria itu tumbang, Kasyo dan Geno langsung membantu Ndoro Japar.
Dan sosok itu langsung berjalan pergi meninggalkan dirinya, yang sebenarnya dia tau jika itu adalah istrinya.
Sesampainya di rumah, para dokter di panggil untuk mengobati luka Ndoro Japar yang cukup parah.
bahkan wajah pria itu sudah babak belur, belum lagi luka di tubuhnya juga.
Saat semua orang panik, Nyai Wulan dan Nyai Arumi sedang memanjatkan doa untuk kesembuhan pria itu.
Dan Romo Heru berharap Ndoro Laksono itu mati atau setidaknya tidak lagi memusuhi keluarganya, karena tindakannya itulah yang membuat putranya harus sampai turun tangan.
Sudah empat jam, para dokter sedang berjuang di dalam, dan Nyai Wulan mulai melemah juga kondisinya karena dia belum makan apapun dari siang kemarin.
hingga akhirnya wanita itu menyerah pada keadaan dan akhirnya pingsan.
Nyai Arumi yang melihat menantunya itu jatuh pingsan, panik dan meminta tolong pada petugas rumah sakit.
__ADS_1
Sedang Geno dan Gono yang bertugas memastikan Ndoro Laksono mati pun terkejut melihat rumah yang baru saja di rampok itu sudah hangus terbakar dalam hitungan jam.