Harem Suamiku

Harem Suamiku
kumpulan rampok


__ADS_3

Para perampok itu sudah sampai di titik kumpul, mereka semua tertawa bersama.


Bagaimana tidak, mereka sudah berhasil melaksanakan tugas dengan sempurna.


"jadi bang, apa bos mau menemui kita?" tanya salah satu pria yang sudah masuk kedalam tim perampok itu.


"tidak bisa sembarangan bertemu dengan Ndoro, karena Dia sekarang sudah bersama keluarga barunya, dan kita harus menunggu perintah melalui merpati pembawa pesan, agar bisa tau apa yang harus di lakukan lagi setelah ini," kata pimpinan dari perampok itu.


kesepuluh orang itu tampak diam, bagaimana bisa, para pria kejam yang tak kenal ampun bisa menjadi bawahan orang yang tak pernah menunjukkan batang hidungnya.


terlebih mereka masih penasaran, seperti apa rupa pria itu,karena banyak kabar yang menyebutkan jika pria itu sangat kejam.


Di istana Bangura, Japar sedang duduk menikmati waktu bersama dengan Arumi.


Ya wanita itu sedang membatik, tiba-tiba Japar bangkit dari duduknya dan membawakan bantal


"untuk ibu bersandar, akan lelah jika ibu terus dalam posisi itu," kata bocah itu.


Arumi tersenyum dan memakai bantal itu untuk bersandar dan menghentikan aktifitasnya, ya dia juga sebenarnya sangat lelah.


Japar kemudian duduk dan ikut bersandar di tiang pendopo yang ada di depan rumah.


Beberapa centeng yang melihat pun merasa jika tingkah Arumi dan Japar ini sangat mirip.


Tiba-tiba mobil Romo Heru datang dengan kecepatan tinggi,diapun sedikit tenang mengetahui jika istri dan putranya itu baik-baik saja.


Arumi kaget melihat suaminya itu yang tampak panik, "loh kang mas sudah pulang, tumben dan kenapa wajah kang mas begitu kaget seperti itu?"


"ini dek, kang mas baru saja dapat kabar, jika salah satu rumah di desa ini di rampok saat siang bolong, karena takut kang mas pulang dengan segera, ternyata itu rumah pria Belanda di ujung barat desa," jawab Romo Heru.


"aku tau pemilik rumah itu, dua terkenal karena baik pada semua orang dan lagi istrinya juga seorang wanita Jawa,"


"ya kamu benar, dan Katanya semua orang di rumah itu di bantai dan yang aku dengar untung pemilik rumah sedang keluar jadi aman, tapi mereka kehilangan semua harta benda dan juga para pelayan yang tewas," kata Romo Heru.


"kasihan, padahal mereka juga sudah seperti keluarga dekat kita, apa mas tidak melayat?" tanya Arumi yang tau jika suaminya ini memang jarang melakukan kegiatan seperti itu


"apa perlu?"

__ADS_1


"perlu dong mas, sana pergi melayat dan jangan membuat malu ya," kata Arumi tersenyum manis


Romo Heru tidak bisa membantah, tapi tanpa terduga, dia menarik Japar untuk mengikutinya


"kamu juga harus ikut le, supaya kamu bisa bersosialisasi dan di kenal baik oleh orang nantinya," kata Romo Heru


"ibu... Japar mau di rumah..." rengek bocah itu yang sebenarnya tadi sudah mau tidur tapi terganggu karena Romo Heru.


"pergi sayang, semangat ya pergi dengan bapak," kata Arumi yang malah memberikan semangat


otomatis wajah Japar ini langsung tertunduk lesu dan berkaca-kaca ingin menangis.


Tapi ya inilah hidup tak ada yang adil, tapi untungnya dia tadi mengenakan baju yang pantas untuk datang ke pemakaman seseorang.


Sesampainya di rumah itu, semua orang langsung memberi jalan saat Romo Heru datang bersama putranya.


Keduanya datang dengan bergandengan tangan,dan pemilik rumah menyaia keduanya dengan sangat terbuka


Salah satu warga yang ada di sana, mengenali sosok bocah itu, dan dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya, jika Japar kini sudah menjadi keluarga Hadikusumo yang sangat terkenal dari dulu.


Pemakaman dari para pelayan itu dilakukan selayaknya manusia, tentu saja di banding dengan Romo Heru.


keluarga itu memperlakukan pelayan mereka yang sudah meninggal dengan lebih manusiawi.


setelah acara selesai, di lakukan sambutan terhadap orang terkaya di desa itu,yaitu romo Heru dengan beberapa makanan, karena tadi pria itu juga datang membawa beberapa sembako.


"ini putra anda Romo?" tanya tuan Kalis.


"iya, dia adalah putra pertama ku, saya tak mengira ada orang gila yang berani melakukan ini, tapi untungnya anda sekeluarga masih di beri perlindungan oleh dewa,"


"iya Romo, namanya musibah tak ada yang tau," jawab pria itu cukup sedih.


Terlihat Japar ini sibuk dengan makanannya, dan tak peduli dengan bocah cantik di depannya yang dari tadi melihatnya.


"apa kamu main dengan ku ?" tawar gadis cantik itu.


"tidak, karena para wanita merepotkan dan menyebalkan kecuali ibu ku," kata Japar dengan ketus.

__ADS_1


"apa, kenapa mulut mu jahat sekali, jika kamu terus mengatakan hal buruk seperti ini, tak ada yang akan mau menikah dengan ku," ketus gadis cantik itu.


"aduh cantik, kebdos bilang begitu, kasihanilah putra paman ini, dia memang punya muka seram dan ketus seperti paman," kata Romo Heru mencoba membujuk bocah cantik itu.


"tidak mau, sebelum dia minta maaf," kata gadis kecil itu.


"Ayu ... Jangan seperti itu ya nak, itu sama temannya," bujuk Ndoro Kalis pada putrinya itu


"Japar sebagai lelaki sejati kamu harus apa jika menyakiti hati wanita,"


Japar yang sedari membuang muka pun akhirnya pasrah dan mulai melihat gadis kecil di depannya, "maafkan aku, dan jangan marah lagi ya, ku mohon ..." kata Japar menirukan gaya Romo Heru saat minta maaf pada Arumi


karena kesal melihat putranya itu, Romo Heru mencubit pipi Japar, "aduh... Ya gak usah gitu juga," kata pria itu sambil tersenyum kesal.


"baiklah aku maafkan, tapi kamu harus ikut main," kata ayu memaksa Japar.


"tidak mau,kamu pasti mau main masak-masakan aku tak suka itu," kata Japar.


"tidak, kita akan main yang lain, kalau bunuh-bunuhan mau," tanya ayu yang mengejutkan para orang tua


"ayo..."


Kedua bocah itu pergi meninggalkan para orang tua yang masih terkejut dengan ucapan keduanya yang ingin main bunuh-bunuhan.


Tapi istri Ndoro Kalis menenangkan semuanya dan menganggap itu hanya candaan.


Sedang yang sebenarnya terjadi saat ini, Japar sedang melihat bagaimana Ayu yang mengambil anak ayam dan mulai memainkannya.


Japar memiringkan kepalanya seperti heran, "katanya mau memainkan bunuh sesuatu, mana?"


"anak ayam ini lucu, aku tak tega membunuhnya," kata ayu.


Tanpa di duga, Japar merebut anak ayah itu dan langsung meremasnya hingga mati.


"ini yang namanya main, kamu tau aku suka melakukan ini, karena menyenangkan," kata Japar sambil tersenyum tanpa wajah bersalah.


Tapi ayu malah ketakutan melihat hal itu, bahkan dia sampai terduduk lemas karena anak ayam itu mati dengan satu genggaman tangan.

__ADS_1


__ADS_2