
Dia melihat ke arah Sukma, tapi tak ada yang menyadarinya karena semua orang sedang berbincang membahas apa yang terjadi.
Tapi tidak dengan Arumi yang merasa aneh dengan tingkah Hesti yang terus menatap ke arah istri ketiga suaminya.
"Mbak Hesti ingin mengatakan sesuatu?" tanya Arumi yang duduk di samping wanita itu.
Hesti ingin bicara, tapi lidahnya Kelu dan tak bisa mengatakan apapun,"saya juga heran Romo,kenapa penyebaran racun yang seharusnya tak seberapa parah,bisa sampai membuat Nyai seperti ini," jelas mbok Minten
"Apa tidak ada yang bisa di lalui,tolong Romo jangan biarkan mbak Hesti seperti ini," kata Arumi yang merasa sedih.
Hesti terus melihat Sukma yang tersenyum kecil saat tak ada yang memperhatikan dirinya.
"Saya juga tak bisa melakukan apapun,di tambah racun ini sangat keras," kata mantri.
Di tahun seperti itu sangat sulit mencari pengobatan,di tambah di desa mereka belum ada fasilitas rumah sakit, dan harus ke pusat kota.
Tapi dengan kereta kuda bisa menempuh jarak seharian, "seandainya kita punya mobil," kata Sukma yang makin membuat frustasi.
Benar saja, tak terduga mereka akan melihat sebuah mobil datang,semua tak tau jika seorang bangsawan dan saudagar kaya di tahun itu bisa membeli sebuah mobil untuk mereka sendiri.
"Kamu benar, kebetulan tadi aku sempat membeli sebuah mobil untuk kelancaran pekerjaan,"kata Romo Heru.
__ADS_1
"Apa?" kaget semua orang.
Romo Heru pun mengendong istrinya itu, "tenang ya Hesti kita akan menuju ke rumah sakit,"
Tapi tiba-tiba tubuh Hesti lemas begitu saja, semua orang kaget melihatnya.
"Hesti!!" teriak Romo Heru yang menyaksikan istrinya itu meninggal di pelukannya.
Mbok Minten dan Mantri buru-buru melihat kondisi dari Hesti, ternyata tidak di temukan tanda-tanda kehidupan.
"Maaf Romo, Nyai Hesti sudah meninggal dunia," kata pak Mantri
"Tidak mungkin," kata Arumi tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Semua pekerja pun datang untuk melihat Hesti, para warga juga datang untuk melayat malam ini.
Semua orang tak menyangka jika ada kejadian seperti ini di rumah seorang juragan tanah yang terkenal kaya raya.
Terlebih jenazah dari Hesti yang membiru, dan Romo Heru melakukan penggeledahan pada semua orang yang bekerja dan tinggal di rumah Harem.
Tapi saat di kamar milik Hesti, Geno menemukan sebuah botol kecil yang mencurigakan.
__ADS_1
Dia pun segera membawanya kepada mbok Minten yang memang terkenal memiliki pengenalan racun yang sangat baik.
"Jadi ini benar racun yang di minum nyai?"
"Sepertinya iya, tapi Nyai tak mungkin sebodoh itu, kemungkinan ada orang yang menghasutnya, di tambah ukuran di botol ini adalah ukuran khusus dari keluarga Wira di Utara," kata mbok Minten.
Romo Heru yang mendengar pun mengetahui siapa orang yang bisa berhubungan dengan keluarga itu, dia adalah pengawal yang selalu bertingkah selama ini.
Sigit sedang melakukan penjagaan di sekitar rumah saat Romo Heru menghampirinya.
"Apa maksud mu dengan memberikan racun ini pada Hesti, apa kamu ingin membunuhnya," tanya Romo Heru.
"Apa maksud Romo, saya tak mengerti,saya sudah bersumpah setia pada keluarga ini, tak mungkin saya menghianatinya," kata Sigit dengan bersungguh-sungguh.
"Tapi kamu adalah orang Utara yang pasti bisa mendapatkan ini dengan mudah," kata Romo Heru menujukkan botol bekas racun yang di konsumsi oleh Hestia.
"Ini jebakan, pasti ada yang ingin mencelakai diriku ku Romo, " kata Sigit memohon
"Kamu tau aku selalu bersikap bodoh dengan apa yang kamu lakukan, tapi ini peringatan terakhir, jika tidak maka aku akan membuat mu sadar jika kamu itu tak seharusnya melawan pria yang mengaji mu, dan mulai sekarang Sigit kamu di pindah tugaskan ke di rumah lama keluarga Hadikusumo," perintah Romo Heru
"Tidak boleh,kenapa mas ingin mengusirnya,apa mas percaya desas desus yang datang dari para pelayan tak berguna ini," marah Sukma.
__ADS_1
plak...