
Japar dan Wulan sudah berganti baju dengan baju biasa, karena resepsi malam ini selesai.
untungnya William tadi tak membuat masalah, hanya memberikan sebuah kotak hadiah pada Wulan.
Ya pria itu tadi tak menyangka, gadis yang selalu dia hina jelek dan terus mengejeknya, ternyata memiliki paras cantik.
"apa kamu mau menyimpan hadiah ini? Bukankah lebih baik jika di buang," tanya Japar pada istrinya itu.
"tentu saja silahkan mas, aku tak keberatan jika mas mau membuangnya," kata Wulan yang merapikan rambutnya yang baru selesai di Sasak sudah pasti sangat sulit.
tentu saja Japar tak langsung membuang benda itu, dia membukanya dan ternyata isi kotak itu sebuah kalung emas berukuran besar.
Dia ingat ucapan dari William saat memberikan kotak itu, "kamu beruntung memilikinya, dan aku tak menyangka jika dia menutupi kecantikannya hanya demi menunggu mu, dan jika kamu menyia-nyiakan wanita sehebat ini,naka dkunakan dengan senang hati menerimanya nanti," kata William yang membuat japar geram.
Dia pun membanting kita itu dan segera menarik istrinya, entahlah hatinya berkecamuk, bahkan Wulan di buat kaget karena suaminya itu tiba-tiba menjadi begitu kasar.
"mas," kaget gadis itu yang di himpit ke ranjang pengantin mereka.
"apa hubungan mu dengan William, kenapa dia sampai memberikan kalung berharga seperti ini untuk mu, AIA kamu mencoba menghianati ku?" tanya Japar yang terlanjur cemburu tanpa alasan.
"tidak kang mas, aku hanya bertemu dia tiga kali itupun dia ada urusan dengan bapak, dan lagi aku tau jika dia itu pembenci mu, makanya aku menjaga jarak darinya, tapi aku juga tetap menjaga sopan santun ku demi nama baik keluargaku," kata Wulan.
Japar pun menaruh kepalanya di dada istrinya, Wulan pun mengusap kepala Japar dengan lembut.
"kamu menutupi kecantikan mu saja masih ada yang menyukaimu, bagaimana jika kamu tak melakukan itu, mungkin aku sudah kehilangan mu, maaf aku cemburu tanpa alasan,"
"kang mas, hanya kamu yang menjadi tuan ku, aku tak akan pernah mengingkari janjiku, dari pada orang lain menyentuh ku dan memilikiku, mending aku mati di peluk bumi demi menjaga kehormatan ku atas janji yang sudah ku berikan padamu," kata Wulan yang membuat japar tenang kembali
__ADS_1
keduanya pun berciuman, tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu dari luar kamar pengantin.
"japar kamu sedang apa, jangan menyakiti istrimu!!" teriak Romo Heru yang datang bersama Nyai Arumi dan juga beberapa mbok mban yang tak sengaja mendengar suara keras dari dalam kamar itu.
Japar membuka pintu kamar pengantin dan tersenyum ke arah orang tuanya, "ada apa ya, kalian menganggu waktu kami," kata pria itu dengan santai.
tanpa terduga Nyai Arumi langsung menjewer telinga putranya itu, dan mendorongnya untuk menyingkir.
Dia khawatir pada menantunya, dan Japar kaget melihat ibunya itu masuk kedalam kamarnya.
"ibu istriku sedang istirahat!" panik Japar.
Tapi Nyai Arumi tak peduli, dia naduk dan kaget melihat Wulan sedang di atas ranjang mengenakan selimut untuk menutupi dirinya.
"ah ibu, ada apa? Maaf saya tidak bisa bangun," kata gadis itu malu.
Nyai Arumi merasa malu melihat itu, "ha-ha-ha sepertinya ibu yang harusnya malu dan tak seharusnya masuk kedalam sini, tapi tadi ibu dapat laporan dari mbok mban katanya ada suara keras seperti benda di banting, ibu kura kdlian berantem, itulah ibu datang dan ternyata kalian sedang membuat cucu, lain kali yang tenang ya nak, kalian tau kan di sini ada banyak orang," kata Nyai Arumi mengingatkan.
Sedang di luar Japar masih di tahan oleh sang bapak agar tdk mengdnggu ibunya yang sedang sidak.
Nyai Arumi keluar dengan senyum, "lain kali jangan berisik, kalian ini mentang-mentang masih muda, main gak kira-kira sampai membuat orang salah sangka, sudah kang mas kita istirahat besok masih ada acara," kata Nyai Arumi yang mengandeng lengan suaminya.
"jadi semua aman?"
"iya, ayo kita istirahat, dan kalian juga biarkan pasangan pengantin baru ini," kata Nyai Arumi yang menyuruh para mbok mban pergi dari sana.
japar pun tersenyum saat kedua orang tuanya pergi, dia pun segera masuk kedalam kamarnya lagi.
__ADS_1
Sedang Romo Heru masih penasaran dengan apa yang terjadi di kamar pengantin itu.
"jadi apa yang terjadi sebenarnya,"tanya pria itu.
"ya sepertinya mereka sedang belah duren dan tak sengaja menjatuhkan salah satu hadiah, karena terlalu semangat saat goyang," kata Nyai Arumi.
"benarkah, ah ... Aku jadi ingat saat kita pertama menikah, saat itu aku juga terlalu semangat hingga membuat ku pingsan," kata Romo Heru tanpa malu.
"itu bukan semangat,kang mas saja yang gragas,main gak kira-kira, di kira gak sakit apa lecet tau, huh..." kesal nyai Arumi yang langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.
"tapi kalau sekarang tidak kan, kita buat lagi yuk, anak satu lagi," mohon Romo Heru.
"Jang mas jangan aneh-aneh, aku tak mau mengandung lagi, terlebih hamil Nala, aku hampir kehabisan darah karena bocah itu nyunsang tak karuan," kata nyai Arumi.
"kaldu begitu, kita nikmati saja halam ini, cukup kan," kata Romo Heru yang tak ingin menyerah.
Sedang di kamar Japar dan Wulan, pemuda itu sudah menanggalkan semua yang melekat pada tubuh mereka, dan kini keduanya sedang berciuman mesra.
Dan saat penyatuan, Wulan mengigit bibirnya agar tak membuat suara yang berlebihan.
"maaf... Apa sakit," tanya Japar yang mencoba membiasakan diri, karena di bawah sana sangat sempit dan mengh****.
"tidak apa-apa mas, lanjutkan," jawab Wulan lirih.
Malam itu Japar pun mereguk manisnya Surya dunia, bagian dengan senang hati Wulan melepaskan mahkota yang dia jaga selama ini.
Hingga akhirnya keduanya pun puas dan Japar tetap memeluk istrinya untuk beristirahat.
__ADS_1
Malam itu akan di lewati oleh pasangan pengantin itu dengan beberapa kali ronde, terlebih Japar tak ingin menyia-nyiakan tenaganya yang masih banyak.
Bahkan Wulan sampai harus tak bisa melayani lagi karena kelelahan dan lemas