
Akhirnya dengan memberanikan diri, malam itu mbok ni dan Joko pun menghadap Romo Heru di depan semua orang.
Karena malam itu, ada sedikit acara makan-makan bersama dengan semua keluarga orang yang bekerja di istana Bangura.
Tapi yang membuat Romo Heru dan Arumi heran adalah dua orang ini tadi pagi izin untuk istirahat karena tak enak badan.
kenapa malam datang membawa kabar menghebohkan, "jadi kalian mau izin untuk menikah? Kenapa sudah bablas juga?" tanya Romo Heru yang berhasil membuat beberapa orang menahan tawa.
Ya karena pria itu langsung menyindir cukup banyak anak buah kepercayaannya.
"saya yang tidak bisa melihat pria ini ganjen terus Romo, jadi saya memintanya untuk menikahi saya," jawab mbok ni.
"benarkah itu Joko?" tanya Arumi yang tak percaya dengan ucapan asistennya itu.
Pasalnya kemarin keduanya masih saling hina dan bertengkar, masak iya dalam waktu semalam bisa berubah secepat ini
"benar Nyai, saya juga sudah menyukai mbok ni dari pertama kerja, dan waktu dia mengajak menikah, saya langsung mengiyakan," kata Joko.
"khem..." batuk Kasyo yang menyaksikan adegan panas tadi.
"sepertinya pak lek Kasyo tau sesuatu?" tanya Japar yang sedang asik dengan jagung bakar miliknya.
"tidak kok Ndoro," kata Kasyo yang pura-pura tak mengerti.
"ya sudah," kata Romo Heru yang mulai menghitung hari di penanggalan Jawa.
Ternyata hari baik jatuh di penanggalan renteng dan itu bertepatan dengan hari pernikahan Sukma dan Sodik.
"kalian menikah hari Minggu, lusa dan besok Geno tolong bantu keduanya mengurus semua yang di butuhkan, apa mau pesta?" tawar Romo Heru.
"tidak usah Romo, yang penting kami sah," kata keduanya kompak.
Arumi hanya mengangguk dan kemudian masuk kedalam rumah, dan dia keluar membawa hadiah untuk keduanya.
"maaf karena kalian mengatakan secara mendadak, aku hanya bisa memberikan ini, tolong di terima ya," kata Arumi memberikan kotak perhiasan untuk hadiah keduanya.
setelah itu semuanya juga mengucapkan selamat, mbok Jum dan Sari yang tak mungkin bisa datang karena mereka berdua memiliki jadwal kelahiran yang sama.
Bahkan tadi sore saja, Geno mengirim istrinya itu ke rumah orang tuanya untuk di jaga.
Ya bagaimana pun lebih baik wanita itu ada yang menjaga saat hamil tua seperti itu.
"kita kok kesepian padahal sudah menikah," kata Geno yang duduk di sebelah Kasyo.
"ya mau bagaimana lagi, istri-istri kita sudah harus ke rumah orang tuanya karena hari kelahiran semakin dekat," saut Kasyo
__ADS_1
"ya kamu benar," jawab Geno.
Akhirnya malam itu semua bersenang-senang, japar bahkan tak segan membantu membakar sate.
Dan setelah semuanya kenyang mereka pun beristirahat, tiba-tiba burung pengantar surat datang.
Japar pun langsung melihat pesan itu dan kaget saat membacanya, karena itu bukan dari bogang.
melainkan itu pesan dari Ki Ageng yang menyuruhnya untuk pulang ke goa karena ada hal besar yang akan dia katakan
Dia pun segera keluar dan mengetuk kamar milik orang tuanya, Romo Heru yang mendengar suara itu langsung bangun dan membukakan pintu.
Dia kaget melihat putranya itu sudah siap dengan baju berwarna hitam dan ikat kepala.
"kamu mau kemana Jam segini le?" tanya pria itu kaget.
"maaf bapak, aku harus ke tempat kakek, karena dia tiba-tiba kakek menyuruhku pulang, kemungkinan aku tak akan pulang satu atau dua tahun, tolong berikan ini pada ibu ya, maaf aku tak bisa menemaninya," kata Japar.
"apa, kenapa Ki Ageng tiba-tiba seperti ini," bingung Romo Heru.
"aku juga tak mengerti bapak, kalau begitu saya pamit dan tolong sampaikan permintaan maaf pada ibu, permisi,"kata Japar yang langsung pergi.
Romo Heru tak menahannya karena dia bisa datang dan menanyakan sendiri nanti pada Ki Ageng.
Tapi bagaimana dengan istrinya yang pasti akan sedih, terlebih wanita itu sangat menyayangi japar.
Dan saat pertama kali menginjakkan kaki ke hutan itu, dia berhenti sejenak untuk mengatur nafas.
Karena perjalanannya juga tak dekat, tiba-tiba beberapa semak bergerak.
Dia masih mengatur nafas dan tetap berusaha tenang, tiba-tiba dari dalam semak-semak muncul sosok mata berwarna emas menyala di kegelapan.
Itu adalah harimau belang miliknya, harimau itu mengelilingi Japar dan mengendusnya, setelah itu hewan itu duduk seakan mempersilahkan japar untuk baik ke atas punggungnya.
Setelah itu, harimau itu membawa japar ke gua tempat kakeknya tinggal, saat sampai terlihat Ki Ageng sedang risau
"ada apa kakek?" tanya Japar.
"kamu harus mulai melatih tenaga dalam mu, dan aku minta kamu melakukan tapa untuk menepi dari dunia fana ini selama mungkin, jika kakek belum menjemput mu maka setelah sepuluh tahun kamu bisa keluar sendiri, apa kamu bisa," tanya pria itu pada cucunya.
"baik kakek,saya mengerti..." jawab japar yang langsung bersiap untuk melakukan perintah dari kakeknya.
Keduanya menuju ke sebuah air terjun yang memiliki arus yang sangat deras, dan tak hanya Japar sendiri
Tapi dia juga mengajak harimau yang selama ini menemani cucunya itu, karena mereka ini sahabat terbaik.
__ADS_1
Japar pun menitipkan sesuatu pada kakeknya itu, "tolong jika bapak datang, titip barang itu untuk di berikan pada Wulan, dan beritahu bapak jika bicara dengan ibu, jangan terlalu galak karena ibu pasti sedih saat tau aku harus pergi seperti ini," kata Japar yang di iyakan oleh Ki Ageng.
Bocah itu mulai duduk bersila dan menyatu dengan alam, bahkan harimau itu juga ikut merebahkan dirinya di samping Japar.
Ki Ageng tiba-tiba mengucapkan sebuah mantra yang membuat air terjun itu seperti arus deras yang tidak akan bisa tertembus.
Dan semua akan di bangunkan saat waktunya tiba, dan sekarang dia harus kembali ke rumahnya.
Bahkan di depan goa miliknya sudah datang kesepuluh orang berani mati yang selama ini di andalkan oleh Japar.
"kalian datang juga?" kata Ki Ageng.
"kamu menunggu perintah dari Ki Ageng, setelah mengetahui jika Ndoro pergi bertapa,"
"perintah untuk kalian nikmatilah hidup kalian selama dia tidak ada, dan kembalilah bertugas setelah dua dia kembali,"
"tapi bagaimana bisa kamu tau jika Ndoro sudah selesai dengan tapanya," tanya bogang.
"saat itu akan ada badai dan burung pembawa surat akan datang memberikan informasi penting," kata Ki Ageng.
"sendiko Ki Ageng," jawab semua orang yang langsung bersiap pergi.
Dia sekarang tinggal menunggu satu orang lagi yang datang yaitu Romo Heru yang kemungkinan akan sedikit khawatir karena surat yang dia kirim secara mendadak.
benar saja keesokan harinya, Arumi sudah panik karena tak bisa menemukan Japar.
Romo Heru langsung menenangkan istrinya itu, "dek ku mohon tenang dulu, dengarkan aku baik-baik, dia ke tempat kakeknya, dia di minta datang kesana tapi aku tak tau untuk apa, jadi kamu harus tenang agar aku juga tenang saat pergi menanyakan kabar pada Ki Ageng,bisa?" kata Romo Heru menatap istrinya itu.
"tidak kang mas, aku mau ikut, karena aku ingin tau secara langsung, sebenarnya ada apa,kenapa putraku harus pergi dengan cara seperti ini," kata Arumi yang tak bisa menunggu karena itu bisa membuatnya gila.
"kita tak bisa pergi kesana seperti ini, terlebih kondisi jalan di sana sangat buruk, dan lagi kamu punya Dika, kamu harus tetap di rumah," kata Romo Heru memberikan penjelasan.
"tidak mau, jika kang mas terus memaksaku untuk tetap di rumah, aku tak mau ke dengarkan aku akan pergi sendiri kemana pun ikut, agar aku bisa ke dengar kabar putra ku secara langsung..." tangis Arumi pecah.
Romo Heru tak bisa mengatakan apapun lagi, terlebih lagi istrinya itu sangat keras kepala.
"baiklah kamu boleh ikut, tapi pastikan putra ku Dika kenyang, dan minta para mbok mban menjaganya, karena kita akan butuh waktu lama untuk perjalanannya," kata Romo Heru.
Arumi mengangguk, dan pria itu meminta Geno, Kasyo dan Idan menyiapkan kepergian mereka dengan baik.
Akhirnya mereka berlima berangkat menuju ke tempat hutan larangan, ternyata hutan itu hanya bisa di lewati dengan menunggangi kuda.
Untungnya Arumi sudah berlatih selama jadi istri Romo Heru, perjalanan mereka membutuhkan hampir setengah hati.
Saat sampai di sana, ternyata Arumi baru tau jika tempat tinggal Ki Ageng itu sebuah goa.
__ADS_1
mereka pun masuk kedalam goa itu, "kami datang menghadap Ki Ageng," salam Romo Heru.
"akhirnya kalian datang, aku sudah menunggu kalian semua," kata Ki Ageng membuka matanya.