
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kedua orang itu sampai di rumah keluarga Hadikusumo.
Dan terlihat penjagaan begitu ketat, Japar terus mengenggam tangan Wulan saat berjalan masuk.
para centeng yang berjaga pun kaget saat melihat sosok yang mirip dengan Romo Heru.
Mereka semua langsung membuka pintu gerbang untuk pria itu yang datang dengan seekor harimau dan juga ada Wulan di sampingnya.
"ibu, putra mu sudah pulang," kata Japar yang berteriak memanggil ibunya.
Arumi yang ada di dalam sedang bersantai dengan Nala dan Dika, mendengar panggilan itu langsung lari keluar rumah.
Dia melihat sosok Japar yang berdiri di pendopo rumah itu, tentu saja wanita itu langsung memeluk putranya dengan erat.
"akhirnya kamu datang pulang nak," tangis Nyai Arumi yang menciumi seluruh wajah putranya itu.
"ibu... Hentikan kamu membuat ku malu di depan calon istriku," kata Ndoro Japar itu tersenyum.
"memang tidak boleh ibu mencium putranya, apa kamu keberatan Wulan," tanya Wanita itu melihat gadis di belakang putranya yang sedang berdiri berdampingan dengan seekor harimau.
"apa? tentu saja tidak Bu, mas Japar adalah putra mu, aku hanya orang lain, meski nantinya aku sudah menikah dengannya pun, aku akan tau diri untuk tidak merebut putra kesayangan mu itu dari peluksn ibunya," kata Wulan sopan.
"lihat bocah nakal,menantuku saja tak keberatan, kenapa kamu yang keberatan," kata Nyai Arumi yang menjewer putranya itu.
"maafkan aku ibu, tapi aku tak melihat bapak," tanya Japar yang kini berpelukan dengan dua adiknya.
"menurut mu di mana bapak mu, mungkin dia sedang menemui beberapa wanita muda yang akan di jadikan selirnya, karna bantuan keluarga Kalis, bapak mu mulai kambuh penyakitnya," kata Nyai Arumi.
"apa, pria tua itu belum tobat, belang ikut aku untuk menemui pria tua Bangka itu," kata Japar yang segera lari ke arah kandang kuda dan pergi mengendarai kuda miliknya.
Wulan dan Nyai Arumi terkejut, sedang dua bocah itu masih belum paham apa yang di maksudkan.
"ibu bukankah itu menghawatirkan, karena sekarang putra mu bukan anak kecil," kata Wulan.
"ah iya aku lupa, mbok sami titip anak-anak ya, Kipli antar kami mengikuti Ndoro muda," kata Nyai Arumi yang panik.
Akhirnya mobil mereka mengikuti pria itu yang tampak menunggangi kuda seperti angin.
__ADS_1
saat sampai di depan rumah keluarga Kalis, terlihat semua orang sudah berkumpul.
Tanpa basa-basi, Japar menerobos masuk melewati warga desa yang berkerumun.
Bahkan dia tak peduli jika ada orang yang terinjak atau terluka, "keluarlah Romo sialan!!" maki pria muda itu sambil masuk kedalam rumah dan mengunakan kudanya menendang dua wanita yang ada di depannya
Romo Heru kaget bukan main melihat kedatangan pria muda itu, pasalnya dia tak menyangkal jika hari ini putranya itu akan pulang.
"Japar kamu datang," katanya dengan senang.
"keluar atau aku akan membuat semua keluarga ini mati di tangan ku," kata Japar tanpa ampun.
bahkan pria muda itu masih bersiap untuk menghajar siapapun, karena berani membuat ibunya terluka.
Saat mobil sampai, Wulan langsung turun dan membantu para warga yang teluka.
Nyai Arumi tak mengira putranya ini benar-benar marah dan melukai orang lain seperti ini.
Ternyata Romo Heru benar-benar ada di rumah itu, dan pria itu keluar bersama dengan tuan Kalis.
"kebepa kamu berteriak, aku tak salah karena mereka berkerumun seperti melihat tontonan menarik, dan di dalam sana dua pria tua ini malah asik menonton para gadis muda memamerkan tubuh mereka!!" bentak Japar yang sudah murka.
"tapi tidak seperti ini caranya," kata Wulan yang tak suka sikap kasar dari Japar.
mendengar suara wanita cantik itu meninggi, tanpa terduga dia melompat turun dan langsung berlari ke arah Wulan dan mencekik wanita itu.
"jangan pernah berani meninggikan suara mu padaku!" sarkasnya.
tapi bukan Wulan yang punya mental juara,bahkan wanita itu masih bisa tersenyum meski hampir mati di tangan pria yang di cintainya.
Sedang Nyai Arumi menampar pipi dari suaminya, "apa pantas seorang Romo yang di hormati semua orang melakukan hal seperti ini," bentaknya.
Romo Heru hanya bisa diam, karena dia menjelaskan saja tak ada gunanya.
Karena Arumi sedang marah padanya, Wajah Wulan mulai memerah dan dia semakin lemas karena cekikan itu.
Dia pun menjentikkan jarinya ke dahi Japar, seketika pria itu melepaskan pelukannya dan memeluk Wulan yang jatuh lemas.
__ADS_1
"maafkan aku... Aku pria bodoh saat marah selalu lupa dengan apapun,"
"aku tau itu, dan sekarang kamu bisa bertanya dengan tenang kepada Romo, dan minta pak lek Geno untuk memanggil mantri untuk mengobati semua orang," Kata Wulan yang terdengar lemah.
Japar langsung meminta Geno yang ada di sana untuk memanggil mantri sesuai permintaan Wulan.
setelah memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja, Kini Japar bangkit dan menghadapi Romo Heru.
"anda berulah lagi Romo?" tanya Japar menahan amarah.
"memang kenapa nak, tidak boleh?" tanya pria itu dingin.
Japar hanya bisa tersenyum saja mendengar jawaban itu, "aku lupa jika anda bebas melakukan apapun, dan nikmatilah pemilihan selir mu itu, aku akan mengajak ibuku pergi dari rumah itu," kata Japar yang sudah merangkul pundak Nyai Arumi.
"tidak nak, ibu sekejap lupa diri karena Romo mu selama ini sudah lama tak memiliki selur,padahal aku sudah pernah janji tak akan keberatan jika suamiku memiliki berapapun selir yang dia inginkan," kata Nyai Arumi yang pasrah
"apa itu benar, apa ibu mau menjadi ibu kandung ku yang harus mati di tangan selir Romo, dan contohnya tak hanya satu saja, tapi semua selir Romo itu bermasalah,"
"bocah pintar, karena aku mencari selir yang bisa menguntungkan ku, seperti kali ini itu bukan selir untuk ku,tapi para keluarga kaya yang ingin mengajukan lamaran untuk mu, dan lagi kenapa aku bisa di sini itu juga atas usul pria ini, yang menawarkan putrinya dan tiga orang wanita sebagai selur saat kamu mau memutuskan untuk meninggalkan Wulan putri Wicaksono dan memilih Ayu sebagai istrimu," kata Romo Heru yang akhirnya tak tahan lagi untuk diam.
"apa..." kaget semua orang.
"apa aku tak sepantas itu, hingga Romo ingin mengantikan aku," tanya Wulan yang bangkit dari duduknya.
Dia tak menyangka jika pria yang selama ini tampak begitu menyayanginya itu, menunjukkan sisinya yang asli dengan cara seperti ini.
Nyai Arumi pun kaget, dan dia tdk setuju terlebih Ayu ini terlalu tak tau sopan santun sebagai gadis berpendidikan.
berbanding terbalik dengan wulan, "aku tak menyetujuinya,karena bagi ku hanya Wulan yang pantas jadi istri putraku,"
"tapi aku menawarkan satu hektar perkebunan karet milik ku sebagai mas kawin untuk mu, bagaimana kamu setuju?" kata tuan Kalis.
Japar pun menyeringai, "tapi dua dari gadis yang kamu tawarkan tadi langsung mati karena terinjak kuda ku, bagaimana bisa mereka bertahan dengan ku,terlebih aku punya hewan peliharaan, belang!"
seekor harimau besar melompat dan menggeram ke arah tuan Kalis yang kaget.
Bahkan mata pemburu utama di hutan itu seperti ingin menerkamnya
__ADS_1