
beberapa orang yang tau tentang pembantaian dan perampokan yang di alami oleh janda kaya di desa mereka merasa kasihan.
tapi mau bagaimana lagi, itu sudah terlanjur dan yang membuat miris adalah wanita itu gila.
Bahkan dia terus memeluk mayat bayinya yang tak luput dari kekejaman para perampok itu.
Di sekolah pun berita itu tersebar karena wanita itu ternyata adik ipar dari pengurus sekolah.
tapi hanya Japar yang tak peduli dengan berita seperti itu, karena baginya belajar itu nomor satu.
"hei bocah kutu buku, kamu kok gak tertarik bergosip seperti yang lain sih," tanya ayu yang duduk di depan meja pria muda itu
"aku itu seorang pria dan bukan seharusnya seorang pria bermulut seperti wanita yang suka bergosip, bukankah lebih baik aku belajar karena itu lebih baik, dan aku harus ke ruang guru," kata Japar yang langsung membawa semua buku miliknya.
"apa, hei apa semua wanita di mata mu seperti itu," marah Ayu dengan wajah kesal.
"tentu saja tidak, karena ibu ku tidak seperti itu, dan kamu harus belajar menjadi wanita yang berwibawa," kata Japar sebelum pergi.
Ayu terdiam, yang di katakan oleh jalar itu benar, dia sudah cantik dan berbakat tapi dia harus memiliki tingkah laku yang baik seperti halnya para bangsawan.
Apar sudah mendapatkan izin pulang lebih awal karena semua guru di sekolahnya di undang untuk acara di rumahnya.
Di perjalanan, Japar melihat kebun bunga mawar, dia pun meminta dua pengawalnya untuk berhenti.
"hentikan mobilnya, aku ingin membeli sesuatu" kata Japar.
dia bertanya pada beberapa orang yang ada di sana, tentang kebun bunga mawar itu.
"permisi ibu, siapa pemilik kebun mawar ini, karena saya baru pertama melihatnya di desa ini?" tanya Japar.
"itu milik keluarga Wicaksono, dan jika anda ingin bisa memiliki mawar, anda bisa mengambilnya jika cuma tiga atau lima tangkai tuan," kata wanita itu.
"tidak ada, aku hanya bertanya saja, kenapa dia begitu berani menanam bunga yang di larang di desa yang di pimpin oleh Romo Heru," kata Japar tersenyum dan kemudian pergi.
__ADS_1
Mendengar ucapan seperti itu, wanita itu terkejut, dia tak menyangka akan mendengar larangan seperti itu.
Dan setelah Japar pergi, bocah itu memanggil burung pengirim pesan miliknya.
Dan mengirimkan pesan pada seseorang untuk tidak melakukan aktivitas yang terlarang di desa itu.
Wa Ita itu segera lari ke rumah keluarga Wicaksono karena mereka bisa dalam ancaman besar jika sampai Romo Heru mengetahui tentang perkebunan itu.
Seorang pria sedang santai menikmati rokok di teras rumahnya saat melihat adiknya begitu tergopoh-gopoh pulang.
"sari ada apa?" tanya pak Wicaksono.
"kita dalam masalah besar mas, tadi aku bertemu seorang bocah yang sepertinya berusia sepuluh tahun dari tingginya, tapi dia memiliki tatapan yang begitu tajam, tapi ada satu perkataan darinya yang membuatku Takut," kata wanita itu.
"tenang Sari, kamu seperti baru saja di ancam untuk di bunuh," kata pak Wicaksono masih bisa tersenyum.
"ini minum dulu bibi," kata seorang gadis yang tampak begitu cantik dan cantik, ya dia adalah putri tunggal pak Wicaksono.
"maaf bapak, saya hanya ingin mengantarkan minuman ini untuk bapak dan bibi, tapi kenapa bibi setakut ini," tanya Adis itu dengan lembut
"karena di desa ini kita di larang membuat kebun mawar, dan Kuta sudah ketahuan mas, jadi sebaiknya kita datang untuk meminta maaf," kata Sari ketakutan.
Uhuk ...
pak Wicaksono terkejut, bagaimana bisa kebun yang sudah di saru dengan tumbuhan lain bisa ketahuan.
terlebih tempat itu juga sangat jauh dari pedesaan. Dan tak mungkin ada orang yang tau letaknya karena dia sudah membuatnya sedemikian rupa.
"sepertinya kita harus menghadiri undangan sore nanti sekalian meminta maaf, tapi jika aku datang bersama mu saja mungkin akan di katakan tidak sopan, karena aku yakin Romo Heru pasti sudah tau siapa saja keluarga kura, sepertinya hari ini aku harus menunjukkan putri yang paling berharga untuk ku," kata pak Wicaksono dengan tidak suka, terlebih setelah kematian sang istri.
"tenang saja mas, aku yakin aku bisa mengatasinya," kata dari yang akan melakukan apapun untuk menjaga keponakannya itu.
Sedang saat mobil sampai di rumah, terlihat semua orang panik, tapi sebelum turun dari mobil Japar menghentikan kedua orang yang menjadi pengawalnya.
__ADS_1
"jangan ada yang berani bilang apapun yang tadi kalian lihat saat kita melewati jalan pintas,"
"baik Ndoro," jawab keduanya yang juga takut dengan bocah itu.
Japar turun dan kaget saat mendengar suara teriakan dari dalam rumah.
Dia lari secepat yang dia bisa, dia kaget melihat semua pelayan di rumah sedang menangis.
"ada apa ini?" tanya Japar.
tapi tak ada jawaban semua tengelam dalam kesedihan masing-masing.
Japar langsung lari ke arah kamar utama, saat dia masuk dia melihat Arumi yang sedang menangis di pelukan mbok Jum dan Romo Heru yang sedang meratapi sosok adiknya yang tak bergerak di pelukan pria itu.
Japar terkejut karena ini belum waktunya sang ibu melahirkan, "ada apa..."
"dia meninggal dunia.." jawab Romo Heru menunjukkan putranya yang masih bayi dan tak bergerak.
"apa yang bapak katakan, dia adalah adikku dan dia harus kuat seperti ku, dia bukan pria lemah, dan mbok Minten berhenti memberikan penilaian yang salah!!" teriak japar dengan suara keras dan lantang.
Dan tiba-tiba bayi itu bergerak sekali, melihat itu japar segera melepaskan baju bagian atas yang dia kenakan.
Dia segera merebut bayi yang tampak lemas itu dari pelukan Romo Heru, "Japar..." tangis Arumi melihat putranya itu.
"tidak ibu, dia selalu sehat dan jika dia mengalami hal seburuk ini bukan karena anda, tapi orang yang membantu ibu melahirkan," kata japar yang masih berusaha membuat adiknya bernafas.
Dia merogoh mulut bayi itu dan setelah memastikan semuanya aman dia memberikan nafas bantuan dan terus memijat dada adiknya.
"tolong jangan lakukan ini dasar adik nakal, kamu sudah berjanji padaku untuk bersama menjaga ibu!" bentak japar dengan suara serak dan sangat keras.
bahkan air matanya menetes dan mengenai bayi merah itu, tiba-tiba bayi itu terbarik dan mulai menangis.
semua orang terkejut melihat bayi mungil itu menangis dengan kencang, "kamu membuat ku takut dek, semuanya dengarkan dia adalah adik kesayangan ku, siapapun yang berani menyentuhnya aku akan membunuhnya, dia adalah sumpah ku pada ibu, dia adalah Mahardika Hadikusumo!!" kata Japar dengan bangga dan mencium bayi yang masih penuh dengan Darah itu.
__ADS_1