
Nala sudah sampai di sekolah bersama dengan Dika, mereka tadi di antar oleh Idan.
Nala tersenyum saat melihat sosok seorang gadis yang menyapa keduanya.
"selamat datang kedua adik ku yang tampan dan cantik," sapa Wulan dengan sopan.
"halo mbak Wulan, lihatlah aku memakai baju seperti punya mbak loh," kata Nala memutar tubuhnya menujukkan baju yang di kenakan nya.
"ya karena kamu merengek pada ibu dan bapak semalaman, dan itu membuat pusing tau, selamat pagi mbak, aku ke kelas dulu ya" pamit Dika.
"iya dek,"jawab Wulan yang tersenyum dan mengandeng tangan Nala.
meski penampilan Wulan tak seperti orang pada umumnya, pasalnya wanita itu punya luka di wajahnya.
Dan itu membuat para pria jijik pada wanita itu dan tak ada satupun pria yang ingin melamarnya.
pagi itu pelajaran sekolah cukup banyak, Dika di kenal sangat pintar dan bala sedikit kurang dalam pemahaman tentang hitung-hitungan.
__ADS_1
Untungnya Wulan sangat telaten untuk membantu adiknya itu, hingga Nala bisa mengerti meski perlahan
Siang itu, Nyai Arumi datang ke sekolah dan melihat Wulan sedang mengajar menari.
Terlihat gadis itu tampak begitu luwes mengajar, dan Nala adalah murid terbaik di sekolah itu jika berhubungan dengan seni.
Nyai Arumi bertepuk tangan melihat semua tarian itu, "sempurna, jadi siapa yang akan menampilkan bakatnya?" tanya Nyai Arumi
Wulan dan Nala sudah tersenyum dan menyalami wanita itu, "semuanya ibu, karena mereka punya porsi sendiri-sendiri," jawab Wulan.
"seperti itu, bagaimana dengan mu, bukankah kamu sudah terlalu lama untuk libur tak menari nduk," tanya Nyai Arumi.
"yang sabar ya, ibu juga sedang menunggunya," kata Nyai Arumi yang juga sudah merindukan putra pertamanya itu.
Wulan meminta para muridnya untuk melanjutkan latihan menari, sedang dia harus mengantarkan calon ibu mertuanya itu untuk ke ruangan kepala sekolah.
Mereka melewati kelas beladiri yang ternyata ada Dika yang sedang latihan tanding bersama Kasyo, ya pria itu memang di minta secara khusus untuk mengajar.
__ADS_1
Tentu dengan syarat tertentu dari Romo Heru, "nduk sore ini bisa main ke rumah, ini ingin membuat syukuran, karena usia dari japar tahun ini sudah delapan belas tahun," kata nyai Arumi.
"tentu ibu, dku juga sudah menyiapkan sedikit hadiah untuk anak-anak karena aku ingin membuat semuanya menjadi lebih baik," kata wulan.
Tuan Wicaksono sedang bertemu dengan beberapa yang ingin membeli hasil panen bunganya.
Tapi ada yang aneh, karena para pembeli itu tampak seperti sedang berbisik-bisik dan dia tak tau apa yang sedang di bicarakan.
seseorang mengawasi di atas pohon sambil menikmati asem matang di atas pohon.
Ya kebun bunga itu di sampingnya ada sebuah pohon asam Jawa tinggi.
tapi tanpa di duga, salah satu orang ingin mengeluarkan senjata, sebuah biji asam Jawa itu melukai tangan pria yang membawa pisau itu.
melihat pisau yang jatuh, tuan Wicaksono mundur, dan dia memanggil para pengawalnya.
dan kedua pria itu langsung di kepung dan di ringkus, dan ternyata mereka ini hanya orang suruhan satu musuh tuan Wicaksono yang tak suka dengan kesuksesan dari pria itu.
__ADS_1
Jadi mereka di tugaskan untuk membunuh pria itu.