Harem Suamiku

Harem Suamiku
orang kepercayaan untuk japar


__ADS_3

Bocah itu melihat anak laki-laki yang bersembunyi di belakang kaki Geno, "kenapa membawa bocah yang bahkan tak berani berdiri di samping mu dengan benar pak no,"


"maklum saja Ndoro muda, dia masih berusia lima tahun dan dia juga dari kampung, dan dia adalah adik sepupu ku, dan dia di jual oleh orang tuanya untuk jadi pelayan di rumah ini,"kata Geno.


Japar mendekati bocah itu dan melihatnya, kemudian Japar memukul kepala bocah itu.


"japar!" kaget Arumi dan Romo Heru.


Japar menoleh dan hanya menunjukkan giginya yang rapi, "dia hebat ya, tidak menangis,"


"itu tak sebelapa Ndolo, aku seling mendapatkan pukulan yang lebih kelas lagi," kata bocah itu membuat Japar menoleh.


"kamu saja belum bisa menyebut huruf R, setidaknya kamu harus kuat jika ingin menjadi orang ku, mengerti!"


"mengelti Ndolo," jawab bocah itu.


Romo Heru pun mengangguk pada Geno dan meminta pria itu untuk melatih bocah kecil itu.


Agar nantinya siap mendampingi putranya, dan setelah semuanya ketiganya pun memilih kembali ke kamar masing-masing.


Sedang di rumah Alexander Pangestu, keluarga itu sedang mempersiapkan semua yang akan di bawa dan di tunjukkan pada keluarga Hadikusumo.


Sebenarnya Alex di minta William untuk menyabotase semuanya,tapi dia tau jika dia melakukan itu, kepala orang tuanya yang jadi taruhan.


Jadi dia memilih jujur dan tak melakukan perintah William, toh jika terjadi sesuatu pada mereka.


bocah itu tak mungkin akan bisa menolongnya,terlebih dia dan keluarga William ini bukan tandingan dari keluarga Hadikusumo.


"jadi Alex apa sudah siap? Dan mama mu mana?" tanya pak Warno.


"mana sedang memakai kebaya, katanya dia mau terlihat seperti wanita Jawa," jawab bocah itu.


"Halah ada-ada saja, orang muka sudah cetakannya begitu," kata pria itu tak habis pikir.


ternyata Serena keluar dengan baju kebaya yang sangat sopan dan membuat pak Warno tersenyum, "kamu seperti orang asing yang baru belajar jadi orang Jawa,"


"ayolah papi, aku ingin menghormati keluarga Hadikusumo yang terkenal sebagai salah satu keluarga besar dengan akar budaya yang begitu kental,"


"itu benar mama, bahkan teman ku saja saat sekolah memakai baju persis seperti dalang wayang kulit yang pernah kita tonton, dan dia juga bilang jika ada pin yang menunjukkan siapa dan dari strata sosial mana dia berasal,"


"kaku dengar sendiri sayang, tak semudah itu bisa di percaya oleh keluarga Hadikusumo jadi apa salahnya jika kita melakukan hal sederhana seperti ini," kata pria itu.


Akhirnya mereka bertiga berangkat menuju ke rumah besar yang ada di pelosok desa.

__ADS_1


Baru juga akan masuk kedalam gapura desa, delman mereka di berhentikan oleh dua orang pengawal.


Alex melihat pakaian dan tato di dada para pengawal itu, "ini para centeng kediaman Hadikusumo, aku tadi melihat orang berpakaian seperti ini saat menjemput putra Romo Heru,"kata Alex dengan lirih.


"owh begitu, baiklah... jadi ada apa ini?"


"kami hanya ingin bertanya kalian mau kemana dan berasal dari mana?" tanya salah satu orang.


"saya mau ke rumah keluarga Hadikusumo, karna kami sudah punya janji untuk melihat kain," kata Warno dengan tenang.


"owh begitu, silahkan lewat..."


Delman itu membawa mereka hingga di depan istana Bangura, dan gerbang tempat itu terbuka.


terlihat sudah ada banyak pelayan dan centengnya dalam sana, terlihat dengan langkah pelan dan berwibawa.


sosok jalar sendiri yang akan menyambut kedatangan temannya serta kedua orang tuanya.


"selamat datang di kediaman istana Bangura di keluarga Hadikusumo," kata mbok Jum.


"iya terima kasih,"


"aku kira kamu tak jadi datang Alex, aku sudah menunggu mu dari tadi,"


"maafkan aku, karena aku sedikit telat karena ibu terlalu lama berdandan," kata Alex.


"selamat datang, Monggo masuk kedalam bapak dan ibu sudah menunggu anda," kata Japar.


Para mbok mban pun langsung bubar dan mempersiapkan semua sungguhan untuk tamu.


Saat masuk kedalam istana Bangura, ketiganya begitu takjub, pasalnya rumah itu penuh ukiran kayu jati yang begitu indah.


Belum lagi dengan perabotan dan semua barang antik yang ada di dalamnya.


saat masuk ketiganya langsung melihat sosok Romo Heru dan sang istri yaitu Nyai Arumi yang sudah sangat lama tak menampakkan diri di depan semua orang.


Ternyata wanita itu sedang hamil besar, "selamat datang di kediaman sederhana kami," kata Romo Heru menyambutnya dengan ramah.


"Terima kasih Romo, saya awalnya tak menyangka jika kami di undang untuk memperkenalkan kain yang kami jual, ini bahkan sangat baik bagi usaha kami yang hampir bangkrut, terbaik kasih pada Ndoro Japar,"


"saya hanya melakukan yang seharusnya, karena kebetulan di rumah memang membutuhkan beberapa kain baru," kata bocah itu.


"ya Japar benar, kami harus membuat beberapa tirai baru untuk saat ini, dan juga membutuhkan kain untuk hadiah saat kelahiran anak kami nanti, dan juga untuk baju para mbok dan centeng,"

__ADS_1


"baiklah Nyai saya mengerti, saya akan tunjukkan bagaimana jenis kain yang berbeda," kata pak Warno dengan semangat.


Romo Heru meminta Mak Jum dan mbok ni datang membantu Arumi memilih.


Sedang dia melihat jam ternyata itu sudah jadwal latihan dari Japar, "le, minta semua orang berkumpul karena sudah waktunya kamu mulai latihan tanding," kata Romo Heru.


"bapak bapak, semuanya saya permisi undur diri," pamit bocah itu yang segera pergi.


"memang dia mau kemana?" tanya Alex.


"oh Japar, waktunya dia latihan bertarung bersama para centeng di rumah, apa mau lihat?" tawar Romo Heru.


"boleh memangnya Romo," tanya Alex dengan takut.


"silahkan saja, karena kami bisa lihat bagaimana teman mu itu saat melawan orang," kata Romo Heru dengan santai dan meminta mbok Sarni mengantarkan Bocah itu.


Mereka sampai di area belakang rumah, terlihat semua orang sedang berlatih beladiri.


Dan hanya ada Japar berdiri di pinggir sambil melihat semuanya, dan tak terlihat bocah itu ingin ikut berlatih.


setelah semua centeng melakukan pemanasan, tanpa di duga bocah itu melepaskan bajunya dan menunjukkan tubuhnya yang sudah terbentuk dari kecil.


"apa dia benar-benar akan melawan semua orang?" tanya Alex pada pelayan yang menuntunnya.


"tentu den, karena Ndoro japar ini adalah penerus keluarga Hadikusumo, jadi harus di latih sedemikian rupa," kata mbok Sarni.


Saat bocah itu sampai di tengah tempat lapang itu, terlihat seorang pria yang berbadan dua kali lipat menghampiri dan mulai menyerang.


Alex ternganga melihat bagaimana cara Japar menghadapi pria itu, bahkan saat mengunakan senjata, bocah itu makin mematikan.


Tiba-tiba sebuah burung pembawa pesan terbang memutar di atas tubuh Japar.


Dia pun meminta waktu istirahat, dan memanggil burung itu dengan siulan, dan ternyata itu burung elang.


Terlihat ada sebuah surat di kaki burung itu, dan tampak sebuah kertas disana.


Jadi dia membaca surat itu dan segera membalasnya dengan cepat karena dia tak ingin membuat siapapun bermasalah.


.setelah itu dia menerbangkan burung itu lagi dan dalam gelap malam, burung itupun hilang.


Sedang di tempat lain yang begitu gelap, seorang wanita masih bertahan meski tubuhnya sekarang hanya tinggal tulang dan kulit saja.


Idan datang membawa makan malam untuk sosok itu, "makanlah, karena sekarang Romo tak ingin membunuh mu," kata pria itu

__ADS_1


"kamu bilang padanya, jika aku tak segera di bunuh aku akan membuatnya menyesal," ancam wanita itu.


"ternyata kamu itu tak sadar diri ya, sudah mau mati masih bisa mengancam, dasar menyebalkan," kata Idan yang kemudian bangkit dan segera pergi dari tempat pengap dan gelap itu.


__ADS_2